Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Perdebatan marga


Alden tengah menatap sebuah bayi perempuannya yang berada di inkubator dengan berat badan 2,3 kg dengan panjang badan 45 , setelahnya netranya beralih menatap bayi laki laki yang berada di inkubator yang terlihat lebih kecil karena berat badannya hanya 2 kg dengan panjang badan 43 cm.


"Kecil sekali," lirih Alden.


Oeekk!


Netra Alden menatap bayi perempuannya yang sepertinya sudah bangun, dia tersenyum ketika melihat bayi itu menggeliat tak nyaman.


"Sabarlah, kau akan keluar dari inkubator ini jika kau berjuang menaikkan berat badan mu. Daddy akan selalu menjagamu little girl," lirihnya.


Alden menatap bayi laki-lakinya, dia bingung mengapa bayinya yang satu itu jarang sekali menangis, bahkan bayinya itu hanya menangis setelah ia dilahirkan. Setelah itu, bayi tersebut hanya merengek jika dirinya merasa lapar atau tak nyaman.


"Aneh, aku baru jumpa dengan bayi yang pendiam seperti ini. Padahal seingatku dulu ketika Elbert lahir dia selalu menangis sepanjang malam yang mana membuatku harus menyewa baby sitter untuknya." ujar Alden sembari mengerutkan keningnya bingung.


Cklek!


"Al, Amora mencarimu," ujar Queen yang baru saja masuk.


Alden mengangguk, dia segera mengikuti ibu mertuanya ke tempat rawat sang istri. Istrinya itu telah sadar saat malam tadi, bahkan Amora telah menyusui buah hatinya pagi ini.


Cklek!


Alden tersenyum saat membuka pintu rawat Amora dan mendapati istrinya tengah di suapkan makan oleh Jeslyn. Dia mendekati brankar sang istri setelah dia mengecup singkat pucuk kepala sang istri.


"Al, dari mana saja kau. Istrimu belum makan dan kau malah keluyuran!" sentak Jonathan yang duduk di sofa bersebelahan dengan Arthur.


"Aku habis melihat twins dad," ujar Alden. Twin merupakan panggilan yang dia sematkan untuk bayi-bayinya


Alden menoleh menatap Elbert yang sepertinya masih marah padanya, putra sulungnya itu belum menerima kehadiran adik perempuannya.


"El," panggil Alden yang melihat sang anak tengah duduk di dekat jendela besar sambil menatap ke arah luar jendela.


Tak mendapat tanggapan dari sang anak membuat Alden berinisiatif untuk mendekat. Dia menduduki dirinya di sebelah Elbert yang sudah menoleh menatapnya.


"Daddy napa deket-deket El? janan deket-deket El kalo daddy belum tukel adekna jadi laki-laki," sinis Elbert.


"El sayang, masa El mau tuker adeknya sama anak orang lain? El berarti gak sayang adek dong? padahal adek sangat sayang sama El loh, adek girlnya kan mau di jaga sama abang tampan." bujuk Alden sembari mengusap rambut tebal sang anak.


Elbert sepertinya luluh ketika Alden menyebutnya tampan, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Adekna mau di jaga abang El, kan abang El tampan." antusias Elbert sambil menepuk dadanya.


"Memangnya abang El tampan hm?" tanya Alden mencoba bercanda dengan Elbert.


"Kan El abangnya, jadi El itu abang tampan." serunya.


Alden tersenyum, dia mencium pipi sang anak yang hampir jatuh itu karena terlalu gembil. Netranya beralih menatap Arthur yang menatapnya.


"Kenapa pi?" tanya Alden.


"Kau memang memiliki bakat dalam merayu ya Al?" ujar Arthur.


Alden tersenyum bangga, tangannya terulur menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jari tangan kanannya.


"Aku jadi ragu jika putriku memang benar-benar mencintaimu ataukah hanya tertarik dengan rayuanmu," ucap Arthur yang mana membuat atensi semua orang mengarah padanya.


Alden menatap kesal ke arah Arthur yang sedang menahan tawanya, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sang istri yang tengah menahan tawa.


"Sayang! liat papi! masa aku di ledekin," rengek Alden.


PLAK!


"Malu sama umur Al! masa dah punya buntut tiga masih merengek kayak anak kecil minta permen!" kesal Jeslyn.


Alden mengusap lengannya yang tadi dipukul oleh Jeslyn, dia menatap sang istri dengan wajah memelasnya. Amora yang mengerti segera menyuruh suaminya untuk duduk di tepi brankarnya.


"Sudahlah, papi hanya bercanda," ujar Amora.


"Sayang cinta mas kan?" tanya Alden sembari menunggu jawaban Amora dengan wajah bahagianya.


Tetapi, harapannya pudar ketika melihat istrinya menggeleng. Bahkan gelak tawa kini memenuhi ruangan itu.


"Aku tidak mencintaimu, tapi sangat ... sangat ... sangat mencintaimu. Jika aku tidak mencintaimu, aku pasti berlari pergi dan mencari suami baru." ujar Amora sambil memeluk suaminya yang tampak kesal.


"Hahaha, sudah-sudah ... Sekarang mommy ingin tanya, kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya Jeslyn.


Amora dan Alden saling pandang, keduanya menggeleng karena memang belun terpikirkan apalagi mereka tak tau jika bayi mereka akan lahir secepat ini walaupun beberapa hari lagi akan masuk bulan kedelapan tetapi tetap saja bayi itu lahir prematur.


"Belum, tapi sebelumnya Leon pernah memberitahuku sebelum dia pulang saat berkunjung ke mansion," gumam Amora.


"Leon memberikan sebuah kalung yang terukir sebuah nama, aku lupa apa ukirannya." ujar Amora sembari mencari isi dalam tasnya itu.


Amora terdiam, dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam tepat di depan dadanya. Dia menatap suaminya setelahnya dia membuka kotak itu dengan perlahan.


"Zanna?" lirih Amora saat membaca kalung tersebut.


"Cuma satu yang? pelit amat ngasihnya cuma satu, terus baby boy nya gak di kasih?" ujar Alden.


"Kamu kok di kasih hati minta jantung sih Al! jangankan dia, mommy dan daddy serta mertua kamu gak ada yang tau kalau Amora hamil anak kembar. Kamu kan gak kasih tau kita!" kesal Jeslyn.


Memang Alden dan Amora belum memberitahu bahwa bayi mereka ada dua, mereka hanya ingin memberi kejutan malah mereka juga yang dikejutkan karena lahir sebelum waktunya.


"Ya ... ya niatnya kan mau kasih suprise gitu, ya Al mana tau kalau bakal lahir cepet begini. Al kan bukan cenayang mom," bela Alden.


"Sifatmu tuh mirip Al, kamu aja gak sadar," sahut Arthur yang mana membuat mereka menertawakan Alden.


Alden lagi-lagi kesal dengan ucapan Arthur, dia merasa selalu di pojokkan oleh Arthur. Mulut mertuanya itu sepedas cabe setan jika dia pikir.


"Cenayang itu apa glandpa?" seru Elbert yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka.


"Cenayang ya daddymu," sahur Arthur.


"Mas! cucunya jangan di ajarin kayak gitu! mau kamu aku gantung hah?!" kesal Queen.


Arthur menatap istrinya dengan nyali menciut sementara Alden merasa senang karena di bela ibu mertuanya itu.


"Al, bagaimana jika nama baby girl kalian itu Zanna Liana putri Wesley," ujar Jonathan memberi saran kepada putranya itu.


"Boleh, aku juga setuju. Untuk baby boy, aku yang akan memberinya nama." pinta Arthur yang ditatap bingung oleh Amora dan Alden.


"Zyan Lionard putra Miller, bagaimana?" seru Arthur yang dibalas tatapan tajam dari Alden dan Jonathan.


Alden tak terima begitu pula dengan Jonathan, bukan masalah nama tetapi marga yang di gunakan putranya harus menyandang nama Wesley bukan Miller.


"Bagaimana bisa begitu, ini putraku! bukan putramu!" ujar Alden tak terima.


"Putriku yang melahirkannya!" balas Arthur tak mau kalah.


"Aku yang membuatnya jika kau lupa?!" kesal Alden.


"Ck kau hanya menyumbang saja, dan putriku yang berjuang," balas Arthur.


Sementara Elbert mengerutkan keningnya, anak itu bingung dengan ucapan orang dewasa didepannya ini.


"Adeknya di tanam di dalam Goa ya opa?" bingung Elbert yang mana membuat semua orang tersadar bahwa di ruangan ini bukan hanya mereka melainkan ada sosok anak kecil yang sedang kepo.


***


"Kak! kenapa kau lama sekali! apa pekerjaanmu belum beres juga? cepatlah! aku ingin melihat ponakan kembarku!" kesal Arsel sambil menatap Arjuna yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Sebentar lagi," singkat Arjuna.


"Ck, biarlah aku pergi duluan! kau ini memang tidak mau kalah yah? hingga aku disuruh menunggumu huh? aku ingin melihat mereka sekarang! tak peduli jika kau marah padaku!" kesal Arsel dan berlalu mengambil tasnya tetapi belum juga sampai di pintu Arjuna menghentikannya.


"Oh begitu rupanya, baiklah aku akan bicara pada papi jika kau naksir dengan dosenmu!" ancam Arjuna yang mana membuat Arsel terdiam.


Arsel membalikkan tubuhnya, seketika raut wajahnya berganti menjadi berbinar dan mendekati Arjuna yang tengah menatapnya bingung.


"Wah, kakakku sangat tampan. Kau tahu, aku tak pernah menyukainya. Hanya saja, aku menyukai wanita cantik. Jadi ... jangan bilang papi yah," bujuk Arsel.


"Berhentilah menyakiti perasaan wanita Arsel! karma itu ada, jangan sampai kau yang dibalas sakit oleh para wanita!" peringat Arjuna.


Arsel merengut, dia kembali duduk di depan meja kerja kakaknya. Tangannya menumpu dagunya, dia menghela nafas pelan saat melihat Arjuna yang kembali mengetik.


"Kak, aku memang pencinta wanita. Tapi aku gak kayak buaya di luaran sana, aku menjaga batasan terhadap mereka." ujar Arsel sembari menatap kesal Arjuna.


"Kau memang menjaga batasan tetapi kau tak menjaga hatimu untuk wanita yang menjadi masa depanmu. Hatimu itu terlalu murah hingga banyak wanita yang hinggap disana," celetuk Arjuna.


Arsel terdiam, dia membenarkan perkataan Arjuna tentang hatinya yang terlalu murah menerima banyak wanita. Apakah dirinya harus berubah?


"Padahal papi tidak sepertimu, kau ini menurun dari siapa hah? aku curiga jika mami memungutmu di kandang buaya jadinya sifatmu mirip dengan mereka," sarkas Arjuna.


Arsel menatap tajam kakaknya itu, sementara Arjuna hanya menatap acuh dan kembali mengetik laptopnya.


"Lihat saja kak! aku akan bilang mami jika kau mengatakan aku di pungut olehnya di kandang buaya!" kesal Arsel.