Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Terulang lagi?


"Aku akan bawa Aqila kembali ke kediaman keluarga Lawrence," ujar Gio.


Alden menatap sahabatnya yang duduk tepat di depannya, mereka saat ini tengah berada di ruang kerja Alden untuk membahas tentang Aqila.


Gio telah menjelaskan semuanya pada Aqila, kecuali tentang kejahatan Luna dan Gilang. Dia hanya menceritakan bahwa dia hanya menitipkan Aqila dikarenakan dirinya koma pada saat itu dan Aqila pun akhirnya percaya.


"Apa putrimu setuju?" tanya Alden sedikit ragu.


"Tentu saja, bahkan dia yang menginginkan untuk pergi dengan ku. Kau tenang saja, aku akan menjaga putriku dengan baik. Aku tidak bisa terus menetap di indonesia, keluargaku di London pasti menungguku pulang karena aku telah memberi kabar pada mereka bahwa aku masih hidup." jelas Gio sambil tersenyum tipis.


Alden mengangguk, dia juga tak bisa menghalangi Gio membawa Aqila apalagi setelah hak wali jatuh ke tangan Gio. Alden hanya bisa mendukung keputusan sahabatnya, apalagi Aqila butuh membuka lembaran baru bersama Gio.


"Besok aku akan membawa putriku, untuk hari ini tolong khususkan waktumu dengannya. Karena besok, dia harus berpisah darimu." ujar Gio sambil bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Alden.


Sesampainya di kamara Aqila, Gio menatap putrinya itu dengan senyum yang mengembang. Dia mendekati sang anak yang tengah belajar itu.


"Anak ayah belajar apa? kok serius banget sih?" tanya Gio.


Aqila tak menyahut, dia tetap fokus pada pelajarannya dan itu membuat Gio gemas. Dia menciumi pipi anaknya sehingga Aqila terpekik geli.


"Hahah, sudah ayah! geli," ucap Aqila.


Gio memeluk putrinya, begitu pula dengan Aqila. Mereka sudah seperti keluarga bahagia, dan untung saja Aqila tak menolak kehadiran Gio.


Tanpa mereka sadari ternyata Alden melihat kesenangan mereka, dia tersenyum tipis melihat betapa bahagianya sang putri bersama ayah kandungnya.


"Maaf, papa belum bisa menjadi papa yang baik untukmu. Tapi satu hal yang kamu harus tau, papa sangat menyayangimu melebihi nyawa papa sendiri. Kamu adalah alasan papa bertahan saat papa ingin mengakhiri semuanya," ujar Alden dalam hati setelah itu dia berlalu dari sana.


Cklek.


Alden memasuki kamarnya, tak lupa dia menutup pintu itu kembali. Dia melangkahkan kakinya menuju sang istri yang tengah menidurkan putra mereka.


"Bagaimana dengan Aqila?" tanya Amora dengan suara pelan.


"Gio memutuskan untuk kembali ke London, dia akan kembali ke kediaman Lawrance." ujar Alden sambil membuka lemarinya.


Amora mengerutkan keningnya, dia bingung mengapa Alden membuka lemari pakaian padahal ini sudah sore.


"Apa kau belum mandi?" tanya Amora dengan bingung.


Alden tak menjawab, dia sepertinya sedang mencari sesuatu dibawah tumpukan baju dan juga lemari kecil.


"Al, kau sedang apa hah!" kesal Amora.


"Bentar sayang, aku sedang mencari sesuatu." ujar Alden.


Amora kembali menatap putranya yang tertidur, putranya belum tidur siang sehingga putranya itu rewel dan berakhir tidur.


Alden telah menemukan barang yang ia cari, setelahnya Alden mendekat ke arah Amora dengan sebuah kain di genggamannya.


"Sayang, apa kau mengingat ini?" tanya Alden dengan sebuah kain yang mirip dengan sapu tangan dengan motif bunga.


"Apa itu?" tanya Amora yang merasa tak asing dengan apa yang ada ditangan Alden.


"Ini sapu tanganmu, saat pertama kali kita bertemu ... kau menjatuhkan ini dan aku mengambilnya dan itu awal pertemuan kita. Apa kau tidak mengingatnya? tanya Alden dengan wajah penuh harap.


Amora mengambil sapu tangan itu, dia mengerutkan keningnya bingung melihat sapu tangan itu.


"A-aku tak mengingatnya, tapi sapu tangan ini sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" ujarnya.


Alden tersenyum, dia mengambil sapu tangan itu dan melebarkannya.


"Lihat, disini ada namamu hanya saja aku tak tau apa maksud lambang K ini." ujar Alden sambil menunjuk ke arah nama yang berada di pojok kain tersebut.


Amora melihatnya, dia juga tak tahu apa itu. Perlahan dia mengusap nama K itu, tetapi secara mengejutkan sekelebat ingatan menghampiri pikirannya.


"Papi, aku ingin menghilangkan nama Keisya dari namaku. Aku ingin menggantinya dengan Arianha, nama keisya terlalu pasaran papi!" ujar seorang gadis kecil mengerucut kan bibirnya.


"Baiklah sayang, terserah padamu saja. Papi akan menggantinya dengan Arianha bukan lagi Keisya, tapi bukankah nama itu terdengar aneh?" ujar pria itu sambil menatap bingung ke arah putrinya.


"Papi! di kelasku banyak sekali yang bernama Keisya, untuk itu aku memilih nama Arianha agar tak ada yang sama," ujarnya dengan merengek.


"Baiklah-baiklah, tapi percuma saja kau merubah nama. Tetap saja kau akan dipanggil Amora oleh keluargamu." ujarnya sambil menghembuskan nafas pelan.


Anak kecil itu membuang wajahnya, dia tampaknya sangat kesal.


"Biar saja, yang terpenting teman sekolahku akan memanggilku Arianha." ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya sebal.


"Hahaha, benarkah? apa mereka tak akan memanggilmu piranha karena nama itu hampir sama bukan?" ujarnya dan menertawakan anak tersebut.


"PAPA!"


"SAYANG!"


"Kau kenapa hah! jangan buat aku takut!" sentak Alden dengan suara yang sedikit keras.


Amora masih bingung, dia menatap sekeliling dan ternyata dia masih berada di kamarnya. Tetapi, dia merasa aneh mengapa semua keluarganya berada disini? bahkan papinya dan juga sang mami berada disini.


"Ada apa ini?" gumam Amora sambil bangkit dari duduknya.


Alden tak menjawabnya, dia langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat. Amora merasakan bahunya yang basah, dia dapat menebak bahwa suaminya tengah menangis.


"Al, lepaskan dulu! sebenarnya ada apa ini!" sentak Amora.


Alden melepasnya, dia menatap istrinya dengan raut wajah takut. Alden menoleh menatap pria di belakangnya.


"Paman Hans, tolong periksa istriku." pinta Alden sembari menyingkir dan memberikan ruang untuk pamannya itu.


"Ehm, maaf semuanya. Alden bisakah kau mengajak yang lain keluar dulu," pinta Hans.


"Gak, aku gak mau keluar paman!" ujar Alden.


Hans menghembuskan nafasnya kasar, Alden selalu susah untuk di beri pengertian.


"Sebentar saja, paman akan bertanya serius dengan istrimu." pinta Hans sambil menatap Alden.


Akhirnya Alden menuruti sang paman, dia keluar diikuti dengan yang lain. Sementara Hans menatap Amora dengan senyum di wajahnya.


"Siapa kamu?" tanya Hans sambil mengambil peralatannya untuk memeriksa Amora.


"Aku? aku Istri mas Alden, Amora," ujar Amora dengan ramah.


Hans menyuntikkan sesuatu pada tangan Amora, setelah itu dia kembali menatap Amora dengan serius.


"Aku tau kau adalah istri yang disembunyikan Alden Right?" ujar Hans yang di balas oleh anggukan Amora.


"Sebelumnya Alden telah menjelaskan semuanya padaku tentang siapa kamu, dan aku tak pernah berpikir jika dia akan menyembunyikan istrinya bahkan dari keluarga besar Wesley," ujar Hans.


Amora hanya mendengarkan apa yang Hans ceritakan. Dia sesekali tersenyum melihat perubahan raut wajah Hans yang kesal akibat ulah suaminya.


"Kau tau? semenjak dia memberitahuku tentangmu dan putranya, setiap bertemu denganku tak henti-hentinya dia menceritakanmu. Dia akan berkata, paman istriku sangat cantik dan putraku sangat tampan. Aku akan memecahkan rekor memiliki anak terbanyak di dalam keluarga Wesley," ujarnya.


cerita Hans membuat Amora sedikit terkekeh. Dia tak habis pikir dengan suaminya yang berkeinginan memiliki anak banyak.


"Pria itu sangat mencintaimu, dia sangat menyayangimu. Baru kali ini aku merasakan tatapannya terhadap seorang wanita dengan penuh cinta, dia sangat menyayangimu dan selalu mengkhawatirkanmu. Aku sampai heran apa yang kau berikan padanya hingga dia secinta itu padamu," ujarnya kembali.


"Aku tau itu paman, dia sangat mencintaiku. Terlihat dari ketulusannya yang ingin memperbaiki rumah tangga kami yang sempat berantakan." ujar Amora sembari tersenyum tipis.


"Kau tahu seberapa cintanya dia sama kamu kan? untuk itu, bisa kau ceritakan apa yang kau mimpikan tadi?" tanya Hans.


Amora tertegun, dia terdiam saat Hans memintanya untuk menceritakan apa yang ia impikan tadi.


"A-aku tak terlalu ingat paman," ujar Amora dengan gugup.


"Dalam satu hari kau pingsan sampai dua kali, bahkan kau hampir sama seperti tadi. Hanya saja aku tahu jika mimpimu ini tak menakutkan seperti siang tadi. Benar?" ucap Hans.


Amora menggenggam tangannya satu sama lain, dia takut. Bahkan dia tak tahu apa maksud mimpinya itu.


"Ak-aku hanya mengingat seorang anak kecil meminta untuk di ganti namanya dengan nama Arianha. Hanya itu saja," ujar Amora menahan gugup.


Hans mengangguk mengerti, Amora pasti tak mengingat mimpinya sepenuhnya dan tentang mimpi tadi siang dia akan mempertanyakan itu pelan - pelan karena dia takut AMora kembali histeris. Namun, sepetinya mimpi Amora seperti kaset yang menyambung.


"Boleh aku bertanya tentang siapa dirimu yang sesungguhnya? Perubahan sikapmu, sifatmu dan perilakumu sangat berbanding terbalik dengan beberapa bulan lalu." ujar Hans sambil menatap tajam Amora.


Tubuh Amora menegang, dia menatap Hans dengan takut. Ternyata Alden memberitahu Hans dengan sebegitu detailnya tentang perubahan dia.


"Mana mungkin kau bisa merubah itu semua dalam satu malam? sifatmu, kepribadianmu dan bahkan perilaku mu yang sangat berbanding sangat jauh dari perilaku sebelumnya. Jujur, sebelum semuanya terlambat," tekan Hans.


"Hiks ... hiks ... hiks ...,"


Hans menggeram kesal, dia lupa jika Amora tengah hamil dan wanita itu saat ini sangat sensitif. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai mencoba bertanya kembali.


"Amora, kami semua menyayangimu. Tak ada yang akan menyakitimu, aku seperti ini hanya ingin membantumu dan juga Alden untuk mencari jalan keluar dari apa yang kamu alami karena suamimu sangat yakin bahwa kamu hanya trauma bukan delusi seperti yang Dokter Risa katakan tadi siang." ujar Hans sambil menatap lembut istri ponakannya itu.


"GAK! hiks ... aku tidak mengalami delusi paman! Hiks ... aku ... aku bukan Amora hiks ... melainkan Keisya hiks ... aku jiwa tersesat yang masuk dalam tubuh ini hiks ... maafkan aku hiks ... aku takut kalian akan membuangku karena aku telah mengambil raga wanita ini hiks ...," terang Amora yang juga merasa terkejut karena ternyata dokter psikiater itu berkata bahwa dirinya delusi.


Hans tersentak kaget, dugaannya dan juga Alden benar. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang menjaganggal dari apa yang Amora jelaskan dan juga dari mimpinya.


"Aku ... aku ...," lirih Amora.


Hans melihat Amora yang pingsan kembali segera membantunya, dia merebahkan tubuh itu dan menyelimutinya secara perlahan.


"Tidak ... kau hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu, kau tak merebut apapun Amora," gumamnya setelah itu keluar dati kamar Amora dan menemui Alden.