
"Jadi, kapan kau akan membuat resepsi pernikahan antara kau dengan putriku?"
Alden menatap pria yang bertanya padanya, dia memikirkan apa yang pria itu tadi tanyakan. Tadi, saat dirinya sedang bekerja, dia terkejut melihat kedatangan pria itu.
"Kehamilan putriku sudah memasuki bulan kelima, tidak mungkin jika menunggunya melahirkan baru kau mengumumkan status putriku yang sebenarnya." ujarnya sambil menatap tajam Alden.
"Alden tau pi, Alden juga sudah bicarakan ini pada Amora. Namun, belum ada jawaban pasti dirinya," jawab Alden.
Pria didepannya adalah Arthur, dia datang ke kantor Alden karena menagih janji pria itu yang akan mengumumkan status pernikahan mereka.
"Maksudnya?" heran Arthur.
"Ekhem, gini pi ... perceraikanku dengan Luna baru tiga bulan lalu, dan secara mengejutkannya aku mengumumkan pada media bahwa Amora adalah istriku padahal kami sudah memiliki satu putra dan menyusul yang kedua. Amora takut akan perkataan orang tentang dirinya yang akan dijuluki pelakor," ujar Alden.
"Apa maksudmu putriku pelakor hah?! kau yang membawanya kabur, seharusnya mereka yang menjulukimu pencuri putri orang!" sentak Arthur.
Alden meneguk ludahnya dengan kasar, ayah mertuanya sungguh menyeramkan jika mengenai istrinya. Alden bukan tak bisa berkutik, dia takut jika ayah mertuanya marah takutnya dia akan membawa Amora pulang.
"Bu-bukan gitu pi, i-itu putri papi sendiri yang bilang." ujar Alden sambil membenarkan duduknya.
"Semua ini salahmu! putriku benar! jika saja kau mencurinya saat kau telah melepaskan mantan istrimu itu pasti aku akan menerima semuanya, tapi kau mencurinya saat kau masih punya mantanmu itu!" marah Arthur.
"Ya-yah gimana pi ... orang udah jadi juga sih El, masa iya mau dibalikin lagi. Rezeki kan gak boleh di tolak pi," jawab Alden dengan wajah tak bersalahnya
Arthur bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Alden, tangannya terulur menarik kerah kemeja Alden.
"Kalau dalam waktu dua minggu kau belum juga membuat resepsi pernikahan untuk putriku, maka aku akan membawa kembali putriku dan memisahkannya darimu!" ujar Arthur dengan menatap tajam Alden.
Secara mengejutkan raut wajah Alden berubah dingin, dia menghempaskan tangan Arthur dari kerahnya. Netranya menatap tajam Arthur yang menatapnya aneh.
"Kau ingin membawa kembali putrimu heh?" ujar Alden dengan nada dinginnya.
"Langkahi dulu mayatku baru kau akan membawa istriku bersamamu," ujarnya kembali.
***
Amora tengah menatap Elbert yang sedang belajar renang dengan gurunya, dia duduk di kursi panjang tak jauh dari kolam renang.
"Ada apa dengan Alden? kenapa sedari malam dia terus menanyakan tentang resepsi?" gumam Amora mengingat kembali perkataan suaminya.
Flashback.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu," ujar Alden.
Amora yang tengah menepuk paha Elbert yang sedang tertidur itu menghentikan aktifitasnya, dia menoleh menatap sang suami yang duduk di tepi ranjang tepat dibelakangnya.
"Bicara apa?" tanya Amora dan kembali menatap putranya yang tertidur.
"Hadap sini, apa kau tak menghormati suamimu dengan membelakanginya seperti itu?" ujar Alden dengan nada dingin.
Amora tersentak kaget, dia tak pernah mendengar nada dingin ini kembali sejak terakhir kali saat ia bertransmigrasi ke raga ini.
"Kamu kenapa?" tanya Amora sambil membalikkan tubuhnya dan menatap Alden yang sedang menatapnya datar.
"Aku ingin resepsi pernikahan kita segera di laksanakan," ujarnya.
"Aku kan udah bilang, gak usah pakai acara resepsi! bulan lalu kamu tanya begini ke aku, dan jawabannya pun tetap sama!" kesal Amora.
Amora menunduk, dia sedang memikirkan apa yang suaminya ucapkan.
"Aku takut ...," lirih Amora yang mana membuat Alden mengangkat wajah istrinya itu.
"Hiks ... apa nanti kata orang tentang aku hiks ... mereka pasti menghujatku dengan berkata bahwa diriku adalah pelakor. Elbert berumur hampir empat tahun dan aku sedang mengandung lima bulan, sedangkan perceraianmu dengan Luna baru tiga bulan lalu. Mereka akan berpikir jika aku merusak rumah tangga kalian," adu Amora.
Alden yang sedang menangkup wajah istrinya, melepaskan tangannya dari wajah sang istri. Dia membawa istrinya kedalam pelukannya, tangannya mengelus rambut panjang sang istri.
"Maaf, aku melupakan itu. Tapi kau tenang saja, aku bisa mengadakan konfersi pers untuk menguak semuanya," ujar Alden.
"Apa kita bisa menundanya?" tanya Amora sambil menatap manik mata suaminya.
Flashback off.
"Haaah, aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Hanya saja aku belum siap untuk tampil dihadapan publik. Di dunia asliku, aku hanyalah perawat biasa. Bahkan uang gajiku tak sampai seperlima uang bulanan dari Alden. Hais ... aku rindu dunia asliku," ujarnya tanpa menyadari seseorang mendengarkan percakapannya.
"Apa maksudmu dengan dunia asli Amora?!"
Amora terkejut mendengar suara berat itu, dia menolehkan kepalanya. Seketika netranya membulat sempurna saat menatap suaminya yang berdiri tak jauh darinya.
"M-mas, kok kamu sudah pulang?" gugup Amora.
Alden menatap tajam Amora, dia merasa jawaban itu bukanlah jawaban atas pertanyaannya melainkan sebuah bentuk penghindaran.
"Bukan itu jawaban yang ku mau," ujar Alden dan segera membalikkan tubuhnya meninggalkan Amora yang tengah mematung.
"Ada apa dengan Alden? Ekspresinya cepat sekali berubah, kadang tengil dan kadang datar. Apa karena banyaknya pekerjaan kantor? tapi tidak mungkin ... aduh, bagaimana menjelaskan padanya?" gumam Amora sambil menggigit jarinya.
Akhirnya Amora memutuskan untuk masuk setelah melihat anaknya, dia segera menyusul Alden yang sepertinya tengah berada di kamar mereka.
Sesampainya di depan kamar, Amora langsung membuka pintu itu dan mendapati suaminya yang tengah membuka kemejanya. Terlihat jelas punggung berotot itu, apalagi bekas cambukan Jonathan yang masih membekas.
Amora menelan ludahnya dengan kasar, dia seperti kesulitan nafas saat menatap tubuh berotot suaminya.
"Kenapa kau disitu?" tanya Alden yang merasa heran dengan tatapan istrinya.
"Ga-gak papa, tu-tumben kamu lepas baju kantor jam segini? bi-biasanya kan kamu tidak pernah pulang kantor sebelum makan siang," ujar Amora yang segera mengalihkan pandangannya dari tubuh suaminya.
Alden menatap tubuhnya, satu sudut bibirnya terangkat. Dia kembali menatap istrinya yang sepertinya tengah menahan gugup.
"Kau kenapa? bukankah kau sudah pernah lihat, bahkan seluruhnya juga pernah. Mengapa kau seperti gadis kecil saat ini?" tanya Alden sambil mendekati Amora dan merangkul pinggangnya.
"A-alden, Le-pas. Nanti adeknya sesek," ujar Amora sambil berusaha melepaskan rangkulan Alden.
"Jika dia marah, maka nanti malam aku akan menjenguknya. Kau tenang saja," ujar Alden dengan suara seraknya tepat didamping telinga sang istri.
Amora berusaha menjauhkan tubuhnya dari sang suami, dia gugup saat Alden begitu dekat dengannya.
"Awas Al! apa kau kehabisan obat hah! sikapmu berubah!" sentak Amora.
"Oh ya? lalu, apa maksudmu tentang dunia aslimu, apa kau sedang berkhayal memasuki dunia ini. Apa kau juga akan berkata bahwa dunia ini hanya sebuah dunia cerita, right?"
Deghh