
Saat ini Gio membawa Aqila ke taman bermain sesuai keinginan anak itu. Binar bahagia tampak sangat jelas di wajahnya saat melihat putrinya yang nampak sangat antusias.
"Paman! Qila mau es krim itu," ujar Aqila sambil menunjuk pedangan yang berjualan es krim.
"Baiklah tuan putri, mari kita memberi es krim." ajak Gio sambil menuntun Aqila ke pedagang es krim itu.
"Paman, Qila mau rasa strawberry." ujarnya sambil menatap es krim tersebut dengan binar bahagia.
Gio memesankan es krim untuk Aqila dan juga dirinya dengan rasa yang sama. Setelah itu mereka duduk di bangku yang tak jauh dari sana.
"Aqila senang bisa main kesini lagi," ujar anak itu.
Gio menatap Aqila, dia tersenyum lembut ketika menyadari bahwa Aqila mulai nyaman dengannya. Terlihat bahwa Aqila mulai menceritakan bagaimana perasaannya saat ini.
"Oh ya, memangnya daddy jarang ngajak Qila main?" tanya Gio merespon ucapan putri kandungnya itu.
"Daddy sering ajak main, tapi di mansion. Daddy jarang ada waktu kalau main kesini," jawab Aqila sambil sesekali menjilat es krimnya.
Gio mengangguk, dia mengakui bahwa Alden memang sangat sibuk. Apalagi sahabatnya itu memegang kendali dua perusahaan sekaligus, yaitu milik pribadi dan Wesley. Gio paham kesulitan Alden, walaupun dia juga seorang CEO sama seperti sahabatnya, tapi dia tak terlalu sibuk seperti Alden.
"Hm, Qila mau gak panggil om ayah?" tanya Gio dengan menatap putrinya itu dengan serius.
Aqila menatap Gio, dia memikirkan apa yang Gio ajukan dengannya.
"Daddy izinin gak kalau Qila manggil paman ayah?" tanya balik Aqila.
"Pastinya, jadi ... Qila mau gak manggil om ayah Gio?" pinta Gio.
Aqila mengangguk singkat, dia kembali menikmati es krimnya tanpa mengetahui bahwa saat ini Gio sangat bahagia.
"Hm, a-ayah Qila mau main ayunan itu. Tapi, ayah yang dorong Qila yah." linta Aqila sambil menunjuk ayunan yang berada tak jauh dari mereka.
Gio mengangguk, es krim mereka telah habis. Gio menggandeng tangan putrinya untuk menghampiri ayunan itu.
"Pelan-pelan naiknya sayang," ujar Gio.
Aqila mengangguk, Gio mulai mendorong pelan ayunan itu. Tawa bahagia yang ia dengan dari mulut sang anak.
"Hahaha, lagi ayah ...," ujar anak itu saat Gio tak kunjung mendorong ayunannya kembali.
Gio tersenyum, dia kembali mendorong ayunan yang anaknya tempati. Dia sangat bahagia saat merasakan kedekatan antara dirinya dan juga putrinya.
Sementara itu, Alden tengah menenangkan Elbert yang merengek ingin pulang. Dia berusaha untuk membuat anaknya diam agar sang istri tidak bangun.
"Hiks ... El mau pulang hiks ...," rewel anak itu.
"Iya, nanti dulu pulangnya. Jahitan El jiga belum kering, nanti dokternya marah." bujuk Alden.
"Hiks ... di dahit ulang di lumah sama oma hiks ... oma kan bisa dahit hiks ... El nda mau dicini daddy, bocan tau!" kesal anak itu.
Alden menimangnya ke kiri dan kanan, akan tetapi tetap saja anak itu merengek.
"Sini biar gue yang gendong, lu mah gak bisa nenangin anak lu!" kesal Deon yang sedari tadi melihat drama ayah dan anak itu.
Alden akan memberikannya, akan tetapi lilitan tangan Elbert pada lehernya terlalu kuat.
"Sama om dulu," bujuk Alden.
Akan tetapi bocah itu tetap menggelengkan kepalanya, dia tidak mau dengan Deon karena dia menganggap orang itu asing.
"Nda mau hiks ... mau tama daddy aja," rengek anak itu.
Alden menghela nafas lelah, dia keluar dari ruang rawat Elbert agar tangisan anaknya tak membangunkan istrinya yang tengah tertidur pulas.
"Yaudah, kalau mau sama daddy jangan nangis terus. Kalau El nangis terus mending El sama om Deon yang tadi," ucap Alden.
Bukannya berhenti nangis, Elbert malah semakin mengeraskan tangisannya. Alden kelimpungan ketika mendengar tangisan sang anak yang kini kian mengeras.
"Syutt, kok makin nangis sih," gerutu Alden.
Mereka saat ini sudah menjadi bahan tontonan, bahkan para ibu-ibu yang melihat mereka saling berbisik - bisik membicarakan Alden.
"Makanya pak, kalau belum siap punya anak jangan buat dulu. Jadi begini kan gak bisa tenangin anak." omel salah satu ibu-ibu yang lewat di depan Alden.
Alden hanya menatap datar ibu-ibu tersebut, dia juga tahu cara menenangkan anak. Namun, entah mengapa Elbert sangat rewel saat ini.
Alden melihat jam tangannya, dia berdecak ketika melihat jam berapa saat ini.
"Pantas saja anak ini rewel, ternyata sudah jam satu siang dan waktunya dia tidur." gerutu Alden sambil membaringkan Alden di gendongannya. Tangannya menepuk pelan paha anak itu untuk menidurkannya.
Tak lama tangisan Elbert mereda, matanya sudah sayu saat melihat Alden. Di tambah Alden terus meniup matanya yang membuat Elbert semakin ngantuk.
"Nah kan, tidur juga akhirnya. Gak bisa apa bilang, daddy El ngantuk. Kenapa harus rewel dulu." gerutu Alden sambil membawa masuk sang anak ke kamarnya kembali.
cklek.
"Gimana?" tanya Deon ketika melihat sahabatnya itu masuk.
"Tidur, nih anak rewel karena ngantuk." gerutu Alden sambil berjalan menghampiri Deon.
Deon terkekeh geli, temannya itu sangat lucu ketika menenangkan anaknya. Netranya menatap Elbert yang memang sudah tertidur pulas.
"Berarti tandanya lu harus peka sama anak lu ... jadi kalau kejadian ini terulang, lu gak lagi pusing. Tinggal tidurin aja, beres." ucap Gio dengan entengnya sambil menepuk bahu Alden.
Tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya Amora telah bangun, dia hanya ingin tahu apa yang akan suaminya lakukan saat putra mereka menangis. Amora tak menduga bahwa Alden peka saat putranya menangis yang mana membuat Amora sedikit senang.
"Eh Al, mommy sama daddy pulang dulu yah. Nanti kalau Amora bangun bilang sama dia mommy sama daddy pulang dulu gitu, takutnya nyariin," ujar Jeslyn.
Sedari tadi Jeslyn dan Jonathan belum pulang, mereka mengamati Alden yang berusaha menangkan Elbert. Namun, secara tiba-tiba Jonathan harus pulang karena ada urusan kantor yang belum ia kerjakan.
"Iya, nanti Al sampaikan. Mommy dan daddy hati-hati di jalan." ujar Alden sambil menatap mommynya.
"Elbert sudah tidur?" tanya Amora yang pura-pura baru terbangun sambil mengucek matanya.
Alden menatap istrinya yang sudah terbangun, dia bangkit dan mendekati sang istri untuk memberi putranya.
"Sudah, tadi rewel banget," ujar Alden memperlihatkan sang putra yang sudah tertidur pulas.
Amora mengangguk, dia menyuruh Alden untuk membaringkan El di sebelahnya. Tangannya terulur untuk menyelimuti sang anak.
"Tadi mommy sama daddy pulang, katanya ada urusan." ujar Alden sambil menduduki dirinya di bangku sebelah brankar.
Amora mengangguk dia memang sudah tay kalau mertuanya pulang. Netranya menatap Deon yang sedari tadi melihat mereka.
Alden mengikuti arah pandang istrinya, dia lupa untuk memperkenalkan Deon dengan Amora.
"Oh iya, sayang ... pria yang duduk disana adalah sahabatku Deon," ujar Alden.
Amora mengangguk, dia tersenyum kala melihat Deon yang tersenyum tipis menatapnya.
"Gak usah natap dia." kesal Alden sambil menolehkan kepala Amora kepadanya.
Amora menghela nafas lelah, suaminya ini sangat mudah sekali cemburu. Dia turun dari brankar dan menuju nakas untuk mengambil paper bag yang sepertinya adalah makan siang yang Alden beli.
"Kamu sudah makan?" tanya Amora sambil melihat isi paper bag itu.
Alden menggeleng, dia memang belum makan sedari tadi karena sibuk mengurusi Elbert yang menangis.
"Yaudah, ayo kita makan siang dulu. Oh iya, kak Deon sudah makan?" tanya Amora pada Deon dengan panggilan kak, Amora takut jika hanya memanggil nama saja itu tak sopan.
Sedangkan Deon dia hanya mengangguk singkat dan kembali menatap ponselnya, dia merasa canggung saat Amora menyebut dirinya kak. Padahal dulu Amora selalu memanggilnya Deon, dirinya juga baru ingat kalau Amora tak ingat apapun.
"Dia belum makan siang yang, De ... kita makan siang dulu." ajak Alden sambil bangkit dari duduknya dan mendekati Deon.
"Gue makan siang di rumah aja, tadi pembantu gue kirim pesan katanya ada orang yang mau ketemu sama gue. Dia udah nunggu di rumah, jadi gue pulang dulu yah." ujar Deon sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri Alden.
Alden mengangguk, dia menatap Deon yang tengah mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata Deon memberikannya alat perekam tadi. Alden menerimanya dan menaruhkan di atas nakas.
"Terima kasih lu udah mau bantu gue, hati-hati di jalan." ujar Alden sambil menepuk pelan bahu Deon.
Deon mengangguk, dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang rawat Elbert.
Sementara Amora penasaran dengan rekaman itu, tangannya terulur untuk melihatnya. Namun, Alden memanggilnya yang mana membuatnya terkejut.
"Sayang," panggil Alden
"Kaget aku!" sentak Amora sambil memegangi dadadnya.
Alden mengerutkan keningnya, dia merasa memanggil Amora dengan volume sedang. Kenapa istrinya kaget?
"Ada apa," tanya Amora.
Alden menarik tangan istrinya itu dengan satu tangan lagi mengambil paper bag yang berada di atas nakas.
Alden membawa istrinya duduk di sofa, dia khawatir dengan sang istri yang juga belum makan siang. Bagaimana jika anaknya yang berada di kandungan istrinya lapar?
"Makan siang dulu, kamu sedari tadi belum makan." pinta Alden sambil membuka paper bag yang ia bawa tadi.
"Aku gak mau makan, gak nafsu," rengek Amora
Alden menghela nafasnya, dia menatap istrinya itu dengan wajah datar.
"Kalau kamu gak makan, terus bayi yang di kandungan kamu makan apa? makan angin hah?" kesal Alden.
"Tapi aku gak nafsu Al!" sentak Amora.
Tangan Alden terulur untuk menyentil bibir Amora yang kelewat tidak sopan saat memanggilnya.
"Al, Al! gak sopan manggil suami pake nama begitu!" kesal Alden.
Amora hanya mengelus bibirnya yang tadi di sentil Alden. Memang tidak terlalu sakit, tapi sedikit ngilu.
"Ish! aku kan gak lapar Al, belikan aku ketoprak aja!" ujar Amora.
Alden mengerutkan keningnya, dia tak mengerti makanan yang di maukan sang istri.
"Ketoprak? emangnya ada makanan yang namanya ketoprak?" tanya Alden dengan heran.
Amora sangat kesal, apakah suaminya tidak tahu ketoprak. Dia memang tahu bahwa dunia ini adalah dunia novel, tapi dia mengira bahwa disini juga pasti ada ketoprak.
"Ada! makanya cari!" kesal Amora.
"Di resto mana aku carinya?" tanya Alden dengan bingung.
"Jangan di resto mas, biasanya mereka jual di pinggir jalan." ujar Amora sambil menepuk paha suaminya.
Alden mengerutkan keningnya, dia memang sangat jarang makan dari pinggir jalan. Bukan karena apa, tapi keluarganya tak pernah makan di pinggir jalan sehingga dia tak terbiasa makan disana.
"Di pinggir jalan? yang biasanya pakai gerobak gitu? yang gak ada penutup makanannya?" tanya Alden beruntun.
Amora mengangguk antusias, dia menatap suaminya yang tengah kebingungan itu.
"Makan dari resto aja ya, kan sama aja di pinggir jalan." ucap Alden sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"kalau gitu gak usah! aku gak usah makan!" marah Amora.
Sedangkan Alden hanya menatap heran istrinya. Bukankah sama saja makan ketoprak di resto dengan yang di pinggir jalan, lalu bedanya apa?
"Aku salah lagi yang?"
"Salah lah! kamu selalu salah! emang salah!" sentak Amora.