
Deon dan Gio saat ini tengah berada di kantor polisi, mereka sedang mengajukan kasus Luna yang berencana membunuh Alden dan Elbert.
Luna, wanita itu tengah bersembunyi. Para polisi kehilangan jejaknya, untuk itu Deon dan Gio berada di kantor polisi untuk membicarakan penangkapan Luna.
"Baik tuan, kami akan mengurus kasus ini. Jika kami telah menemukan keberadaan tersangka, kami akan melaporkannya ke tuan," ujar polisi tersebut.
Deon dan Gio mengangguk, mereka menjabat tangan polisi untuk meresmikan laporan mereka. Setelahnya Deon dan Gio berencana untuk pergi ke Mansion Alden untuk menjemput Aqila karena permintaan Gio.
"Pasti Aqila sudah pulang kan?" tanya Deon.
Gio mengangguk, dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Jelas saja putrinya sudah pulang, karena Aqila hanya bersekolah hingga pukul 12 siang.
Mobil yang dikendarai Deon akhirnya sampai di kawasan Mansion Alden, dia langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan mansion.
"Lu masuk, gue tunggu disini aja." titah Deon sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Gio mengangguk, dia melepaskan sabut pengamannya dan segera keluar untuk menjemput putrinya.
Gio memasuki mansion dengan santai, dia tersenyum ketika melihat bodyguard yang menyapanya.
"Erwin!" panggil Gio ketika melihat Erwin yang baru saja keluar dari lift.
Erwin menghampiri Gio, tangannya terlihat menenteng sebuah paper bag.
"Iya tuan?" sahut Erwin.
"Ck, kayak sama siapa aja kamu manggil saya tuan. Oh iya, Aqila mana?" ujar Gio.
"Nona kecil di dalam kamar, tadi dia ribut ingin ke rumah sakit. Aku tak mengizinkannya karema keadaan disana lagi tak tenang, mungkin dia sedang menangis di kamarnya," jawab Erwin dan berlalu dari hadapan Gio.
Gio segera masuk ke dalam lift setelah mendengar bahwa putrinya menangis. Sesampainya di lantai dua, Gio segera keluar dari lift dan menuju kamar putrinya
Cklek.
Gio memasuki kamar yang dihiasi warna serba pink itu, dia melangkahkan kakinya perlahan mendekati sebuah gundukan selimut yang berada di ranjang.
"Aqila," panggil Gio.
Aqila yang mendengar suara Gio segera membuka selimutnya, matanya yang telah sembab akibat menangis menatap Gio yang sedang menghampirinya.
"Ayah," panggil Aqila.
Gio tersenyum, dia mendekati putrinya yang tengah keluar dari selimut. Gio merentangkan tangannya untuk membawa putrinya ke pelukannya.
"Ayah hiks ... Qila mau ke rumah sakit hiks ... Qila mau ngeliat papa, Qila khawatir sama papa hiks ...," isaknya.
Gio mengelus rambut panjang sang anak yang terlihat berantakan, dia tahu apa yang di rasakan putrinya itu.
"Syutt, sudahlah ... Qila jangan menangis terus, papa gak papa kok. Qila mau jenguk papakan ke rumah sakit?" bujuk Gio.
Aqila menganggukkan kepalanya, dia melepaskan pelukannya pada sang ayah. Tangannya terulur untuk menghapus ingusnya.
"Jangan nangis lagi, nanti kasian papa yang melihat Qila menangis hanya karena papa." ujar Gio sambil menghapus air mata sang anak dengan ibu jarinya.
"Ayo yah, kita ke rumah sakit jenguk papa!" ajak Aqila sambil menarik lengan Gio.
Gio tersenyum, dia mengikuti sang putri yang menariknya keluar kamar. Hatinya terasa bahagia saat sang putri sudah merasa aman dengannya.
Gio dan Aqila keluar dari dalam lift, mereka keluar mansion menuju mobil Deon yang terparkir tepat di depan mansion.
Deon yang melihat Gio dan Aqila akan menuju ke arahnya segera memakai sabuk pengamannya.
Aqila membuka pintu belakang, sementara Gio mengikuti Aqila. Deon merasa ada yang aneh dari posisi mereka.
"Lu di belakang?" tanya Deon.
Gio mengangguk, dia memasangkan sabuk pengaman pada putrinya menghiraukan Deon yang sedang menahan kesal.
"Gue jadi kayak supir kalian dong!" kesal Deon.
Gio menatap sahabatnya itu, dia menepuk pelan bahu Deon sambil berujar.
"Ayo pak supir jalan!" canda Gio.
Deon berdecak kesal, tapi tak urung dia menjalankan mobilnya keluar dari area mansion.
Sedangkan Gio dan Aqila, mereka terkekeh mendengar decakan Deon. Bisa di pastikan wajah itu saat ini pasti tengah cemberut kesal.
"Kan! jadi the real supir gue!" gerutunya.
Deon keluar dari mobil mengikuti Gio dan Aqila yang sudah masuk ke dalam rumah sakit. Namun, netranya tak sengaja menangkap seorang pria yang ia kenal.
"Zidan?" gumam Deon.
Langkahnya berjalan cepat menghampiri pria yang bernama Zidan. Dia heran mengapa Zidan menuju lantai yang sama seperti yang ia tuju juga.
"Loh, bukannya lantai akhir itu lantai khusus keluarga Wesley? apa salah lantai ya?" heran Deon sambil memperhatikan lift yang akan menuju lantai akhir.
Deon memasuki lift yang lain, dia penasaran dengan Zidan yang menuju lantai terakhir.
Sesampainya di lantai terakhir, Deon langsung keluar. Netranya menatap Zidan yang tengah berbicara pada Jonathan, dan tampaknya mereka sama-sama memasang wajah sinis.
Deon mencoba mendekat mendengarkan apa yang Jonathan dan Zidan debatkan. Dia mengerutkan keningnya ketika mendengar nama Alden dan juga Jeslyn yang di sebut.
"Sudah aku bilang kan! aku kesini karena permintaan putraku!" ujar Zidan.
"Ck, kau kesini atas permintaan putramu? aku baru tahu jika seorang Zidan mau di perintah! kau ingin bertemu dengan Alden karena tujuan lain kan? sayangnya Alden belum juga sadar, sebaiknya kau berbicara pada Jeslyn ibu kandungmu!" sentak Jonathan.
Deon yang mendengarkan percakapan mereka membulatkan matanya, dia terkejut mendengar bahwa Zidan adalah anak kandung dari Jeslyn.
"Jadi, mommy memiliki anak lain selain Alden? kira-kira si Al udah tau gak ya?" gumam Deon.
Netranya menatap sekeliling mencari sosok Gio dan Aqila. Tapi dia merasa heran mengapa Gio dan Aqila belum juga sampai disini.
"Si Gio kemana dah! pasti tu anak ke kantin rumah sakit buat beli jajan!" gerutu Deon.
Saat ia tengah menggerutu, seseorang menepuk bahunya yang mana membuatnya terkejut.
"Kamu ngapain Deon?!" ujar seseorang yang menepuk bahunya.
Deon menoleh perlahan, dia membulatkan matanya ketika melihat siapa yang menepuk bahunya.
"Gue kaget bodoh!" sentak Deon sambil menepuk kasar bahu orang yang mengagetkannya.
"Aduh! ya sorry, abisnya kamu seperti mau maling aja ngumpet kayak gitu," gerutunya.
Deon menghela nafasnya, dia kembali mengintip Jonathan dan Zidan. Namun, netranya tak menangkap siapapun di depan ruang rawat Alden. Sepertinya Jonathan dan Zidan menyadari dirinya yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Hah! lu sih Gio, hilang kan mereka!" gerutunya pada Gio.
Orang yang mengagetkannya adalah Gio. Tadi Gio memang pergi ke kantin rumah sakit karena Aqila meminta pergi untuk membeli jajan, putrinya bilang dia juga akan memberikan jajan itu pada Elbert. Dengan senang hati Gio mengantarkannya. Saat mereka sampai keluar lift, mereka di buat bingung oleh Gio yang sedang bersembunyi di balik dinding.
"Udahlah, mending kita ke dalam aja." ajak Gio sambil menggandeng putrinya beranjak dari sana meninggalkan Deon yang masih kesal.
Deon mengikuti Gio dan Aqila, tangannya terulur untuk membuka pintu. Namun, seseorang menarik jasnya yang mana membuatnya mengurungkan niatnya.
"Siapa?" tanya Deon saat menoleh dan mendapati anak kecil dan seorang perempuan di belakang anak tersebut.
"Apa benar ini ruangannya Alden Wesley?" tanya anak kecil itu dengan datar.
Deon bingung, dia hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap anak kecil itu yang tengah menatapnya datar.
"Apa kau lihat papaku?" tanya anak kecil tersebut.
"Ck, eh bocah! lu kesini nanya bapak lu? emangnya gue cenayang apa! tau bapak lu yang mana!" kesal Deon, moodnya benar-benar jelek saat ini.
Perempuan yang berada di belakang anak kecil tersenut merasa tak enak, dia menggeser tubuh anak kecil tersebut untuk berbicara dengan Deon.
"Maaf tuan, Leon emang begitu orangnya. Hm, saya mencari kakak saya yang bernama Zidan. Apa tuan kenal?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Eveline. Bahasa indonesia Evelin memang lancar karena dia kursus berbahasa Indonesia sejak masih kecil.
Leon, anak kecil itu hanya menatap tantenya dengan malas. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, netranya menatap sebuah kamar yang berada tak jauh dari kamar rawat Alden.
Leon menghampiri kamar yang menjadi perhatiannya, dengan pelan dia membuka pintu tersebut.
Sejenak dia mematung ketika melihat ada banyak orang di kamar tersebut, akan tetapi netranya melihat sosok yang ia kenal.
"Nak, kau mencari siapa? apa kau tersesat?" tanya halus seorang wanita paru baya yang mendekati Leon.
Leon menatap seorang wanita yang sedang tidur di brankar, wajah wanita itu tak asing baginya.
"Mommy ...," gumam Leon.