Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Pembinol


Pagi ini Deon terpaksa harus keluar dari apartemennya untuk mencari rujak yang Alden inginkan. Tiba-tiba Amora menelponnya menggunakan ponsel Alden, dia meminta untuk Deon mencari rujak karena Alden tak akan makan jika tak ada rujak.


"Hah, nasib banget sih punya sahabat kayak gini. Dimana coba nyari rujak pagi-pagi begini," gerutu Deon sambil menaiki motornya yang terparkir.


Dia melajukan motor tersebut dengan kecepatan sedang, netranya menangkap gerobak penjual rujak yang sepertinya baru saja sampai. Deon menghampiri gerobak rujak itu, setelah itu dia turun dari motornya.


"pak, rujaknya ada?" tanya Deon.


"Oh ada mas, masnya mau berapa porsi?" tanya tukang rujak tersebut.


"Beli dua deh pak," ujar Deon.


Tukang rujak tersebut mengangguk, dia mulai membuat rujak tersebut sesekali melihat Deon yang sedang melihat ponselnya.


"Buat istrinya ya mas?" tanya tukang rujak itu.


"Eh, bukan pak. Itu buat sahabat saya," ujar Deon sambil mengalihkan pandangannya ke tukang rujak tersebut.


"Oh, buat sahabatnya. Sahabatnya lagi ngidam ya, kok kamu yang belikan?" tanya kembali tukang rujak itu.


Deon menggaruk tengkuknya, dia bingung akan menjawab apa. Dia juga tak tahu Alden sedang ngidam atau tidak, setahunya hanya perempuan yang ngidam.


"Itu ... sahabat aku cowok pak, istrinya lagi hamil mungkin dia yang ngidam." ujar Deon sambil tertawa hambar.


"Oo begitu to, berarti sahabat masnya cinta banget ama istrinya nyampe ngidam begitu." ujar tukang rujak itu sambil tersenyum menatap Deon.


Deon mengangguk, mungkin itu yang di maksud. Dia kembali memainkan ponselnya, dia tengah serius membaca laporan perusahaannya yang ia bangun walaupun tak sebesar milik Alden. Tapi ia membangunnya dari nol hingga sebesar sekarang.


Bugh!


Tangan Deon tersenggol oleh seseorang yang mana membuat ponselnya jatuh dan rusak, dia menatap tajam orang yang telah menabraknya.


"Lu gak bisa hati-hati ya! liat! ponsel gue rusak! ganti rugi, gue gak mau tau!" marah Deon.


Orang yang menabraknya langsung mengambil ponsel Deon, dia menatap takut ke arah Deon.


"Aku lagi gak punya uang kak, nanti kalau aku udah gajian aku ganti tapi paling hanya 5% nya aja." ujarnya sambil mengembalikan ponsel Deon yang sudah retak di bagian layarnya.


Deon mengambil ponselnya, dia menatap kesal ke arah orang yang menabraknya.


"AIRA! SINI KAMU!" teriak seorang pria baru baya yang menarik tangan orang yang menabrak Deon bernama Aira.


"Ampun yah," ujar Aira.


Deon mengerutkan keningnya, nampaknya tadi Aira lari dari kejaran pria itu hingga menabraknya.


"Pak, jangan kasar dong!" sentak Deon sambil menarik Aira mendekat ke arahnya.


"Kamu siapa hah! kamu jangan ikut campur, ini masalah keluarga saya!" marah ayah dari Aira


"Bapak buat masalahnya disini, berarti saya juga ikut campur lah pak!" ujar Deon dengan berani.


Ayah Aira akan memukul wajah Aira, tetapi Deon menahannya. Dia tak suka jika wanita disakiti, apalagi sampai menyakiti fisik.


"Laki-laki yang main tangan sama perempuan, hanya lah banci!" sindir Deon.


Deon menghempaskan tangan pria tadi, dia menatap tajam ke arah pria itu. Dia sangat mencintai mommynya, bahkan dia tak sanggup melihat perempuan yang dicintainya akan tersakiti jika di posisi wanita yang berada didekatnya.


"Kau itu sudah tua, umurmu tinggal hitung tahun. Perbanyaklah berbuat baik bukan kejahatan! bodoh!" sentak Deon.


"Kau! kau anak tidak tau diuntung!" teriak pria itu.


"Heh! Sorry ye, lu siapa gue? ngapain gue nguntungin lu? mending lu cabut dah dari sini, sebelum gue panggil polisi atas tindakan kekerasan terhadap seorang gadis!" ancam Deon.


Pria itu langsung pergi, dia sudah tak bisa lagi melawan Deon. Apalagi Deon yang berpakaian seperti orang kaya, pasti mudah baginya untuk menjerat pria itu.


"Terima kasih kak," ujar Aira.


"Hm, apa dia ayah mu? kenapa dia kasar sekali?" tanya Deon.


Aira menggeleng, dia menangis tanpa suara. Bajunya sangat lusuh, bahkan wajahnya pun kotor.


"Bukan kak, aku gak tau siapa pria itu. Namun, saat aku sadar dari koma dia bilang bahwa dia ayahku. Saat ini dia ingin menjualku pada bosnya agar mendapatkan lebih banyak uang hiks ... aku tidak mau jadi istri keempat kak hiks ... lagi pula umurku masih 19 tahun." ujar Aira.


"Oo begitu, berarti kalau jadi istri pertama kau mau?" tanya Deon yang mana membuat Aira kaget begitu pula dengan penjual rujak yang menghentikan aktifitasnya.


"HAH!" kaget Aira dan juga penjula rujak tersebut.


***


Alden saat ini tengah menggerutu, dia sudah tak sabar ingin segera memakan rujaknya. Sedari tadi dia terus merengek kepada istrinya untuk menelpon Deon.


"Yang, tel ...,"


"Apa! telpon lagi?! iya?" kesal Amora


Alden mengerucutkan bibirnya, dia sebal dengan istrinya yang sepertinya sedang sensitif. Alden memukul pembatas brankarnya, dia sudah seperti anak kecik yang dimarahi oleh ibunya.


"Hiks ... Aku lagi sakit juga dari tadi diomelin terus hiks ... jahat banget sih," isak Alden yang saat ini sudah menangis.


"Kalau aku jahat, dari dulu aku ganti suami. Kalau perlu aku tuker kamu sama Deon yang pengertian," sahut Amora sambil menatap tajam suaminya.


Alden menghentikan tangisannya, dia menatap sang istri yang tengah duduk di kursi sampung brankarnya.


"Kok tega sih yang, jadi pebinor dong si Deon." kesal Alden dengan suara yang sedikit keras.


"Om Deon pembinol?"


Amora dan Alden mengalihkan pandangan mereka kepada sosok mungil yang memperhatikan percakapan orang tuanya yang berdiri di sebelah sang mommy.


"Eeh, gak sayang. Jangan dengerin kata daddy yah," ujar Amora dengan panik.


"Pembinol apa daddy," tanya Elbert menghiraukan perkataan Amora.


Alden mengangkat satu sudut bibirnya, dia menatap istrinya yang tengah menatapnya tajam. Di otaknya terlintas ide jahil yang akan mempengaruhi sang putra.


"Pebinor itu, perebut istri orang. Kata mommy, om Deon mau merebut mommy El dari daddy." ujar Alden sambil memelaskan wajahnya.


Elbert menatap mommynya, kemudian dia kembali menatap daddynya yang tengah berpura-pura menangis.


"Om Deon mau lebut mommy El?" tanya El dengan suara bergetarnya.


"Nggak kok, daddy hanya ...,"


"Iya sayang, mommy mau diambil sama om Deon. Nanti daddy gak bisa sama El," ujar Alden memotong ucapan sang istri.


Amora yang sudah geram mencubit lengan Alden hingga suaminya berteriak sakit. Dia kesal dengan suaminya yang telah mencuci otak sang anak.


"Arghh, sakit yang! El liat, mommy mencubit daddy pasti karena om Deon." ujar Alden sambil mendramatisir.


Elbert melengkungkan bibirnya kebawah, doa menatap sang mommy dengan berkaca-kaca. Sedangkan Amora dan Alden menjadi panik.


"Eh, sayang jangan nangis yah ...," bujuk Amora sambil membawa anaknya kepangkuannya.


Alden pun tak kalah panik, jika sang anak nangis maka dia juga nanti yang akan kena.


"Mommy nda tindali daddy kan? mommy nda cama om Deon kan?" ujar Elbert sambil menatap sang mommy.


"Ngga sayang, daddy cuma bercanda." bujuk Amora sambil menghapus air mata sang anak.


Cklek.


Pintu kamar rawat Alden terbuka, mereka menatap siapa yang datang. Ternyata itu adalah Deon dan seorang wanita yang tak lain adalah Aira.


"Oh, pantes aja lu lama ... lagi cari sugar baby lu!" Sindir Alden sambil menatap Deon.


Amora menatap Aira, dia mengernyit bingung ketika melihat wajah gadis itu.


"Masih muda banget," ujar Amora.


Elbert menatap Deon, dia mengingat kembali ucapan daddynya jika Deon akan mengambil mommynya.


"Eh, mana rujak gue?!" pinta Alden.


Deon mendengus, dia menyerahkan plastik rujak itu pada Alden dan langsung di sambut oleh sahabatnya itu.


"Waah, enak yang! mau gak?!" tawar Alden.


Amora menggeleng, dia menurunkan Elbert untuk bangkit dari duduknya dan berniat menghampiri gadis itu. Namun, sepertinya Elbert salah paham. Dia mengira jika sang mommy akan menghampiri Deon.


"Hiks ... dangan mommy hiks ... dangan sama om pembinol hiks huaaa, kacian daddy hiks ...," ujar Elbert sambil memeluk kaki sang mommy.


Mereka menatap ke arah Elbert, Alden tertawa sementara Deon mengerutkan keningnya bingung.


"Pembinol?" tanya Deon.


"Iya hiks ... daddy bilang om pembinol," isak Elbert menatap Deon dengan waspada.


Deon menatap Alden, dia belum paham dengan bahasa cadel anak itu. Netranya beralih menatap Aira yang tengah menahan tawa.


"Pebinor itu, perebut bini orang. Mungkin maksudnya kau akan merebut ibunya," jelas Aira.


"Apa! pasti lu kan yang cuci otak anak lu! ngaku lu! awas lu Alden!" sentak Deon sambil menghampiri Alden dan akan menghajarnya. Namun lagi-lagi tangisan Elbert menghentikan mereka.


"Hiks huaaaa ... dangan hiks ... kacian daddy El," isak El.


Alden tersenyum senang, dia menatap Deon yang tengah menahan kekesalannya.


"Rasain!" bisik Alden.


_____________________


Lanjut gak nih? komen dong🤭