Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Drama keluarga


Sesampainya di kamar rawat Elbert, Amora langsung merapihkan brankar Elbert. Sedangkan Alden, dia menunggu sang istri yang sedang menatap bantal putranya.


"Tidurkan perlahan, Elbert sangat mudah terbangun," ujar Amora.


Alden mengangguk, dengan perlahan dia membaringkan sang anak ke brankarnya kembali. Tangannya terulur untuk menyelimuti sang anak hingga ke leher.


"Sebaiknya kalian makan malam dulu," pinta Jeslyn sambil menghampiri brankar cucunya.


Alden mengangguk, dia mengambil makanan yang tadi dia beli di atas brankar. Amora mengikuti suaminya yang berjalan ke arah sofa.


"Ehm, karena sudah sangat malam daddy sama mommy akan pulang. Alden, daddy minta jaga istri dan anakmu." ucap Jonathan sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri untuk mengajaknya pulang.


Sebenarnya Jeslyn ingin menginap, akan tetapi dia juga tahu bahwa kamar itu hanya memiliki brankar dan sofa saja. Untuk itu dia mengikuti keinginan suaminya untuk pulang.


"Yasudah, mommy sama daddy pulang dulu yah ... Besok kami akan kembali lagi untuk melihat keadaan Elbert," ujar Jeslyn.


Amora dan Alden mengangguk, mereka menatap Jeslyn yang menggandeng tangan Jonathan beranjak keluar dari ruang rawat Elbert.


Amora hanya memakan makan malamnya dengan lahap, sementara Alden masih memikirkan siapa pria tadi.


"Kok gak di makan? kenyang?" tanya Amora heran ketika melihat sang suami yang tak menyentuh makanannya.


Alden menggeleng, dia makan makanannya tanpa nafsu. Amora yang melihat itu mengambil alih sendok yang Alden pegang, kemudian dia mengarahkan sendok itu ke depan mulut Alden.


"Aaa," pinta Amora.


Alden hanya membuka mulutnya dengan malas, dia cemburu ketika melihat istrinya bersama pria tadi. Apalagi saat melihat sang anak yang nyaman tidur di gendongan pria tersebut.


"Masih mikirin pria tadi?" tanya Amora saat menyadari wajah kusut Alden sebab Zidan.


"Iyalah, kamu di kasih bingkisan sama dia. terus juga apa tadi senyum-senyum begitu, apalagi Elbert di gendong dia. Pasti orang-orang yang ngeliat kalian itu ngiranya suami istri," cemburu Alden.


Amora tersenyum, dia kembali menyuapi Alden makan. Sesekali juga dirinya makan satu sendok dengan Alden.


"Dia mengenalku, katanya aku teman dari mendiang istrinya. Aku tidak mengingatnya, kamu taukan kalau aku tak mengingat segalanya. Kebetulan juga Elbert sedang rewel, aku tidak bisa menggendongnya untuk itu dia menawarkan diri untuk menenangkan Elbert," ujar Amora.


Alden mengunyah makanannya dengan malas, dirinya sangat kesal dengan kejadian tadi.


"Sudah, minumlah! setelah ini tidur," ujar Amora sambil membenahi bekas makan mereka.


"Yasudah, ayo kita tidur." ajak Alden sambil meminum airnya.


"Kau tidur disini, aku ingin tidur dengan putraku," ujar Amora.


Alden terbatuk saat mendengar sang istri akan tidur dengan putranya, sementara dirinya tidur di sofa.


"Yang, tega banget sih ... masa aku tidur di sofa sendirian, biarin aja El tidur sendiri." ujar Alden sambil menggenggam baju belakang istrinya.


Amora menatap suaminya yang sudah seperti anak kecil, dia menghela nafas kasar saat Alden merengek terus padanya.


"Alden, kau tau sendiri jika tak ada orang disamping Elbert ... anak itu akan terbangun dan menangis." ujar Amora sambil melepaskan cekalan Alden pada bajunya.


Alden pun dengan tak rela melepaskannya, dia menatap sang istri yang berjalan ke arah brankar Elbert.


Amora membaringkan dirinya tepat di sebelah Elbert. Beruntung brankar itu besar yang mana membuat Amora bisa menemani sang anak.


Sedangkan Alden dengan tak rela dia merebahkan dirinya di sofa, pandangannya tak lepas dari sang istri yang memeluk sang putra.


"Enak kali ya jadi El? di peluk terus kayak gitu," gerutu Alden.


Amora menatap Alden yang sedari tadi gak bisa diam, dia menghela nafasnya pelan ketika melihat sang suami yang memukuli bantal.


"Al, jika kau terus seperti itu lama-lama El terbangun karena suara berisikmu," tegur Amora.


Alden memunggungi istrinya, dia kesal karena Amora tak peka terhadap dirinya yang ini di temani tidur.


Beberapa jam setelahnya, Amora sudah tertidur pulas di sebelah Elbert. Sementara Alden masih berusaha untuk tidur, dia juga tak tahu mengapa dirinya ingin sekali memeluk istrinya saat ini.


"Ada apa denganku? hah ... aku ingin sekali memeluknya," gerutu Alden.


Alden sudah tidak kuat lagi menahan keinginannya, dia bangkit dan menuju brankar Amora.


"Maafkan daddy yah, mommynya di pinjam daddy dulu sebentar. Nanti kalau El bangun daddy pasti balikin." bisik Alden sambil berusaha membawa Amora ke gendongannya.


Alden membawa Amora ke sofa, dengan pelan dia merebahkan istrinya ke sofa yang tadi dia tiduri. Untunglah sofa itu memang besar dan muat jika di buat tidur, walaupun sempit untuk dua orang.


Alden ikut juga merebahkan dirinya disamping sang istri, dia lebih leluasa untuk memeluk istrinya saat ini. Bahkan Amora sudah menjadi guling Alden.


Pagi menjelang, tidur Amora terusik karena tangisan Elbert. Dia membuka matanya, netranya menangkap dada bidang yang ia tahu bahwa itu adalah Alden.


Amora terkejut ketika mendengar suara terjatuh. Dia langsung saja mendorong Alden tanpa perduli bahwa suaminya akan jatuh.


sedangkan Alden berusaha untuk mengumpulkan nyawanya dan menyadari situasi yang terjadi.


Amora langsung bangkit dari tidurnya, dia baru menyadari bahwa dirinya tidur di sofa. Amora langsung menuju brankar sang anak dan ternyata bocah itu telah berada di bawah. Apakah Elbert terjatuh? karena brankarnya lumayan tinggi.


"Sayang," panggil Amora saat melihat sang anak yang memunggunginya.


Elbert menoleh, dia menatap sang mommy dengan air mata yang tak kunjung berhenti keluar. Sementara Amora terkejut melihat kening sang anak yang terdapat benjolan.


"Elbert!" sentak Amora yang mana membuat anak itu terkejut.


"Hiks huaaaaa,"


Amora langsung menggendong Elbert, dia menaruh anak itu di brankarnya dan melihat benjolan keningnya yang lumayan besar.


"Ini kenapa sayang?" tanya Amora dengan lembut tapi tersirat nada khawatir dari dirinya.


Elbert tak menjawab, dia hanya menangis karena sakit sekaligus terkejut akibat Amora yang memanggil dirinya lumayan keras.


Alden menghampiri istri dan anaknya, dia menatap Amora yang tangah melihat kening Elbert.


"Kenapa sih yang?" tanya Alden.


Amora menatap sinis suaminya, dia kembali memperhatikan kening Elbert yang benjol.


"Ini semua gara-gara kamu! lihat keningnya jadi benjol kan!" kesal Amora. perkiraannya bahwa sang suami memindahkannya ke sofa pada saat dirinya tertidur dengan pulas.


Amora kesal dengan jawaban Alden, dia mengapit wajah Elbert yang mana itu membuat anak itu semakin menangis.


"Cuma benjol kamu bilang! lihat! benjolannya besar banget kayak gini! Pasti lama ini kempesnya!" marah Amora.


Alden meringis ketika melihat wajah sang putra yang tengah di apit oleh tangan Amora. Dia tau bahwa sang putra tengah terkejut sekaligus sakit.


"Hiks ... takit mommy hiks ...," ringis anak itu.


Amora baru tersadar, dia melepas apitannya dan mengelus sayang pipi sang anak.


"Nanti daddy suruh tidur di luar ya, biar dia gak ganggu El lagi." ujar Amora sambil mengelus rambut sang anak.


Alden membulatkan matanya, dia tak setuju dengan hukuman Amora. Jika dirinya dihukum untuk memberikan uang tambahan belanja, maka dirinya rela. Tapi jika tidur di luar dia tidak mau.


"Kok gitu sih? aku gak mau ya tidur di luar," rengek Alden.


Amora mendelik, dia menatap Alden yang tengah seperti seorang anak kecil merengek pada ibunya.


"Kamu masih ada istri satu lagi, tidur aja ama dia. Dia juga lagi hamil anakmu kan, gih sana." sindir Amora sambil mendorong pelan lengan suaminya.


Alden menatap Amora tak suka, dia tak menghamili Luna. Bahkan dia tak pernah menyentuhnya, dan juga bayi yang ada di kandungan Luna bukanlah anaknya.


"Itu bukan anak aku!" kesal Alden.


"Gak boleh jadi ayah durhaka kamu gak ngakuin anaknya," ujar Amora.


Alden semakin kesal, dia menatap istrinya dengan tatapan tajam. Bagaimana caranya agar istrinya itu percaya dengan apa yang dia ucapkan.


"Hiks ... mommy hiks ... pala El kejedut ini," tunjuk anak itu pada besi yang berada di bawah ranjang. Besi yang di gunakan untuk mengatur posisi kepala brankar.


"Sakit yah? bentar lagi juga sembuh hm," bujuk Amora.


Elbert menatap sang daddy yang tengah menatap sang mommy, dia mengerutkan keningnya ketika melihat sang daddy yang hanya diam.


"Daddy lagi dadi patung?" ujar ank itu.


Amora mengerutkan keningnya, dia menatap suaminya yang menatap tajam dirinya.


"Apa!" sahut Amora.


"Memang bener kok dia gak hamil anak aku, aku gak pernah sentuh dia. Aku aja taunya dia gak bisa hamil karena rahimnya dia angkat, untum itu aku kasihan jadinya ...,"


"Nikahin dia iya? ada yah orang yang punya pikiran sempit kayak kamu? Hah ... aku bingung ... hatimu itu terlalu baik atau pikiranmu terlalu bodoh," kesal Amora yang sepertinya susah tahu arah jalan bicara Alden.


Alden menghela nafasnya kasar, bukan saatnya dirinya menceritakan tentang Gio dan adiknya. Dia takut bahwa Amora semakin memikirkan hal lain disaat istrinya itu tengah fokus terhadap kandungannya dan juga putra mereka.


"Hah ... Alden, lebih baik kau pulang dan persiapan ke kantor. Biarkan aku menjaga Elbert, lagi pula mommy juga akan kesini." pinta Amora sambil menghampiri suaminya itu.


Alden menggeleng, dia memeluk sang istri dengan erat. Seolah-olah dia takut kehilangan.


"Maafkan aku, jika waktunya sudah tepat ... aku akan memberitahumu semua hal yang selama ini aku simpan." ujar Alden sambil mengelus punggung sang istri.


Amora mengangguk, dia melepaskan pelukan mereka. Netranya menatap wajah sang suami yang nampak lelah.


"Apa kau sakit?" tanya Amora yang heran.


Alden menggeleng, dia hanya merasa lelah karena sebentar lagi harus meeting dengan cliennya.


"Aku akan bersiap untuk pulang, saat jam makan siang nanti aku akan kembali kesini." ujar Alden sambil beranjak dari hadapan Amora untuk mengambil pakaiannya kemarin dan juga pakaian Elbert.


Amora menatap suaminya yang sedang memasukkan kemejanya, dia merasa kesal saat suaminya memakai baju kaos hitam yang terbilang ketat dan mencetak tubuh berototnya.


"Kamu gak bawa baju lain gitu?" tanya Amora dengan kesal.


Alden mengerutkan keningnya, memangnya ada apa dengan penampilannya? lagi pula dirinya akan pulang bukan pergi ke pesta.


"Kenapa? aku kan gak bawa baju ganti, cuma kaos yang aku pakai di balik kemeja." ujar Alden sambil menatap Amora dengan heran.


"Yasudah, sana pulang." ujar Amora dengan ketus.


Alden semakin tak mengerti, apakah laki-laki selalu salah seperti ini? dia berbalik dan akan membuka pintu. Namun, suara Elbert membuatnya mengurungkan niat.


"Daddy!" panggil El.


Alden menoleh menatap sang anak yang sepertinya ingin berbicara sesuatu.


"Iya boy?"


"Daddy, kalo kecini agi ajak kakak Qila. Kacian dia di omeli nenek di lumah," ucap anak itu.


Alden mengerutkan keningnya begitu pula dengan Amora. Mereka saling tatap, kebingungan jelas tercetak di wajah mereka.


"Nenek siapa sayang? di rumah kan gak ada nenek?" ujar Amora dengan heran.


"Nenek lampil, kata opa mama kakak Qila itu nenek lampil," ujar anak itu dengan lugunya.


Alden dan Amora mengerti, mereka heran mengapa Luna memarahi Aqila. Alden segera keluar dari ruang rawat Elbert, jelas dia tahu mengapa Luna memarahi anaknya. Dia takut jika Aqila kembali di pukul.


Elbert menatap kepergian Alden dengan bingung, dia menatap sang mommy yang sedang memikirkan sesuatu.


"Mommy," panggil anak itu.


"Ya sayang?"


"Kemalin kakak Qila di malahi, El takut ... nenek lampilnya selem," ujar anak itu.


kemarin Jonathan menceritakan tentang nenek lampir, saat anak itu bertanya siapa nenek lampir di dunia ini. Jonathan menjawab mommynya kak Qila, maka dari itu Elbert mengetahui kata nenek lampir.


"El, berarti kemarin El bilang takut sama sakit itu karena melihat mamanya kakak Qila memarahi kak Qila. Benar?" tanya Amora dengan lembut.


El mengangguk, dia menatap raut wajah sang mommy yang kembali memikirkan sesuatu.


"Apa yang Luna inginkan dari Aqila hingga dia memarahi anaknya sampai membuat El sebegitu takut melihatnya?" gumam Amora