
"Hakim telah memutuskan bahwa saudari Aluna Abraham akan di kenakan hukuman penjara seumur hidup,"
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan palu terdengar, kini ruangan sepi itu mendadak riuh. Hakim telah pergi dari sana, sementara masih ada beberapa orang yang masih duduk.
"Al ...," lirih Amora.
Alden mendatangi sidang keputusan hakim dengan mengajak Amora, dia ingin istrinya mengetahui apa saja kejahatan Luna. Netranya menatap Luna yang hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Kita harus pulang, kau harus beristirahat," pinta Alden.
Amora menangis, dia menatap Luna yang sepertinya tak ada kehidupan dalam dirinya. Amora bukan nangis karena kasihan, dia bingung dengan keadaannya saat ini.
"Kenapa? kok nangis?" tanya Alden sambil menangkup wajah sang istri.
"Benar, aku memang menjadi antagonis yang sesungguhnya," ujar Amora dalam hati.
Alden melihat Luna yang telah dibawa oleh polisi, dia menatap datar ketika Luna tak sengaja menatapnya.
Alden kembali mengalihkan pandangannya pada sang istri yang telah tenang. Dia memapah sang istri untuk bangun, sementara Deon keluar dari ruang persidangan itu untuk menghampiri Gio yang sedang menjaga Aqila dan Elbert di luar.
"Gi," panggil Deon.
Gio menoleh, dia mendekati sahabatnya. Tangannya menggenggam tangan Aqila sementara Elbert tengah sibuk dengan mainannya yang berada di bangku tunggu.
"Lu bisa ajak Aqila buat nemuin Luna sebelum dia masuk ke dalam sel tahanan, dia berhak untuk menemui putrinya." ujar Deon sambil menepuk bahu Gio.
Gio mengangguk, dia membawa Aqila untuk menemui Luna yang saat ini sudah menjadi tahanan.
"Sebentar pak!" seru Gio.
Polisi yang akan memasukkan Luna ke mobil pun menoleh mendengar panggilan Gio.
"Kenapa?" tanya polisi tersebut dengan tangan yang masih menahan Luna.
"Ehm gini pak, putrinya ingin berbicara pada ibunya bisa pak? hanya sebentar kok," nego Gio.
Polisi tersebut mengangguk, dia melepaskan Luna karena Luna tak mungkin kemana-mana. Saat ini dirinya tengah di borgol dan juga banyak polisi yang menjaga.
"Mama," lirih Aqila.
Luna menatap putrinya, tiba-tiba air matanya luruh begitu saja. Entah karena dia rindu sang putri atau karena menyadari kesalahannya, atau bahkan keduanya.
Aqila mendekat, dia memeluk Luna dengan erat. Aqila tak pernah membenci Luna, hanya saja dirinya kecewa terhadap apa yang sang ibu lakukan terhadapnya dan juga sang papa.
"Hiks ... hiks ...," tangis Luna.
Luna menjatuhkan tubuhnya, dia berlutut di hadapan sang anak. Dirinya tak bisa memeluk sang anak karena tangannya yang di borgol.
"Maaf ... maaf ... maaf," ujar Luna.
Aqila mengangguk, dia menghapus air mata sang mama dengan tangan kecilnya. Dia tersenyum manis walaupun air matanya masih menggenang di pelupuk matanya.
"Mama baik-baik disana yah, Qila dan ayah Gio akan sering jenguk mama. Mama jangan sedih, mama tenang saja Aqila akan selalu ingat mama." ujarnya sambil menatap lekat netra sang mama.
Luna mengangguk, dia mencium kening putrinya setelah itu dia kembali berdiri. Netranya tak sengaja bersitatap dengan Gio.
"Makasih, dan tolong jaga Aqila. Sampaikan maafku pada keluarga Alden, aku benar-benar menyesalinya," ujar Luna dengan tulus.
Gio mengangguk, setelah itu dia memeluk putrinya yang tengah menangis histeris ketika melihat Luna yang dibawa oleh para polisi.
"Hiks ... hiks ... mama," isaknya.
Gio tak tega, dia menggendong putrinya dan membawanya menjauh. Dia berniat akan langsung pulang, tetapi netranya menatap Alden dan Amora yang tengah panik.
Alden mendekati Gio dengan wajah paniknya, dia menepuk bahu sahabatnya itu.
"Elbert mana?" tanya Alden.
"Lah, tadikan sama si Deon disini." ujar Gio sambil menunjuk tempat yang saat ini sudah kosong dan tak ada Elbert disana.
"Masalahnya Deon juga gak tau, tadi katanya pas lo pergi ... dia balik badan anak gue udah gak ada!" kesal Alden.
Gio menggaruk belakang kepalanya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menahan tubuh Aqila.
"Ayah, turunkan Qila." pinta Aqila sambil memberontak turun.
Gio menurunkan putrinya, dia menatap Aqila yang berlari menuju suatu tempat. Sehingga Alden dan Gio berinsiatif untuk mengikutinya.
Setibanya disana, mereka membulatkan matanya ketika melihat Elbert yang tengah memeluk seorang anak perempuan sepantarannya. Bahkan bocah itu berani mencium pipi anak perempuan tersebut.
"Umurnya mau empat tahun tapi sudah menjadi playboy," gumam Gio.
Alden segera menghampiri putranya, dia langsung melepaskan pelukan sang putra dari anak perempuan itu. Dia merasa tak enak pada kedua orang tua anak itu.
"Aduh, maaf banget pak buk. Anak saya lancang peluk anak kalian," ujar Alden yang merasa tak enak.
"Hahah, gak papa pak ... namanya juga anak kecil," ujar wanita itu yang bisa di tebak jika dia adalah ibu dari anak perempuan itu.
"Lain kali anaknya di ajarin pak biar gak main nyosor aja," sentak ayah dari anak itu yang segera membawa anaknya kedalam gendongannya.
Alden tersenyum canggung, sementara ibu anak itu memukul bahu suaminya pelan.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak," ujar wanita itu dan beranjak pergi.
"Dada clala, salange." ujar bocah itu sambil menunjukkan jarinya yang berbentuk love.
Aqila menarik Elbert untuk pergi dari sana, sementara Alden masih terkejut mendengar apa yang anaknya ucapkan.
"Clala, Clala ... Clara! ngomong aja belum bener udah goda anak orang!" kesal Aqila sembari menarik anak itu.
Elbert tak mengindahkan ucapan Aqila, dia menolehkan kepalanya dan menatap sang mommy yang tengah berlari menghampirinya. Terlihat raut wajah yang sangat khawatir tercetak jelas pada wajah sang mommy.
"ELBERT!" Teriak Amora.
Aqila dan Elbert menghentikan langkahnya, tubuh Elbert segera dipeluk sang mommy. Sedangkan Aqila melepaskan genggamannya dan menatap ibu dan anak itu.
"Kamu kemana El, mommy cari EL loh dari tadi!" sentak Amora.
"Habis modusin anak orang itu anak mu!" ujar Alden yang baru saja menghampiri mereka dengan Gio dan Deon yang mengikutinya.
"Modusin apa?" beo Amora.
"Ndak kok mom, El tuman mau jadi pakboy sepelti om Alsen." ujar bocah itu sambil menggelengkan jari telunjuk gempalnya dihadapan sang mommy.
Sontak mereka terkejut, tak disangka Arsel membawa pengaruh buruk bagi Elbert.
"Om mu itu bukan pakboy El tapi sadboy," ujar Deon meniru cadel Elbert.
Elbert mengurutkan keningnya, setelah itu dia menganggukkan kepalanya.
"Yacudah, ayo kita pulang mommy. Kita kelumah glanpa yah, El mau tanya om Alsen tentang cadboy," ujar anak itu sambil menarik lengan Amora beranjak dari sana.
Sementara yang lain hanya terdiam, mereka mencerna apa yang Elbert ucapkan.
"Al, kayaknya anak lu bakal jadi anak penurut deh. Mendingan lu pisahin dia dari Arsel deh, sesat tuh anak." ujar Deon sambil menepuk bahu Alden.
"Gak bukan Arsel yang sesat, anak gue yang terlalu jenius." ujar Alden sambil beranjak dari sana diikuti oleh Gio dan Aqila.
Deon mengerutkan keningnya, dia masih bingung dengan ucapan Alden.