![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Tangan Cinta mencengkeram sisi wastafel dengan netra yang mulai memerah dan berkaca. Cinta memaksa membalikkan badan saat dirasa pelukan Tahta tak seerat sebelumnya. Wanita itu menatap dalam mata hazel yang tengah menatap sendu ke arahnya.
"Apa yang kau tahu tentangku? Kau selalu berkata tahu, tapi apa? Apa yang kau tahu, Tahta? Apa kau tahu apa yang paling membuatku menderita?" Ah, kini air mata yang sedari tadi sudah bergelayut manja tidak lagi dapat dia bendung.
"Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat aku tidak bisa mengatakan kebenaran tentang ayah mereka? Apa kau tahu rasanya sakit saat melihat anak-anak dipandang hina oleh orang-orang karena lahir tanpa ayah kandung mereka? Apa kau tahu sakitnya saat anak-anak bilang merindukan ayah mereka? anak-anak ingin memeluk ayahnya, tapi mengira ayahnya sudah mati, padahal ... padahal ayahnya masih ada dan aku tidak bisa berkata apa-apa? Kau tahu itu Tahta? Apa kau juga mengetahui tentang ini?"
"Cinta ... Sayang...." cicitnya dengan suaranya yang bergetar. Netra Tahta memanas mendengar semua pertanyaan yang terasa terus menusuk hatinya itu. Dia menyapu air mata yang terus menganak sungai di pipi Cinta, tapi air matanya sendiri terus menerobos tanpa permisi.
"Dan apa kau tahu rasanya lelah, tenagamu terasa hanya di ujung kaki ...." Cinta menjeda kalimatnya dan menghirup udara dengan rakus untuk menghalau rasa nyeri di dadanya. "..., tapi kau dituntut untuk kuat, harus tetap berangkat kerja demi menghidupi anak-anak. Apa kau juga tahu itu? Aku lelah, Tahta. Aku capek, aku takut menghadapi prasangka orang-orang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk anakku yang selalu merasa iri dengan keluarga teman-temannya. Mereka bersedih, Tahta, dan aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku lelah, tapi aku tidak punya tempat untuk bersandar. Kau tak tahu betapa sulitnya aku bertahan selama ini. Kau tak tahu, Tahta!" Tangis Cinta pecah, kedua tangannya terus memukul dada bidang Tahta. Bahu wanita itu berguncang hebat menahan isakan yang terdengar memilukan.
Tahta menarik tubuh ringkih itu ke dalam dekapannya. Membiarkan mantan istrinya meluapkan emosi, kekecewaan, dan kepedihan yang telah dia simpan sendirian selama bertahun-tahun. Tahta hanya bisa menunduk dalam, menempel pipinya di puncak kepala Cinta, membiarkan air matanya mengalir membasahi helaian rambut hitam di bawah pipinya.
"Maaf, Sayang. Aku tahu aku bodoh. Aku egois. Tolong ajari aku menjadi ayah yang baik. Tolong berikan aku kesempatan untuk mengetahui semuanya. Aku mohon ... jangan menangis lagi. Aku berjanji akan menebus semuanya," pinta Tahta setelah tangisan Cinta mereda.
Wanita itu menjauhkan wajahnya dari kaos yang sudah basah oleh air matanya. Perlahan mendongak, Cinta menatap lekat mata hazel yang masih dipenuhi oleh cairan bening itu. Netranya menelisik mencari jejak kebohongan di sana, tapi nihil. Hanya ada ketulusan di antara keputusasaan.
"Hmm? Aku mohon berikan kesempatan untuk mengembalikan tawamu seperti dulu, oke?" mohon Tahta penuh harap.
Cinta masih membatu, menimang-nimang jawaban yang tengah bergelut di kepalanya. Perasaan takut akan dikecewakan untuk kesekian kalinya, membuat cengkraman tangannya di kaos Tahta mengerat. Namun, melihat tatapan yang seolah tak sabar menuntut jawaban itu membuat ego Cinta kalah telak. Dia mengangguk perlahan membuat lawannya dengan reflek mengembangkan senyum haru.
Tahta memejamkan matanya saat merasakan seakan bunga-bunga tengah bermekaran di dalam dadanya. Air mata kembali meleleh semakin deras seiring netranya yang tertutup rapat. Dia menyatukan dahinya dan dahi Cinta. "Aku bersumpah akan selalu berada di bawah kakimu, Sayang."
Cinta bergeming. Dia memilih untuk memejamkan mata, berharap tidak akan menyesali keputusannya di kemudian hari. Posisi mereka yang begitu dekat membuat Cinta bisa merasakan hangatnya hembusan napas Tahta. Mendengar deru napasnya, dan bahkan merasakan detakan jantung yang begitu tak beraturan itu. Cinta tenggelam dalam pikirannya, sebelum akhirnya dikejutkan oleh Tahta yang mencium lembut keningnya. Bukannya kesal, hati Cinta menghangat saat kecupan itu tak beralih setelah beberapa saat. Dia menikmatinya.
Namun pria tetaplah pria dengan segala keserakahannya. Tahta tidak merasa cukup dengan hanya itu. Dia semakin mendekat mengikis jarak, hingga hidung mereka saling menempel. Tinggal sedikit lagi tujuannya tercapai, salah satu hal yang paling dia rindukan dari mantan istrinya itu, dan ... cup! Bibirnya mendarat di telapak tangan diiringi tatapan garang dari si pemilik.
"Cepat tidur, atau kau akan ku usir malam ini juga," ujar Cinta tegas membuat pria itu kembali tertunduk lesu.
Tanpa mereka sadari, di ruangan yang lain seorang wanita paruh baya juga ikut menjadi bagian dari tangis yang menghiasi malam dengan rintik hujan ini. Ya, rumah itu tidak cukup besar untuk bisa meredam suara mereka dari ruangan yang hanya dipisahkan oleh tembok itu. Wanita itu menyeka kasar air matanya, dan kembali berusaha memejam saat dirasa putranya sudah berhasil meruntuhkan tembok yang dibangun Cinta selama ini.
"Selamat pagi, Nak. Mau masak apa hari ini?" sapa Laras yang baru saja selesai sholat subuh.
Laras hanya mengangguk dan bergegas mengambil beberapa bumbu dapur untuk dikupas.
"Tante, nggak usah!" seru Cinta mengambil kembali keranjang bumbu yang baru saja digeser ibu Tahta.
"Tante duduk aja. Ini nggak akan lama kok." Senyum lembut mengambang di bibir tipisnya meyakinkan Laras.
"Tidak apa, Nak. Masak mau numpang tidur sama makan aja di sini, kan nggak enak."
"Nggak apa-apa, Tante. Tante mau main ke sini aja Cinta udah seneng banget. Jadi ada yang bantuin ngawasin si twins, Cinta jadi bisa baca novel," kelakar Cinta mencoba mencairkan suasana.
Laras mengembangkan senyum meski sebenarnya hatinya sedikit tercubit mendengar kata-kata cinta terakhir. Dia pasti selama ini sangat kerepotan mengurus dua balita sendirian, pikirannya.
"Ada apa, Sayang." Itu suara serak khas bangun tidur Tahta.
Dua wanita berbeda usia itupun menoleh menatap pria yang baru saja membuka pintu. Pria dengan celana pendek selutut dan kaos putih itu berjalan lesu ke arah mereka.
"Kau memanggilku?" tanyanya dengan mata yang masih terlihat enggan untuk terbuka.
Cinta memicingkan mata. Bagaimana bisa pria itu begitu percaya diri bahkan saat tertidur. "Tidak, tuh. Aku sedang ngobrol dengan Tante Laras."
Pria itu hanya manggut-manggut sembari meminum air yang baru dituangnya. "Mungkin karena aku selalu memikirkanmu, jadi aku begitu sensitif saat mendengar suaramu, Sayang."
"Iiihh." Cinta menampilkan ekspresi seolah jijik mendengar perkataan Tahta. "Dan berhenti memanggilku sayang dan sejenisnya. Kita bukan muhrim!"
Laras terkekeh geli melihat interaksi kedua manusia yang telah menjadi mantan pasangan tersebut. "Tahta, jangan jadi bodoh lagi. Itu kode. Jadi kapan kamu akan menjadikan Cinta muhrim?"
"Secepatnya!" jawab Tahta secepat kilat.
Sementara wanita yang dibicarakan, hanya ternganga tak percaya menyaksikan keanehan ibu dan anak di dbepannya itu. Sungguh, bukan itu yang dia maksudkan.
Bersambung....