![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit di ujung kanan ponsel Tahta. Dengan wajah gelisah dia memainkan bolpoin yang ada di tangannya. Kembali ujung mata itu melirik ke arah benda pipih yang tergeletak di hadapannya. Tahta mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kerja yang cukup besar tersebut. Terdapat banyak sekali tumpukan berkas di hadapannya yang sudah menunggu untuk dibubuhi tanda tangan. Pria yang terlihat gusar itu mengangkat gagang telepon di sebelah kirinya dan mulai memencet angka dua.
"Apa wanita itu masih ada di sana?" tanyanya pada orang yang ada di seberang telepon.
"Masih, Pak." Seorang wanita menjawab pertanyaan Tahta dengan suara yang begitu sopan saat masuk ke dalam telinga.
Tahta mengakhiri panggilan itu begitu saja dan menaruh gagang telepon dengan kasar. Dia mengusap wajah frustasi dengan hembusan napas kasar setelahnya.
Pria dengan gaya rambut undercut berwarna hitam sedikit kecoklatan itu berdiri. Tubuhnya yang tinggi dan bahu lebar membuat pria itu terlihat begitu karismatik. Tak ayal hal itu membuat para wanita begitu tergila-gila padanya. Termasuk wanita yang baru saja dia tanyakan.
"Apa dia masih menunggu, Pak?" tanya seorang pria yang sedari tadi duduk sopan di sofa depan meja kerjanya.
Pria muda berkulit sawo matang dengan kacamata kecil kotak itu menatap bosnya yang terlihat gelisah. Anggukan kepala yang dia terima membuatnya ikut mengangguk paham.
"Aku salut dengannya. Bahkan setelah mendapat penolakan dan tidak pernah bos pedulikan, dia tetap konsisten mengejar-ngejar Anda." Ucapan itu lebih terdengar sebagai ejekan di telinga Tahta.
"Daripada kau salut padanya, sebaiknya kau carikan cara agar aku bisa lolos dari wanita magnet itu," kesal Tahta pada asistennya.
Reza hanya menahan senyum melihat kegelisahan Tahta. Sudah hal biasa bagi mereka untuk mencari solusi melarikan diri seperti ini. Sudah hampir satu minggu sejak pengakuan cintanya, wanita yang sedang mereka bicarakan itu seperti magnet yang ingin terus menempel pada Tahta.
"Si*l! Aku bisa telat menjemput Bella kalau begini terus. Gadis cerewet itu merepotkan saja," gerutu Tahta masih mondar mandir di depan jendela.
"Apa hari ini Bos ada kencan? Padahal ada undangan dari Pak Dipa." Reza mencoba mengingatkan tentang undangan dari teman baik Tahta.
"Hari ini aku ingin mengajak Bella makan malam romantis dan untuk membujuknya yang sedang marah, jadi skip saja acara apapun dan carikan alasan yang masuk akal."
"Kalau begitu sebaiknya Bos pergi saja, aku akan menyuruh Lidya mengalihkan perhatian Nona Cinta. Cari saja pintu keluar lain selain lewat lobi depan." Reza beranjak dari tempatnya dan melenggang pergi.
Tahta dengan segera mengambil ponsel di atas meja. Merapikan sedikit rambut dan dasinya. Dan bergegas menuju area parkir, jika tidak bergegas wanita yang dipanggil Cinta itu sudah pasti akan ikut menyusulnya ke parkiran.
Sedangkan di lobi depan seorang wanita terlihat sangat gelisah. Beberapa kali dia melirik ke arah jam yang melekat di tangannya. Wanita dengan seragam guru berwarna hitam itu beberapa kali mengumpat kesal. Dia melirik sinis ke arah petugas lobi yang terlihat sibuk dengan komputer mereka.
"Maaf, Nona Anda tidak bisa ke sana. Pak Tahta sedang ada pertemuan penting dengan kliennya," cegah petugas resepsionis wanita dari balik meja yang dekat dengannya.
"Aku sudah menunggu selama dua jam lebih di sini, ini sudah jam pulang. Aaah, menyebalkan sekali," ucap wanita berpakaian formal itu dengan kekesalannya.
"Kenapa kau terlihat begitu emosi?" Suara seorang wanita terdengar mendekati Cinta.
Wanita yang mengenakan setelan jas kerja itu menghampiri Cinta. Dia berdiri di hadapan cinta. Tinggi mereka sejajar, dengan ketinggian high heels yang sama pula.
"Kak Lidya, aku kesal sekali hari ini. Aku hanya ingin bertemu Tahta, tapi mereka terus saja melarangku. Apa aku harus membawa Tante Laras agar mereka mengijinkanku masuk? Menyebalkan sekali, aku hanya ingin memberikan kue buatanku ini padanya," adu Cinta pada wanita yang menjabat sebagai sekretaris Tahta.
Lidya tersenyum simpul mendengar penuturan Cinta. "Tadi memang sedang ada pertemuan penting. Kau tahukan saat ini Tahta sedang ada proyek penting, jadi dia butuh banyak waktu sendiri. Sebaiknya kau kembali saja besok."
"Begitu, ya. Baiklah." Cinta menunduk pasrah mendengar penjelasan orang yang paling dia percaya di perusahaan Tahta.
"Iih, jijik banget lihatnya. Sudah tahu Pak Tahta punya pacar, masih saja mau jadi pelakor. Kayak cewek nggak laku saja," bisik wanita resepsionis pada rekan sebelahnya.
Cinta melenggang pergi dari area perkantoran tersebut, mengacuhkan ucapan yang berniat menusuknya. Dia sudah sibuk membayangkan bagaimana dia harus menyapa Tahta, pria yang sangat dicintainya. Wanita itu sudah menaruh hati pada Tahta sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun yang lalu. Saat itu Laras membawa dia dan adiknya ke Malaysia karena orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mereka tidak punya siapapun. Dengan berat hati Cinta mengiyakan permintaan Laras untuk pindah ke rumah yang telah Laras siapkan di Malaysia.
Saat pertama kali dia datang di negara asing itu, Cinta tidak bisa beradaptasi dengan baik, dia begitu kesepian. Dalam sebulan hanya sesekali Laras mengunjungi dia dan adiknya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat dingin, seolah tidak ada yang bisa berada di sampingnya terlalu lama. Dia tidak berani mengeluh, sudah banyak hal yang dilakukan keluarga itu padanya. Menyekolahkan dirinya dan adiknya, menampung mereka, memberi makan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih dibandingkan harus mengeluh tidak jelas.
Hanya Laras lah yang mau mengulurkan tangan saat keluarganya bangkrut bahkan saat ayah ibunya meninggal. Ya, Cinta sadar mereka lakukan ini karena hutang budi. Ayah Tahta dulu pernah ditolong kakeknya saat masih miskin. Kakek yang melihat pemuda berbakat tapi terlunta-lunta di jalanan, merangkulnya, menyekolahkannya hingga dia bisa sebesar saat ini.
Satu-satunya alasan untuknya tetap bertahan adalah Tahta. Pria tampan itu mengalihkan kesedihan Cinta atas kepergian orang tuanya. Sikapnya yang dewasa, rasa terlindungi saat berada di sisinya, dan sorot mata yang mengingatkan dia pada ayahnya. Semua alasan itu yang membuatnya begitu tergila-gila padanya. Hidup Cinta hanya terfokus pada Tahta. Tujuan Cinta hanya satu, ingin menjadi pendamping hidup Tahta.
"Emangnya kenapa kalau dia udah punya pacar? Selama janur kuning belum melengkung, itu artinya dia masih pria bebas. Dan lagi, pacarnya itu j*lang. Ck ... jadi sebal aku mengingat kejadian di cafe itu," gumam Cinta sambil menatap pantulan dirinya dari spion mobil.
Wanita itu mencari posisi duduk ternyaman di belakang kemudi. Tidak lupa sebelum menginjak pedal gas, dia memoleskan kembali lipstik pada bibirnya yang sudah semerah darah. Baru saja wanita itu ingin menginjak pedal gas mobilnya, mata Cinta menangkap sesosok pria yang terlihat terburu masuk ke dalam mobilnya.
...Bersambung .......