Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Konferensi pers 1


Alden dan yang lainnya kini tengah bersiap - siap. Sementara si kembar sedang di asuh oleh pengasuh yang diberikan oleh Arthur untuk membantu putrinya. Awalnya Alden dan Amora menolak, tetapi Arthur tetap bersikeras memberikannya dengan dalih dia tak mau putrinya lelah. Alhasil, Alden dan Amora tak sanggup lagi menolak.


"Sayang! pasangkan dasiku!"


"Sayang! mana jasku!"


"Sayang mana ...,"


Amora jengah terhadap permintaan Alden, padahal dirinya juga tengah sibuk bersiap tetapi suaminya selalu membuat ulah.


"Apalagi?" jengah Amora.


"Hehe, gak yang. Mau tanya mana Elbert?" ujar Alden.


"Tadi pas selesai aku dandanin dia keluar, mungkin nyamperin si kembar lagi di jemur kali," sahut Amora.


Alden mengangguk, dia melihat penampilan istrinya yang sangat cantik membuatnya jengah.


"Yang, kamu itu sudah punya suami. Ngapain dandan begini? terus apa itu pakai lipstik segala? hapus!" ujar Alden.


Amora menatap pantulan dirinya di cermin, dia bingung apa yang salah dengan dandanannya. Padahal dia memakai lipstik yang tidak mencolok, dan sama dengan warna bibirnya yaitu berwarna cerry.


"Aku gak menor kok ya!" kesal Amora.


Alden menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, dia melihat tisu basah yang sepertinya milik si kembar. Alden segara mengambilnya dan membuka bungkus tisu basah itu.


"Kamu ngapain?" heran Amora.


Alden tak menjawab, dia akan mengarahkan tisu basah itu tetapi Amora malah menutup setengah wajahnya.


"Mas mau aku taruh di kandang macan hah?! aku dandan itu dua jam lebih, enak banget mas main hapus-hapus aja!" kesal Amora.


"Mau aku hapus pake tisu basah, atau pake ini hah?!" ujar Alden sembari mengarahkan jari telunjuknya tepat di bibirnya.


Amora meneguk ludahnya kasar, dengan terpaksa dia mengiyakan Alden menghapus lipstiknya.


"Kok masih cantik sih yang?!" gerutu Alden.


Amora hanya pasrah suaminya menghapus make up-nya, bahkan kini dirinya terlihat tanpa make up.


"Iiihhh, kamu itu mukanya gimana sih? udah di hapus masih aja cantik! kalau mereka liat, bisa jatuh hati sama kamu!" kesal Alden.


"Gak usah kayak anak kecil deh mas," gerutu Amora sembari kembali memakai bedak tipis dan pelembap bibir.


Alden hanya pasrah, dia ingin mengarungi istrinya itu untuknya sendiri.


Berbeda halnya dengan Elbert, kini dia tengah berbuat ulah menyebabkan si kembar menangis.


"Apa cih, gitu doang nanis masa!" kesal Elbert.


Bagaimana si kembar tidak menangis, Elbert mencubit kedua pipi bayi itu dengan keras. Bahkan kini kemerahan tercetak jelas di kedua pipi si kembar.


"Tuan kecil, nanti tuan Alden bisa marah." bujuk pengasuh itu.


"Nda, daddy nda bakal malah. Kenapa cih olang pada main teluc cama kalian? Dasal ulet!" kesal Elbert.


pengasuh itu terkejut, dia heran bagaimana Elbert memandang adik imutnya sampai-sampai di katakan ulet?


Elbert bersedekap dada kala kedua bayi itu menghentikan tangisan mereka, bahkan kini Lio seperti mengerti ucapan kakaknya dia langsung menatap tajam Elbert.


"Apa liat-liat? naksil ya?" seru Elbert.


Si kembar yang sedang berjemur di dekat kolam renang membuat orang lain tak mendengar tangisan mereka.


"Oaaa, oaaa," celoteh Lio.


"Oaaa, oaaa di kila El tecoa apa?!" kesal Elbert.


Elbert berbalik badan secara spontan sehingga dia tidak melihat bahwa belakang tubuhnya itu kolam renang.


"AAAAAA," teriak Elbert.


Byur!


pengasuh itu langsung berteriak, sehingga bodyguard langsung mendatangi mereka dan menyelamatkan Elbert.


"Hiks huaaaaa mommy!" isak Elbert karena merasa terkejut.


"Astaga ... Buat ulah apalagi kamu El?!" kesal Alden.


Alden keluar untuk memantau sang anak, tetapi dia malah mendengar teriakan Elbert dan pengasuh si kembar yang mana membuat dia langsung berlari untuk melihatnya.


Alden menggelengkan kepalanya, padahal anaknya sudah memakai pakaian rapih untuk pergi ke acara konferensi pers yang di adakan sebentar lagi.


"Ayo cepat ikut daddy, kita ganti baju!" pinta Alden sembari menarik tangan anaknya untuk bangun.


"Di dendong kek! ndak pengeltian!" kesal Elbert.


"Kalau di gendong, daddy ikut basah lah El," kesal Alden.


Akhirnya Elbert menurut untuk di tuntun, kini tubuhnya basah kuyup tetapi yang lebih mencolok adalah celana anak itu yang tampak menggembung.


"Daddy! El malu!" seru Elbert saat merasa kini para maid dan juga bodyguard menertawakannya akibat celananya yang menggembung.


Alden menatap apa yang mereka lihat, seketika tawanya pecah saat menyadari popok yang Elbert pakai menggembung akibat meresap air kolam.


"Elbert pakai popok? kok udah jadi abang masih pakai popok kayak adek?" ledek Alden.


Mata Elbert kini berkaca-kaca, air matanya pun sidah menggenang di pelupuk matanya yang mana membuat Alden kelabakan.


"HIKS HUAAAA MOMMY!"


Alden pasrah jika nanti sang istri akan mengomelinya sepanjang hari akibat menangisi putra kesayangannya.


***


Kini mobil mereka sudah memasuki halaman gedung konferensi, bahkan sidah banyak kameramen yang memotret mereka dari luar mobil.


"Jangan gugup sayang." ujar Alden seraya mengelus tangan istrinya yang ia genggam.


Amora mengangguk, untuk pertama kalinya dia akan di kenal publik sebagai istri seorang Alden Leon Wesley. Seorang CEO termuda yang menduduki perusahaan terbaik di negara ini.


Sedangkan Elbert, bocah itu tampak bingung dengan flash kamera yang mengarah kepadanya.


"Kita jadi altis ya dad?" heran Elbert.


"Iya sayang, El kalau mau jadi Artis tidak usah repot-repot. Sekarang El pun sudah jadi artis." ujar Alden sambil menatap sang anak yang berdiri di dekat jendela


Mobil yang mereka tumpangi terhenti, Alden segera keluar dengan Elbert yang berada di gendongannya. Pakaian formal dengan jas yang berwarna biru muda dan juga di padukan dengan kemeja berwarna putih menambahkan kesal cool pada Alden. Sementara Elbert, bocah itu memakai tuxedo khusus anak-anak yang berwarna hitam


Alden langsung mengitari mobil, dia menyambut tangan Amora untuk membantunya keluar.


"Pelan-pelan," ujar Alden.


Amora mengangguk, dia berusaha tersenyum saat di hadapan dengan kamera. Dia dan suaminya jalan beriringan di red karpet dengan menggandeng lengan suaminya itu.


Tiba di Aula, Alden dan Amora sudah disuguhkan oleh pertanyaan para awak media. Tetapi para bodyguard segera sigap membuka jalan untuk keluarga itu.


"Wah, tuan Alden. Selamat datang, saya senang sekali bisa berjumpa dengan anda." ujar seorang pria yang menyambut kedatangan mereka dengan bahagia.


"Saya tidak," acuh Alden.


"Hahaha, nyonya ... suami anda ini sangat cuek, sepertinya berbeda sekali dengan anda yang ramah dan waw cantik." puji pria itu pada Amora.


Amora tak tersenyum, dia hanya menatap suaminya yang kesal akibat pria itu memuji istrinya.


"Sudahlah Maxim! cepat kita akhiri konferensi pers ini! kedua bayiku menunggu di rumah," kesal Alden dan menarik tangan istrinya.


Maxim langsung mengangguk, dia membawa Alden ke sebuah ruangan konferensi pers.


Alden menarik bangku untuk istrinya, setelah itu dia menarik bangku untuknya sendiri dan memposisikan Elbert di pangkuannya.


Seperti biasa, acara di sambut dengan basa-basi pembukaan.


"Baik, silahkan dari kalian yang ingin mempertanyakan persoalan dengan tuan Alden," ujar MC.


"Em maaf tuan, saya dari stasiun televisi xx ingin bertanya mengenai pernikahan anda ini. Apakah anda berselingkuh dari nona Luna dan memiliki anak dari wanita lain?" tanya narasumber.


Alden tersenyum tipis, dia menoleh menatap istrinya yang menunduk. Alden mengangkat dagu Amora dengan tangannya dan memberi isyarat untuk tidak menunduk.


"Ya, saya memang menikahi istri saya yang tepat berada di sebelah saya ini tanpa persetujuan Aluna Abraham," jawab Alden sejujurnya.


"Mengapa tuan tega mengkhianati istri tuan?" tanyanya lagi.


Amora dan Alden saling tatap, mereka mengangguk untuk mengungkap kebenaran walaupun hanya secara garis besar tidak sampai detail.


"Karena dari awal pernikahanku dengan Luna aku sudah bicara dengannya jika suatu hari nanti aku akan menikah kembali. Dia pun tak masalah dengan itu, karena tujuan saya menikahi Luna saat itu hanya karena Aqila yang merupakan anak dari sahabat saya yang saat itu tengah koma," terang Alden.


Mereka akhirnya mengerti dan tak lagi banyak bertanya soal Aluna. Sementara Amora sidah merasa ingin pulang karena tidak nyaman.