[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pertemuan


Tok–tok–tok!


"Assalamualaikum~"


Penghuni rumah sederhana bercat putih, yang tengah sibuk dengan menu di depannya, secara serentak mengangkat kepala saat mendengar suara ketukan pintu. Dua bocah yang duduk bersebelahan itu saling melempar pandangan. Secara tiba-tiba mereka melompat dari kursi berwarna putih itu, dan bahkan Ratu hampir saja terbentur meja makan berbentuk persegi di depannya. Ya, mereka berlima tengah sarapan.


"Wa'alaikumsalam!" jawab kedua bocah kembar itu sembari berlari menyusul ibunya yang sudah lebih dulu beranjak pergi.


Sedang dua orang yang ditinggal begitu saja oleh sang pemilik rumah, masih menatap lekat ke arah ruang tamu. Mereka begitu penasaran, siapa yang bertamu sepagi ini hingga membuat kedua bocah kembar itu begitu antusiasnya.


"Neneeek...." Teriakan si kembar berhasil menyita atensi Tahta sepenuhnya. Sebelumnya dia masih acuh tak acuh dengan tetap menyantap hidangan nasi goreng di piringnya. Namun, saat kedua anaknya berhambur memeluk seorang wanita paruh baya yang baru saja melangkah masuk itu, tiba-tiba indera pengecapnya seakan 'tak berfungsi. Dia bisa menebak siapa wanita tua tersebut.


Pun dengan Laras. Bergegas ia berdiri dan merapikan diri. Laras melirik sekilas pada putranya yang masih mematung dengan ekspresi datar. Ah, sudahlah. Dia tidak peduli dengan isi kepala putranya itu, meskipun sedikit berdebar, Laras memantapkan langkah menyusul mantan menantunya.


"Wahh, cucu nenek sudah besar. Nenek kangen sekali~," ucap wanita paruh baya yang masih berdiri di ambang pintu, karena kedua kakinya dipeluk oleh si kembar.


"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Cinta sembari mencium punggung tangan Mira.


"Kalian nggak kangen sama tante?" celetuk Rumi yang sedari tadi sudah berdiri di belakang ibunya, menunggu giliran untuk bisa masuk ke dalam rumah si kembar.


"Tante...." Kedua bocah itu melepaskan Mira dan berhambur ke pelukan Rumi yang sudah membuka lebar kedua tangannya.


"Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu sama anak-anak gimana? Tadi ibu dikasih tahu Rumi pas baru bangun. Katanya kamu sudah pulang semalam. Ibu langsung nengok ke sini. Sepi banget nggak ada si kembar yang bawel ini," celoteh Mira panjang lebar.


"Alhamdulillah, kami juga sehat, Bu. Ibu udah sarapan, tadi cinta bikin tumis. Oh, iya. Terima kasih banyak ya, Rum, selama aku di Jakarta rumahnya udah di jaga. Sayuran Cinta di belakang jadi seger-seger banget."


Rumi yang tengah sibuk mendengarkan celotehan si kembar, akhirnya menoleh ke arah kakak iparnya. Dia benar-benar tidak terlalu tertarik untuk mendekati dua orang yang sudah menjadi ibu di depannya ini. Rumi hanya ingin segera mencium dan mencubit pipi-pipi gembul si kembar. "Sama-sama, Kak. Kakak kan juga selalu nemenin ibu kalau Rumi lagi di luar kota, jadi gantian."


Mira yang tengah duduk di samping Cinta itu hanya tersenyum melihat tingkah Raja dan Ratu. Dia juga antusias mendengarkan kedua bocah yang tengah menceritakan kekagumannya saat melihat gedung-gedung pencakar langit di kota. Ya, sejak bayi, baru kali ini keduanya diajak keluar dari desa.


"Kami juga bertemu—"


"Selamat pagi."


Ucapan Ratu terpotong saat seseorang muncul dari ruang tengah. Mira menatap penuh tanya pada wanita yang terlihat seusianya itu.


"Oh, Tante. Ibu, perkenalkan ini Tante Laras."


Laras tersenyum simpul dan segera menyalami kedua tamu Cinta. "Laras."


Cinta menelan ludah. Kata yang ingin dia ucapkan serasa tersangkut di kerongkongannya. Rasa tak enak hati secara tiba-tiba menguasai pikirannya. Apakah ini akan baik-baik saja? Apa perasaan Ibu mertuanya tidak akan terluka? pikiran Cinta berkecamuk.


Laras melirik mantan menantunya yang terlihat gelisah, memainkan kedua tangannya. Dia paham. Laras bahkan sudah siap jika saja ibu dari cucu-cucunya itu tidak mengakui statusnya di hadapan Mira. Saat Laras sibuk dengan isi kepala yang sudah menduga-duga itu, tiba-tiba Cinta meliriknya dengan bola hitam di tengah matanya terlihat bergetar. Secara reflex wanita paruh baya itu menarik sudut bibirnya hingga membuat lengkungan yang sangat tipis.


Cinta segera mengalihkan pandangannya ke arah Mira. "Tante Laras ... Ibunya Mas Tahta, Bu. Mantan mertua Cinta."


Ah. Pada akhirnya kata yang tertahan itu terucap juga. Rasanya dia akan menjadi anak yang paling durhaka jika tidak mengakui mantan ibu mertuanya tersebut. Ibu mertuanya itu begitu baik padanya, bahkan sejak dia belum menjadi menantu di keluarga Mahardika. Daripada dia harus menjadi air tuba dalam genangan susu, lebih baik dia bersujud di kaki mertuanya—ibu dari Rudi. Mungkin saja, keputusannya membawa keluarga mantan suaminya ke mari telah melukai hati Mira.


Rumi yang sedari tadi hanya sesekali menyimak, kini atensinya sepenuhnya ditujukan pada Laras. Ucapan kakak iparnya itu benar-benar 'tak terduga. Tiba-tiba saja wanita muda itu merasa gelisah. Ujung netra berwarna coklat tua itu melirik Mira yang juga masih sama terkejutnya.


Keterkejutan mereka belum mereda, tapi kembali dikejutkan dengan munculnya seorang pria asing, yang tengah menatap mereka dengan senyum ramahnya. Dari perawakan dan melihat siapa yang tengah duduk di hadapannya ini, Rumi bisa menebak siapa pria yang berjalan menghampirinya tersebut. Jantungnya terasa dipompa begitu keras oleh detakan yang meningkat. Dia belum siap bertemu orang-orang yang kehidupannya sudah dihancurkan oleh kakaknya itu.


Tahta yang baru saja menyelesaikan sarapannya, ikut menyusul sang ibu. Meskipun hatinya tidak terima, tapi dia harus menyapa dan berterima kasih pada keluarga almarhum suami mantan istrinya. Waktu yang mereka habiskan untuk menjaga si kembar dan Cinta tidak sebentar. Dari suasana yang terdengar, keduanya begitu tulus menyayangi orang-orang yang dulu telah dia tinggalkan itu.


Tahta melangkah ke arah Rumi. Wanita tua yang masih sedikit ternganga melihatnya. Dia mengulurkan tangan, dan disambut dengan ragu sembari tersenyum kaku. Begitu pula dengan wanita muda yang tengah duduk di antara si kembar.


"Ini Tahta, Bu. Mereka ikut mengantarkan Cinta kemarin, karena Cinta pulangnya kesorean."


"O–Ooh." Senyum canggung terukir di bibir Mira dan Laras secara bersamaan.


"Oma ini, nenek kita juga katanya mama, Nek. Ternyata kita punya dua nenek, loh" sahut Ratu dengan antusias. Gadis kecil itu benar-benar tidak faham dengan situasinya.


"Nenek tahu nggak, ternyata di Jakarta itu rame banget. Kemarin Raja lihat robot buesar sekali bareng Oma."


"Iya! Ratu juga lihat rumah Barbie yang besar banget. Bisa dimasukin juga."


"Wah, benarkah? Kalian suka di Jakarta?"


"Suka!" jawab keduanya serempak.


Nyatanya kepolosan dua bocah yang tidak bisa memahami situasi itu malah bisa mencairkan suasana yang begitu canggung diantara ketiga orang dewasa tersebut.


Bersambung....


----------------------------------------


Halo, Sayang. Terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia menunggu cerita ini. Kalian orang-orang dengan kesabaran yang luar biasa. Maaf, yaa baru bisa di update lagi. Jangan khawatir, cerita ini pasti akan Simi selesaikan kisahnya hingga ending. Lope lope sekebon buat kalian. Please, beri jejak buat Simi, biar aku tahu siapa aja yang masih menunggu kisah ini. See you soon.