[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Buah Simalakama


Hari pun berlalu. Cinta melewati waktu demi waktu dengan hati yang lebih ringan. Ya, dia berpikir ucapan Nana ada benarnya. Setidaknya dia sudah mencoba dan mungkin akan lebih baik jika dia mendengar penolakan dari mulut pria yang dicintainya secara langsung. Cinta terlihat sibuk dengan sarapan yang sudah hampir separuh masuk ke dalam perutnya.


Seorang pria yang sudah berpakaian formal menuruni anak tangga. Dia berjalan melewati ruang makan dengan ekspresi datar seperti biasanya. Namun, entah apa yang dia pikirkan kali ini. Tahta berhenti melangkah di tengah ruangan yang berdekatan dengan meja makan. Ekor matanya terarah pada meja makan yang terlihat kosong. Tatapannya aneh, lalau netra hitam itu dia arahkan pada sesosok wanita yang tengah asik menyantap sepiring nasi goreng di hadapannya.


"Apa kau tidak masak?" tanya Tahta yang berhasil membuat Cinta melebarkan matanya.


Wanita tersebut menoleh dengan sendok yang masih berada di depan mulutnya. "Masak. Ini aku makan," jawabnya enteng.


"Apa kau tidak membuatkannya untukku?"


Cinta menautkan kedua alisnya heran. "Bukankah kau tidak pernah mau memakannya? Jadi itu hanya akan membuang-buang waktu dan mubadzir."


Tiba-tiba pria yang sudah bersiap pergi itu melangkah ke arah meja makan. Mengambil kursi di seberang Cinta dan dengan tenang duduk di sana. "Buatkan aku juga."


Kali ini Cinta memicingkan mata. Pria di hadapannya ini bersikap begitu aneh. "Baiklah, tunggu sebentar."


Wanita yang sudah berseragam tersebut berdiri, mengambil celemek dan dengan cekatan mengenakannya. Tangan mungilnya dengan lihai memotong beberapa bawang dan cabai. Mengambil beberapa bumbu instan dan menumisnya hingga tercium bau harum yang begitu khas, hingga membuat si pemesan makanan bersin-bersin. Cinta tersenyum miring mendengar suara bersin yang berulang dari belakangnya. Dia terlihat begitu puas melihat Tahta tersiksa karena bau bumbu tersebut.


"Ini untukmu," ucap Cinta sambil meletakkan seporsi nasi goreng di hadapan suaminya.


Tahta menelan salivanya tatkala indera penciuman dan penglihatannya bersamaan beraksi dengan makanan tersebut. Sebuah nasi yang berwarna kecoklatan dengan telur dadar bertengger di atasnya. Sangat menggugah selera makannya pagi ini.


Cinta beranjak dari tempatnya saat Tahta masih menikmati makanannya. "Aku harus segera berangkat. Oh, dan hari ini aku ada acara dengan Nana, jadi mungkin aku akan pulang besok malam."


Setelah berpamitan wanita itu melenggang pergi. Dia meninggalkan pria yang tengah menatapnya dengan tatapan nanar. Menyaksikan punggung Cinta yang menghilang di balik pintu, membuat perasaan Tahta terasa begitu aneh. Ada kekosongan di sana. Entah apa, dia seperti telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga.


Tidak. Tidak ada yang salah dengan semua ini. Aku senang akhirnya dia tidak menempel dan menggangguku lagi, batin Tahta. Namun dengan ekspresi yang bertolak belakang dari kata senang itu sendiri.


...----------------...


Hari pun berlalu, tapi perasaan Cinta tidak mau begitu saja berlalu seperti waktu. Perasaannya masih sama, hanya sikapnya saja yang berbeda. Dia ingin melewati hari-hari bersama Tahta dengan lebih tenang, dengan menyisakan kenangan indah saat harus berpisah. Wanita yang tengah mengenakan dress tidur dengan lengan terbuka dan panjang di atas lutut itu, berdiri memandangi kalender yang tergeletak di atas meja TV. Jari telunjuknya bergerak-gerak di udara seolah tengah menunjuk kalender kecil tersebut.


"Tinggal empat bulan lagi, ya. Cepatnya waktu berlalu," gumam Cinta dengan senyum sumir.


Ceklek!


Netra Cinta yang berkaca teralihkan perhatiannya pada pintu yang tiba-tiba saja terbuka. Dua orang pria tiba-tiba saja masuk dengan satu orang lainnya di papah karena tidak bisa stabil berjalan.


"Apa yang terjadi pada Tahta, Za?" tanya Cinta pada asisten pribadi suaminya tersebut.


"Mabuk, Bu Cinta."


"Mabuk? Bukankah Tahta tidak pernah minum alkohol?"


Cinta hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Reza. Memang terkadang klien dari negara tetangga sering membawakan hadiah khas negaranya saat berkunjung. Dulu dia biasanya akan mendapatkan bagian jika hadiahnya cukup menarik. Tahta berjalan mendekati suaminya yang bersandar lemah ke sandaran sofa.


"Tahta?" panggilnya di samping pria dengan bau arak yang begitu menyengat.


"Hei."


"Emm ...."


"Cepat naik ke kamarmu. Aku akan menyiapkan air untukmu mandi."


Tahta kembali hanya berdehem menangapi Cinta, tapi tidak bergeming dari tempatnya. Cinta yang sudah kesal menarik tangan Tahta agar mau beranjak. Wanita cantik itu akhirnya membantu Tahta menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Sudah tahu nggak bisa minum, kenapa diminum. Dasar beban istri," runtuk Cinta sembari memegangi pinggang Tahta agar tidak limbung. Cinta menghempaskan tubuh berotot itu di atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.


Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Tahta terusik. Dia bangkit dan mengacak rambutnya dengan kasar. Pria itu melemparkan jas dan dasi yang dia kenakan begitu saja, berjalan terhuyung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, baru saja dia sampai di depan pintu, seorang wanita juga melangkah keluar dari kamar mandi. Netra Tahta yang memerah menatap lekat manik mata coklat Cinta. Jantung keduanya berpacu, perasaan aneh menyelimuti mereka.


"Mandilah, aku sudah menyiapkan air untukmu," ujar Cinta sembari melangkah dari hadapan Tahta dengan canggung.


Pria yang masih belum sadar dari mabuknya itu tetap mematung di tempatnya. Entah kenapa dia merasa tidak suka saat melihat wanita yang pernah dibencinya itu pergi dari hadapannya.


"Aku akan turun. Panggil aku jika kau butuh sesuatu." Cinta melangkah menjauh, tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tangannya.


Wanita itu berbalik menatap pria pemilik tangan kekar tersebut. "Ada apa?" tanyanya bingung.


Tahta tidak bersuara. Dia menarik tangan Cinta hingga membuatnya terhuyung ke belakang dan punggungnya menabrak dinding. Tahta menahan tubuh istrinya di antara dinding dan dirinya. Dia menatap lekat manik mata Cinta dengan tangan masih menggenggam erat.


"Kau menghindariku. Kau mengabaikanku."


Cinta mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Tahta. "Bukankah itu yang kau inginkan?"


Ekspresi Tahta menggelap. Dia terlihat tidak senang mendengar jawaban Cinta. Entah kenapa ada desiran aneh di hatinya melihat netra Cinta yang mulai bergetar itu.


Apa benar itu yang aku inginkan? Tapi kenapa aku membencinya? Kenapa aku tidak suka melihatnya menghindariku?


"Lepaskan aku! Kau sedang mabuk, sebaiknya bersihkan dirimu dulu agar kau bisa berpikir jernih," ujar Cinta berusaha membebaskan diri.


Bukannya melepaskan, pria yang sudah terlihat berantakan itu malah semakin mempererat genggaman tangannya, dan semakin maju menghimpit Cinta. Wanita yang sudah terpojok itu berusaha mendorong tubuh kekar Tahta, tapi tentu saja itu hanya akan sia-sia.


...Bersambung .......