[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Rasa Iba Dan Keputusan


Pria yang berdiri di sisi ranjang kamar tamu tersebut terus menatap Cinta dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia hanya mematung di tempat tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Mama ...." Cinta mengigau. Tangan mungilnya bergerak ke sana ke mari seolah hendak meraih sesuatu yang ada di depannya.


Pupil mata Tahta bergetar melihat kondisi istri yang tak pernah dia anggap tersebut. Bukan hanya mata, tapi hatinya pun turut tergerak menyaksikan dan mendengarkan rintihan Cinta. Sangat jelas sekali wanita itu sedang dalam kondisi yang benar-benar buruk. Dengan perlahan dan ragu Tahta mengulurkan tangannya, meraih tangan Cinta yang terus meraba udara di hadapannya.


"Mama ... aku rindu," gumam Cinta menggenggam tangan kekar Tahta.


Deg!


Sebuah perasaan aneh muncul, saat wanita yang masih belum sadarkan diri itu membawa tangan dan menyelipkannya di bawah pipi. Menjadikan tangan Tahta sebagai tumpuan tidurnya. Mau tidak mau, pria yang terlihat kebingungan itu duduk di kursi yang sebelumnya dipakai Laras. Dia membiarkan Cinta menyamankan dirinya.


"Apa yang terjadi padamu?" gumam Tahta menatap sayu Cinta.


Tahta hendak menarik tangannya setelah hampir setengah jam duduk di sana. Dia menunggu Cinta hingga lebih tenang dan tidak mengigau lagi. Namun, karena waktu sudah mulai larut, pria itu memutuskan untuk meninggalkannya. Dia mencoba menarik tangannya perlahan agar Cinta tidak terganggu, tapi wanita tersebut menggenggam tangan kekar itu terlalu kuat. Tahta bahkan kesulitan untuk melepaskan diri.


"Bahkan saat sakit dan tidak sadarkan diri saja kau masih terus menempel padaku. Sampai kapan kau akan menguji kesabaranku?"


Tahta akhirnya mengalah. Dia menunggu hingga Cinta mau melepaskannya. Malam semakin larut saat kantuk sudah menyerang Tahta dan tak bisa lagi dia tahan.


...----------------...


Indera pendengaran Cinta menangkap suara adzan yang menandakan pagi sudah mulai menyapa. Dia mengerjapkan mata, tapi kenapa ada yang terasa aneh pada pipi dan tangannya. Seperti ada benda hangat yang menempel di keduanya, pikir Cinta.


Manik mata wanita itu kali ini benar-benar terbuka. Betapa terkejutnya Cinta saat menyadari bahwa pria yang dia idamkan sedang tertidur di sampingnya. Jantung Cinta tiba-tiba saja berdegup tidak karuan. Suaminya tidur dengan posisi duduk demi menungguinya yang sedang sakit. Harapan macam apa lagi yang dia berikan kali ini.


Tangan kanan Cinta bergerak membelai lembut rambut hitam suaminya. "Andai saja hubungan kita tidak terjalin dengan cara yang salah. Andai saja kau bisa melihat sendiri semua kebenarannya." Senyum sumir nan pedih tergambar di sudut bibir Cinta.


Tahta menggerakkan kepalanya saat merasa ada sesuatu yang mengusiknya. Dia mengerjapkan mata dan mengarahkan pandangan pada Cinta yang sudah kembali tertidur. Pria dengan tampilan berantakan khas bangun tidur itu menghela napas berat.


"Bagaimana bisa aku tertidur di sini," ujarnya sambil menarik tangan dari genggaman Cinta dengan perlahan.


Dia melangkah pergi, meninggalkan wanita yang sebenarnya sudah terbangun sedari tadi tersebut. Sudut bibir Cinta terangkat saat sudah mendengar suara pintu yang tertutup. Wanita itu kembali membuka mata dengan perasaan yang berbunga-bunga. Setidaknya Tahta tidak benar-benar mengabaikannya.


Laras terlihat sibuk menyiapkan sarapan bersama Bi Sumi. Meskipun dia memiliki beberapa asisten rumah tangga, tapi Laras tetap membantu menyiapkan sarapan untuk suaminya. Wanita yang sudah berumur itu terlihat lebih segar dari biasanya.


"Apa Nyonya baru saja mendapatkan kabar baik?" tanya Bi Sumi yang penasaran dengan sikap Nyonyanya.


"Apa Bibi tidak tahu? semalam Tahta tidur di samping Cinta. Bukankah itu berarti kita masih ada harapan?"


Bi Sumi mengangguk setuju diiringi senyum yang terlihat tulus. Bi Sumi juga lebih setuju dan senang jika Cinta bisa bersama Tahta. Pria yang selalu menjadi dambaan dan alasannya bertahan tersebut. Wanita tua itu selalu memperhatikan sikap Cinta yang terlihat bahagia saat berada di samping Tuan mudanya. Rasanya dia seperti sedang bercermin pada masa mudanya saat sedang kasmaran.


"Selamat pagi?" sapa Cinta yang baru saja muncul dari balik dinding pemisah ruangan.


"Tidak usah, Bi. Cinta udah baik-baik saja sekarang," ujar Cinta sembari tersenyum manis. Ya, wanita yang sebelumnya terbaring lemah itu kini sudah lebih baik. Dia sudah terlihat lebih segar. Rona merah di wajahnya juga sudah kembali. Mungkin saja kekuatan cinta memang luar biasa.


"Kau benar-benar sudah baikan, Nak?" tanya Laras memastikan.


Cinta mengangguk dengan pasti. Dia ikut sarapan bersama pagi itu. Tentu saja tanpa kehadiran Tahta, karena dia sudah menghilang sejak pagi buta. Tahta tidak ingin kehadirannya diketahui oleh Cinta.


...----------------...


Tahta duduk di kursi kebesarannya, membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih yang tertumpuk di hadapannya. Ingatan tentang kejadian semalam cukup membuatnya terganggu sedari pagi.


Sinar matahari yang terpendar oranye lembut, menandakan sebentar lagi cahayanya akan hilang. Namun, Tahta terlihat tidak peduli. Dia terus membolak-balik berkas di hadapannya tanpa henti. Hingga saat suara pintu ruangan terketuk, dia baru mengangkat kepala dan mengarahkan pandangan pada pintu berwarna coklat tersebut.


"Masuk."


Pintu kayu perlahan dibuka dari luar. Terlihat seorang pria muda yang juga sebagai asisten pribadi Tahta berdiri di ambang pintu tersebut.


"Ada apa?"


"Ada yang mencari Anda, Pak," ucap Reza sembari membuka pintu lebih lebar. Seorang wanita muncul dari balik punggung Reza. Wanita yang kemunculannya berhasil membuat mata Tahta membulat sempurna.


"Ada apa kau ke sini?" Tahta melontarkan pertanyaan dengan nada dingin khasnya.


"Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu," jawab wanita yang tidak lain adalah Cinta.


Reza menatap bosnya. Tidak ada isyarat untuk mengusir ataupun lainnya dari Sang Bos. Akhirnya dia membiarkan wanita yang sudah menjadi istri bosnya tersebut masuk dan meninggalkan mereka berdua. Ini sudah bukan tanahnya lagi untuk ikut campur. Dia ingin hidup dan bekerja dengan tenang, dan sesedikit mungkin berurusan dengan hal pribadi atasannya, pikir Reza.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Tahta tanpa basa-basi.


Cinta berjalan dengan santai ke arah sofa yang berada tak jauh dari kursi Tahta. Dia mengambil tempat duduk di sofa yang menghadap ke arah suaminya.


"Aku ingin membahas tentang surat perceraian."


Tahta hanya menatapnya datar saat mendengar jawaban Cinta, membuat Cinta sulit untuk mendeteksi perasannya, tapi yang pasti, Tahta masih tetap menyimpan kebencian padanya. "Aku sudah membuat keputusanku."


"Katakan berapa yang kau inginkan, dan cepat kembalikan berkas itu padaku." Tahta mengarahkan pandangan dinginnya pada Cinta.


Senyum getir terukir di wajah Cinta. "Ya, tentu saja yang kumau sangat banyak, tapi aku tidak yakin kau akan sanggup mengabulkannya."


...Bersambung .......