Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Penyelesaian


PLAK!


"LAGI-LAGI KAU BUAT DADDY KECEWA AL!" sentak Jonathan.


Alden hanya bisa memegang pipinya yang terasa panas, apalagi ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.


"Dari awal aku juga bingung kenapa kau terus memaksa untuk menikah dengan Luna, bahkan kau mengucapkan jika kau mencintainya berulang kali. Ternyata karena balas dendam? aku juga sempat heran, apa matamu itu tertutup sehingga tak dapat melihat sifat asli Luna. Ternyata karena alasan itu, wah ... kau hebat Al," ujar Jonathan.


Alden kembali memejamkan matanya ketika Jonathan kembali memukul pipinya, tetapi saat dia bersiap untuk menerima pukulan kedua ada seseorang yang memeluknya.


"Hiks ... jangan lagi dad," larang Amora.


Sedangkan Lio yang berada di gendongan Amora merengek karena sempit. Menyadari hal itu membuat Jeslyn langsung mengambil Lio dari gendongan Amora.


"Nah kan, jelek lah mukanya," gerutu Amora.


Alden dan Jonathan melongo melihat gerutuan Amora, wanita itu menggerutu disela isakannya sambil mengelus wajah lebam suaminya.


"Hiks ... Daddy gimana sih, besok kan mau konferensi pers. Jelek lah ini mukanya," tangis Amora.


Alden tersenyum, dia memeluk istrinya yang sedang menangis. Dia menatap sombong ke arah Jonathan yang menatapnya tajam.


"Haah ... selesaikan masalah kalian. Ayo mom, mending kita ke kamar sikembar," ujar Jonathan dan membawa sang istri ke kamar si kembar.


Kini Amora menatap sengit pada Alden, berbeda dengan pria itu yang tersenyum tidak ada salah.


"Maaf yah," sesal Alden.


"Bener yang, aku gak jadi menggunakanmu sebagai pion. Setelah aku pulang dari rumah sakit sehabis koma, mommy menyadariku sehingga aku mengatur strategi bersama Deon. Kami tidak bisa bertindak saat itu sampai Gio bangun dan memberitahu semuanya, tetapi secara mengejutkan Deon berhasil mendapat bukti jika Luna dan Gilang lah pelaku yang telah menabrak Gio katena Gio yang menyimpan bukti kejahatan Gilang dan Luna," terang Alden.


"Sama aja?! kau juga membawaku menemui Luna agar dia merasa di khianati kan?!" kesal Amora.


"Bukan, aku harus mempertemukanmu dengannya karena perceraian ku dengan Luna sudah dekat. Apa kau tau, setelah pertemuan itu beberapa hari kedepannya aku menggugat cerai dirinya. Kau tidak melihat dirinya kan setelah Elbert pulang dari rumah sakit? katena aku telah mengusirnya," ujar Alden.


Amora terkejut, dia baru mengingat hal itu. Tapi ada yang janggal dari penjelasan Alden.


"Kenapa setelah lebih dari lima tahun kau baru menceraikannya hah?!" kesal Amora.


"Aku harus menunggu Gio sadar, dengan begitu aku bosa tenang melepas Aqila tinggal bersama Gio. Aku juga mana tau kalau dia bakal nekat bunuh Gilang, gak jadi kan pria itu memenuhi hukumannya." bela Alden.


***


"Mommy kemana lagi cih? tadi nanis, sekalang hilang," gerutu Elbert.


Elbert berjalan menuju dapur, dia menatap para maid yang tengah sibuk menyiapkan makan siang.


"Bibi, bibi punya anak ndak?" tanya Elbert pada salah satu maid yang sedang memotong sayur.


"Punya, memangnya ada apa tuan kecil?" heran maid tersebut sambil menundukkan kepalanya menatap Elbert yang hanya setinggi lututnya.


"Namana ciapa?" tanya Elbert.


Maid tersebut menghentikan potongannya, dia tampak berpikir dan kembali menatap Elbert yang tersenyum.


"Malika," jawab maid itu.


"Malika? tecap bango?" heran Elbert.


Para maid yang mendengar ujaran Elbert tertawa, mereka bahkan selalu tertawa karena keluguan anak itu.


"Bukan tuan, tapi Malika anak saya," ujar maid itu.


"Iya, tecap bango cih!" keras kepala Elbert.


Maid itu akhirnya mengangguk pasrah, berdebat dengan anak kecil sama saja berdebat dengan tembok yang tidak ada ujungnya.


"Iya, iya ... terserah tuan muda saja," ujar maid itu.


Elbert akhirnya puas, dia berjalan menuju kulkas dan berusaha membukanya.


"Iiihhh cucah banet cih! dali tadi di buka nda bica!" gerutunya.


Salah satu koki akhirnya membantu Elbert, dia bingung ketika anak itu langsung membuka laci kulkas.


"Tuan kecil mau apa?" herannya.


"Cucu," jawab singkat Elbert.


Akhirnya koki itu memberikan Elbert susu yang memang sudah dia buat karena perintah Jeslyn karena memang ini sudah waktunya dia minum susu, tetapi saat bocah itu mengambil botol tersebut dan meminumnya dia langsung menatap koki tersebut.


"Nda enak, yang balu mana?" ujar Elbert sembari mengembalikan botol itu.


"Ini susu baru tuan kecil, saya baru membuatkannya," ujar koki tersebut.


"Ih! lasa balu paman, yang kayak kemalin!" kesal Elbert.


Koki tersebut bingung, dia menatap para maid yang sama bingungnya dengannya juga.


Koki itu masih bingung, dia melihat susu botol yang berada di tangannya. Netranya beralih menatap teman kok juga.


"Memangnya ada susu rasa baru untuk tuan kecil?" herannya tetapi temannya itu menggeleng tidak tahu.


***


Malam sudah tiba, Amora sedang tertidur sementara Alden masih berkutat dengan berkas kantornya.


"Haah, tidak bisakah ada mesin waktu untuk mempercepat pekerjaanku," gerutunya.


Oeek!


Oeek!


Alden menatap box bayinya, dia menyimpan berkas itu dan menghampiri box milik Lia.


"Lia kenapa sayang, haus?" tanya Alden sembari membawanya ke gendongan pria itu.


Lia masih menangis sehingga membuat Alden membuka pintu balkonnya agar istri dan juga putranya tidak terganggu.


"Matamu cantik sayang," ujar Alden.


Mata Lia kini berwarna hijau emerald yang mana membuat Alden terpukau.


Suara tangis Lia terhenti ketika mendengar ujaran Alden, dia tertawa sembari menggeliat.


"Kenapa hm? mau main sama daddy? apa mau menganggu daddy?" tanya Alden.


Seketika Lia kembali tertawa, tampaknya anak itu sangat suka mengganggu daddynya.


Alden berjalan menuju ayunan gantung, dia menduduki dirinya dengan Lia yang berada di gendongannya.


"Zanna ... arti namamu sangat cantik, pintar juga Leon mencarikannya. Zanna ... Hadiah dari tuhan, benar! kau adalah hadiah dati tuhan untuk daddy. Kau putri daddy, princess daddy." seru Alden sembari menciumi wajah Lia.


"Mas," panggil Amora.


Alden menoleh, dia tersenyum melihat istrinya yang juga tengah menghampirinya. Dia memberikan Lia dan membawa Amora ke pangkuannya.


"Lio masih tidur?" tanya Alden sembari merengkuh perut Amora yang kini sudah kembali langsing.


"Masih," jawab Amora.


Amora menatap Lia, dia terkejut melihat mata Lia yang berwarna hijau emerald.


"Mas, mata Lia ...," kaget Amora.


"Iya, mata Lia akan berubah warna jika dalam pencahayaan remang dan juga ...," Alden menjelaskan apa yang ia dan orang tua AMora jelaskan waktu itu.


Amora menghela nafasnya pelan, untunglah warna mata sang anak bisa tetap saat umurnya tujuh tahun. Dengan begitu dia tak perlu khawatir anaknya menjadi incaran penculik.


Alden tersenyum, dia menatap istrinya yang sedang membuka kancing bajunya dan mengeluarkan nutrisi untuk Lia.


"Tampaknya Lia yang paling kuat menyusu di banding Lio," ujar Alden.


"Iya, Lio kurang meminum susu. Tapi kata mommy wajar, karena dia menurun darimu yang lebih menyukai cemilan dibanding susu," tetang Amora.


Alden mengangguk, dia menatap putrinya yang masih asik menyusu. Sesekali dia mencubit pipi putrinya yang membuat bayi itu merengek.


"Mas!" tegur Amora.


Alden hanya terkekeh, dia memeluk erat pinggang istrinya dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang istri.


"Sayang," panggil Alden.


"Hm," sahut Amora.


"Terima kasih, terima kasih kamu telah bertahan disisi ku walau kamu tau bagaimana jahatnya aku dulu terhadap dirimu. Bahkan aku tak mendampingimu kala kau melahirkan Elbert, begitu pula saat kau mengandung nya. Terima kasih kau mau menerima pria yang banyak kekurangannya ini, dan maaf aku sering kali menyakitimu," tutur Alden.


Amora tersenyum, dia mengelus kepala Alden yang masih menaruh kepalanya pada bahu Amora.


"Sama-sama, mungkin inilah takdirku berjodoh dengan pria macam dirimu," ujar Amora yang mana membuat Alden mendengus kesal.


"Gak ikhlas banget sih yang!" gerutu Alden..


"Kalau aku gak ikhlas, gak mungkin punya buntut tiga aku," bela Amora.


Alden terkekeh, dia memejamkan matanya sembari menghirup aroma tubuh sang istri yang mana membuatnya tenang.


"Akibat aku mengalami Transmigrasi mommy membuat pernikahan ini indah. Masalah yang kita lalui, itu adalah upaya menuju hari ini. Aku bahagia hidup denganmu walaupun dulunya kau menyakitiku. Tetapi yang terpenting kamu mau memperbaiki nya seperti sekarang." gumam Amora.


_________________


Hari senin nih😆, bagi yang punya Vote jangan lupa Votenya yah🥰🥰