Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Perbuatan Luna lagi?


Mereka telah sampai di Mansion Wesley, bahkan keluarga Miller juga ikut pulang ke Mansion Wesley.


Jonathan mendorong kursi roda Alden, sedangkan Jeslyn menggandeng menantunya dan keluarga Miller yang lain mengikuti mereka dari belakang.


"Kok kita kecini? tadi katana opa kita pulang?" tanya Elbert yang kini berada di gendongan Arsel.


"Nanti tanya sama opa yah ... soalnya om gak tau kenapa kita kesini." ujar Arsel sambil menatap ponakannya yang juga tengah menatapnya.


Elbert mengangguk, dia menyenderkan kepalanya pada dada bidang Arsel. Dibandingkan dengan Arjuna, Elbert lebih dekat dengan Arsel. Karena Arsel penyuka anak kecil, doa merupakan pribadi yang sedikit ramah sehingga Elbert cepat menerima kehadiran Arsel.


Jonathan segera menaiki lift dengan dikuti oleh Jeslyn dan Amora. Sementara Arthur dan keluarganya lebih memilih duduk di ruang tamu menunggu putri mereka yang akan mengurusi suaminya lebih dulu.


"Pi, apakah keselamatan Amora juga akan terancam karena mantan istri Alden itu? jika saja Leon tak mendapatkan ular itu, bisa saja Amora yang menjadi korban." tanya Arjuna sambil menduduki dirinya di sofa.


"Papi berencana akan menaruh orang kepercayaan papi untuk menjaga Amora dari jauh. Sementara itu kita juga harus cepat menemukan wanita itu, karena keluarga ini tidak akan merasa aman saat wanita itu masih belum juga tertangkap," jawab Arthur.


Arthur sudah memikirkan itu dari tadi, dia khawatir dengan keselamatan putrinya. Namun, dia juga tak bisa memutuskan tindakan yang dia ambil untuk putrinya sendiri. Putrinya kini telah memiliki suami walau awalnya dia tak menyetujui pernikahan mereka, tetapi cucunya membutuhkan keluarga yang lengkap. Sehingga dia harus menurunkan egonya.


Sedangkan Eveline sedari tadi diam, dia tak mengerti arah pembicaraan mereka. Dia juga baru tau jika Alden memiliki mantan istri.


"Aqila mana Eve?" tanya Queen.


"Oh itu tadi katanya mau ke kamarnya, tadi aku lihat dia naik tangga." ujar Eve sambil menunjuk tangga yang dekat dengan ruang tamu.


Queen mengangguk walau sedikit bingung kenapa Aqila melewati tangga, dia tak tahu jika Aqila sering naik turun lewat tangga karena anak itu lebih nyaman melewati tangga.


Sementara itu, Amora mendorong kursi roda Alden menggantikan Jonathan yang akan memasuki kamarnya bersama Jeslyn.


Amora membawa suaminya ke kamar suaminya yang sebelumnya juga sempat dia juga tempati.


Cklek.


Amora mendorong kursi roda Alden memasuki kamar mereka, setelahnya dia menutup pintu kembali dan mendorong kuris roda Alden mendekati tempat tidur.


"Yang, tadi di rumah sakit ada apa sih? kok tiba-tiba kita di suruh pulang begini?" tanya Alden.


Amora menduduki tepi kasur, sehingga kini mereka saling berhadapan. Dia menghela nafasnya pelan, dirinya berusaha untuk menyusun kata untuk menceritakan kepada suaminya tentang apa yang terjadi di rumah sakit.


"Tadi tiba-tiba saja Leon membanting guci yang berada di dekat brankar, dan kau tau apa yang ada di guci itu?" ujar Amora.


Alden menggeleng, dia menatap wajah istrinya yang sedang bercerita itu dengan serius.


"Di dalam guci itu terdapat ular, aku gak tau ular jenis apa itu. Dengan segera Leon membawanya keluar, aku gak tau dia membawa ular itu kemana," ujar Amora


Alden tentu saja terkejut, dia sungguh kaget dengan apa yang istrinya katakan. Dia tak bisa membayangkan jika ular itu mematuk istri dan anak-anaknya.


"Siapa yang menaruh ular itu?" tanya Alden.


"Kita mencurigai bahwa ada seseorang yang memasuki kamar rawat mas dan kita mencurigai jika itu Luna," jawab Amora.


Alden mengerutkan keningnya, dia bingung dengan semuanya.


"Tapi yang, Luna punya phobia dengan ular. Jadi kita tak bisa mencurigainya," ujar Alden.


"Benarkah? dia wanita ular tapi phobia ular, sangat hebat. Tapi, bisa saja dia menyewa orang untuk menaruh ular itu," ujar Amora.


Alden mengangguk, dia membenarkan perkataan sang istri. Bisa jadi Luna menyewa orang untuk menaruh ular tersebut.


"Apa sudah memeriksa CCTV rumah sakit?" tanya Alden.


Alden menatap istrinya yang tengah berjalan menuju lemari, dia mengerti jika istrinya itu akan mandi. Ide jahil terlintas di pikirannya.


"Yang!" panggil Alden.


"Hm," sahut Amora. Dia masih fokus untuk mengambil bajunya.


"Kamu mau mandi, aku ikut," pinta Alden.


Amora menghentikan aktifitasnya, dia menoleh menatap tajam suaminya.


"Ngapain ikut? aku mau mandi bukan mancing!" kesal Amora.


"Yang bilang kamu mancing siapa? aku ngajak mandi kok ya!" sahut Alden.


"Kamu mau mandi gimana? kaki kamu sakit begitu berdirinya gimana? mau terbang kayak kuyang iya? aku gak bisa angkat kamu, berat!" kesal Amora sambil berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya menghiraukan Alden yang tengah menahan kesal.


****


Di sebuah Cafe, terdapat seorang wanita yang memakai topi dan kaca mata juga di depannya terdapat seorang pria yang sedang menunggu wanita itu. berbicara.


"Gimana? kamu sudah lakukan yang saya suruh?" tanya seorang wanita kepada pria di depannya.


"Sudah, saya sudah melakukan yang nona perintahkan. Jadi, apa bayaran untuk saya?" ujar pria itu.


Wanita itu tersenyum, dia mengeluarkan uang amplop berisikan uang yang lumayan tebal.


"Bagus, ini uang untuk kamu." ujarnya sambil menyerahkan amplop itu.


Pria itu langsung menerimanya, dia langsung mengecek uang yang berada di amplop itu.


"Hm, lumayan." ujarnya sambil memasukkan amplop itu pada tasnya.


"Apa kau yakin ular itu bisa membuatnya mati?" tanya wanita itu.


"Sangat yakin nona, bukan hanya pria itu. Bahkan istri dan anak-anak mereka pun kena," ujar pria itu.


Wanita itu mengerutkan keningnya, setahu dia hanya ada satu anak. Kenapa pria itu menyebut anak-anak.


"Anak-anak?" tanyanya.


"Iya, satu laki-laki dan satu perempuan." ujar pria itu menatap bingung wanita di hadapannya.


"Apa?! kau bilang anak perempuan? apa seperti ini?" ujar wanita itu sambil menyerahkan ponselnya kepada pria di hadapannya.


"Iya, dia anak itu. Mengapa nona Luna terkejut seperti itu?" heran pria itu.


Wanita itu adalah Luna, dia yang menyuruh pria itu untuk menaruh ular di kamar rawat Alden. Tapi dia tak tahu jika putrinya akan ikut menginap disana.


"Itu putriku bodoh!" sentak Luna.


"Hah?! mana saya tahu itu putri anda, salah anda sendiri yang tak memberitahu saya." ujar pria itu sambil bangkit dati duduknya dan meninggalkan Luna.


Luna terdiam, dia menggigit jarinya. Dia khawatir terhadap putrinya, tetapi tiba-tiba seringaian muncul di bibirnya.


"Tak apalah, yang penting dendamku terbalaskan. Aku benci dia yang saat ini tengah bahagia bersama keluarga barunya, sedangkan aku ... aku harus kehilangan janinku dan menjadi buronan polisi," gumamnya.


Luna tak tahu jika Alden dan keluarganya telah terselamatkan dari ular itu, dia mengira jika berita tentang kematian keluarga Alden akan segera ia dengar.