
Esok hari, Keluarga Miller dan Wesley segera berangkat menuju gedung pernikahan Deon dan Aira. Mereka menggunakan lima mobil menuju kesana.
"Mommy! El mau pelmen." pinta Elbert sembari menyodorkan tangannya.
Amora menatap Alden, begitu pula dengan Alden yang menatapnya dengan heran.
"Ehm ... kasih aja yang, tapi jangan lebih dari dua," ujar Alden mengiyakan keinginan sang anak agar anak itu tidak rewel.
Elbert tidak ikut dengan Arjuna karena omnya itu telah pergi lebih dulu bersama tunangannya, Sehingga dia harus mengikuti orang tuanya.
"Nih ...," ujar Amora sembari memberikan permen tersebut yang dia ambil dari tasnya.
"Kok tuma dua? mommy pelit banget cih!" kesel Elbert.
"Mau atau gak sama sekali!" ancam Alden.
Elbert merengut kesal, dia menatap Alden yang tengah menatapnya tajam.
"Iya! iya! antam telus!" gerutu Elbert karena selalu di ancam oleh Alden mengenai perihal makanan dan susu.
Alden tak menghiraukan gerutuan putranya, netranya melirik sang istri yang tengah mengusap lembut kening putra bungsunya yang baru saja terlelap.
"Lia gak di susuin yang?" heran Alden sembari menatap putrinya yang tertidur berada di gendongannya.
Lia memang lebih dekat dengan Alden ketimbang Amora, karena anak itu selalu ingin dekat dengan daddy nya. Bahkan jika Alden bekerja dan tak menemuinya seharian, dia akan begadang bermain dengan daddy nya yang mana membuat Alden sangat lelah menemani putrinya itu.
"Malu sama supir lah mas! gimana sih kamu!" kesal Amora dengan suara berbisik.
"Kan kamu bawa kain penutup yang," sahut Alden kembali.
"Lia itu kalau di susuin gak mau di tutup, dia selalu berusaha buat buka. Makanya aku selalu susuin Lia di tempat tertutup," terang Amora.
Alden mengangguk, mungkin karena Lia tak suka gelap maka dari itu anak tersebut berusaha membuka kain penutup itu. Apalagi para bayinya tidak di bedong, yang mana membuat Lia semakin leluasa menggerakkan tangannya.
"Di ikat aja kali yang tangannya," saran Alden.
"Kamu emang minta di lempar ya mas?! kalau di ikat ya bakal nangis lia nya! gimana sih, heran aku!" kesal Amora.
Alden hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal, apakah dirinya salah memberi saran yang begitu cerdas pada sang istri?
***
Sesampainya mereka di depan gedung, Amora dan Alden langsung turun. Begitu pula dengan mobil yang lain.
"Elbert pegangan sama daddy," pinta Alden.
Elbert mengangguk, dia memegang celana Alden yang sanggup dia gapai. Sementara Amora sibuk membenahi gendongan Lio.
"Di taruh di stroller aja kali yang," saran Alden.
Amora tampak berpikir, kemudian mengangguk. Alden segera menyuruh sang supir untuk mengambil stroller bayi mereka.
Setelah stroller bayi itu di keluarkan, Alden segera menaruh Lia dan juga Lio dengan hati-hati. Sementara Elbert terus memepet pada Alden karena dia merasa asing dengan orang sekitarnya yang melihat mereka.
"Sudah, yang penting pacifier tetap ada di bibir mereka," ujar Amora
Si kembar jika sudah tertidur mereka akan tambah pulas dengan pacifier.
"Ayo," ajak Alden.
Amora menggandeng lengan Alden yang mendorong stroller si kembar, sementara Elbert yang tidak bisa menyeimbangkan langkah orang tuanya menangis karena takut.
"Hiks ... hiks ... daddy!" isak Elbert.
Alden berbalik, dia menghela nafasnya ketika melihat sang anak yang berdiam dan tak mengikutinya.
"Ayo El, opa dan yang lainnya sudah masuk ke dalam." bujuk Alden sembari mengayunkan tangannya.
"Tatut!" lirih Elbert.
Alden menghela nafasnya pelan, dia menghampiri Elbert dan menggendongnya. Walaupun putranya cerdas, tetapi Elbert tetap tak bisa di tinggal.
"Ketemu orang aja takut yang, apalagi jadi model cilik. Hah ... untung saja aku membatalkannya," ujar Alden.
Alden menolak Modeling Agency yang pernah mau merekrut Elbert untuk menjadi modelnya. Alden menolak dengan alasan sang putra yang masih terlalu kecil, lagi pula mereka tak kurang terkenal dan tak membutuhkan hal tersebut.
"Elbert bukan takut, dia hanya merasa waspada pada orang. Justru bagus seperti itu, jadinya dia akan selalu waspada pada orang yang tak di kenal. Apalagi sekarang banyak penculikan anak," ujar Amora.
Alden mengangguk, mereka mengobrol sembari berjalan masuk ke dalam gedung tersebut dengan Amora yang mendorong stroller si kembar karena Alden menggendong putra sulung mereka.
Alden mengajak Amora untuk menemui rekan bisnisnya, dia menepuk bahu orang tersebut dan tersenyum.
"Apa kabar Farel Anderson?" ujar Alden.
"Wah, Alden? sudah lama sekali kita tak bertemu." ujarnya sembari berpelukan singkat.
Farel pria itu menatap Amora, jari jempolnya menunjuk Amora dan menatap Alden.
"Your Wife?" tanya Farel.
"Iya, kenalkan dia istriku Arianha Amora Wesley." terang Alden sembari mengalungkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Hello," sapa Farel.
Amora hanya tersenyum, dia tak terbiasa berinteraksi sehingga sedikit canggung.
Netra pria itu melirik stroller si kembar, kemudian dia menoleh menatap Elbert yang juga tengah menatapnya.
"Mereka semua anakmu?" tanya Farel.
"Ya," jawab Alden.
"Ceritanya panjang, tapi aku hanya memiliki 3 orang anak. Dua putra dan satu putri," terang Alden.
Farel mengangguk, dia tak ingin banyak bertanya. Netranya menatap Elbert yang sepertinya merasa aneh dengannya.
"Kenapa putramu terus melihatku seperti itu?" herannya.
Alden menatap putranya, dia terkekeh melihat sang putra yang tengah mengerutkan keningnya.
"Dia baru pertama kali melihat orang Albino, apalagi kulitmu sangat putih. Maka dari itu dia heran," terang Alden.
Farel adalah seorang pria albino, walau begitu dia juga tampan hanya saja tak setampan Alden.
"Mukana paman di cilam cucu ya daddy? kok putih cekali?" heran Elbert.
Mereka tertawa mendengar ocehan Elbert, hingga suara mereka terhenti saat ana seseorang yang mengecup pipi Alden.
"Hello tuan Alden, bagaimana kabar mu? sudah lama kita tak bertemu, terakhir kali kita bertemu di London kan?" tanya wanita yang berpakaian kurang bahan itu.
Alden menatap tajam wanita itu, sementara Amora langsung mengambil tisu basah dan mengusap pipi suaminya menggunakan tisu basah itu.
"Kurang ajar sekali kau! beraninya kau berbuat hal menjijikkan seperti itu!" sentak Alden.
"Oh ayolah, itu merupakan hal yang biasa," ujar pria itu.
"Biasa bagi wanita murahan seperti dirimu!" sarkas Amora.
Farel menatap bingung mereka, dia mengalihkan tatapannya pada Elbert yang menatap tajam wanita itu.
"Benal kata daddy El, jadi olang nda boleh mulah. Nanti di jualna di pasal, nda bica di mol," seru Elbert.
"Kau! kau anak kecil yang tidak punya sopan santun!" bentak wanita itu.
"Kau yang tidak punya etika! bukan putraku yang tak punya sopan santun!" kesal Amora.
Mereka menjadi pusat perhatian, bahkan kini pengantin wanita dan pria juga tengah menatap mereka.
"Tantena j4lang di pacal sih, jadina nda tau mol tayak apa," ujar Elbert yang mana mengundang tawa krang sekitar.
Wanita itu tampak marah, dia akan menarik Elbert tetapi keburu Farel menghentikannya.
"Ku rasa anak itu mengatakan jarang, bukan j4lang yang kau maksud. Jika dirimu marah, berarti kau merasa jika dirimu memang seperti itu." ujar Farel sembari menatap tajam wanita yang tidak di ketahui namanya tersebut.
"Makana tante, janan datel! main nyosol aja! nanti di sosol todok balu tau lasa!" sarkas Elbert.
Mereka semua tertawa akibat celotehan Elbert termasuk Amora. Kini, wajah wanita itu sudah merah padam akibat di tertawakan oleh banyak orang dan berakhir dia langsung meninggalkan tempat itu.
"Hahaha, Alden ... putramu sungguh luar biasa, bagaimana kau mengajarinya?" ujar Farel.
"Aku tidak tau, Elbert selalu mengikuti cara bicara orang dengan cepat. Kecadelannya banyak membuat orang salah paham, tolong harap di maklumi," ujar Alden.
"Hahaha, tidak apa. Namanya juga anak kecil, apalagi seumuran Elbert. Pasti rasa ingin tahunya lagi tinggi, dan dia akan sering mengungkapkan hal-hal yang ia rasakan." ucap Farel sambil terkekeh pelan.
Amora menatap sekeliling, dia mendapati Aira yang tengah mengobrol dengan para tamu.
"Mas, aku ke Aira sebentar yah. Titip si kembar," pinta Amora.
Alden menoleh sebentar dan mengangguk, dia kembali mengobrol dengan Farel.
"Daddy, El mau tulun!" pinta Elbert.
Alden menurunkan Elbert tanpa curiga anak itu akan berbuat sesuatu.
"Om manol mana cih, kok nda ada?" heran Elbert.
Elbert berlari kecil hingga secara tak sadar dia menabrak anak perempuan seusianya.
"Aduh! sakit tau!" gerutu anak perempuan itu sembari berusaha bangun.
"Maap, El nda cengaja. Cini, El bantu banun." ujar Elbert sembari membantu anak yang terjatuh itu akibat ulahnya.
Anak perempuan itu tampak bingung dengan bahasa Elbert. Dia menepuk gaunnya dan kembali menatap Elbert.
"Kamu cadel yah?" tanya anak perempuan itu.
"Ehm, nda tau," jawab Elbert.
"Aku Rebecca, kamu?" ujar anak perempuan itu yang bernama Rebecca sambil menyodorkan tangannya.
Elbert menyambut uluran tangan itu, dia tampak bingung bagaimana mengucapkan nama Rebecca.
"Bebek?" heran Elbert.
"Re-bec-ca," ejanya.
"Lebek?" ujar Elbert.
Rebecca terlihat menghela nafasnya, dia melepaskan tautan tangan mereka dan mengetuk keningnya.
"Ehm ... panggil aja aku Eca, biar gampang di lidah kamu yang cadel," ujar Rebecca.
"Eca, kalo nama El ... El" ujar El Elbert.
"El! Ayo kita makan cup cake!" seru Rebecca.
Rebecca tampak girang, dia mengajak Elbert untuk mengambil kue yang berada di meja tak jauh dari mereka.
"Loh, El mana?" bingung Alden yang baru menyadari anaknya tidak ada di dekatnya.