Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Sekarang keadaannya berbeda


Leon, Zidan dan Arthur kembali ke kamar rawat Alden, mereka melihat Amora yang tengah memeluk Elbert.


"Kalian sudah kembali?" tanya Arthur sambil menghampiri Amora.


Amora menoleh, dia menatap papinya dengan tatapan bingung.


"Pi, kenapa bisa ada ular di kamar ini? pasti bukan sebuah kebetulan kan?" tanya Amora.


"Hah, semalam kalian tidur jam berapa? apa kalian mendengar ada orang yang masuk?" tanya Arthur.


Semua atensi mereka mengarah kepada Amora, mereka menunggu jawaban dari wanita itu.


"Aku gau tau, semalem kami semua telah tidur setelah kak Zidan dan Leon pulang." ujar Amora sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara Jonathan dan Arsel membereskan pecahan guci itu, mereka takut jika pecahannya akan melukai mereka.


"Bagaimana kau tahu jika didalam guci itu ada ular Leon?" tanya Arthur dengan wajah penasarannya.


"Kemarin guci itu ada di sebelah lemari, lalu mengapa sekarang berada di sebelah brankar? apa kalian tak menyadarinya?" tanya Leon dengan wajah datarnya.


"Kau benar," gumam Arjuna.


Mereka menyadari jika guci itu pindah posisi, tak ada yang menyadarinya kecuali Leon.


"Saat aku mendekat, terdengar suara ular dan setelah aku melihatnya aku segera membanting guci itu," ujar Leon.


"Kenapa harus kau banting kenapa tidak tangan mu saja yang masuk?" tanya Jonathan yang meratapi guci mahal itu yang saat ini tengah rusak.


Leon menatap Jonathan dengan tajam, rasanya dia ingin memukul Jonathan jika saja Jonathan bukan orang tua.


"Aku tidak bisa melihat jenis ular itu pak tua! aku harus mengeluarkannya untuk mengambil tindakan!" kesal Leon.


Jeslyn memukul bahu suaminya, dia kesal dengan suaminya yang menyuruh cucunya untuk memasukkan tangan kedalam guci yang berisikan ular itu.


"Sudahlah, kita jadi tahu bahwa ada yang menjadi incaran pelaku." ujar Zidan menengahi perdebatan putranya dan Jonathan.


"Sepertinya pelaku mengincar Alden, apa ada masalah yang belum kalian selesaikan?" tanya Arthur pada putrinya.


Amora teringat akan Luna, dia mencurigai Luna yang telah memasuki kamar rawat ini. Itu artinya Luna masih mengawasi keluarganya walaupun ia telah menjadi buronan polisi.


"Luna ... istri pertama mas Alden, saat ini dia masih menjadi buronan polisi. A-aku curiga dia yang melakukan ini, dia saja berani membunuh kakaknya apalagi membunuh Alden." ujar Amora sambil menatap papinya.


Leon mendekatkan dirinya pada Amora, dia memegang tangan Amora yang kini tengah bergetar karena takut.


"Tujuannya hanya menyakiti mommy Amora, dia ingin agar mommy merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Di ceraikan suaminya, dia pasti ingin agar kau juga merasakan itu. Dengan arti lain, dia ingin Alden mati agar kau merasa yang namanya kehilangan sama sepertinya dia." ujar Leon sambil melepas genggamannya dan menatap Amora dengan intens.


Mereka semua terkejut dengan penuturan Leon, mereka juga membenarkan apa yang Leon katakan. Bisa jadi ini adalah rencana Luna yang hendak membalas dendam karena Alden yang telah membuangnya. Sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa Leon memanggil Amora dengan sebutan mommy.


"Leon kita harus pulang!" ujar Zidan menarik lengan putranya meninggalkan mereka yang menatap bingung kepergian ayah dan anak itu.


***


"Lepaskan!" pinta Leon terhadap papanya.


"Papa sudah bilang jangan memanggil tantemu dengan sebutan mommy! dia sudah menjadi istri pamanmu kau mengerti itu kan!" ujar Zidan.


"Kau berkata jika mommy Amora akan menjadi ibuku jika suatu saat nanti kau akan bertemu dengannya! kini kita telah menemukannya, itu artinya kau harus memilikinya!" sahut Leon.


Zidan mengusap wajahnya kasar, putranya sangat menginginkan Amora untuk menjadi ibunya. Terlebih saat dia merasakan sosok ibu pada diri Amora.


"Leon! kau harus mengerti, keadaannya saat ini berbeda. Kita tidak boleh menghancurkan rumah tangga mereka, terlebih saat ini mereka tengah menanti anak kedua." ujar Zidan sambil memegang kedua pundak putranya.


"Leon! papa tau keinginanmu adalah tante Amora menjadi ibumu, tapi sekarang keadaannya berbeda. Papa mohon mengerti lah, kau bisa menganggapnya sebagai ibumu. Namun, kau tidak boleh memaksanya untuk menjadi ibumu yang sesungguhnya," terang Zidan.


Leon menyadari bahwa dia tak bisa memaksa keadaan, dia akhirnya mengangguk dan menyetujui ucapan papanya.


"Baiklah," pasrah Leon.


Zidan tersenyum, dia tahu bahwa anaknya itu sangat merindukan sosok ibu. Untuk itu dia berusaha mendekati diri dengan Alden agar putranya bisa merasakan sosok ibu dari Amora.


Di balik wajahnya yang dingin dan datar, Zidan menjadi ayah sekaligus ibu bagi putranya. Dia tak memikirkan untuk menikah kemabli, karena fokusnya hanya untuk sang putra.


"Yasudah, ayo kita pulang." ajak Zidan sambil merangkul putranya keluar dati rumah sakit itu.


"Yah, papa benar. Aku tidak bisa memaksa mommy untuk menikah dengan papah, walau begitu aku masih bisa mendapat kasih sayangnya sebagai keponakan bukan?" ujar Leon dalam hati.


Sedangkan di kamar rawat Alden, kini mereka tengah bersiap untuk pulang. Jonathan memutuskan agar Alden di rawat di Mansion Wesley saja.


"Mas Aldennya masih tidur dad," ujar Amora sambil membereskan barang Elbert. Suaranya masih terdengar bergetar akibat dirinya yang tadi sempat menangis karena takut.


"Suamimu itu kalau udah tidur kayak kebo, susah dibanguninnya. Coba kamu bisikin dia bilang mau cari suami baru, kali aja bangun," ujar Jeslyn.


Amora mengangguk, dia mendekati brankar Alden dan terlihat suaminya yang masih tertidur pulas.


"Mas! mas!" panggil Amora sambil menggoyangkan badan suaminya. Namun, tetap saja tak ada reaksi apapun.


"Mas! bangun mas! kalau gak bangun aku disuruh sama mommy buat cari suami baru loh!" ujar Amora dengan suara lebih keras.


Tapi tetap saja Alden tak menyahut, dia hanya menggerakkan badannya sedikit dan lanjut tidur.


"Mom," ujar Amora dengan lelah.


Jeslyn mengangguk, dia menghampiri putranya yang masih tidur dengan pulas.


"Al! bangun Al, istrimu nangis tuh!" ujar Jeslyn menepuk pipi sang anak.


Alden sontak saja terbangun, dia menatap mommynya yang tengah menatapnya.


"Bangun! kita pulang sekarang," ujar Jeslyn.


Alden mengangguk, dia mengusap wajahnya pelan. Setelahnya dia menduduki dirinya dan menatap istrinya.


"Kita pulang sekarang yah," ujar Amora sambil menghampiri suaminya.


"Kau habis menangis?" tanya Alden menyadari suara Amora yang terdengar berbeda dari biasanya.


Amora menggeleng, dia membereskan selimut suaminya. Dia tak berani menatap Alden, dia takut akan diberi pertanyaan lagi. Apalagi saat ini Alden belum pulih sehingga dia belum menceritakan tentang tadi.


"Dad, apa yang terjadi?" tanya Alden.


"Sudah, nanti di mansion kita akan jelaskan." ujar Jonathan sambil mengambil kursi roda Alden yang berada di sudut ruangan.


pecahan guci itu sudah selesai di bereskan oleh Arjuna dan Arsel, sementara yang lain langsung membereskan barang-barang mereka.


Alden masih bingung dengan situasi yang ada, apa dia tidur terlalu pulas hingga tak menyadari apa yang terjadi?


Netranya menatap Elbert yang berada di gendongan Arthur, dia beralih menatap Aqila yang sedang di gandeng oleh Eveline.


"Ada apa ini?" gumamnya