
Zidan memutuskan untuk pulang, dia mengajak sang anak untuk pulang setelah beberapa lama mereka mengobrol.
"Benarkah kakak akan pulang? apa tidak menginap saja? lagi pula ini juga sudah sangat malam," ujar Amora sambil menatap Zidan yang tengah merapihkan jasnya.
"Besok Leon harus sekolah, dan juga aku ada meeting penting. Maaf, lain kali aku akan menginap di mansion kalian." ujar Zidan sambil melangkah menghampiri Leon yang berdiri disamping Amora.
Zidan berpamitan pulang, dia melirik Alden yang menatapnya sekilas. Setelah itu dia dan Leon keluar dari ruangan Alden.
Kini hanya tinggal mereka berempat, Amora menatap ruangan sekelilingnya. Dia melihat sofa yang sepertinya itu adalah tempat tidur lipat.
Amora mendekati sofa itu, dia menarik ujung sofa itu sehingga sofa itu kini menjadi kasur. Dia kembali ke sofa yang di tiduri Elbert, setelahnya dia menggendong putranya dan membawanya ke sofa yang berada disudut lain.
"Yang," panggil Alden.
"Hm," dehem Amora.
"Yang," panggil Alden kembali.
"Apa!" kesal Amora, apa suaminya tak lihat dia sedang fokus menidurkan Elbert agar bocah itu tak terbangun. Betapa susahnya menidurkan anak ke tempat tidur agar tak membangunkannya.
"Ish, aku nanya baik-baik loh." gerutu Alden sambil merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Amora menghela nafasnya, saat ini dia tengah lelah dan Alden tak berhenti membuat ulah. Dia tahu bahwa suaminya sedang kesal.
Amora kembali menatap sofa, dia melihat Aqila yang tertidur dengan menghadap sandaran sofa. Dia ingin memindahkan Aqila ke tempat Elbert, tapi ia tak akan kiat menggendongnya. Alden juga belum bisa berdiri, dia bingung bagaimana cara memindahkannya.
"Gak papa kali yah Aqila tidur situ, tadi juga aku sudah menaruh bantal di bawahnya agar saat terjatuh ia tak merasa sakit. Paling hanya kaget saja," gumam Amora.
Amora kembali menatap Elbert, dia merebahkan tubuhnya disamping sang putra. Untung saja tadi putranya bangun dan sempat meminum susu walaupun tidak makan nasi yang terpenting perut putranya kenyang.
Amora mulai memejamkan matanya, akan tetapi dia merasa tak nyaman entah seperti ada yang kurang. Amora tetap berusaha untuk tidur, tetapi dia tak mengantuk. Namun, badan dia sangat lelah.
"Hah, aku tak bisa tidur." gerutu Amora sambil menduduki dirinya.
Netranya menatap Alden yang ternyata sudah tertidur lelap, mungkin pria itu sudah lelah karena sedari tadi menahan kesal.
Amora kembali menatap sang anak, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil bantal sofa dan menaruhnya di samping kanan kiri sang anak.
Amora bangkit, dia berjalan menghampiri brankar Alden. Amora langsung membaringkan dirinya tepat di sebelah Alden, kebetulan Alden tidur agak ke tepi apalagi brankar itu lumayan lebar.
"Eunghh," Alden terganggu dengan pergerakan Amora, dadanya terasa berat sehingga dia terpaksa membuka matanya untuk melihatnya.
"Sayang," gumam Alden.
Amora mendongak, dia menatap wajah Alden dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya. Dia kembali menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Kamu ngapain yang," ujar Alden yang merasa heran dengan istrinya.
"Aku mau tidur sama kamu," ujar Amora.
"Elbert sendiri dong, kalau jatuh gimana." ujar Alden sambil mengelus kepala istrinya itu.
Amora tak menghiraukannya, matanya mulai mengantuk. Sedangkan Alden, netranya mencari keberadaan putranya.
Netranya menangkap sang putri yang tidur di sofa, kemudian netranya beralih menatap Elbert yang juga tidur di sofa lain yang saat ini sudah dijadikan kasur.
"Hah ... ternyata sudah dikasih pembatas," ujar Alden dan kembali memejamkan matanya dengan tangan kiri yang memeluk istrinya.
Alden kembali merasakan pergerakan istrinya, dia kembali membuka matanya dan menatap istrinya yang kini tengah menatapnya.
"Kenapa bangun lagi? tidurlah, ini sudah malam," ujar Alden.
Amora tak menjawab, dia hanya melihat Alden dengan intens. Sedangkan Alden merasa aneh dengan tatapan istrinya.
"Kenapa? minta jatah? aku lagi gak bisa," ucap Alden.
Amora memukul mulut Alden yang bicara sembarangan, netranya menatap tajam suaminya ini.
plak!
"Aw, sakit yang." ujar Alden sambil memegang bibirnya.
"Bicaranya ngawur!" sahut Amora.
"Yah abis, sedari tadi kamu ngeliatin aku dengan tatapan aneh begitu. Udah ya, aku ngantuk banget ini." Ujar Alden sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.
Amora mengambil tangan kiri Alden, dia mengarahkan tangan tersebut ke perut buncitnya. Ternyata sedari tadi dia menunggu suaminya mengelus perutnya.
"Eh," kaget Alden.
Alden mengerti, ternyata istrinya minta di elus perutnya. Dia mengelus perut istrinya yang sedikit menonjol, dia mencium kening sang istri dengan sayang.
"Bilang dong yang kalau perutnya mau di elus, aku kan jadi bingung." ujar Alden dengan tangan yang masih setia mengelus perut istrinya.
"Makanya peka dikit ama istri!" ujar Amora.
Alden menghela nafasnya pelan, dia bukanlah pria yang peka. Dia juga bukan pria yang romantis, bahkan dia tak pernah mengungkapkan cinta jika rak ditanya oleh istrinya. Dia pria yang terlalu jaim untuk menunjukkan cintanya.
***
Pagi hari, Alden kembali diperiksa oleh dokter. Sedangkan Amora sedang menggantikan pakaian Elbert karena anak itu habis mandi, begitu pula dengan Aqila yang kini sudah rapih dengan pakaian gantinya dan sedang duduk di sofa memainkan Ipad milik Elbert.
"Cudah mommy," ujar anak itu ketika Amora memakaikan bedak pada wajahnya.
"Sebentar," sahut Amora.
Kini Elbert sudah cemong dengan bedak, dan itu membuat Amora tersenyum puas.
"Kan kalau kayak gini jadi seger ngeliatnya," ujar Amora dan kembali membenahi perlengkapan Elbert.
Sedangkan Elbert menghampiri Aqila yang tengah duduk di sofa memainkan Ipad milik adiknya.
"Kakak Qila cedang nonton apa?" tanya Elbert.
"El mau ikut nonton? ayo sini kita nonton Frozen," ujar Aqila sambil menepuk sampingnya.
Elbert mengangguk, dia berusaha menaiki sofa itu. Aqila yang melihat adiknya kesulitan, ia pun turun dan mendorong sang adik untuk sampai ke atas sofa.
"Cudah," ujar El ketika dirinya sudah berada di sofa.
Aqila mengangguk, dia juga menaiki sofa dan mengambil Ipad itu. Dia mendekatkan dirinya pada Elbert sehingga mereka fokus pada tayangan yang ada.
"Uuhhh, so cute." ujar Amora sambil menggigit jarinya ketika melihat interaksi Aqila dan Elbert.
Alden telah selesai di periksa, dokter tersebut juga melepas selang oksigen Alden. Setelah itu dokter tersebut keluar dati ruangan Alden setelah berpamitan dengan Amora.
"Yang," panggil Alden.
Amora menoleh, dia menghampiri brankar suaminya. Langkahnya terhenti ketika Alden berusaha untuk duduk.
"Eh, kamu mau makan ya?" ujar Amora sambil menepuk keningnya.
Amora mendekati nakas, dia mengambil sarapan Alden dan berniat akan menyuapi suaminya.
"Bubur lagi?" ujar Alden.
"Iya, emang kenapa?" heran Amora.
"Gak ada makanan lain gitu yang?" tanya Alden dengan wajah memelasnya.
"Gak ada lah! kamu kira kita lagi di hotel ada pilihan makanan, lagi pula kamu sakit ya pastinya makannya bubur supaya cepat di cerna. Gimana sih," jengkel Amora.
Alden mengerucutkan bibirnya, dia membuka mulutnya ketika Amora menyuapi bubur itu. Perutnya menahan mual saat bubur itu masuk ke dalam perutnya.
"Huwek!"
Amora panik, dia langsung mengambil plastik untuk menampung muntah Alden. Dia segera menghampiri suaminya yang sedang menutup mulutnya menahan muntah yang akan keluar.
"Huwek!"
Alden memuntahkan kembali bubur itu, dia merasakan pijitan sang istri pada tengkuknya. Perutnya saat ini terasa sangat mual, dia juga merasakan kepalanya yang sangat pusing.
"Sudah yang," lirih Alden.
Amora mengikat plastik itu, dan menaruhnya di tempat sampah. Dengan cekatan, tangannya mengambil tisu dan membersihkan mulut suaminya. Dia juga memberikan air minum pada suaminya itu.
Aqila dan Elbert mengalihkan pandangan mereka ke Alden, mereka menatap Alden yang saat ini tengah bersandar pada kepala brankar dengan wajah lemasnya.
"Daddy cakit ya," ucap Elbert.
Aqila mengangguk, dia kembali menonton begitu pula dengan Elbert. Aqila sengaja tak kesana karena jika ia kesana pasti Elbert akan ikut dan itu akan membuat Amora sulit mengurus Alden.
"Udah enakan perutnya," ujar Amora sambil mengolesi perut Alden dengan minyak angin.
Alden menggeleng, perutnya masih terasa sangat tidak enak. Dia memejamkan matanya merasakan mual pada perutnya yang saat ini masih terasa.
"Terus kamu maunya apa dong, aku kan bingung." ucap Amora dengan suara bergetar menahan tangis. Dia sangat takut ketika melihat Alden yang hampir tak berdaya begitu.
"Aku tuh lagi kepengen ...,"
"Pengen apa," sahut Amora yang langsung memotong ucapan suaminya.
Alden membuka matanya, dia menatap sang istri yang tengah menunggu jawabannya.
"Aku pengen rujak yang pernah kamu makan waktu itu," ujar Alden.
"HAH!" kaget Amora.
___________________________
Bantu dukung karya ini ya kakakš„°š„°š„° terimakasihā¤