
Luna masuki sel tahanan, dia tak berusaha melawan saat polisi menangkapnya. pandangannya terlihat kosong, dia seperti orang yang tak memiliki semangat hidup.
Alden juga telah sampai di kantor polisi saat Deon memberi dirinya pesan bahwa Luna telah tertangkap.
"Al," seru Deon saat melihat Alden yang baru saja sampai dengan di dampingi oleh Erwin.
"Gimana? masalah udah beres?" tanya Alden sambil mendekati kedua sahabatnya.
"Udah, Luna akan diadili. Persidangannya akan diadakan beberapa hari ke depan," ujar Deon.
Alden menatap Gio yang masih duduk di bangku tunggu dengan pandangan lurus kebawah.
Alden bertanya menggunakan isyarat pada Deon, dia bingung mengapa Gio seperti itu.
"Yah, lu taukan gimana cintanya dia sama Luna. Tapi untungnya otak pintarnya bekerja, sehingga dia lebih memilih melepaskan Luna dan membahagiakan putrinya." ujar Deon sambil menepuk bahu Gio.
Alden mengangguk, dia berusaha melangkah menggunakan tingkatnya untuk mendekat kepada Gio. Setelah itu dia menduduki dirinya tepat disebelah Gio.
"Gio, Gue tau apa yang lu rasain saat ini. Suatu saat lu pasti nemuin cinta sejati lu, untuk saat ini lebih baik lu fokus dengan kebahagiaan Aqila. Gue berencana untuk memberi penuh hak asuh Qila kepada lu setelah masalah persidangan Luna selesai. Gue akan bicara pada Aqila pelan-pelan agar dia mengerti," ujar Alden.
Gio menoleh menatap Alden, kedua sudut bibirnya terangkat membuat senyuman. Tangannya bergerak untuk merangkul Alden, dia terlihat seperti biasa saja.
"Aku gak papa, aku tau kok apa yang harus aku lakuin kedepannya ... dan thank's, kamu udah gantiin posisiku untuk Aqila saat aku koma." ujar Gio sambil menepuk bahu sahabatnya.
Alden tersenyum, dia melepas rangkulan Gio dan balik merangkulnya. Dia harus menjadi penguat bagi sahabatnya yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.
"Mungkin setelah Aqila bisa menerima semuanya, aku akan kembali ke mansion keluargaku," ujar Gio.
"Bagus tuh, keluarga lu kan taunya lu udah mati. Kalau mereka tahu lu masih hidup gimana yah reaksinya? Apalagi pulang bawa anak," ujar Deon.
Mereka akhirnya terkekeh, kecuali Erwin tentunya. Wajah datar dan dinginnya sudah sangat melekat pada dirinya, entah bagaimana caranya agar pria itu sedikit lunak.
***
Setelah urusan mereka di kantor polisi selesai, mereka memutuskan untuk pulang. Erwin dan Gio sudah terlebih dulu memasuki mobik masing-masing. Sedangkan Deon masih membantu Alden yang berjalan menggunakan tongkatnya.
"Ngapain pake acara ngikut segala sih, ribet kan jadinya," gerutu Deon.
"Lu kalo gak ikhlas ngapain bantu bodoh?! mending gue dibantu Erwin tadi dari pada ama lu yang ngedumel terus," kesal Alden.
Deon hanya memutar bola matanya, dia masih membantu Alden untuk berjalan. Tiba-tiba terlintas sebuah ide, tangannya terulur untuk mencari sesuatu di sakunya.
"Al, lu keluar izin sama bini gak?" tanya Deon.
Alden menggeleng yang mana membuat Deon tersenyum puas. Deon mengeluarkan sebuah botol semprot kecil dari sakunya, netranya melirik Alden yang tengah fokus berjalan.
"Lu lagi ngapain sih?" tanya Alden curiga karena pendengarannya menangkap suara semprotan.
"Oh gak, ini gue ngerasanya kok disini bau gitu. Takutnya baju gue ikutan bau," jawab Deon.
"Kok baunya kayak parfum perempuan?" tanya Alden sambil menatap sahabatnya dengan tatapan memicing.
"Gue salah bawa parfum, ah udah lah. Cepet jalannya gue pegel nih nahan tangan lu," ujar Deon.
Deon dengan hati-hati membantu Alden memasuki mobil, dia melihat Erwin yang menatap aneh pada mereka berdua.
Brak!
Pintu mobil tertutup sedikit keras karema ulah Deon, sedangkan yang di dalam mobil pun merasa terkejut.
"Sahabat gak ada akhlak begitu tuh!" gerutu Alden.
"Tuan," panggil Erwin.
"Hm." jawab Alden sambil memejamkan matanya.
"Nyium bau aneh gak?" tanya Erwin.
Sontak saja Alden membuka kembali matanya, dia mencium aroma didalam mobilnya.
"Gak, apa lu pakein nih mobil stela jeruk yah?" curiga Alden. pria itu sama sekali tidak menyukai aroma tersebut.
Erwin menggeleng, dia menghela nafasnya pelan dan mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Alden, dia tidur karena memang ini sudah hampir subuh yang mana membuat kantuknya datang.
Sesampainya di mansion, Alden langsung turun dari mobil setelah Erwin membangunkannya. Dia berusaha berjalan menggunakan tongkatnya sendiri.
Saat akan memasuki lift, dia dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"Habis dari mana kamu?"
Alden menoleh, dia mendapati Amora yang tengah menatapnya dengan tangan kanan yang sedang memegang botol susu putra mereka.
Amora menghampiri suaminya, saat sampai didepan suaminya dia memberhentikan langkahnya. Hidungnya mengendus tubuh suaminya yang terdapat bau aneh.
"Kamu habis mabar di bar?" tanya Amora sambil memicingkan matanya curiga.
"Eh, enggak yang! aku gak pernah ke tempat laknat itu lagi," ujar Alden.
"Gak usah bohong kamu, gak dikasih jatah ama aku terus main ke bar gitu?!" marah Amora.
Alden tak mengerti mengapa istrinya menuduhnya seperti ini. Dia menatap Amora yang sedang menatapnya kesal.
"Apa sih yang, curigaan mulu. Kalau aku mau ya aku tinggal minta sama kamu ngapain aku ke bar," ujar Alden dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kok kamu yang marah? kamu yang salah kok kamu yang marah?" kesal Amora.
Alden membulatkan matanya, dirinya hanya berkata dengan nada yang sedikit tinggi disebut marah. Jika dia marah disebut jahat, harus bagaimana dia mengekspresikan dirinya di hadapan istri cantiknya ini.
"Kamu itu kenapa sih gak pernah jujur hah? kesel aku sama kamu!" ujar Amora dan memasuki lift meninggalkan Alden yang menatapnya bingung.
"Gue salah apa lagi sih, perasaan gue gak ketemu perempuan deh. Paling si Luna, itu pun juga jarak jauh," gerutu Alden.
Erwin tersenyum tipis, dia sangat puas dengan apa yang terjadi pada Alden. Dia menyadari jika parfum yang Alden kenakan adalah parfum perempuan.
Alden berbalik, dia memasuki lift yang tadi istrinya gunakan. Dirinya masih bingung kenapa sang istri mencurigai dirinya.
Sesampainya di kamar, Alden langsung mendekati Amora yang sedang menyanggah susu botol putranya. Istrinya itu membelakanginya sehingga Alden memutuskan untuk memeluk istrinya dari belakang.
"Yang, aku salah apa? kok kamu sampai marah?" tanya Alden.
Amora membalikkan tubuhnya yang mana membuat Alden terkejut bukan main, dia melihat wajah sang istri yang basah karena air mata. Dia juga mendapati sorot kesedihan pada mata sang istri.
"Pertengahan malam kamu keluar tanpa bilang sama aku, terus pulang-pulang bau parfum perempuan. Kalau aku marah wajarkan? aku gak tau apa yang suamiku perbuat di luar sana hiks ...," ujar Amora mengeluarkan unek-uneknya pada sang suami.
Alden tentu saja terkejut, dia mencium bajunya tapi tak menemukan wangi itu sehingga dia membuka baju yang ya pakai sehingga nampak lah dada bidang dan perut sixpack nya.
Alden mencium bajunya, dia membulatkan matanya saat mencium wangi tersebut.
"Ini kan wangi yang Deon semprot tadi, katanya karena kecium bau ...,"
"Bodoh lu Al! mana ada orang semprot parfum ke jalanan." lanjut Alden sambil menepuk keningnya.
"Apa? kamu mau ngelak hah? sekarang tuh lagi marak yang namanya pelakor, lebih baik kamu tidur di luar aja deh sana." usir Amora sambil kembali memunggungi Alden yang tengah menahan kesal.
Alden tak bicara pada Amora, dia segera keluar tanpa menggunakan tongkatnya. Walaupun sangat sulit, tapi Alden sudah terlampau kesal sehingga ia lupa dengan tongkatnya itu.
Alden keluar dari kamar, dia lupa jika dirinya tak menggunakan baju. Dia memanggil satu bodyguard dan menyuruhnya membantunya berjalan ke ruang kerja.
Sesampainya di ruang kerja, Alden langsung merebahkan dirinya di sofa. Sementara bodyguard itu langsung mengundurkan diri.
"Asataga Alden!" sentak seseorang.
Alden terkejut, dia membuka matanya dan menatap sang mommy yang tengah menatapnya dengan terkejut.
"Apa sih mom, kaget tau." kesal Alden sambil menduduki dirinya.
"Habis ngapain kamu sama bodyguard tadi? ngapain kamu gak pakai baju begini? kenapa pagi-pagi buta kamu gak ada di kamar istri kamu hah? udah belok kamu?" ujar Jeslyn.
Alden mengerutkan keningnya, dia menunduk melihat tubuhnya yang tak memakai baju. Sontak saja Alden menyilangkan tangannya di depan dadanya, dia kaget karena lupa tak memakai atasan.
"Alden! waras dikit napa selingkuhannya, kenapa kamu jadi begini Al!" sentak Jeslyn.
"Apa? jadi bener dugaan aku kalau wangi parfum itu punya selingkuhan kamu?
Atensi mereka mengarah ke pintu, mereka membulatkan matanya saat melihat Amora yang berdiri menatap Alden dengan tatapan sedihnya.
"Sa-Sayang ...," gumam Alden.
"Hiks ... kamu jahat mas," ujar Amora. setelah itu berlari kembali ke kamarnya. Sedangkan Alden berusaha untuk menyusul istrinya dengan jalan yang tertatih-tatih.
Jeslyn terkejut, dia menutup mulutnya setelah mendengar apa yang Amora ucapkan.
Sedangkan Deon saat ini tengah tersenyum bahagia berhasil mengerjai Alden.
"Rasain! gak sia-sia gue bawa parfum yang salah. Gara-gara lu gue selalu di panggil om pebinor ama anak lu, saat ini terima balasannya," ujar Deon.
_____________________
Hari senin nih🤭, jangan lupa votenya yah🤭🤭🤭.
Lop buat kalian🥰🥰🥰