
Aqila memasuki mansion dengan wajah lesunya, dia menggeret tasnya yang berwarna pink itu. Aqila tampak sangat tak bersemangat, entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Aqila,"
Aqila menoleh ketika ia merasa terpanggil , dia terkejut ketika melihat orang yang tersenyum seraya mendekatinya.
"Ayah!" seru Aqila.
Aqila melepaskan tasnya, dia langsung berlari menerjang tubuh Gio. Suasana hatinya kini berubah menjadi sangat cerah.
"Hahah, putri ayah merindukan ayah hm?" tanya Gio sambil membawa putrinya ke dalam pelukannya.
"Iya, Aqila rindu ayah. Ayah tau, di sekolah Aqila sangat-sangat kesal." ujarnya sambil menatap sang ayah.
Gio tersenyum, dia melangkah ke arah ruang tamu. Dia ingin lebih banyak waktu untuk putrinya
"Oh ya?" sahut Gio.
"Iya, Aqila sudah lama menunggu daddy tapi daddy tak juga menjemput Aqila." ujarnya sambil merucutkan bibirnya.
Gio yang baru saja duduk, dia terkejut mendengar penuturan sang putri. Dia kesal dengan Alden yang mengabaikan putrinya.
"Benarkah? berapa lama kau menunggu?" tanya Gio kembali.
"Satu jam lebih mungkin, sampai-sampai aku pulang karena di antar oleh guruku," gerutu Aqila.
Gio mengeraskan rahangnya, dia sungguh marah dengan Alden yang membuat sang putri menunggunya selama itu.
"Padahal daddy sudah janji akan menjemput Qila ... tapi lagi-lagi daddy tak menempati janjinya," lirih Aqila.
Gio semakin marah, itu artinya Alden sudah berkali-kali membuat sang putri menunggu lama.
"Ekhm, Qila ke kamar yah ... ganti baju, terus makan siang. Ayah akan ajak Qila keluar, kita akan makan di luar. Kebetulan ayah juga belum makan," ujar Gio setelah ia menetralkan ekspresinya.
Aqila mengangguk, dia berlari ke arah tangga dan menaikinya. Sementara Gio merubah ekspresinya menjadi dingin. Tak lama Gio pun bangkit dan mencari keberadaan Alden.
Netra Gio tak sengaja menatap Alden yang baru saja masuk, dia melihat pria itu berjalan cepat ke arah lift.
"ALDEN!" teriak Gio.
Alden menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan bertapa terkejutnya dia saat merasakan pukulan yang amat kencang pada wajahnya.
BUGHH!
"Orang tua gak berguna!" sengit Gio.
Alden terjatuh akibat pukulan Gio yang terlalu keras, dia meringis pelan saat merasakan sudut bibirnya robek.
"Sshh, Apa-apaan sih lu hah!" sentak Alden sambil berusaha bangun dan menatap Gio tak kalah tajam.
"Anda telah membuat putri saya menunggu anda dalam waktu yang lama!" sentak Gio.
Alden mengerutkan keningnya, dia bingung mengapa sahabatnya ini marah apalagi Gio memakai panggilan formal yang menandakan dia saat ini tengah menahan amarah.
"Putrimu? Aqila? menunggu apa maks ... Astaga! aku lupa menjemputnya, bagaimana ini ...," gumam Alden.
Alden akan beranjak dari hadapan Gio, tetapi suara dingin yang Gio keluarkan membuat Alden menghentikan langkahnya.
"Qila sudah pulang, dia menunggumu selama sejam lebih. Bagaimana jika putriku diculik pada saat dia menunggumu hah? dia memang bukan putri kandungmu, tapi yang dia tahu kamu itu papa kandungnya!" marah Gio sambil menatap Alden yang tengah membalikkan badannya.
"Ma-maaf tadi istri ku sedang sakit, aku lupa menjemputnya." ujar Alden sambil menatap Gio dengan pandangan bersalah.
"KAU HANYA MEMENTINGKAN KELUARGA BARUMU SEHINGGA KAU MELUPAKAN PUTRIMU. OH, LEBIH TEPATNYA PUTRI ANGKATMU!" teriak Gio.
"Gio! kau tak tau apa yang terjadi, Amora dia ...,"
"LUPAKAN DENGAN ITU! BISA KAN KAU MENYURUH SUPIR UNTUK MENJEMPUTNYA? APA KARENA DIA BUKAN AKAN KANDUNGMU SEHINGGA KAMU MELUPAKANNYA HAH!" teriak Gio.
Alden memejamkan matanya, dia sungguh emosi dengan apa yang Gio ucapkan. Tak tahukah Gio bahwa Alden melupakan Aqila karena kepanikannya terhadap sang istri sehingga dia melupakan segalanya.
"Lu gak tau jika Amora sekarat, lu gak tau gimana paniknya gue saat dia berteriak ketakutan. LU GAK TAU SEBERAPA PANIK NYA GUE SAAT DIA BERTERIAK SEPERTI ITU DALAM KEADAAN KONDISI HAMIL DAN KANDUNGANNYA YANG LEMAH!" sahut Alden.
"Tapi kamu bisa kan untuk meminta supir agar ...,"
"Qila bukan anak papa?"
Atensi mereka mengarah ke seorang anak kecil yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka tanpa mereka sadari. Anak tersebut adalah Aqila, dengan wajah memerah dan juga air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Qi-qila?" gumam Alden dan Gio.
Aqila berlari kembali ke kamarnya, dia bahkan tak takut bahwa ia akan terjatuh di tangga. Sementara Gio langsung menyusul putrinya.
Berbeda halnya dengan Alden, dia membiarkan Gio yang akan menjelaskannya pada Aqila. Sudah seharusnya Aqila tahu semuanya, jadi tak perlu lagi di tutupi karena semuanya telah usai.
Alden memasuki lift menuju kamarnya, dia khawatir dengan istrinya sehingga mengabaikan luka pada sudut bibirnya.
Cklek.
Alden memasuki kamarnya, dia tertunduk sangat lesu dan tak menyadari bahwa Amora tengah menatapnya dengan bingung.
"Mas kenapa?" tanya Amora sambil menatap Alden yang tengah menutup pintu.
Sontak saja Alden langsung membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Sayang," panggil Amora kembali dengan nada lembutnya.
Alden langsung menghampiri istrinya, dia memeluk Amora seakan-akan istrinya itu akan pergi.
"Akhirnya kamu bangun, aku khawatir dengan keadaanmu." ujar Alden sambil sesekali mengecup pipi sang istri.
"Tadi kamu kemana? aku bangun kok kamu gak ada?" tanya Amora saat Alden telah melepaskan pelukannya.
"Tadi aku habis ke rumah paman Hans, kakak dari mommy. Aku menanyakan tentang kondisimu padanya karena aku tak percaya dengan apa yang Dokter Risa katakan padaku tentangmu." ujar Alden sambil menjongkokkan dirinya di hadapan sang istri, dia mengambil lembut tangan sang istri dan menggenggamnya.
"Siapa Dokter Risa?" tanya Amora menatap tajam Alden, dia sedikit sensitif saat mendengar nama perempuan.
Alden terdiam, dia mengangkat kepalanya dan memandang wajah cantik istrinya walaupun terlihat pucat.
" Dokter Risa adalah dokter psikiater, dia ...,"
"Buat apa mas memanggilnya untuk memeriksaku? aku gak mengalami gangguan mental, kenapa dia gak memeriksa kejiwaan mas aja yang menyuruh Dokter Risa memeriksaku huh?'" ujar Amora dengan sengit.
Alden yang merasa omongannya terpotong menghembuskan nafasnya, dia mengelus punggung tangan sang istri yang terdapat jarum suntik.
"Tadi kau pingsan jadi aku juga memanggilnya untuk memeriksamu," ujar Alden dengan lembut.
"Aku pingsan bukan gila mas!" kesal Amora.
Alden menghela nafasnya pelan, sulit untuk dirinya mengungkapkan apa yang jadi pertanyaannya.
"Eh, bibir kamu kenapa?" tanya Amora yang baru tersadar melihat sudut bibir suaminya yang terluka.
"Oh ini, tadi ada kesalafahaman sedikit dengan Gio. Aku lupa menjemput Aqila, Gio marah dan memukulku. Tanpa sadar Gio berkata bahwa Aqila adalah anak angkatku dan Qila mendengar semuanya. Dia menangis dan berlari ke kamarnya, Gio juga menyusulnya." ujar Alden sambil meringis pelan saat Amora menekan lukanya.
Alden menurunkan tangan Amora dari pipinya, dia bangkit menuju nakas dan mengambil kotak obat. Kemudian Alden memberikan kotak obat itu pada istrinya dan di balas tatapan bingung oleh sang istri.
"Obatin yang ... gak peka banget sih!" kesal Alden.
Amora tersenyum, dia mengambil kotak obat itu dan membukanya. Dia mulai membersihkan luka Alden secara hati-hati karena laki-laki itu selalu meringis.
"Sakit ya pasti, kasihan ...," lirih Amora.
"Sakit lah yang, sobek ini." kesal Alden sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"AW ... AW!" ringis Alden saat Amora menekan lukanya karena kesal pipinya menjadi sakit karena di cubit sang suami.
"Sakit yang," ujar Alden.
Amora tak menghiraukannya, dia lanjut mengobati suaminya yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Gak usah manyun, kamu gak ada lucu-lucunya. Malahan aku berasa pengen nampol kamu pake teplon kesayanganku," sarkas Amora.
"Ishh ... tega banget yang," gumam Alden.
Beberapa saat kemudian, Amora telah menyelesaikan kegiatannya. Dia memberikan kembali kotak obat itu dan langsung di simpan oleh Alden ke tempatnya semula.
"Yang." panggil sambil duduk di tepi ranjang Amora.
"Hm," gumam Amora.
Alden menatap istrinya yang tengah merebahkan dirinya, dengan gugup Alden kembali berkata.
"Yang, aku mau tanya sama kamu," ujar Alden.
Amora yang tadi akan memejamkan matanya, membuka kembali matanya. Dia menatap suaminya yang sepertinya gugup.
"Tanya apa? aku ngantuk banget," ujar Amora.
"Kamu ... kamu ... haaahhh apa kamu tersinggung dengan ucapanku tentang dunia ini yang hanya dunia novel?" tanya Alden.
Amora yang akan kembali menutup matanya tersentak kaget, dia membulatkan matanya dan menatap Alden dengan pandangan yang sulit di jelaskan.
"Jawab yang! kenapa kamu merasa tersinggung? dari sikapmu yang berubah, watakmu kepribadianmu dan kasih sayangmu pada Elbert benar-benar seperti ...,"
"kenapa kau menanyakan itu?" ujar Amora memotong kembali ucapan Alden.
"Tadi kamu mengigau dan berteriak beberapa kata, dokter mengatakan jika kamu de ...,"
BRAK!
Alden menutup matanya karena kesal, sedari tadi dia berkata selalu di potong. Sekarang terdengar dobrakan pintu dan pelakunya adalah putranya sendiri.
"El pulang!"
Elbert membuka pintu dengan tidak santainya, dia memasuki kamar sang mommy dengan eskrim di tangannya.
"Mommy mau nda es klim El? macih banak lo di kulkas," ujar Elbert.
Amora tersenyum tipis, dia memanggil sang anak untuk mendekat ke arahnya. Dengan senang hati pun Elbert menghampiri sang mommy.
"Hari ini makan satu, tiga hari ke depan baru makan lagi ya. Mommy gak menerima penolakan!" ujar Amora dengan tegas.
"Ih, kok begitu my? El nda mau, El beli banak cupaya bica makan banak," ujar El yang merasa tak terima dengan keputusan sang mommy.
"Ikutin apa kata mommy, atau ... Es krim El mommy kembaliin sama mb kasirnya!" ucap Amora memberi pilihan untuk sang putra.
Alden gemas dengan sang anak yang mengerucutkan bibirnya, apalagi dengan bibirnya yang kini sudah belepotan es krim cokelat yang anaknya genggam.
"Makan dua boleh ya my, nanti El makana dua hali lagi eh makcutnya tiga hali lagi ya my." rayu Elbert sambil menunjukkan jarinya.
"Ini bukan pasar El yang bisa El tawar, ini perintah dari mommy!" ujar Amora.
Elbert menunduk dengan lesu, dia menatap es nya yang akan mencair.
"Nda jadi pecta es klim malem ini huh ... pelut, cabal ya ... nanti kita makan ecklim tiga hali lagi." ujar Elbert sambil menepuk pelan perut buncitnya.