Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
pertemuan Gio dengan Aqila


Alden telah siap dengan pakaian kantornya, ia keluar kamar dengan wajah freshnya. Dia merapihkan dasinya dan berjalan meninggalkan kamar utama.


Netranya menangkap putrinya yang baru saja turun dari tangga, karena memang putrinya takut memakai lift.


"Papa!" seru Aqila.


Alden tersenyum, dia merentangkan tangannya untuk menggendong sang anak. Aqila masuk kedalam gendongan Alden, dia begitu senang melihat papanya itu pulang.


"Hai sayang, apa kau tidak berangkat sekolah hm?" tanya Alden dengan lembut.


"Aku tidak mau sekolah," jawabnya.


Alden mengerutkan keningnya, dia tak mengerti mengapa putrinya tidak mau sekolah. Padahal putrinya sudah siap dengan seragam TK nya.


"Kenapa?" tanya Alden.


Aqila tak menjawab, dia menyenderkan kepalanya di bahu kekar Alden. Dia sepertinya memang tak berniat untuk pergi ke sekolah.


"Qila, papa tanya loh ... kok gak di jawab?" tanya Alden sekali lagi.


"Qila takut," lirihnya.


Alden mengerutkan keningnya, dia bingung dengan jawaban Aqila.


"Kenapa takut? Qila takut pada siapa?" tanya Alden heran.


Anak itu tak menjawab, Alden sudah beberapa kali memanggil namanya. Namun, putrinya tak kunjung menjawabnya.


"Aqila!" panggil Alden sedikit keras.


"Ada apa tuan muda?" tanya Erwin yang baru saja memasuki mansion dan melihat Alden memanggil Aqila.


"Apakah Aqila tidur? kenapa dia tak menjawabku?" tanya Alden. Dia tak bisa melihat wajah Aqila karena anak itu menjatuhkan kepalanya pada pundak kekarnya.


Erwin melihat Aqila, tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah anak kecil itu.


"Tidur?" heran Erwin.


Aqila tertidur, mungkin anak itu sangat ngantuk sehingga dia tertidur pulas seperti itu. Bahkan Alden memanggilnya beberapa kali pun dia tak menjawab.


"Benarkah? pantas saja aku memanggilnya dia tak menyahut. Yasudah, aku akan membawanya ke kantor. Untuk saat ini aku mengizinkannya untu tidak bersekolah," ujar Alden.


"Ke kantor tuan? tumben? tanya Erwin heran, karena dia memang tak pernah melihat Alden membawa Aqila ke kantor. Walaupun Aqila pernah ke kantor, tetapi Luna yang membawanya.


"Aku ingin mempertemukan dia dengan seseorang, untuk itu aku harus membawanya." ujar Alden sambil melangkah meninggalkan Erwin yang masih terdiam.


Alden memasuki bangku belakang mobilnya, dia menaruh putrinya dan di pasangkan sabuk pengaman. Setelah itu dia memutar mobilnya dan masuk bangku pengemudi.


Alden menjalankan mobilnya meninggalkan mansion menuju kantornya. Dia berencana untuk menemui klien dan dan sahabatnya untuk membahas rencana mereka kedepannya.


Sesampainya di kantor, Alden langsung turun. Dia membuka pintu belakang untuk membawa putrinya ke gendongannya. Setelah itu dia menutup pintu kembali dan berjalan memasuki gedung kantornya.


"Selamat pagi pak, klien sudah menunggu bapak di ruang rapat pak." ucap sekretaris Alden sambil mengikuti langkah bosnya.


"Baiklah, saya akan menuju kesana. Kau siapkan saja berkas yang akan kita bahas nanti," ujar Alden.


Mereka memasuki lift, sekretaris Alden menatap Aqila yang berada di gendongan Alden.


"Memang pak bos itu hot daddy banget, liat aja dia membawa anaknya ke kantor dalam keadaan tidur. Kapan aku memiliki jodoh seperti ini," ucapnya dalam hati.


Tring.


Alden segera keluar diikuti oleh sekretarisnya, dia memasuki ruangannya untuk menaruh Aqila yang sedang tertidur.


Alden menidurkan Aqila di kamar pribadi yang berada di ruang kerjanya, dia meletakkan putrinya dengan hati-hati.


"Rose, berkas yang akan di gunakan untuk meeting telah kau siapkan?" tanya Alden.


Sekretarisnya bernama Rose tersebut mengangguk, dia menatap pesona Alden yang terbilang sangat tampan.


"Yasudah tunggu apalagi? kerjakan tugasmu, malah melihat saya seperti itu. Jaga pandanganmu terhadap bosmu!" kesal Alden.


Alden sedikit risih jika dilihat seperti itu, dia tak menyukai wanita yang selalu memandangnya seperti yang Rose lakukan tadi.


"Ma-maaf pak, saya cuman ingin ...," gugup Rose.


"Sudahlah Rose, jangan membuat moodku rusak. Aku harus cepat menyelesaikan rapat ini agar segera bertemu dengan istri keduaku." ucap Alden sambil beranjak meninggalkan Rose yang terkejut.


"Istri kedua? sejak kapan bos punya istri kedua? hah, bukan aku menyukai bos. Aku hanya mengidolakannya saja," ujar Rose.


"Sama saja bodoh," ujar seseorang yang baru saja masuk.


Rose terkejut, dia membalikkan badannya dan menatap penuh permusuhan orang yang menyahut ucapannya.


"Max! kau membuatku terkejut!" kesal Rose.


Orang yang bernama Max adalah asisten Alden, dia dengan Rose memang selalu ribut jika bertemu.


"Ck, seharusnya kau menyiapkan berkas rapat bukannya mengagumi suami orang! perempuan centil kayak kamu mana bisa dapet suami yang sama kayak bos, justru mereka lebih dulu lari ketika kamu dekati," ledek Max.


Rose kesal dengan ucapan teman kerjanya itu, dia beranjak dari sana setelah mengambil berkas untuk rapat.


Sedangkan Max tertawa geli, dia senang sekali mengerjai Rose. Kemudian dia berbalik dan mengikuti Rose yang telah lebih dulu ke ruang rapat.


2 jam kemudian, Alden telah selesai dari rapatnya. Setelah berjabat tangan dengan kliennya, Alden pergi menuju ruang kantornya.


cklek.


Alden memasuki ruangannya, dia melonggarkan dasinya yang mencekik lehernya. Netranya menatap Aqila yang sepertinya sudah bangun sedari tadi karena anak itu telah duduk dan mencoret-coret buku yang berada di meja.


"Papa!" seru Aqila.


Alden tersenyum, dia menghampiri putrinya yang berada di sofa. Dia menduduki dirinya tepat di sebelah Aqila.


"Papa lama ya?" tanya Alden.


Aqila mengangguk, dia kembali mencoret buku itu. Alden membiarkannya karena buku itu tidaklah penting baginya.


Tok! tok! tok!


Alden menoleh, dia menatap pintu yang terbuka. Dia tersenyum ketika melihat siapa yang membuka pintu ruang kerjanya.


"Cepet juga kalian ngurusin dia, gue kira bakal lama." ujar Alden sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya


"Gak lama kok, soalnya kita langsung dapet rekamannya," ujarnya.


Mereka menghampiri Alden dan Aqila, salah satu dari mereka tak melepas pandangannya dari Aqila.


Deon dan Gio datang ke kantor Alden untuk membahas masalah mereka. Namun, ketika masuk Gio terkejut melihat putrinya yang juga berada disana.


"Bisa, aku bakal jagain Aqila." ucap Gio dengan bahasa aku kamu yang selalu dia pakai.


Aqila menatap Gio, dia bingung saat Gio terus menatapnya tanpa berkedip.


"Paman kenapa?" tanya Aqila dengan heran.


Gio menggeleng, dia terlalu bahagia bertemu dengan putrinya ini. Dia ingin memeluknya, tapi dia juga takut Aqila menjadi risih dengannya.


"Aqila, papa mau ke rumah sakit dulu ya ... Qila disini main sama om Gio, atau bisa juga Aqila jalan-jalan keluar sama om Gio. Soalnya daddy mau menjenguk adik," ujar Alden.


Aqila nampak berpikir, dia menatap Gio yang sedang menantikan jawabannya. Dia memang tahu jika Elbert di rawat, tapi ia tak tahu bahwa semalam daddynya menginap di rumah sakit.


"Hm, daddy akan lama tidak?" tanya Aqila sambil menatap sang daddy.


"Tidak, nanti sore daddy akan pulang. Siapa tahu adikmu di perbolehkan pulang sore nanti." bujuk Alden sambil mengelus rambut panjang sang putri yang tergerai.


"Baiklah, Qila akan main dengan paman Gio. Tapi, bolehkah Qila bermain di taman bermain? nanti sore Aqila akan pulang, Qila juga ingin makan di luar sekalian. Bolehkan papa," ujar anak itu.


Alden mengangguk, dia tersenyum menatap Gio yang tengah menahan rasa bahagianya.


"Yasudah, berhubung ini sudah jamnya makan siang. Gue mau ke rumah sakit sekalian bawain makan istri gue," ujar Alden pada kedua sahabatnya.


"Lah, gue gimana?" tanya Deon yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan ayah dan anak itu.


"Ya ikut gue lah! kita bahas masalah ini di perjalanan menuju rumah sakit," kesal Alden.


Deon mengangguk mengerti, dia bangkit dari duduknya saat melihat Alden yang telah bangkit.


"Papa pergi duku ya, baik-baik sama om Gio," ujar Alden sambil mengecup kening putrinya.


Alden menatap Gio dengan senyum tipis, dia sengaja memberikan Gio waktu pendekatan dengan putrinya. Dia ingin agar Aqila dekat dulu dengan Gio agar anak itu tidak kaget.


"Papa hati-hati yah," ujar anak itu


Alden mengangguk, dia keluar dari ruang kantornya diikuti oleh Deon.


"Gimana sama Luna, dia mau ngaku?" tanya Alden seiring berjalannya mereka menuju parkiran.


"Iya, dia mengakui semuanya ... Dan juga, dia mau mentandatangani surat perceraian kalian. Gue udah ajuin ke pengadilan, jadi lo tinggal tunggu informasi selanjutnya," jawab Deon.


Alden menyeringai, akhirnya sandiwara yabg dia jalani selama ini akan berakhir. Setelahnya dia akan mengurus pernikahannya dengan Amora kedepannya.


Setelah sampai di parkiran Alden langsung memasuki mobilnya diikuti oleh Deon yang duduk disamping Alden.


"Jadi, kapan lu mau temui Amora dengan keluarganya? ingat Alden, keluarga Miller sudah ada di negara ini. Cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu Amora." ujar Deon sambil menatap Alden yang tengah fokus menyetir.


"Lu taukan, Arthur tidak menerima Elbert sebagai cucunya. Buktinya saja dia ingin menggugurkan kandungan Amora. Jika saja dia menerima Elbert waktu itu, mungkin saja waktu itu gue izin ke mereka untuk menikahi putrinya," ucap Alden.


Deon mengangguk, dia membenarkan perkataan Alden. Saat Amora mengetahui dirinya hamil, dia segera memberitahu Alden. Namun, Arthur lebih dulu tahu. Untuk itu dia membawa putrinya untuk menggugurkan kandungannya. Akan tetapi, Amora menelpon Alden dan memberitahu bahwa dirinya tengah hamil.


Alden yang mengetahui itu segera menyusul Amora, tetapi dia dikejutkan ketika mengetahui bahwa Arthur membawa Amora untuk menggugurkan kandungannya.


Alden tak mau calon anaknya itu tiada, sehingga dia membawa kabur Amora setelah melumpuhkan para bodyguard Arthur. Dia membawa Amora pergi ke negaranya, setelah Amora melahirkan dia baru menikahinya.


"Deon!" sentak Alden karena sedari tadi dia memanggil Deon tetap melamun.


Deon tersadar dari lamunannya, dia menatap Alden yang tengah menahan kesal. Dia baru menyadari ternyata mereka telah sampai di sebuah resto.


"Lu ngelamunin apa sih? dari tadi di panggilin gak nyahut," kesal Alden.


Deon menggeleng, dia terlarut dengan ingatannya beberapa tahun lalu. Dia yang selama ini berada di sebelah Alden saat pria itu membutuhkan bantuannya, bahkan dia yang menyembunyikan semua data tentang Amora dari Arsel dan keluarga besar Miller.


"Gak, gue hanya ngantuk. Semalem gue kurang tidur, Sorry." ujar Deon sambil memijat pangkal hidungnya.


"Lu kalo tidur terbiasa melek ya? gue baru tahu ada orang ngantuk tapi tetep seger begitu matanya," heran Alden.


Deon menghela nafas lelah, dia memilih keluar dari mobil dari pada menjawab pertanyaan tak berfaedah yang Alden berikan.


Alden pun menyusul Deon yang sudah lebih dulu masuk ke dalam resto. Mereka langsung duduk untuk memesan makanan sekaligus membahas tentang rencana mereka.


"Nih rekamannya, pengakuannya semua berada disini. Jadi, lu bisa mengajukan ke pengadilan untuk kasus adik lu dan juga Gio. ujar Deon sambil menyerahkan sebuah alat perekam.


Alden mengambilnya dengan senang hati, dia menyalakan perekam itu dan mendengarkan semua pernyataan Luna.


"Waw, lu memang bisa di andalkan Deon." ujar Alden sambil tersenyum puas.


Beberapa menit menunggu pesanan mereka, akhirnya pesanan mereka selesai. Alden langsung pergi dati sana diikuti oleh Deon.


Kini mereka sedang berada di perjalanan ke rumah sakit, Alden dan Deon hanya menikmati perjalanan mereka tanpa perbincangan lagi.


Sesampainya mereka di rumah sakit, Alden dan Deon segera pergi ke kamar Elbert. Setibanya mereka di depan kamar rawat Elbert, Alden langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Daddy!" seru putranya.


Alden tersenyum, dia menatap sang putra yang tengah berada di gendongan Jonathan.


Alden menghampiri istrinya, dia mengecup lembut puncak kepala sang istri. Sedangkan Deon, dia hanya menuju sofa untuk menduduki dirinya yang memang lelah.


"Apa kabarmu Deon, sudah lama Mommy tidak melihatmu," ujar Jeslyn yang duduk di samping Deon.


Deon menoleh, dia tersenyum menatap Jeslyn. Dia sudah menganggap Jeslyn ibunya sendiri setelah ia kehilangan ibunya Jeslyn lah yang mengganti sosok ibu dalam kehidupannya.


"Kabarku baik mom, maaf kan aku yang jarang mengunjungimu. Kau tahu mom, putramu selalu memberikanku banyak kerjaan," adunya dengan wajah yang ia buat sesedih mungkin.


Jeslyn menatap Alden dengan tajam, dia memeluk Deon yang tengah meledek Alden.


"Deon kangen mommy," ujar Deon.


Jeslyn terkekeh, Deon sangat manja padanya walaupun umur pria itu telah mencapai usia 28 tahun.


"Jadi, kapan kamu kasih mantu mommy? betah banget ngejomblo." ujar Jeslyn sambil melepaskan pelukannya.


Ini adalah pertanyaan yang Deon tidak suka, dia sangat kesal jika di tanya seperti ini. Bukan dia tak ingin menikah, tetapi belum ada wanita yang dia sukai. Bahkan dia labur dari rumah ayahnya karena alasan ayahnya akan menjodohkannya dengan putri temannya.


"Mom, belum ada yang cocok denganku," rengek Deon.


"Hah, Deon. Lebih baik kau terima perjodohan yang ayahmu inginkan agar kau cepat menikah dan tak lagi menjadi babu Alden." bujuk Jeslyn sambil mengelus lengan kekar Deon.


Deon hanya mendengus kesal, dia tak mau di jodohkan seperti itu. Dia hanya ingin menikah dengan wanita yang dia cintai, bukan karena perjodohan.


sementara itu Alden tengah memperhatikan Amora yang sedang tidur di brankar Elbert, dan Sepertinya istrinya itu tengah lelah.


"Hah, kenapa aku baru menyadari bahwa dirimu sangat cantik." gumam Alden sambil mengelus wajah Amora yang tengah tertidur lelap.