Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Keluarga Lawrance


Kini Alden dan Amora sudah menginjakkan kaki mereka di kediaman Lawrance, rumah yang tak kalah besar dari Mansion Wesley membuat Amora takjub.


"Wah, kalian sidah datang rupanya." ujar seorang wanita paru baya sambil mendekati mereka dengan senyum manis di bibirnya.


"Ayo masuk, aku tahu kalian pasti lelah kan?" lanjutnya sembari menggandeng Amora.


Amora menatap suaminya, Alden mengangguk dan memberi isyarat agar Amora mengikuti wanita itu.


"Papa! liat siapa yang datang!" serunya.


Tak lama seorang pria paru baya datang bersama seorang perempuan yang terlihat masih muda.


"Kalian sudah datang ... apa kabar Alden, lama tak jumpa," seru pria itu.


Alden tersenyum, dia mendekati pria pari baya itu dan menjabat tangannya.


"Apa dia putramu?" tanya pria itu sambil menunjuk Elbert yang tertidur di gendongan Alden.


"Iya, dia putra pertamaku." ujar Alden seraya tersenyum tipis.


"Wah, aku tak menyangka bahwa dirimu mempunyai putra yang begitu imut. Aku ingin menggendongnya, tampaknya dia anak yang kalem," kata pria itu.


Alden menyerahkan Elbert yang masih tertidur pada pria paruh baya itu, dia juga sedikit takut jika nantinya Elbert akan menangis. Namun, sepertinya bocah itu sedang lelap akibat demam.


"Badannya hangat, apa dia sedang sakit?" tanya pria itu.


"Iya, tiba-tiba saja suhu tubuhnya naik. Tadinya Al sempat panik, tetapi Amora bilang mungkin Elbert takut naik pesawat makanya tubuhnya merespon seperti itu.


Pria itu mengangguk, dia menyuruh Alden beserta Amora untuk masuk kedalam ruang keluarga.


" Oh iya Al, kenalkan dia adalah adik dari Gio." ujar pria itu.


"Bukankah Gio anak terakhir?" heran Alden.


"Kami mengangkatnya menjadi anak beberapa tahun lalu, saat kami mendengar kematian Gio ... tiba-tiba saja mama drop, bahkan dia hanya bisa menangis setiap harinya. Namun, sejak kedatangan Aurel ... mama bangkit dari keterpurukan mama. Untuk itu kami mengadopsinya," jawab wanita paruh baya itu.


pria paruh baya dan wanita paruh baya itu merupakan orang tua kandung Gio, mereka bernama Erick Lawrance dan Manda Lawrance dan juga mereka telah menganggap Alden seperti keluarga karema persahabatan Alden dan Gio memang sudah terjalin sedari kecil.


"Halo kak Alden, kenalkan nama aku Aurelia Lawrance." ujar Aurel sembari mengulurkan tangannya.


Alden hanya menatap tangan itu tanpa minta untuk membalas, sementara Amora menatap suaminya yang hanya diam itu.


"Maafkan suamiku, kenalan dengan ku saja okay. Salam kenal, namaku Arianha Amora Wesley istri Alden." ujar Amora sembari membalas uluran tangan itu.


Tampak wajah Aurel seperti kecewa, Amora tentu saja tau. Dia bisa membaca gerak-gerik Aurel yang sepertinya tertarik pada Alden.


Mereka semua duduk di tempat masing-masing , Alden duduk tepat disamping Aurel dan Erick. Sementara Amora dan Manda sudah duduk di sofa lain.


"Oh iya, ngomong berapa usia kandunganmu? tampaknya sudah seperti sembilan bulan," heran Manda.


"Baru tujuh bulan nyonya," jawab Amora.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku mama seperti Alden!" titahnya.


Amora mengangguk kaku, dia yang sekarang itu sudah duduk tepat disamping Manda merasa sangat canggung. Apalagi Manda selalu mengelus perutnya.


"Oh iya, kami sudah menyiapkan kue. Ini Aurel yang buat loh, khusus untuk kalian." ujar Manda sambil mengambil piring kue yang terletak di meja.


Amora menatap Aurel yang tertunduk malu, bisa dia lihat wajah Aurel yang sudah memerah.


"Alden, ayo dimakan. Ini Aurel loh yang buat, sambil nunggu Gio pulang dari kantor." ujar Manda sambil menyodorkan piring pada Alden.


Alden mengambilnya, dia melihat kue itu dengan ragu. Lalu, tak lama ia memakannya hingga habis.


"Bagaimana? enak bukan? Aurel ini sudah seperti calon istri idaman, segalanya dia bisa buat. Bahkan kuenya sudah menjadi favorit keluarga kita." ujar Manda sembari tersenyum.


Amora menatap Manda dengan raut wajah tak suka, sementara Aurel sudah tak dapat menahan senyumnya ketika melihat Alden menghabiskan kuenya.


"Menurutku masih standar ma, rasanya masih kalah jauh dengan buatan istriku. Mungkin karena dia memasaknya dengan penuh cinta, jadi ... kue seenak apapun akan kalah dengan kue buatannya," ujar Alden.


Senyum Aurel luntur, ia menatap Alden yang tengah tersenyum lembut pada Amora. Dia mengepalkan tangannya menahan tangis yang akan keluar.


"O-oh ten-tentu saja hahaha, kalian pasangan yang serasi." gugup Manda sembari melirik suaminya yang menatapnya tajam.


Alden mengangguk, dia meminta Elbert pada Erick dan dibawa kembali ke gendongannya. Setelahnya dia mengajak istrinya untuk mengikuti Erick yang membawa mereka ke kamar tamu.


Sedangkan Manda mendekati Aurel yang masih menunduk, dia tahu bahwa putri angkatnya itu saat ini tengah sedih karena ucapan Alden.


"Aurel," panggil Manda.


Aurel mendongak, dia memeluk mama angkatnya dengan erat.


"Syuutt, Tenanglah sayang. Ini baru beberapa jam, kau bisa berusaha lagi hm." bujuk Manda sembari mengelus kepala putrinya.


"Mama, aku sedari dulu sangat mengaguminya. Ketampanannya dan ketegasannya membuatku terkagum, dan aku hanya bisa menyukainya tanpa bisa bertemu dengannya karena saat itu aku hanyalah anak panti. Tetapi, saat mama memberitahuku bahwa kak Alden adalah sahabat kak Gio aku kira aku memiliki peluang. Namun, aku melihat dirinya yang kembali memiliki istri bahkan sudah memiliki anak." isaknya sembari menatap mamanya.


Aurel telah lama mengangumi Alden yang kerap kali muncul di televisi kerena bakatnya yang menduduki kursi CEO di umurnya yang masih terbilang muda waktu itu. Hanya saja, Aurel tak memiliki kemampuan untuk hanya sekedar bertemu Alden. Tetapi kini dirinya sidah diangkat menjadi putri keluarga kaya, bahkan dia tak segan menceritakan pria yang ia kagumi.


"Kau masih belum terlambat, Amora adalah istri keduanya. Namun, saat ini dia telah menjadi istri pertama. Kau bisa masuk menjadi istri keduanya, bukankah sama saja dulu dan sekarang?" hasut Manda.


Aurel terdiam, dia menatap mamanya dengan raut wajah bingung. Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.


"Coba saja, kalian tidak tau seberapa ganasnya istri papa. Oma itu sudah tua, tidak usah menghasut orang begitu!" ujarnya.


"Aqila! jaga ucapanmu!" marah Manda.


Aqila hanya melengos, dia tak suka dengan omanya itu yang selalu memanjakan putrinya. Aqila berniat pergi ke kamar untuk mengganti baju sekolahnya.


"Anak itu makin lama makin ngelunjak! huh ... tenang saja sayang, mama akan membantumu untuk mendekati Alden." ujarnya sembari menangkup pipi Aurel.


"Bukan putriku yang melunjak! mama yang terlalu memanjakan anak angkat itu!" sentak Gio yang baru saja datang dengan wajah kesalnya.


"Apa-apaan kamu Gio! dia ini adikmu! seharusnya kau mendukungnya!" marah Manda.


Aurel merasa tak enak, dia mengambil tangan Manda dan menggelengkan kepalanya. Sementara Gio langsung pergi dari saja tanpa menghiraukan kekesalan Manda.


"Ma, kak Gio benar. Aku hanya anak angkat," lirihnya.


"Gak sayang, kak Gio sedang lelah jadi dia seperti itu. Lebih baik kau membuatkan susu untuk istri Alden, siapa tau dia ingin dekat dengan mu sehingga kamu bisa dekat dengan Alden," bujuk Manda.


Aurel tersenyum, dia mengangguk antusias dan pergi ke dapur untuk membuat susu. Sementara Manda memandang kepergian Aurel dengan senang.


"Mama tau bahagiamu pasti ada bersama Alden," gumamnya.


***


Sementara itu, Amora sedang berselonjoran di kasur sambil memikirkan ekspresi Aurel yang terlihat berbeda ketika menatap suaminya. Netranya melirik Alden yang tengah menggantikan baju Elbert yang terkena teringat akibat demamnya.


"Mas!" panggil Amora.


"Hm," gumam Alden yang masih fokus pada kegiatannya.


"Kamu ngerasa gak sih kayak mamanya Gio tuh combalingin kamu sama si Aurel? kamu ngerasa gak?" tanya Amora sembari menatap suaminya.


Alden menatap istrinya sekilas, setelah itu dia menuangkan minyak kayu putih dan mengoleskan ke tangannya.


"Mungkin perasaan kamu aja kali," jawab Alden.


Amora menatap kesal suaminya yang sedang membalurkan perut Elbert dengan minyak kayu putih.


"Mas! aku sebagai wanita tau apa yang mereka rencanakan! awas aja kamu sampai naksir sama anak bau kencur itu!" kesal Amora.


"Haaah ... yang, mau niat selingkuh dari kamu aja gak ada di dalam benak aku sama sekali. Bagi aku cukup kamu dan anak-anak kita di dalam kehidupanku saat ini. Soal masalah kebutuhanku, kamu sudah memenuhi itu. Jadi, untuk apa aku menikah lagi? kalaupun kamu tak memberiku Elbert, aku tetap bersamamu. Karena kita menikah bukan untuk bercerai, melainkan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing." terang Alden sembari tersenyum tipis menatap istrinya.


Amora tersenyum, dia menutup pipinya yang sudah memerah akibat ucapan suaminya. Dia tahu jika suaminya itu sangat menyayangi keluarga kecil mereka.


"Jika aku menikah lagi bisa di gantung aku sama papi kamu di tiang monas," kekeh Alden.


Amora tersenyum, dia memeluk suaminya yang sudah berbaring tepat di samping putranya. Mereka tak memperdulikan Elbert yang berada di tengah mereka akan terbangun akibat ulah kedua orang tau mereka. Bahkan Alden menciumi wajah istrinya yang di balas kekehan oleh Amora.


Cklek.


"E-eh ma-maaf," lirihnya.