![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Seorang wanita hamil dengan susah payah memotong tangkai- tangkai setinggi perutnya yang sudah dipenuhi oleh bunga krisan. Sepatu boot berwarna hijau yang fia kenakan terlihat kotor penuh lumpur.
Negara tropis yang hanya memiliki dua musim itu saat ini tengah memasuki masa musim penghujan. Para pemilik kebun disibukkan dengan tanamannya saat musim ini menyapa. Mereka harus selalu memastikan tanaman tidak membusuk karena kebanyakan air.
"Teh, apa mawarnya bisa dipanen sekarang? Toko di kota beberapa sudah meminta untuk segera dikirimi mawar," tanya seorang pria berumur yang juga tengah mengenakan kaos oblong, sepatu boot, dan membawa gunting besar.
Cinta menegakkan badannya. Perut wanita itu menyembul, sangat besar dan bulat. Dia mengelus perlahan pinggangnya yang terasa kaku sembari terlihat meringis menahan nyeri.
"Boleh, Pak. Pak Asep panen yang sebelah Utara dulu, ya. Soalnya saya lihat yang bagian selatan masih sedikit menguncup. Mungkin besok atau lusa baru siap panen semua," jawab Cinta sembari mengelus perutnya.
"Baik, Teh. Bibit bunga krisannya juga sudah siap tanam, setelah panen ini bisa kita ganti yang baru." Cinta mengangguk mengiyakan saran dari pengawas perkebunan bunga miliknya itu.
"Kemarin ada dua orang dari toko bunga dan satunya dari hotel Nexton di kota datang, Teh Cinta sedang pergi dengan Den Rudi, jadi saya hanya minta data diri mereka saja," sambung Asep sembari mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya.
"Apa yang mereka katakan, Mang?" tanya Cinta sembari membaca alamat dan nomor telepon yang tertera di atas kertas tersebut.
"Mereka minta suplai bunga dari kita, Teh. Mereka juga berkeliling kebun kemarin dan kelihatannya mereka puas dengan kualitas bunga di sini."
"Wah, sepertinya waktu suamiku ke kota, dia menawarkan bunga ini pada mereka, Mang. Sepertinya kita harus menambah lahan, dan juga jangan sampai lupa pilah bunga, ya Mang, yang kualitas nomor satu Mang Asep khususkan untuk hotel dan toko-toko bunga. Untuk kualitas nomor dua Mang Asep berikan untuk perangkai bunga papan dan untuk dekorasi."
"Baik, Teh. Toko Rans kemarin juga pesan, kalau bisa jenis bunganya minta ditambahkan."
"Emm, gitu, yaa. Nanti coba aku tanyakan suamiku dulu lahan mana yang bisa kita ambil, Mang. Mungkin bisa kita tambahkan bunga matahari, sedap malam, dan pikok. Sepertinya itu yang sering aku lihat untuk dijadikan buket," jawab Cinta dengan senyum manis.
Setelah Mang Asep selesai dengan laporannya, pria berusia empat puluh tiga tahun itu berpamitan. Dia meninggalkan Cinta yang juga telah kembali melakukan aktivitasnya memanen bunga. Ini adalah bagian paling menyenangkan yang selalu dia tunggu-tunggu. Memetik hasil kerja kerasnya. Semangat wanita berperut besar itu selalu membara untuk menggunting tangkai hijau di bawah naungan greenhouse tersebut.
Gerakan Cinta tiba-tiba dipaksa berhenti, saat tangan kekar yang terasa hangat memegang pergelangannya. Wanita yang setengah menunduk itupun menoleh. Senyum canggung dia tampakkan bersama barisan gigi putihnya.
"Haloo, Ayah Bubu," sapa Cinta masih dengan senyum palsunya.
Rudi hanya menatap datar istrinya. Tangan besar itu masih memegang erat pergelangan tangan Cinta dan satu tangan lainnya merebut gunting dari wanita itu. Cinta hanya bisa pasrah menyerahkan benda tajam itu sembari menelan salivanya. Pria yang biasanya hangat dengan tatapan menenangkan itu, akan terlihat begitu menyeramkan jika sudah dalam situasi serius.
"Aku ... hanya olahraga. Bukankah wanita yang sedang hamil tua harus banyak gerak? Iya, kan?" ujar Cinta sembari bergelayut manja di lengan Rudi.
Pria dengan rambut belah samping dan kaos oblong berwarna putih itu tetap tak membuka mulutnya. Dia melingkarkan tangan di pinggang Cinta. Menuntun wanita hamil itu dalam diam ke sebuah kursi panjang di ujung greenhouse.
Rudi mendudukkan istrinya di kursi kayu berwarna putih tersebut, sedangkan dirinya berjongkok di depan Cinta. Melepaskan sepatu boot yang dikenakan wanita itu, dan menggantinya dengan sandal jepit bermerk swallow. Rudi mengelap bagian bawah lutut Cinta yang tidak tertutup boot. Cipratan lumpur menempel di kaki putih yang kini terlihat sedikit lebih berisi itu.
Perlakuan lembut itu, selalu meluluhkan kekerasan hati Cinta. Setiap hari, setiap detik seolah Rudi terus memupuk rasa cinta yang dulu hanya sebatas biji. Kini biji itu sepertinya sudah bertunas di hati Cinta. Perasaannya menghangat. Ingin sekali dia selalu mendapat perhatian dan sentuhan hangat dari suaminya itu. Senyum kecil dan tatapan haru mengiringi kekesalannya karena didiamkan oleh Rudi.
"Ayah Bubu?"
"Suamiku?"
"Sayaaang?" sapa Cinta dengan manja namun tak juga mendapat respon dari suaminya.
"Rudi!" Cinta sudah sedikit terpancing emosi melihat Rudi yang tetap mengacuhkannya.
"Aku kan juga bosen di rumah terus nggak ngapa-ngapain. Dokter juga bilang suruh banyakin gerak biar bulan depan bisa lahir tepat waktu. Ini nggak boleh, itu nggak boleh, sekalian aja nggak boleh gerak." Cinta mulai merapalkan mantra-mantranya dengan sinis.
Rudi yang mendengarkan ocehan istrinya itu tidak terlihat terganggu sedikitpun. Dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis. Saat Cinta sedang kesal dan mulai berkomat-kamit, itu terdengar seperti nyanyian indah di telinga Rudi. Wanitanya begitu menggemaskan hingga tidak ada celah baginya untuk bisa kesal dengan Cinta.
Pria itu berdiri, menatap lembut Cinta dengan senyum terukir indah di wajah tampannya. Dia duduk di sisi istrinya, meraih kedua pipi Cinta dan menatap lekat wanita itu dengan penuh cinta.
"I love you," ucap Rudi dengan senyum tulus dan kesungguhannya.
Cinta membeku. Tatapan sinisnya perlahan memudar menjadi sendu. Jantung wanita itu semakin cepat berdegup. Bibirnya semakin melengkung ke bawah. Mata Cinta terasa semakin memanas saat netra pria itu menenggelamkannya dalam lautan cinta. Tirta bening meluncur dengan sombongnya melewati pipi wanita itu.
Gelak tawa tiba-tiba menyelusup masuk ke indera pendengaran Cinta saat dirinya masih berbalut air mata. Tangan besar perlahan mengelus lembut pipinya, menyapu bekas air mata.
"Kau selalu menangis seperti ini saat aku berkata cinta, Sayang. Apa setelah Bubu lahir aku akan memiliki dua bayi? Kau tidak ingin mengomeli ku lagi?"
Cinta menggeleng dengan bibirnya yang mengerucut ke depan. Ya, hatinya terasa rapuh saat pria di hadapannya ini menyatakan cinta. Rasanya tidak ada pria lain di dunia ini yang bisa mencintainya seperti Rudi.
Saat kau memberikan seluruh cintamu padaku, saat itu pula ketakutan akan kehilangan cinta itu semakin menyiksaku, Rud. Aku hanya ingin berada di sisimu untuk saat ini, tapi aku takut. Aku takut jika ....
"Ayo kita pulang." Satu tepukan di punggung tangannya menyadarkan lamunan Cinta.
Sepasang suami istri itu melenggang pergi. Meninggalkan kebun yang diselimuti oleh jaring berwarna hitam tersebut. Di luar greenhouse, matahari sudah menantang di atas kepala.
"Lain kali jangan bekerja di kebun lagi. Kau tahu itu bahaya, bagaimana jika sampai kau terjatuh, atau kecapean? Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian."
...Bersambung.......
...Kadang, rintik hujan lebih terasa memelukku dari dinginmu yang tak tersentuh. –Simi...
...****************...
Halo, Sayang.
Kesedihan di masa pandemi ini pastinya banyak dialami oleh kita ya, Kawan. Terutama bagi mereka yang telah kehilangan. Rasa duka yang begitu mendalam kadang bikin diri ini kayak nggak mampu untuk bangkit lagi.
Ada yang ditinggal pasangan, orangtua, atau kerabat yang berarti buat kita.
Jangan simpan kepedihan ya, Teman. Semua perasaan kita valid dan Simi yakin seiring berjalannya waktu Tuhan terus menguatkan dan memberi kita kemampuan untuk melewatinya.
Musim bakal berganti, awan mendung yang menggelayuti kita saat ini akan berganti pelangi dan cerah matahari. It's ok to take time, to feel our pain, our loss and all the the feelings we feel. Pasti butuh waktu untuk melaluinya ... tapi yakinlah Tuhan punya rencana terbaik untuk kita semua.
Hidup terus berjalan, mereka yang mendahului kita juga pasti akan senang kalau kita kembali bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Love you, all. Tetap sehat dan tetap semangat.