
Sudah dua hari berlalu semenjak Elbert pulang dari rumah sakit, jahitan anak itu juga sudah mulai mengering. Masih beberapa hari lagi jahitannya akan di lepas, akan tetapi bocah itu sidah aktif berjalan kesana kesini yang mana membuat Amora meringis.
"Elbert! denger mommy! jangan lari-larian begitu, jahitannya belum di lepas loh. Kalau kebuka jahitannya, mau di jahit dokter lagi?" kesal Amora.
Elbert tak menghiraukan perkataan mommynya, dia berlari keluar kamar menghindari kemarahan Amora. Akan tetapi, saat dirinya akan sampai ke lift. Tiba-tiba badannya di gendong oleh seseorang, saat dia menoleh Elbert langsung menciut takut.
"Pa-paman Elwin," takut El saat melihat wajah dingin Erwin.
Erwin menggendong El karena takut anak itu terjatuh, dia sudah pusing dengan mendengar ocehan nyonya nya itu. Sebaiknya dia turun tangan menangani tuan kecilnya.
"Kau telah membuat mommymu marah, apa perlu paman adukan ke daddy tentang perlakuanmu?" ucap Erwin dengan datar.
Bibir mungil Elbert melengkung ke bawah, matanya sudah berkaca-kaca saat Erwin membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Erwin.
Erwin heran dengan Elbert, anak itu kini membuka mulutnya tapi tak ada suara apapun. Sedangkan para bodyguard yang melihatnya langsung menutup telinga mereka yang mana membuat Erwin tambah tidak mengerti.
"Kenapa kalian me ...,"
"HUAAAAAAA,"
Jderr.
Telinga Erwin seperti di hantam sesuatu, bahkan dia sampai terdiam mendengar suara melengking Elbert. Anak itu menangis dengan sangat keras membuat semua orang yang berada di mansion menghampirinya.
"Hiks huaaaa, hiks ...," tangis Elbert.
Erwin menurunkan anak itu, dia mengorek telinganya yang terasa sangat pengang. Sedangkan para bodyguard terkekeh melihat atasan mereka yang tak tahu bahwa itu adalah tanda dari bahaya.
Amora mendatangi Elbert dengan tergesa-gesa, dia terkejut dengan teriakan sang anak. Dia langsung memeluk Elbert dan menanyakan tentang lukanya.
"Kenapa? sakit lututnya? Erwin, tadi Elbert jatuh atau apa? kenapa dia sampai menangis seperti ini?" tanya Amora dengan beruntun.
"Maaf nyonya, tadi saya hanya memperingati tuan kecil. Tapi tuan kecil langsung menangis," ujar Erwin.
Amora menatap Elbert yang melilitkan tangan pada lututnya, dia tau bahwa putranya ingin di gendong. Amora membawa putranya ke gendongannya.
"Syutt, diam yah ... nanti tenggorokan El sakit loh." ujar Amora sambil menimang-nimang anaknya.
"Mommy ada apa? kenapa El menangis?" tanya Aqila yang baru saja datang.
Amora meminta Aqila untuk memanggilnya mommy sama seperti Elbert, dan Aqila menuruti keinginan Amora. Dia juga tahu bahwa papanya dan mamanya akan berpisah.
"Mommy juga gak tau, tadi tiba-tiba nangis," jawab Amora.
"Pasti paman Erwin kan yang buat El nangis? gak El, gak anak-anak lain yang ngeliat laman pasti nangis. Gimana gak nangis kalau di pelototi begitu!" sindir Aqila.
Erwin menatap tak percaya pada Aqila yang membuka rahasianya, dia menatap sang nyonya dengan tak enak hati walaupun dengan tampang datarnya.
"Benar Erwin? kamu pelototi anak saya?" tanya Amora.
"Nda mommy hiks ... om Elwin nda pelototi El hiks ... tapi malahi El hiks huaaaa," ucap anak itu di sela tangisnya
Amora dan Aqila melototi Erwin yang saat ini telah memundurkan langkahnya, dia merasa tak enak dengan hawa yang ada. Tapi saat dirinya berbalik dan bersiap menghindar, tubuh seseorang menghalanginya.
"Tuan?" gumam Erwin.
Alden baru saja memasuki mansion dan melihat drama itu, dia kesal dengan Erwin tang membuat anaknya menangis. Untuk itu dia menunggu Erwin melihatnya dengan memberi isyarat ke yang lain untuk tidak memberitahu Erwin.
"Sudah puas membuat putraku menangis? sepertinya kau harus ku beri hadiah Erwin," ujar Alden dengan nada dinginnya.
Erwin menatap datar tuannya, dia sudah tau hadiah apa yang tuannya beri.
"Hah, yang lain saja. Aku tidak mau lagi menjadi penjaga di rumah kosong." ujar Erwin sambil memijat keningnya.
"Tidak, aku akan memberimu hadiah lain," ujar Alden.
Erwin mengerutkan keningnya, dia tak mengerti mengapa tuannya ingin memberi hadiah lain. Karena biasanya Alden akan menyuruhnya untuk menjaga mansion milik Alden yang berada di tengah hutan. Entah mengapa ada Mansion mewah di tengah hutan, saat di tanya Alden berkata bahwa dia membuatnya hanya iseng saja.
"Kau cukup menjadi asisten putraku, jaga dia jangan sampai dia nakal." ujar Alden sambil tersenyum tipis menatap wajah heran istrinya.
Erwin menghela nafas pelan, dia bersyukur tidak di taruh di tengah hutan kembali.
"Sayang," panggil Amora.
"Shtt, Elbert sangat nakal sekarang. Kau akan kewalahan mengurusnya, jadi biarkan Erwin menjaganya. Lagi pula anak itu sangat takut pada Erwin ketimbang mommynya." ucap Alden sambil mendekati istri dan anaknya.
Alden mengambil alih Elbert, dia menggendong putranya yang masih sesenggukan. Bukan dia mengekang anaknya, hanya saja ELbert sedang aktif-aktifnya. Dia takut putranya akan melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya.
"Kau sudah mulai nakal hm, kau membiarkan mommymu selalu khawatir padamu." ujar Alden sambil mencubit gemas hidung sang anak.
"Hiks ... huaaaa, mau tama mommy aja hiks ...," rengek anak itu sambil merentangkan tangannya ke Amora.
Alden mengambil tangan putranya, dia membawa masuk sang putra menaiki lift. Sementara Aqila hanya mengangkat bahunya acuh lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Amora kembali ke kamarnya, dia bingung ingin menyusul suaminya apa tidak. Sedangkan Erwin hanya menatap datar kepergian mereka.
Sementara itu, Alden membawa putranya ke roftoop mansion. Mumpung hari sudah sore, sehingga dia bisa menikmati waktu sore bersama putranya.
"Sudahlah, jangan menangis hm. El waktu itu bilang akan nurut pada mommy, kok sekarang gak nurut?" tanya Alden sambil membawa anaknya untuk duduk di ayunan kayu tak jauh dari sana.
"Hiks ... El bocan hiks ... mommy temani El main, tapi El mau main kejal-kejalan hiks ...," ucap anak itu mengeluarkan isi hatinya.
Alden menduduki dirinya, dia mendorong pelan ayunan yang ia duduki. Alden mengelus punggung sempit sang putra, dan tangan satunya menghapus air mata sang anak.
"Gimana besok kita pergi ke pet shop, kita beli kucing untuk El? biar El ada temen main," bujuk Alden.
Elbert menatap daddynya dengan binar bahagia, dia mengangguk antusias menyetujui bujukan sang daddy.
"Mau! El mau daddy," seru anak itu.
Alden tersenyum, dia memeluk putranya dengan sayang. Ternyata membujuk putranya sangat mudah, dia tak menyangka bahwa dengan kucing sudah membuat putranya bahagia.
"Sampai kapan kamu akan terus begini Leon, papa capek dengan dengan panggilan gurumu." kesal Zidan.
Leon hanya menatap papanya dengan datar, mereka yang saat ini berada di ruang keluarga membuat Zidan lebih leluasa memarahi sang anak.
"Leon, jika kau terus begini. Maka terpaksa papa akan mengirimmu ke Inggris dan tinggal dengan opamu!" ancam Zidan. Dia bahkan sampai berdiri dari duduknya karena kesal dengan sang anak.
"Sudah?" tanya Leon sambil menatap papanya.
Zidan menatap anaknya dengan heran, dia merasa aneh mengapa anaknya selalu bersikap sangat santai.
"Pertama, bukan aku yang mencari masalah. Kedua, dia yang mencari masalah denganku. Ketiga dia yang salah, dan ke empat semua guru mencari perhatianmu," ujar Leon dengan datar.
Zidan terdiam, dia menduduki dirinya sambil memikirkan ucapan sang anak.
"Bisakah kau mengurangi pesona dudamu itu? aku jengah dengan guru perempuan yang selalu menanyakan tipe wanita idamanmu," gerutu Leon.
Zidan mengangkat satu sudut bibirnya, dia tak menyangka bahwa sang putra mengakui pesonanya.
"Kau mengakui jika pesonaku kuat?" ujar Zidan
"Aku tak mengakui pesona papa, tapi aku sangat menyayangkan pesonamu yang di pasarkan." ujar Leon sambil bangkit dari duduknya dan meninggalkan Zidan yang sedang mencerna ucapan sang anak.
Zidan mengerutkan keningnya, dia sedang bingung dengan perkataan sang anak.
"Pesonaku di pasarkan? berarti pesonaku pasaran? Dasar! anak gak ada akhlak kamu Leon!" geram Zidan.
Zidan akan bangkit dan menyusul sang anak, akan tetapi ponselnya berdering yang mana membuatnya mengurungkan niatnya.
Zidan mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, dia melihat siapa yang menelponnya. Dengan menghela nafas kasar Zidan mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Zidan dengan datar.
"Adikmu akan menyusulmu ke indonesia, dia merengek kesana karena katanya tunangannya sedang berada di indonesia," ujar seseorang di dalam telpon.
"kenapa daddy selalu memberiku beban hah!" kesal Zidan.
Orang yang menelpon Zidan adalah Jacob yang merupakan ayah dari Zidan. Jacob sudah menikah kembali dan memiliki seorang putri yang berumur 21 tahun.
"Siapa yang kau sebut beban kakak?" tanya seseorang yang baru saja memasuki ruang keluarga.
Zidan terkejut, dia menatap seorang perempuan yang tengah menyeret kopernya mendekati Zidan.
"Kau!" sentak Zidan.
"Hai kak," ucapnya.
Zidan menggeram kesal, dia matikan sambungan telpon itu dan menarik perempuan itu keluar.
"Aduh, kak! ihhh nanti Eve ngadu ke daddy!" ujar perempuan.
Perempuan itu bernama Eveline Elvish itu merupakan adik dari Zidan, mereka satu ayah beda ibu. Sedari dulu mereka memang suka sekali bertengkar, akan tetapi mereka juga saling sayang sesama saudara.
"Kenapa kau kesini Eve? sudah kakak bilangkan, jangan kesini! kau menambah bebanku kau tahu?!" kesal Zidan.
"Aku kesini karena ingin menemui tunanganku, bukan menemuimu! dasar duda karatan!" kesal Eveline.
Zidan mengacak rambutnya frustasi, dia sangat kesal dengan daddynya yang menyuruh adiknya untuk tinggal disini. Dia sudah susah mengurus Leon, dan sekarang daddynya akan menambah beban baru untuknya?
"Diamlah Eve! berhenti memanggilku duda karatan! aku baru menduda selama 7 tahun!" kesal Zidan.
Eveline tertawa, dia heran dengan kakaknya yang menyebut tujuh tahun itu baru. Dia sangat senang membuat kakaknya sengsara karenanya.
"7 tahun itu sudah sangat lama kak, pasti Leon kepingin adik darimu hahaha." ledek Eveline sambil menertawakan kakaknya itu.
"Tidak!" sentak seseorang.
mereka mengarahkan pandangan ke seorang anak kecil yang sedang melipat tangannya di depan dada. Mereka menatap aneh saat bocah itu menatap mereka dengan datar.
"Aku tidak mau memiliki adik! kenapa tidak tante saja yang minta pada opa untuk di buatkan adik? aku tidak mau memiliki adik, bisa-bisa sifatnya tak jauh beda dengan tante." ujarnya sambil menatap tajam Eveline.
Zidan tersenyum puas, dia menatap adiknya yang tak lagi menjawab perkataan Leon putranya. Yang bisa mengalahkan perdebatan Eveline hanyalah Leon.
"Dengarkan? jadi, jangan memanggilku duda karatan lagi, atau aku usir kau dari mansionku!" ledek Zidan.
Eveline merengut kesal, dia mengambil kopernya dan menyeretnya keluar dari ruang keluarga. Dia menatap kesal keponakannya saat mereka berpapasan, sedangkan Leon hanya mengangkat bahunya acuh.
"Ingat ini papa, aku tidak mau punya ibu lagi. Jika kau ingin menikah, aku akan menyeleksi perempuan yang akan kamu nikahi," ujar Leon menatap papanya dengan tajam.
Zidan memutar bola matanya malas, dia juga tak memikirkan untuk berumah tangga kembali. Rasa cintanya kepada mendiang sang istri sangat besar, bahkan sang istri masih ada di hatinya.
"Memangnya kau pikir mudah melupakan mamamu?" tanya Zidan.
Leon tak menjawab, dia membalikkan tubuhnya dan tersenyum sangat tipis. Leon beranjak pergi dari sana meninggalkan Zidan yang tengah kembali memikirkan istrinya.
Zidan keluar dari ruang keluarga, dia menuju kamarnya untuk beristirahat. Zidan kembali mengingat saat pertemuannya dengan Amora.
"Kenapa Amora bisa menjadi istri Alden? bukankah setelah lulus kuliah dia kembali ke negara asalnya, mengapa dia malah menjadi adik iparku?" gumam Zidan.
Zidan memasuki kamarnya, dia langsung merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya. Dia teringat saat beberapa hari lalu, saat dirinya bertemu dengan Amora dan Elbert.
"Setahuku, Alden menikah dengan seorang wanita bernama Luna dan juga mereka memiliki satu orang putri. Lalu, mengapa Amora bisa menjadi istri Alden? memang tak dapat di ragukan bahwa wajah Elbert sangat mirip dengan Alden. Jika saja saat itu Elbert tak membutuhkan donor darah karena Alden yang mempunyai Hemofilia, pasti aku tak akan tahu bahwa Amora sudah menjadi istri Alden," gumam Zidan.
Netra Zidan menatap sebuah figura yang menampilkan seorang wanita cantik tengah tersenyum menatap kamera. Zidan tersenyum melihat itu.
"Sayang, aku telah bertemu dengan sahabat lamamu. Aku telah memberinya sebuah hadiah yang dulu pernah ingin kau berikan. Sayang sekali, sahabatmu telah menjadi istri adikku. Aku tak bisa menuruti keinginanmu yang ingin aku menikah dengan sahabat lamamu untuk putra kita ...," gumamnya.
"Aku terlambat sayang," lanjutnya.