Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Pion?


Mobil yang di tumpangi keluarga kecil itu telah memasuki kawasan Mansion Wesley, mobil itu berhenti tepat di pintu utama.


"Apakah Lia sudah tidur? kenapa dia masih sesenggukan begitu?" heran Alden.


Setelah mereka memutuskan pulang, Lia tidak mau lepas sama sekali dari Leon. Bahkan bayi itu langsung menangis keras kala gendongannya berpindah pada sang daddy.


"Sudah, mungkin akibat terlalu lama menangis." ujar Amora sembari membenahi kancing bajunya karena habis menyusui Lia.


Alden mengangguk, dia keluar dengan Lio di gendongannya sementara Amora menggendong Lia yang tertidur.


"Kalian sudah datang! aduuhhh cucu kembar mommy!" seru Jeslyn yang menyambut kedatangan mereka.


Alden dan Amora tersenyum melihat bagaimana antusiasnya jeslyn. Bayi yang berada di gendongan mereka langsung direbut oleh Jeslyn dan juga Jonathan.


"Kenapa Lia sesenggukan begini?" heran Jonathan sambil menatap Lia yang berada di gendongannya.


"Tadi Zidan datang membantu kami, dia membawa si kembar ke mansionnya. Lia sempat di gendong oleh Leon, tetapi saat kembali diambil mas Alden ... Lia menangis keras, mungkin masih penasaran dengan Leon," terang Amora.


"Oh, syukurlah. Mommy kira kalian bakal tidak bisa keluar dari rumah sakit akibat banyaknya orang," ujar Jeslyn.


Mereka semua masuk kedalam Mansion, untunglah para awak media telah pergi sehingga mereka bisa bernafas lega.


"El mana mom?" tanya Amora.


"Oh, dia di atas. Di kamarnya sendiri, sedari tadi dia kesal menunggu kalian tidak juga kembali. Mungkin sekarang sedang di temani oleh Deon," terang Jeslyn.


"Deon?" heran Alden.


Jeslyn mengangguk, seketika Alden menepuk keningnya pelan. Alden segera memasuki lift menuju kamar Elbert karena anak itu meminta kamar terpisah.


"Yasudah mom, Amora juga ikut nyusul El yah," pinta Amora


***


Tring!


"Loh, Alden?"


"Kita bicara di ruang kerja," pinta Alden sembari mengajak Deon pergi ke ruang kerjanya yang bertepatan di sebelah ruang kerja Joanthan.


Cklek!


"Apa kata pihak rumah sakit jiwa?" tanya Alden sambil menduduki dirinya di sofa.


"Yah, ibu Luna dikabarkan meninggal karena overdosis obat penenang." ujar Deon sembari duduk di sebelah Alden.


Alden mengangguk, dia melonggarkan jaketnya karena gerah. Sementara Deon membuka ponselnya yang ternyata banyak sekali pesan.


"Luna udah tau kalau ibunya meninggal?" tanya Alden sembari menatap Deon yang tengah tersenyum sambil menatap layar ponselnya.


Tak mendapat jawaban membuat Alden merebut ponsel Deon, seketika matanya mbulat sempurna ketika melihat isi chatan Deon.


"Sejak kapan kau jadian dengan Aira?" heran Alden.


Deon merebut ponselnya, dia kembali.memasukkan ponselnya dan menatap Alden tajam.


"Nanti gue jelasin, berbicara soal Luna ... Dia sudah mengetahuinya, kini mentalnya tertekan. Gilang yang memperjual belikan, kau yang mencampakkannya, dan meninggalnya sang ibu membuat Luna terganggu jiwanya." terang Deon sembari menatap Alden.


"Awalnya ini yang aku inginkan, dia merasakan seperti apa yang adikku rasakan. Merasa ketakutan, sakit hati, dan kehilangan. Namun, kini aku tak ingin berharap itu." ujar Alden sambil mengadahkan kepalanya.


"Tampaknya menjadikan Amora pion agar Luna sakit hati telah berhasil kau lakukan Al, tetapi kau malah terjebak dengan pion yang kau buat." ujar Deon sembari terkekeh.


Alden tersenyum, dia menatap Deon seketika netranya membulat sempurna ketika melihat sang istri yang sudah menangis tepat di ambang pintu.


"A-amora," gugup Alden.


Deon sontak saja menoleh, dia juga terkejut melihat Amora yang menatap mereka dengan tatapan sakit.


"Oh, aku tahu kenapa kau berubah menjadi baik padaku. Kini aku pun paham kenapa secara tiba-tiba kau cuek dengan Luna dan lebih memperhatikanku. Omongan cintamu itu palsu, hahaha ... ternyata aku hanyalah pion untukmu," lirih Amora.


"Gawat dah, salah paham ntu! Amora sih pake acara denger setengah nya doang, jadi gini kan." gerutunya sembari menyusul mereka.


Netra Deon melihat Amora yang memasuki kamar Elbert dan mengunci pintunya menyisakan Alden yang berusaha membuka pintu.


"Sayang! dengarkan penjelasan aku dulu!" pinta Alden sambil berusaha membuka pintu.


"PERGI MAS! AKU GAK MAU KETEMU KAMU!" teriak Amora.


Alden menghela nafasnya kasar, dia menatap Deon yang tengah berjalan santai ke arahnya.


"Ini semua gara-gara lu tau gak?! ngapain pake acara bilang tentang rencana gue dulu hah! Arghh jadi gini kan!" kesal Alden.


"Yee, emang gue kuyang apa bisa tau istri lu ada di ruangan itu apa gak? lagian salah lu juga lah kenapa gak pastiin istri lu gak ngikutin lu tadi," bela Deon.


Alden mengacak-acak rambutnya, dia menoleh ketika mendengar suara lift dan terlihat Jeslyn yang tengah membawa Lio.


"Amora mana? Lio haus kayaknya, sedari tadi mulutnya gak berhenti ngecap," ujar Jeslyn.


"Amora marah mom," lirih Alden.


Jeslyn terkejut, tetapi dia langsung mengetuk pintu dan meminta Amora untuk keluar menyusui anaknya.


"Amora sayang, Lio haus nak ... buka pintunya sebentar yah," pinta Jeslyn.


Tak lama Amora membuka pintu, dia langsung mengambil Lio dan tak menghiraukan tatapan melas Alden. Selanjutnya Amora kembali menutup pintu dan menguncinya.


"Kenapa bisa begitu?" heran Jeslyn.


"Hayo lo Al, marah kan bini lu." ledek Deon sembari menjauh dari Alden.


Alden menatap sengit Deon, setelahnya dia kembali menatap Jeslyn dengan tatapan memelasnya.


"Mom, Amora udah tau tentang Alden yang berniat jadikan dia Pion." ujar Alden sembari memilin tangannya.


BUGH!


"Awsshh." ringis Alden sembari memegang lengannya.


"KAN! APA MOMMY BILANG HAH?! NGEYEL SIH KALAU DI BILANGIN!" sentak Jeslyn.


"Maaf mom, tapi kan itu hanya ...,"


"Hanya apa? dari awal juga mommy sudah curiga dengan sifatmu yang cepat sekali berubah terhadap Luna dan juga Amora. Ternyata ini yang kau rencanakan bukan? selamat Al, rencanamu berhasil bukan? Tentu saja, aku mendengar jika Luna di masukkan kedalam rumah sakit jiwa karena mentalnya yang terganggu persis apa yang terjadi dengan Angel. Walaupun meninggalnya ibu Luna bukan salahmu, tetapi kau salah mempermainkan dua hati wanita seperti itu! marah Jeslyn.


Alden menundukkan kepalanya, dia merasa menyesal membuat dua hati yang ia yang cintai tersakiti seperti sekarang. Mommy dan juga istri tercintanya kecewa terhadapnya.


"Biarpun mommy tidak suka kepadanya, tetapi mommy tidak pernah membalasnya seperti apa yang dia lakukan terhadap Angel. Jika kau membalasnya seperti itu, kau tidak jauh beda dengan Gilang!"" sentak Jeslyn dan berlalu dari hadapan Alden.


Alden menyesal, dia menyenderkan tubuhnya di pintu. Air matanya jatuh saat dia teringat akan kejahatannya terhadap dua hati sekaligus.


"Maaf, di satu sisi aku membenci Luna karena dia yang membuat adikku memilih mengakhiri hidupnya dan disisi lain aku mencintainya. Tetapi rasa benciku lebih menguasai diriku ketimbang rasa cintaku. Sedangkan kamu, dulunya aku membencimu karena mengira kau memanfaatkanku untuk menikahimu. Tetapi aku salah, ternyata itu hanyalah kesalahan yang aku perbuat. Maaf jika membuatmu terus merasakan sakit, tapi aku mohon ... beri aku kesempatan untuk mengobati rasa sakitmu dan memperbaiki hubungan ini," ujar Alden.


Sama halnya dengan Amora, kini dia juga bersandar di balik pintu dengan Lio di gendongannya yang tengah menatap mommynya.


"Kau tahu, aku menunggu dimana dirimu siap untuk aku jadikan pion. tetapi kau keburu mengetahuinya dan berniat untuk kabur. Mungkin kau tak mengingatnya karena saat itu ragamu digunakan oleh Vani, tampaknya dia juga kecewa. Sehingga aku harus mengulurkan niatku sampai saat itu tiba ... dan tepat saat kau kehilangan ingatanmu aku mulai rencanaku," ujar Alden


"Aku mempertemukanmu dengan Luna, dan juga membuatmu nyaman denganku dengan tujuan kau akan bisa menyingkirkan Luna. Tapi jujur, aku langsung membatalkan rencanaku sebelum kau ku pertemukan dengan Luna saat itu." lanjut Alden.


Amora mendengarkan penjelasan Alden dengan menahan tangisnya, dia terkejut menerima fakta apa yang Alden rencanakan dulu.


"Bukan hanya kau yang masuk dalam perangkapku, tetapi aku juga. Aku masuk dalam rencana yang aku buat, maafkan aku. Tolong maafkan aku ... jika kau tidak mau memaafkan ku tak apa, aku akan meminta daddy agar menghukum diriku. Aku hanya minta satu, tolong percaya padaku ... Aku telah berusaha memperbaiki semuanya, termasuk menyadari hatiku yang telah memilihmu," ujar Alden kembali.


Amora terkejut ketika mendengar Alden yang akan meminta Jonathan agar menghukumnya, dirinya takut jika Alden kembali koma.


Amora tak lagi mendengar suara Alden, dia buru-buru membuka pintu dan tak mendapati dimana Alden.


"Gak, gak boleh. Bagaimana jika dia sampai tiada? gak mau aku jadi janda," gumamnya sembari berjalan cepat menuju lift.