
Mobil yang dikendarai Alden akan memasuki gerbang mansion. Namun, netranya menangkap sosok pria yang memakai tudung di balik pohon tengah memperhatikan mansionnya.
"Wah ... sudah mulai menampakkan diri hm," gumam Alden.
Netranya menangkap Luna yang tengah menghampiri pria itu, mereka berdua berseteru dan berakhir Luna yang di tarik oleh pria itu dan membawa masuk ke mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Buat apa Gilang membawa Luna? apakah pria itu ingin menjual adiknya kembali? hah, terserah mereka saja. Yang terpenting Gio dan Deon sudah melakukan tugas mereka," ujar Alden sambil kembali mengendarai mobilnya memasuki mansion.
Sesampainya di depan mansion, Alden langsung membuka pintu mobilnya. Dia memasuki mansionnya dengan santai, netranya menangkap Erwin dan para maid yang tengah memungut pecahan kaca dari guci yang pecah.
"Ada apa? mengapa bisa pecah?" tanya Alden.
Erwin hanya menoleh sekilas, dia membantu para maid yang sedang mengumpulkan serpihan pecahan itu.
Setelah selesai, Erwin bangkit dan mendekati Alden. Netranya menatap Alden dengan kesal, kejadian tadi membuat moodnya hancur.
"Maaf tuan, istri pertamamu itu sudah gila. Dia membanting guci hanya karena para maid dan para bodyguard tak memberitahu kemana kamu dan istri beserta putramu pergi." ujar Erwin sambil memijat keningnya. Katakanlah dia tak sopan mengatai istri pertama tuannya, moodnya benar-benar hancur saat ini.
Alden tentu saja kaget, dia tak mengira bahwa Luna akan menggila seperti ini. Dia teringat akan Aqila, netranya mencari keberadaan sang putri.
"Di mana Aqila? apa wanita itu juga menyakiti Aqila?" tanya Alden.
"Tidak, Aqila sudah ku amankan saat nyonya mengamuk. Aku sudah menyuruhnya untuk belajar dengan berkata bahwa tuan sebentar lagi akan pulang." ujar Erwin sambil menggelengkan kepalanya.
Alden mengangguk, dia menyerahkan paper bag pakaian kotornya pada Erwin. Dia menepuk pelan bahu Erwin, Setelahnya dia berlalu dari sana. kini tujuannya adalah untuk membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket akibat keringat.
Sementara Erwin menatap paper bag yang Alden berikan. Apakah dirinya akan berganti profesi menjadi buruh cuci?
"Untung saja kau bosku, jika tidak aku sudah menendangmu dari sini." gerutu Erwin sambil memberikan paper bag baju kotor itu pada salah satu maid.
Alden memasuki kamar utama, beberapa hari yang lalu dia sudah memerintahkan para maid untuk memindahkan barang-barangnya di kamar ini.
Alden membuka jam tangan mahalnya, dan menaruhnya di tempat penyimpanan jam. Setelahnya dia melepaskan kaosnya dan terpampang lah Perut sixpacknya. Punggungnya yang masih terdapat bekas luka tak mengurangi kadar ketampanannya.
Alden melangkah menuju kamar mandi, dia harus menyelesaikan mandinya dengan cepat karena sebentar lagi dirinya akan rapat dengan klien penting.
Sementara itu di tempat lain, kini Gilang tengah membawa Luna ke sebuah hotel. Yah, dia akan kembali menjual adiknya itu. Dia tak peduli bahwa saat ini adiknya tengah hamil.
"Kak! kau gila hah! aku sedang hamil kau tahu! aku tidak mau lagi menjadi perempuan murahan!" marah Luna.
Gilang tertawa, dia fokus menyetir sambil memegangi tangan Luna yang terus berontak.
"Ini yang terakhir, kau tahu dia memberikan kepadaku bayaran hingga satu miliyar. Tenang saja, hanya satu malam setelah itu kau akan terbebas," ucap Gilang.
Luna mengerutkan keningnya, dirinya tengah bingung siapa orang yang berani membayarnya dengan begitu mahak hanya dengan satu malam.
"Kau terkejut? jika kau bisa mengambil hatinya, maka setiap kau melayaninya puluhan miliyar akan selalu masuk kedalam rekeningmu," ucap Gilang.
Luna membenarkan perkataan kakaknya itu. Namun, ini adalah cara yang salah untuk mendapatkan uang. Dia tidak mau lagi direndahkan orang lain hanya karena uang, walaupun dulu dirinya begitu rela melakukan hal tersebut. Namun, dia juga telah menyadari bahwa hal itu adalah perbuatan yang sangat salah untuk mendapatkan uang.
"Aku tidak mau kak! kenapa tidak kakak saja yang melayaninya?! kenapa harus aku! aku tidak butuh duit itu!" teriak Luna.
Emosi Gilang memuncak, bagaimana dirinya bisa melayani sedangkan dia juga laki-laki.
"Apa kau bodoh! aku masih waras untuk melihat mana yang pria dan mana yang wanita!" teriak Gilang
"Kalau kau tidak bodoh lalu apa hah! kau dengan relanya menjual adikmu sendiri demi uang? kehormatanku sudah hilang karena dirimu kak!" marah Luna.
Gilang tetap fokus pada menyetirnya tanpa menjawab apa yang Luna ucapkan. Dia menatap sebuah gedung hotel yang berada tak jauh darinya.
"Sebentar lagi kita akan sampai, jaga perilakumu! Ini yang terakhir kalinya, aku janji tidak akan menemuimu lagi. Jadi, turuti perintahku jika kamu mau terlepas dariku!" sentak Gilang.
Cengkraman Gilang pada pergelangan tangan Luna begitu keras hingga wanita itu merasakan perih pada pergelangan tangannya.
Gilang memarkirkan mobilnya, setelahnya dia menyeret Luna memasuki hotel itu. Mereka menuju lantai teratas dengan menggunakan lift.
Saat pintu lift terbuka, Gilang langsung menyeret luna keluar. Dia membawa adiknya itu menuju kamar yang terdapat nomor 502.
"Kak, aku tidak mau." ucap Luna sambil menggelengkan kepalanya.
Gilang tak menghiraukannya, dia membuka kode pintu dan mendorong Luna masuk ke dalam. Kemudian dia menutup pintunya, dia tak menghiraukan teriakan Luna.
Saat Gilang berbalik badan, dia mendapati seorang pria yang dia tahu adalah asisten dari tuan Rex.
"Kau sudah membawa wanita itu?" tanyanya.
"Sudah tuan, jadi ... mana bayaranku?" tanya Gilang.
Asisten tuan Rex memberikannya sebuah koper yang berisikan uang. Dengan senang hati Gilang mengambilnya, akan tetapi pria itu malah menarik kopernya kembali.
"Ingat ini tuan Gilang, urusan bosku dan kamu telah selesai. Jadi, kau tak berhak lagi menemui bosku di lain waktu!" titah asisten tersebut.
Gilang mengangguk, dia merampas koper yang berisikan uang tersebut dengan cepat. Netranya penuh binar ketika melihat banyaknya uang yang berada dalam koper itu.
Asisten Tuan Rex meninggalkan Gilang, dia memasuki kamar yang tadi Luna masuki.
cklek.
Netranya menatap Luna yang tengah menjauh dari tuannya, dia terkekeh melihat betapa takutnya wanita itu.
"Apa kau telah menyadari dosamu nona?" tanya Asisten Rex.
Luna menatap pria yang baru saja masuk, dia bertambah takut saat kedua pria itu mendekatinya.
"Ku mohon jangan sentuh aku hiks ... aku hanya korban hiks ... suruh saja kakakku melayani kalian hiks ... aku sedang hamil saat ini, ku mohon jangan apa-apakan aku," lirih wanita itu.
Asisten Tuan Rex melepas jenggotnya, dan ternyata dia adalah Deon. pastinya tuan Rex adalah Gio, ini adah rencana mereka tempo hari.
"Hahahah Luna, apa kau tak mengenalku?" tanya Deon.
Luna menatap Deon, seketika netranya membulat sempurna saat dia juga melihat Gio yang melepaskan aksesoris penyamarannya.
"KALIAN!" teriak Luna.
"Syutt, jangan berteriak di hadapan kami. Kau terkejut melihat Gio masih hidup? kau merencanakan pembunuhan terhadapnya, tapi sayang sekali ... Gio harus bertahan hidup untuk putrinya. Karena sebentar lagi kamu akan di penjara Luna," ujar Deon.
Tubuh Luna gemetar takut, yang dia tahu Gio sudah tiada karena kecelakaan itu. Dia dan kakaknya yang merencanakan semuanya, bahkan mereka yang membayar supir truk itu untuk mencelakai Gio.
"Tidak! aku tidak mau di penjara! kalian tak bisa memenjarakanku karena aku belum memberi bukti itu pada Alden!" teriak Luna.
"Luna, memangnya aku tidak tahu bahwa bukti itu sudah hilangkan? saat kau ingin memberikannya pada Alden bukti itu hilang, jadi kau tak kunjung memberikannya," kekeh Deon.
Luna semakin terkejut, dia tak menyangka bahwa Deon mengetahui bahwa bukti yang dia simpan di salah satu ponselnya hilang. Karena beberapa waktu lalu, dia tak sadar jika ponsel itu sepertinya terjatuh di jalan. Akan tetapi saat dia mencarinya ponsel tersebut tidak ada.
"Aku tidak butuh rekaman itu, kau tahu Luna? Alden sudah tahu bahwa kau adalah dalang dari pemerkosaan adiknya. pada malam itu, kau yang menyuruh Angel untuk pergi ke apartemen Gilang dengan alasan Gilang sakit. Benarkan?" ujar Deon.
Luna mematung sesaat, apakah ini alasan Alden tak mau dia dekati? apakah ini alasan Alden tak mau menyentuhnya karena dia adalah dalang dari kasus adiknya?
"Tidak ... tidak mungkin Alden tahu kalau aku yang menyuruh Angel ke apartemen kakak! saat itu aku tengah menyamar, mana mungkin dia tahu bahwa akulah orang itu!"
"Dapat!" batin seseorang
"Wah, begitu yah ... hm, yang tau hanya Gio kan? bahkan Gio mempunyai rekamannya maka dari itu kamu berencana membunuhnya karena dia adalah saksi dan juga menyimpan bukti kejahatan kalian?" tanya Deon.
"Hiks ... aku melakukannya karena aku takut di penjara hiks ... aku tidak mau di penjara maka dari itu kak Gilang menyarankan untuk membunuh Gio hiks ... maafkan aku," isak Luna.
Gio dan Deon saling menatap, mereka tersenyum mendengar semua penuturan Luna. Ini adalah bagian rencananya dengan Alden.
Flashback.
"Deon, aku rasa kita harus menggunakan cara lain agar Luna mau mengakuinya. Sepertinya Luna sudah tak mempunyai bukti itu, sebab setiap aku memintanya dia selalu berkata ponsel cadangan yang menyimpan bukti itu berada di suatu tempat. Kita tak bisa menunggu lama, aku harus mengurus keluarga Amora setelah masalah ini selesai," ujar Alden.
Deon mengerutkan keningnya,dia memikirkan sebuah cara agar Luna mau mengakui semuanya tanpa dia tahu. Bisa saja Alden memaksanya untuk mengaku, tapi bukti itu tak akan menjadi kuat karena Luna bisa saja berdalih jika dirinya di paksa mengaku seperti itu.
"Luna adalah wanita licik, kita tidak pernah tau apa yang akan dia lakukan kedepannya. Bisa jadi saat dirinya di tangkap, jika kita memaksanya untuk mengaku ... di pengadilan dia akan berkata bahwa semua tuduhan adalah bohong dan Alden memaksanya untuk mengakui kesalahan itu." ujar Gio yang memang lebih peka dari kedua sahabatnya.
Alden dan Deon saling pandang, kemudian mereka mengangguk mengerti. Mereka yang saat ini tengah duduk di sofa yang berada di ruangan Alden membuat mereka lebih leluasa untuk mengatur rencana.
"Aku mempunyai cara agar membuat Luna mengaku tanpa paksaan," ujar Gio.
Alden dan Deon berfokus pada Gio yang tengah menceritakan rencananya untuk menjebak Luna.
"Bagaimana?" ucap Gio setelah menceritakan rencananya.
Alden dan Deon mengangguk, mereka setuju dengan rencana Gio.
Flashback off.
"Hm, sepertinya waktu kita sudah habis. Luna, terima kasih atas pengakuanmu. Wanita licik seperti kamu ternyata bodoh juga, dan aku akan memberikanmu sesuatu." ujar Deon sambil mengeluarkan sebuah kertas dari tas kerja yang ia pegang sedari tadi.
Luna tak mengerti mengapa Deon mengucapkan terima kasih padanya, akan tetapi dia lebih penasaran lagi dengan kertas yang berada di tangan Deon.
"Aku minta kau tanda tangani ini." titah Deon sambil memberikan kertas itu pada Luna.
Luna mengambilnya, dia membaca kertas itu dengan kening yang mengerut. Netranya membulat sempurna saat melihat kata yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Surat cerai?! aku tidak akan mentandatangani ini!" teriak Luna.
Deon tertawa, dia menatap Gio yang hanya menatap Luna dengan datar. Deon memutar sebuah rekaman yang berisikan perjanjiannya dengan Gilang.
"Aku akan membelinya dengan harga satu miliyar, jika adikmu menjadi milikku," ujar Gio
"Aku setuju," ujar Gilang
Luna terkejut, itu berarti kakaknya telah menjual dirinya. Pantas saja kakaknya itu mengatakan bahwa ini yang terakhir. Karena dia sudah di jual.
"Aku mengajukan sebuah pilihan untuk mu, jika kamu mau mentandatangani surat itu ... maka akan ku biarkan kau bebas, tapi jika kau tak mau mentandatanganinya ... maka, kau adalah milikku Luna!" ucap Gio yang sedari tadi diam.
Luna hanya bisa menangis, dia menatap kertas perceraiannya dengan Alden. Dulunya dia memang tak pernah mencintai Alden karena yang hanya dia inginkan adalah harta, akan tetapi seiring berjalannya waktu rasa cintanya pada Alden tumbuh.
Deon memberikan Luna sebuah pulpen, Luna mengambilnya dan mengarahkannya ke kertas tersebut.
"Setelah ini, Gilang sudah tak pernah lagi menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan itu. Karena yang dia tahu, kau adalah milik dari Tuan Rex yakni Gio," ucap Deon.
Luna mentandatanganinya, dia semakin menangis kala mengingat pernikahannya dengan Alden yang harus berhenti.
Deon tersenyum penuh kemenangan, dia langsung mengambil kertas tersebut dan menyimpannya di dalam tas. Sementara Gio hanya memandang Luna tanpa ekspresi.
"Yasudah, silahkan keluar. kau telah bebas, jadi ... kau tak perlu takut lagi jika Gilang menjualmu kembali," ujar Deon sambil membawa Luna keluar.
Gio hanya memandang Luna yang telah keluar dari kamar itu, jujur hatinya masih menyimpan cinta untuk Luna. Akan tetapi, jiwa seorang ayah dalam dirinya demi dominan. Dia harus membawa putrinya untuk tinggal bersamanya, walaupun dia harus menyingkirkan wanita yang ia cintai.
"Hah, akhirnya selesai juga huh ... dia tak tau saja bahwa waktu bebasnya hanya sementara karena sebentar lagi dia dan Gilang akan masuk ke dalam jeruji besi berkat rekaman ini," ujar Deon sambil mengeluarkan alat perekamnya.
"Deon, bukankah tadi dia bilang bahwa dirinya tengah hamil? itu berarti ...,"
"Tidak mungkin," lirih Deon yang baru menyadari perkataan Luna yang menyebut dirinya tengah hamil. Karena setahunya rahim Luna telah diangkat.
"Apa mungkin, ini juga kebohongannya?" gumam Gio.