
Lia kini terdiam di balkon kamarnya, dia menatap gelang yang baru saja Leon berikan beberapa hari lalu padanya.
"Lia,"
Lamunan Lia buyar karena Elbert tiba-tiba saja menghampirinya dan memanggilnya.
"Eh, abang?" ujar Lia.
Elbert mendudukkan dirinya tepat disebelah Lia, mereka kini duduk di ayunan gantung yang memang berada di balkon kamar Lia.
"Abang liat berapa hari ini kamu murung, ada apa?" heran Elbert.
"Hah ... kak Leon pergi untuk pelatihan militer. Kita akan bertemu lagi tapi itu sangat lama," lirih Lia.
"Pelatihan militer?" heran Elbert.
Lia mengangguk, sementara Elbert mengerutkan keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"waktu itu aku ingin mengikuti pelatihan militer, tapi daddy bilang pelatihan itu hanya untuk 17 tahun keatas. Sedangkan umur Leon hanya berbeda empat tahun dengan ku," ujar Elbert dalam hati.
"Abang!" seru Lia.
"Eh iya apa?" gugup Elbert.
"Abang kenapa? kok melamun?" heran Lia.
"Gak papa, masuklah dan tidur. Besok kita harus berangkat pagi ke sekolah." ujar Elbert sembari bangkit dari duduknya dan mengusap kepala Lia.
***
"Mas!" panggil Amora.
Alden menoleh, dia tersenyum mendapati sang istri yang membawa secangkir kopi untuk dirinya.
"Masih lama banget ya kerjanya?" heran Amora.
"Gak kok, ini bentar lagi selesai. Kamu kenapa susulin aku ke ruang kerja? kasian Laskar tidur sendiri," ujar Alden.
Amora menghela nafasnya pelan, dia menaruh cangkir kopi itu tepat di sebelah laptop Alden. Setelahnya dia berjalan mendekati Alden dan duduk di pangkuan suaminya sambil menyandarkan tubuhnya itu.
"Kenapa?" heran Alden.
"Capek," lirih Amora.
Alden mengerti, dia membenarkan duduk istrinya yang menyamping setelah itu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri.
"Aku kan udah bilang, jangan banyak gerak," ujar Alden.
"Aku bukan capek itu, aku capek mikirin ngidam kamu yang buat aku bingung!" sentak Amora.
Alden meringis mendengar itu, dia mengalihkan pandangannya saat sang istri menatapnya tajam.
Sudah beberapa hari ini kemauan Alden semakin aneh, dia tidak ingin meminum kopi jika tidak di aduk sepuluh kali dalam satu arah. Dia juga tidak mau naik mobil yang berwarna hitam dan juga dia tak suka melihat bodyguard yang tidak mempunyai rambut dalam artian lain botak.
"Kan aku juga gak gak tau yang, ini kan kemauan si utun," bela Alden.
Amora menatap Alden tajam, dia tak suka anaknya di sebut utun.
"Kamu tuh makin lama makin ngeselin yah! awas! aku mau tidur aja," sentak Amora dan turun dari pangkuan Alden.
Alden menatap bingung istrinya yang sudah keluar kamar. Dia memijat pelipisnya pelan saat pusing itu datang.
"Laki-laki tempatnya salah, perempuan tempatnya bener. Perempuan kalau salah pasti laki-laki juga yang kena," gerutu Alden.
Sementara itu, Amora tengah menghampiri sang anak yang ternyata terbangun. Padahal ini sudah tengah malam, dan putra bungsunya itu malah terbangun.
"Adek kok bangun nak?" ujar Amora sembari mendekati putranya.
Laskar mengangguk singkat dan tak menjawab pertanyaan sang mommy, dia berusaha turun dari tempat tidur sambil menarik selimut pororo nya.
"Adek mau kemana sayang?" heran Amora saat melihat anak itu turun sambil menarik selimut dan mengambil pacifiernya.
"Ke kamal abang," jawabnya.
Laskar memakai pacifiernya, sehingga kini tangannya hanya menarik selimut keluar kamar.
"Dek! gulingnya gak dibawa?" heran Amora karena anaknya itu tidak bisa tidur tanpa memeluk guling bayinya.
Laskar kembali untuk mengambil gulingnya, dia menatap mommynya yang masih saja heran dengan tingkahnya.
"Adek mau bobo cama abang, mommy dicini aja nda ucah ikut!" pinta Laskar setelah melepas pacifiernya dan kembali memasangnya setelah dia selesai bicara.
Amora menatap heran anaknya, dia baru saja seperti di beri perintah oleh orang tuanya padahal Laskar adalah putranya.
"Ada-ada aja kelakuannya haah ... dia mirip sekali dengan Elbert, berbeda dengan si kembar yang cenderung selalu berbuat rusuh," gumam Amora.
Kini Laskar tengah berjalan ke kamar Elbert, tetapi suara seseorang berbicara membuat Laskar mengurungkan niatnya.
Cklek!
"Loh, adek? kenapa bangun?" heran Elbert yang baru saja keluar dari kamar Lio.
Laskar hanya menatap Elbert dan merentangkan tangannya sehingga Elbert harus menggendong adiknya ini.
"Adek mimpi buluk," gumamnya setelah melepas pacifiernya.
"Adek mimpi pelempuan nanis, dia bilangna ce- ce apa tadi ... cemoga bahagia gitu," celoteh Laskar.
Elbert berjalan ke arah kamarnya, dia mendengar cerita sang adik yang menceritakan mimpinya. Seketika langkah Elbert terhenti dan menatap sang adik.
"Iya, muka pelempuana tayak yang potona ada di gudang," lirih Laskar karena mengantuk.
Elbert terdiam, kini pikirannya berkecamuk. Dia kembali melangkah ke kamarnya agar sang adik bisa tidur dengan nyaman.
Sesampainya di kamarnya, Elbert langsung merebahkan tubuh adik kecilnya. Tetapi Laskar terbangun dan meminta Elbert menemaninya.
"Abang mau ke kamar mandi dulu," pinta Elbert.
"Hiks ... nda mau!" isak Laskar.
Mau tak mau Elbert harus tidur di samping adiknya, dia merebahkan tubuhnya menyamping. Sedangkan tangannya terulur untuk memasukkan kembali pacifier Laskar yang menggantung di lehernya.
"Apa yang di maksud Laskar itu tante Vani? mommy pernah cerita masalah tante Vani yang hampir saja membuat ku tiada." gumam Elbert sambil menepuk punggung sempit adiknya.
***
"Pah, apa aku tidak usah menjalankan pengobatan ini? aku tidak mau melupakan Zanna," lirih Leon yang terbaring lemas di atas brankarnya.
Zidan yang sedang mengupas buah menghentikan kegiatannya, dia menatap anaknya dengan tajam.
"Lebih baik kau melupakannya dari pada meninggalkannya Leon!" kesal Zidan.
"Pah tapi ...,"
"Apa?! apa masih kurang kau membuat kamar yang semua berisikan foto Zanna dan juga namanya? apa kurang kau membuat video Zanna yang tertawa lepas? apa masih kurang kau berfoto dan membuat video dengannya bahkan kini kamar itu sudah seperti bioskop khusus untuk Zanna!" sela Zidan.
Leon menghela nafasnya, dia menatap langit-langit rumah sakit sejenak dan kembali menatap papahnya.
"Pah, aku ingin mendengar suara Zanna," lirih Leon.
"Sekarang sudah malam, Zanna pasti sudah tidur," ujar Zidan.
"Aku yakin dia belum tidur, coba papah telpon dia," ujar Leon.
Zidan mengangguk pasrah, dia menelpon Zanna dan tak lama telpon itu tersambung.
"Halo,"
"Halo Zanna, maaf om telpon Zanna malam-malam. Apa Zanna sudah tidur?" ujar Zidan sambil mengeraskan suara telponnya.
"Belum, Zanna lagi gak bisa tidur. Hah ... kak Leon selalu mengganggu mimpi Zanna," gerutu Lia.
Leon yang mendengar tersenyum tipis, walau dia tak bicara pada Zanna tetapi mendengar suara dari Zanna sudah cukup untuknya.
"Kau merindukan Leon yah?" ujar Zidan.
"Tentu saja, kak Leon yang biasanya mengomeliku karena berantem. Kak Leon juga yang selalu mengingatkanku untuk makan agar penyakit lambungku tidak kambuh hiks ... aku rindu kak Leon," ujar Lia dan tak mampu menahan tangisannya.
Leon tersenyum, tak terasa air matanya juga kini menetes bersamaan dengan isakan Lia.
"Jangan menangis baby girl, jika daddymu tahu om pasti akan langsung di masukkan ke kandang singanya," hibur Zidan.
"Baiklah, Zanna tidak akan menangis. Om, tolong bilang pada kak Leon kalau Zanna akan selalu menunggunya. Zanna sayang kak Leon," ujarnya.
Zidan mengangguk sambil menatap Leon yang mengusap air matanya. Dia tahu bahwa sang putra sangat merindukan Zanna.
"Ya sudah, om tutup dulu telponnya yah." ujar Zidan dan langsung menutup telponnya.
Zidan menatap anaknya tak tega, dia juga merasa sedih melihat kondisi sang anak yang seperti ini padahal usia Leon masih sangat muda.
"Pah, jika pengobatan ini membuat aku melupakan Zanna. Tolong bantu aku mengingatnya, yakinkan aku jika Zanna adalah masa depan yang aku pilih." pinta Leon dengan nada lirih.
Zidan mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar rawat itu. Dia menutup pintu dengan pelan setelahnya dia menyandarkan tubuhnya.
"Lihat sayang, anak kita masih saja menjalani keinginanmu yang menginginkan jika Amora menjadi mommynya dengan cara menikahi Zanna. Tetapi kini keinginan itu berubah menjadi rasa suka terhadap anak dari sahabat mu itu. Takdir sungguh lucu, saat ini dia di beri ujian yang akan membuatnya melupakan tujuannya untuk bertahan," isak Zidan.
Zidan hanyalah orang tua yang menginginkan kebahagiaan sang anak. Baginya permasalahan cintanya tak begitu penting di banding kebahagiaan sang anak.
"Papah yakin, hubungan kalian itu kuat. Suatu saat nanti, takdir akan kembali menyatukan kalian di tali pernikahan yang suci. Papah yakin itu," gumam Zidan.
***
"Bang Elbert! ayolah! temanku sangat menyukai mu, dia akan memberi ku banyak sekali novel jika kau menjadi pacarnya," pinta Lia sambil gelendotan di kaki abangnya itu.
"Mommy! lihat anak ini! aku sudah lelah dengan anak perempuan yang seperti itu," gerutu Elbert.
Amora yang sedang menyuapi Laskar makan tertawa, dia tahu putrinya selalu memanfaatkan sesuatu yang merugikan Elbert.
"Abang gak mau Lia! beri tahu padanya jika dia bisa membuat bandara terbesar di dunia, abang akan memacarinya," tawar Elbert.
Lia tersenyum, dia segera berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi temannya itu tetapi tawa Lio membuatnya terhenti.
"Hahahah kau ini bodoh apa polos sih? mana bisa dia yang hanya pemilik sebuah toko buku membuat bandara terbesar di dunia dan lagi hal itu hanya boleh di buat oleh pemerintah. Dasar bodoh!" sarkas Lio.
Lia berbalik, dia menatap tajam Lio yang masih asik menertawainya. Dia beralih menatap Elbert yang acuh pada keributan mereka.
"AKU TIDAK BODOH! AKU HANYA LOLA SEDIKIT!" kesal Lia.
"Mommy, kata om Alsel Lola itu bodoh," ujar Laskar yang mana membuat mereka menatap anak kecil itu.
Lia menahan amarahnya, dia mengepalkan tangannya dan menutup matanya. mereka yang sudah tau apa yang akan Lia lakukan segera menutup telinga mereka.
"LASKAAAAR! MASUK LAGI KAMU KE DALAM PERUT MOMMY!" teriak Lia.
Sedangkan Laskar hanya menatap bingung, dia bertanya-tanya apakah dia salah bicara.
"Kata om Alsel gitu kok, soalna Lola seling isengin Acka," gumam Laskar padahal maksud Lola menurutnya adalah teman mainnya bukan lola singkatan Loading lama