![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Cinta berjalan perlahan sembari menggendong kedua buah hatinya, menyusuri jalan beraspal menuju rumahnya. Ya, wanita itu kini sengaja tidak melewati jalan setapak lagi dan memilih untuk lewat depan rumah suaminya. Cinta melirik rumah bercat putih tersebut. Sepi. Tidak ada aktivitas apapun di rumah tersebut dan pintu juga tertutup rapat.
"Papa ... Papa," gumam ratu saat menengok ke arah rumah pria yang menjadi ayah sambungnya tersebut.
Cinta menoleh pada putrinya yang sudah mengulurkan tangan dan bergerak maju. Dia tau maksud dari putrinya, tapi Cinta begitu enggan untuk berbelok ke arah rumah tersebut.
"Sudah sore, Sayang. Yuk, pulang!" ajak Cinta kembali melangkah.
Namun, tiba-tiba ratu merengek dan meronta sembari menunjuk ke arah rumah tersebut. Cinta yang harus menopang dua balita tersebut sampai kualahan dan terhuyung ke belakang. Untung saja di sampingnya ada sebuah pohon jambu yang bisa dia jadikan pegangan.
"Ratu mau ke rumah nenek?" tanya Cinta dan mendapat anggukan dari bocah berusia dua tahun tersebut.
Wanita yang terlihat letih itu menatap putrinya dan rumah mertuanya secara bergantian dengan ekspresi bimbang. Ratu terus saja memanggil Rudi dan Raja pun terlihat tak kalah berharap dapat melihat papanya. Pada akhirnya, dengan berat hati Cinta melangkah menuju rumah berlantai dua tersebut.
Tok–tok–tok!
Beberapa kali wanita dengan rambut dikucir kuda tersebut mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Pikiran Cinta mulai tidak tenang, dan ucapan Bu Wina kembali berputar di kepalanya.
Dengan perasaan gelisah dan putus asa karena tidak juga ada jawaban, Cinta mengetuk pintu kayu berwarna coklat itu sekali lagi. Sudah tiga kali ketukan pintu, tapi pintu itu tak juga kunjung terbuka. Cinta menghela napas panjang dan berbalik. Namun, tiba-tiba suara pintu terbuka membuatnya dengan cepat kembali berbalik menghadap pintu tersebut.
"Paman?!" gumam wanita yang tengah terkejut melihat pria setengah baya berdiri di hadapannya.
"Ada apa, Ta?"
"Ibu di mana, Paman? Rumi?
"Mereka ke kota. Apa kau tidak diberitahu?"
Cinta menggeleng perlahan dengan tatapan bingung mendengar pertanyaan pria yang merupakan adik dari mertuanya tersebut. Pria bernama Jaka itu kini diserahi tugas menjaga rumah dan perkebunan Mira dan Rudi.
"Penyakit Rudi kambuh, mereka harus segera ke kota untuk mengobatinya?"
"Pe—penyakit? Maksud paman ... Rudi sakit?"
Jaka melayangkan tatapan aneh pada menantu kakaknya tersebut. Dia mengangguk mengamini ucapan Cinta.
"Papa ... Papapa," celoteh kedua buah hati Cinta yang akhirnya mengalihkan perhatian kedua orang dewasa tersebut.
"Sudah pinter ngomong, ya sekarang. Mau ikut kakek?" tawar Jaka menyodorkan tangannya pada raja. Namun ditolak begitu saja.
"Paman, apa paman tahu mereka pergi ke mana?"
Jaka yang tengah asyik menggoda si kembar itu, kembali menegakkan kepalanya mendengar pertanyaan Cinta. "Setau paman mereka berobat ke Jakarta, tapi paman kurang tahu di rumah sakit mana."
Cinta diam termenung dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu terlihat kacau dan lelah.
"Coba kau hubungi Rumi. Atau mau paman yang menanyakan alamatnya?"
"Emm, tidak usah, Paman. Biar Cinta saja yang telepon Rumi nanti."
"Baiklah. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Dari wajahmu terlihat sangat lelah. Anak-anakmu juga pasti kelelahan habis dari kebun seharian."
"Iya, Paman. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih banyak, Paman," ucap Cinta dan berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut dengan langkah gontai.
...Bersambung ........
...-----------------...
Selamat tahun baru, Sayang-Sayangkuuu....
Bukanlah tentang tahun baru ini yang penting, tapi kesadaran diri serta hati yang senantiasa mengoreksi akan setiap kesalahan agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Mari melangkah dengan semangat yang lebih menggelora, dengan tekad yang lebih membaja untuk mengawali tahun yang penuh makna.
Selamat tahun baru, My Shining Star🌟
See you soon.