Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
End


7 tahun kemudian.


Di Mansion Alden.


"LIA! BALIKIN KAOS KAKI LIO!" teriak seorang anak laki-laki sambil berlari mengejar kakak perempuannya.


Anak perempuan itu ada Lia yang kini berumur tujuh tahun. Dia berlari hingga rambutnya yang di kuncir dua terus bergerak akibat gerakannya.


"GAK MAU! WLEEEE!"


BUGH!


"Hiks huaaaa!" tangis Lia pecah akibat terjatuh karena kakinya tersandung karpet.


"Kan! apa Lio bilang, ngeyel sih!" kesal anak laki-laki tersebut yang bernama Lio.


Lia meringis karena lututnya memar, sementara Lio mengusap lutut Lia dan meniupnya pelan.


"Udah gak papa, bentar lagi sembuh kok," ujar Lio.


Biarpun Lio adalah adik, tetapi dia sudah menjadi kakak untuk Lia. Dia yang selalu melindungi kembarannya itu jika ada anak yang nakal terhadap mereka.


"Ya ampun, kenapa kalian belum bersiap juga? cepat bersiap! keburu abang kalian mengamuk nanti!" ujar Amora yang baru saja datang dengan menggandeng putra bungsunya yang kini sudah berusia dua tahun.


Dua tahun lalu Amora melahirkan buah hatinya dengan Alden kembali yang bernama Laskar Bintang Wesley. Alden pun merasa sangat senang, tetapi lagi-lagi anaknya laki-laki. Namun, tak urung Alden sangat bersyukur.


"Lia ambil kaos kaki Lio mommy," terang Lio.


"Abisnya Lia kesal! Lio gak pernah manggil Lia kakak, padahal kan Lia lahir lebih dulu!" gerutu Lia.


Amora menghela nafasnya pelan, seperti inilah kini kehidupannya.


"Kau itu jangan berbangga karena lahir duluan! jika bukan aku yang menendangmu keluar, kau tidak akan lebih dulu keluar!" kesal Lio


"Aku bisa keluar sendiri!" sentak Lia.


"Ck, pakai baju pun masih teriak Mommy! tolong pakaikan Lia baju! manja!" sentak Lio.


Lia akan menjambak kembarannya tetapi suara sepatu membuat keinginannya terhenti karena melihat sang abang yang turun dengan wajah galaknya.


"Apalagi kerusuhan yang kalian lakukan hah?!" tanya Elbert sembari mendekat ke arah adik-adiknya itu.


Lia dan Lio saling menunjuk satu sama lain, sementara Amora hanya menepuk keningnya melihat perlakuan anak-anaknya.


"Bang! Bang!" seru Laskar.


Elbert menoleh melihat adik kecilnya yang menarik pelan celananya, dia segera membawa sang adik ke gendongannya dan menatap tajam kepada adik kembarnya.


"Cepat bersiap! abang tunggu kalian lima menit lagi!" ujar Elbert.


Seketika Lio dan Lia berlari ke kamar mereka untuk bersiap. Apalagi mereka satu sekolahan dengan abang mereka yang kini sudah kelas 6 SD


"Daddy mana dek?" tanya Elbert pada adik kecilnya karena tak biasanya adiknya itu tak menempel pada sang daddy.


"Dad, tidul," jawab Laskar.


"Hah ... El, kau coba bujuk adikmu. Sedari tadi dia tidak mau makan. Daddymu itu sedang sakit, sejak kemarin ia muntah-muntah. Mommy titip Laskar sebentar buat mengecek daddy," ujar Amora dan berlalu meninggalkan Elbert.


Elbert mengangguk, dia membawa Laskar keruang tengah selagi dia menunggu si kembar.


"Abang mau cekolah?" tanya Laskar.


"Iya, adek di rumah jangan nakal. Nanti abang pulang ajak Laskar main, sekarang adek makan dulu," bujuk Elbert.


Tangan Elbert mengambil piring Laskar dan menyuapi bocah itu dengan telaten. Memang Laskar lebih dekat dengan Elbert di banding si kembar yang selalu saja ricuh.


"Udah! tenyang abang! pelut Acka mau meletuc!" ujarnya yang memang memanggil dirinya Aska agar mudah dia ucap.


Elbert mengangguk, dia menyerahkan minum untuk Laskar dengan hati-hati.


"Pelan-pelan dek!" pinta Elbert saat melihat Laskar yang semangat minum.


Elbert menatap si kembar yang baru saja menghampirinya dengan wajah cemberut.


"Kenapa kalian?" heran Elbert.


"Kita ngetuk pintu kamar mommy buat minta uang jajan. Tapi malah gak ada jawaban, terus kita jajan pake apa?" gerutu Lia.


Elbert mengangguk, dia memanggil salah satu maid dan menyerahkan Laskar padanya.


"Bi, El titip Laskar yah," pinta Elbert.


Laskar pun hanya menurut, dia tahu jika abangnya tak bisa membawanya ke sekolah.


"Ayo sekarang kita berangkat, supir sudah menunggu di depan. Uang jajan kalian ada sama abang," ujar Elbert sembari memakai tasnya dan berjalan keluar.


Si kembar kembali senang dan mengikuti Elbert menuju mobil, mereka akan berangkat bersama ke sekolah mereka.


***


"Mas!" panggil Amora.


Alden masih setia bergelung di bawah selimutnya tebalnya, dia rak mengindahkah panggilan sang istri.


"Mas, makan dulu. Baru abis itu tidur lagi," ujar Amora.


Alden membuka matanya, dia menyipitkan matanya ketika rasa pusing mendera kepalanya.


"Shttt," ringis Alden.


Amora dengan sigap mengelus kepala suaminya, dia dengan telaten mengurus suaminya itu.


Cklek!


Atensi Amora mengarah ke pintu, dia tersenyum kecil melihat sang anak yang masuk kedalam kamar mereka.


"Abang sama kakak udah berangkat dek?" tanya Amora.


"Cudah, daddy macih cakit ya mommy?" ujar anak itu sambil mendekati Alden.


Alden tersenyum tipis ketika sang anak menyentuh keningnya, dia membawa sang anak untuk menaiki kasur dan memeluknya erat.


"Kamu gemesin banget sih!" gemas Alden sembari menciumi wajah anaknya.


Laskar tertawa, dia langsung turun ketika pelukan sang daddy melonggar. Kakinya berlari kecil kesana dan kemari, sedangkan Alden dan Amora hanya menatapnya dengan senyum kecil.


"Hah ... kalau Laskar sudah lancar bicara dan bermain dengan temannya. Pasti Mansion akan terasa sangat sepi apalagi Elbert dan si kembar mulai beranjak dewasa," lirih Alden.


Amora tersenyum, dia mengelus kepala sang suami dengan sayang. Tangannya terulur untuk mengambil tangan suaminya dan dia tempelkan ke perutnya.


"Siapa bilang mansion akan sepi, sebentar lagi akan ada tangisan bayi kembali." ujar Amora sambil menatap tulus ke arah Alden.


Alden terkejut, dia melihat tangannya dan beralih menatap sang istri.


"Ka-kamu ...,"


"Iya, aku lagi hamil kembali. Tadi pagi aku bari cek pakai tespack karena curiga dengan kamu yang selalu muntah-muntah sama seperti hamil Laskar," terang Amora yang kana membuat Alden terduduk dan melupakan sakitnya.


"Serius kamu yang? Laskar masih kecil loh!" heran Alden.


Amora menyentak tangan Alden, dia menatap Alden dengan sinis sembari bersedekap dada.


"Aku udah bilang kan sama kamu, kalau lagi hujan deras tahan keinginan mas. Kalau udah jadi, aku yang di salahin begitu?!" sarkas Amora.


Alden menggaruk pelipisnya pelan, di menatap sang istri yang kini sudah membuang pandangannya.


"Ya ... ya aku mana tau yang, yaudah sih ... banyak anak banyak rezeki ini," ujar Alden dengan entengnya.


Amora mendengus kesal, dia tak masalah dengan anak. Namun, putra mereka Laskar masih terlalu kecil untuk mempunyai adik.


"Aku takut Laskar akan mengalami hal serupa dengan Elbert. Aku takut dia merasa di bedakan dengan adiknya nanti," terang Amora.


Alden menghela nafasnya, dia membawa sang istri ke pelukannya dan mencium puncak kepalanya pelan.


"Yang, dulu dan sekarang itu berbeda. Kita sudah banyak belajar dati kejadian lalu, dan kini saatnya kita menghindari hal yang akan terjadi seperti dulu." terang Alden sambil mengusap rambut sang istri.


***


"Lio! nanti bilangin kak El yah, Lia mau pulang bareng kak Leon." pinta Lia sembari memakai tasnya.


"Kamu mau kak El marah?" heran Lio.


"Ih! untuk kali ini aja yah, kasian kak Leon uda nunggu dari tadi. Bye-bye!" ujar Lia dan berlari keluar kelas.


Lio ingin memanggilnya rasanya pun akan percuma karena adiknya yang selalu keras kepala dan terus menempel pada Leon.


Sementara itu, Lia telah memasuki mobil Leon. Dia duduk di belakang bersama Leon yang tengah bermain Ipadnya.


"1 jam lebih 27 detik aku menunggumu, dan kau ... lagi dan lagi terlambat," gumam Leon.


Lia meringis pelan, dia tak menyangka jika Leon selalu menghitung keterlambatannya.


"Maaf kak, tadi aku izin dulu sama Lio." ujar Lia sembari memasang wajah melasnya.


"Apakah izin memerlukan waktu sampai 1 jam lebih?" heran Leon sembari mengalihkan pandangannya ke arah Lia.


Lia menunduk, dia salah karena tadi mengobrol dulu dengan temannya dan mengulur waktu.


"Sudahlah lupakan. Pak, jalan." ujar Leon dan beralih memerintah sang supir.


Mereka sama-sama terdiam, Lio yang masih memakai seragam SMP nya menoleh pada Lia.


"Zanna," panggil Leon.


Lia menoleh, memang Leon akan memanggil Lia dengan Zanna bukan Lia.


"Iya kak," sahut Lia.


Leon terdiam, dia mengalihkan pandangannya dan menatap Lia yang tengah menunggu kelanjutan darinya.


"Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu karena besok aku akan masuk asrama militer," ujar Leon yang mana membuat Lia terdiam.


"kakek memaksaku untuk masuk asrama militer yang ada di inggris. Untuk itu aku harap kamu menjaga dirimu dengan baik hingga kita bertemu lagi." terang Leon sembari mengelus rambut Lia.


Lia menangis, dia tak biasa jauh dari Leon karena sedari kecil Leon yang selalu mengerti nya. Bahkan jika dia merajuk, dia akan pergi ke mansion Leon.


"Berapa lama?" tanya Lia di sela tangisnya.


"12 tahun, setelah itu kakak pasti akan kembali kepadamu, dan menikahimu jika aku masih diberikan kesempatan untuk hidup," ujar Leon dan melanjutkannya di di dalam hati.


Leon menghapus air mata Lia, hatinya merasa sakit saat melihat air kata itu jatuh. Baginya Lia adalah orang yang paling dia sayang setelah mamanya.


"Kenapa lama sekali hiks ... itu pelatihan militer apa bangun negara hiks ...," gerutu Lia.


Leon tertawa, dia memeluk Lia dengan gemas. Walaupun perbedaan umur yang terpaut tujuh tahun, Leon tetap akan menikahi Lia di masa depan.


Mobil yang mereka tumpangi terhenti di gerbang Wesley, Leon tak bisa masuk ke sana karena pasti Alden akan menceramahinya.


"Hiks ... aku gak mau pisah sama kakak!" sentak Lia.


"Zanna, kita hanya berbeda negara saja bukan berbeda alam. Ayolah, aku akan mengirimkan pesan untukmu setiap minggu. Bagaimana?" bujuk Leon.


Akhirnya Lia mengangguk, mata coklatnya menatap mata hitam pekat milik Leon yang terlihat setajam elang.


"Hiks ... bisa gak di undur? perasaan Zanna gak enak," lirih Lia.


"Hah ... Zanna, itu hanya perasaan kamu saja." terang Leon sembari mengambil sesuatu dalam tasnya.


Lia membulatkan matanya kala melihat Leon yang sedang membuka sebuah kotak.


"Sebelum aku pergi, aku ingin melihatmu memakai ini. Ku harap, jika suatu saat nanti kita bertemu ... kau akan mengenaliku karena gelang dan kalung ini terikat satu sama lain." terang Leon sembari memasangkan gelang pada Lia.


Leon mengarahkan bandulan kalung yang berbentuk kunci itu pada gelang Lia, setelahnya dia memakaikan gelang tersebut pada Lia dan terdapat ukiran nama mereka pada gelang Lia.


"Zanna dan Leon, sungguh manis," gumam Lia.


Leon tersenyum, dia memakai kalung itu setelah dia mengunci gelang Lia.


"Masuklah, sampai bertemu lagi." pinta Leon sembari mengelus kepala Lia lembut.


Lia menangis, dia menubruk tubuh Leon dan menangis keras. Dia merasa seperti akan kehilangan Leon padahal pria itu hanya akan masuk asrama saja.


Leon membalas pelukan Lia tak kalah erat, air matanya jatuh walau ia dengan cepat menghapus nya.


"Sudahlah, kenapa kau cengeng sekali," ujar Leon.


"Hiks ... hiks ... kakak jangan lupakan Zanna, kakak harus ingat Zanna pokoknya!" isak Lia.


Leon mengangguk, dia melepas pelukan mereka dan menghapus air mata Lia.


"Aku berjanji, aku akan mengingatmu. Jika nanti aku melupakan mu, bantu aku untuk mengingatmu kembali," terang Leon.


Lia mengangguk, dia membuka pintu mobil walaupun terasa enggan. Dia keluar dari mobil dan menatap mobil Leon yang pergi dari hadapannya.


Lia kembali menangis, begitu pula dengan Leon yang kembali menangis sambil menatap Lia melalui kaca spion mobilnya.


"Kenapa tuan muda mengatakan itu pada nona Zanna, bukankah tuan muda akan berobat untuk menyembuhkan penyakit ensefalitis?" bingung supir itu.


"Paman, saat aku mengatakan bahwa aku akan mengikuti pelatihan militer saja dia sudah menangis seperti itu apalagi aku mengatakan penyakitku? sungguh melihatnya menangis seperti tadi membuatku tak tega, dan juga aku takut jika nantinya pengobatan itu gagal dan berakhir aku tiada setidaknya Zanna akan merasa jika aku menipunya dan akan membenciku. Itu lebih baik," terang Leon.


Supir itu mengangguk, dia kembali fokus walau sesekali melirik Leon yang sedang menyandarkan tubuhnya dengan wajah pucatnya.


***


Amora sedang menatap anak-anak nya yang tengah berlari di taman belakang, entah mengapa malam ini Lia ingin bermain di taman walau sempat di larang oleh Alden tak membuat bocah itu berhenti.


"Sayang!" panggil Alden.


Amora menoleh, dia memberi Alden tempat duduk dan masuk kedalam pelukan suaminya.


"Mas, kini warna mata Lio sudah tetap menjadi abu-abu gelap. Tetapi, mengapa Lia belum ya mas?" tanya Amora sembari menatap Lia yang tertawa lepas.


Alden menggeleng, dia juga tak tahu tetapi dia yakin pasti ada hal lain yang terjadi pada putrinya.


"Tak apa, lagi pula Lia selalu kita larang untuk keluar saat malam. Biarpun keluar malam aku selalu mengingatkannya untuk memakai kaca mata. Mata hijau Lia begitu bersinar dibawah cahaya bulan, pasti mereka akan langsung takjub saat melihatnya." terang Alden sembari mengelus rambut istrinya.


"Hah ... kau benar," sahut Amora.


Tiba-tiba elusan Alden terhenti, dia menatap putrinya yang tertawa lepas sambil bermain dengan Lio.


"Sayang mumpung anak-anak lagi pada main, bagaimana kalau kita jenguk dedek?" tanya Alden sembari menaik turunkan alisnya.


Amora menatap suaminya, dia berusaha melepaskan diri dari Alden tetapi pria itu malah menggendongnya.


"MAS! LEPASIN!" teriak Amora.


Lia dan Lio bahkan berhenti bermain dan menatap orang tuanya dengan bingung.


"KALIAN BERSENANG-SENANGLAH, DADDY MAU JENGUK ADIK KALIAN!" teriak Alden.


Lia dan Lio mengangguk karena mereka pikir itu adalah Laskar. Sedangkan Elbert menatap bingung Laskar yang berada di pangkuannya.


"Kan Laskar ada disini, terus adik yang mana?" heran Elbert yang mana membuat si kembar menatapnya.


Mereka saling terdiam dan menatap. Namun sedetik Kemudian mereka berteriak dan masuk kedalam mansion.


"MOMMY! DADDY! KAMI GAK INGIN PUNYA ADIK LAGI HUAAAA!"


...~End~...


____________________________


Hah ... Akhirnya tamat juga😆😆.


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca dari awal hingga akhir cerita ini.


🥰🥰🥰 terima kasih untuk kalian yang sudah mendukung karyaku.