
Hari ini keluarga kecil itu akan pulang, Karena secara tiba-tiba saja Jonathan menelpon Alden dan menyuruhnya pulang setelah Aqila berangkat ke asramanya.
"Gio, Gue sama keluarga gue pulang dulu. Gue minta tolong jaga Aqila, biarpun dia di asrama tapi dia masih butuh perhatian lu sebagai ayahnya. Jika nanti lu menikah, tolong lebih prioritaskan Aqila dari istri lu. Karena istri lu nanti pasti memiliki sosok yang ia percaya, sementara Aqila hanya punya lu untuk tempatnya menaruh rasa percaya." nasehat Alden sambil menatap lekat netra Gio.
"Makasih kamu mau gantiin hari yang kamu janjikan saat itu untuk mengkhususkan waktu untuk Qila menjadi hari ini, bahkan tadi kamu yang mengantarnya. Melihat wajah bahagianya itu udah cukup bagiku, dan mengenai memiliki pendamping ... tampaknya Aqila belum bisa menerima ibu yang baru," ujar Gio.
Alden tersenyum tipis, dia memeluk sahabatnya itu. Mereka sedari kecil bersama di Indonesia, lalu saat mereka beranjak remaja orang tua mereka memilih untuk memindahkan perusahaan yang mana membuat mereka terpisah.
"Amora, makasih yah ... kamu sudah membuat Aqila merasakan sosok ibu walaupun hanya sesaat." ujar Gio setelah melepas pelukannya dan beralih menatap Amora.
"Ya, Aqila adalah putri Alden berarti juga putriku," sahut Amora.
Sedangkan Aurel hanya diam dan tak berani berbicara, dia malu dengan apa yang dia perbuat dengan keluarga kecil itu. Sementara Manda menyenggol putrinya untuk berpamitan dengan Alden.
"Gak ma, ini salah. Kita gak boleh merebut kebahagiaan orang lain," lirihnya dan meninggalkan Manda yang menatapnya bingung setelah itu dia ikut menyusul putrinya.
"Al, maaf soal kemarin. Pasti kau tidak nyaman karena ucapan istriku. Maaf, dia seperti itu karena tidak ingin putri angkat kami sedih." ucap Erick yang masih menggendong Elbert.
Alden mengangguk, dia mengambil anaknya yang masih demam itu. Bahkan plester penurun demam tertempel di keningnya, padahal dia ingin pulang saat Elbert sembuh. Tapi Jonathan memaksanya untuk pulang.
"Tidak apa pa, Aurel masih labil dan masih mudah terhasut. Mama juga hanya memiliki Aurel sebagai putri satu-satunya, tentu dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Aurel," terang Alden.
"Daddy ... pulang," lirih Elbert.
"Iya, pa kami pulang dulu. Gi, kapan kapan lu balik ke indo yah. Kayaknya si Deon sebentar lagi mau nikah sama calonnya," ujar Alden.
Gio mengerutkan keningnya bingung, dia ragu ingin menebak Aira yang akan menjadi calon Deon.
"Maksudmu ... Aira?" ujar Gio yang di balas anggukan oleh Alden.
"Iya, gue tak menyangka bahwa Aira bisa meluluhkan pria datar itu. Yasudah kami akan berangkat sekarang keburu ketinggalan pesawat." ucap Alden sembari menggenggam tangan istrinya.
"Hahaha, iya ... ta kusangka kau yang selalu pergi bersama para bodyguard dan memakai jet pribadi kini harus menjadi orang biasa," seru Erick.
"Ternyata aku lebih bahagia seperti ini pa, tidak ada lagi awak media yang mengambil paksa gambarku," canda Alden.
Alden dan istrinya memasuki mobil, mereka langsung menuju bandara. Amora langsung mengeluarkan susu dari dalam tasnya karena Elbert yang selalu berkata lirih akibat demam.
"Badannya makin panas, apa kita ke hotel aja dulu? kalau pulang sekarang aku takut keadaan Elbert menjadi parah," ujar Amora.
"Aku telah meminta daddy mengirim jet kesini, gak papa yah kita pulang tidak naik pesawat umum. keadaan Elbert lebih penting." bujuk Alden sambil memegang botol Elbert.
Sebelumnya Alden telah menghubungi Jonathan untuk mengirimkan jet, dia hanya takut jika istrinya tak mau menaiki jet melainkan pesawat umum. Untuk itu dia berbicara pada Amora saat di dalam mobik saja agar istrinya itu tidak merengek di depan keluarga Gio.
"Kok gitu!" sinis Amora.
"Yang, kamu liat Elbert dong! anak kamu lagi sakit kamu masih mikirin pesawat umum? seenggaknya di jet bakal ada dokter juga yang dikirim daddy untuk periksa El, kalau dia kejang-kejang kamu hanya bisa nangis kan!" kesal Alden.
Amora yang merasa di marahi Alden menangis, dirinya hanya ingin naik pesawat umum. Entah mengapa rasanya dia ingin naik pesawat umum, mungkin karena keinginan bayinya. Tetapi dia juga merasa kasihan pada putranya sehingga dirinya harus menahan keinginannya.
"Kok nangis? udah gini aja, kamu naik pesawat umum. Aku naik jet," bujuk Alden.
"KAMU GAK PEKA BANGET SIH!" Kesal Amora.
"Malu sama supirnya yang!" kesal Alden.
Amora tak menanggapinya, dia membuang wajahnya ke arah jendela dan menghiraukan Alden yang sedang menggelengkan kepalanya akibat kelakuan istrinya.
***
Sesampainya di dalam jet, Alden langsung membaringkan putranya di kamar yang ada di jet itu, dia memanggil dokter yang daddynya kirim.
"Tolong periksa putraku, sedari kemarin suhu tubuhnya terus naik." ujar Alden sambil membuka kancing baju atas Elbert.
Dokter itupun langsung memeriksa keadaan Elbert, sementara Amora tengah duduk sambil memperhatikan sang dokter yang memeriksa putranya.
"Apa tuan kecil sempat muntah-muntah?" tanya dokter tersebut.
"Ehm begitu yah ... tuan kecil hanya kelelahan, tidak apa ... saya akan memberikannya infus karena cairan tubuhnya yang kurang dan juga saya akan menyuntikkan pereda demam," ujar dokter tersebut.
Dokter tersebut memasangkan infus pada Elbert dan juga menyuntikkan pereda demam untuknya. Untunglah Elbert sedang tertidur sehingga dia tak menyadari bahwa dirinya tengah di infus.
"Saya sudah memasangkan infusnya, kalau begitu saya keluar dulu." ujarnya sembari merapihkan alat-alatnya.
Alden mengangguk, dia mengantarkan dokter itu keluar. Sementara Amora merebahkan dirinya di samping sang putra dan mengelus rambut lepek sang putra. Tangannya terulur untuk mengambil pacifier Elbert yang sengaja Alden beli agar anaknya tidak mengoceh lirih akibat demam.
"Kamu tidur aja biar mas yang jaga El," pinta Alden saat masuk.
"Aku gak ngantuk," sahut Amora.
Alden menghela nafasnya pelan, dia ikut berbaring tepat disamping istrinya. Netranya menatap sang istrinya yang sedang berkaca-kaca menatap Elbert.
"Kamu kenapa?" heran Alden.
"Aku merasa kayak menjadi ibu yang tak berguna, anakku sakit ... tapi aku malah memaksa keinginanku," lirihnya.
Alden menghela nafasnya pelan, dia memeluk Amora yang tengah terisak. Tangan besarnya terangkat dan mengelus perut buncit istrinya.
"Jadikan sebuah pelajaran saja, walaupun El adalah anak sulung tetapi kau harus lebih memperhatikannya. Selama tiga tahun dia tak mendapatkan kasih sayang kita, bahkan sejak dalam kandungan. Sementara calon bayi kita ini, dia tumbuh dengan cinta berbeda dengan kakak mereka," ujar Alden.
Amora mengangguk, tetapi tiba-tiba saja wajah Alden dan Amora terkejut karena merasa tendangan yang cukup kuat oleh bayi mereka.
"Ku rasa mereka tak menerimanya hehe," gumam Alden.
***
"Kau mau melamar putriku hah?! setelah kau tolak dia, kini kau datang padaku untuk meminta putriku? jangan harap!" sentak seorang pria paruh baya.
"Saya tak berharap kepada anda, saya hanya ingin meluruskan pikiran saya yang bengkok kemarin. Untuk itu, izinkan saya untuk menikahi putri anda." ujar seorang pria muda itu yang tak lain adalah Deon
Pria paru baya itu yang di yakini adalah ayah dari wanita yang ingin Deon lamar.
"Deon! jangan malu-maluin papah kamu! waktu lalu kamu menolak Aira, sekarang kamu malah melamarnya. Kamu ini gimana sih!" ujar papa Deon yang bernama Elvano Erlangga.
"Aira gak pantes ngejar Deon pah, Deon yang seharusnya mengejarnya. Untuk itu, kedatangan saya kemari untuk berjuang mendapatkan putri anda. " ujar Deon dengan suara lantang.
Ayah Aira yang bernama Kevan Bramasta itu memandang sinis Deon, dia kesal karena Deon telah menolak putrinya saat dia berbicara baik-baik pada Deon kala itu.
"Putri saya tidak sepintar yang kamu kira, bahkan dia banyak makan, boros, judes, dan manja. Apa kamu masih mau sama dia heh?!" tantang Kevan.
"Tentu saja om, saya menerima dia. Aira cantik, baik, dan manis. Untuk kebiasannya yang banyak makan, boros, dan manja anggap saja sebagai bonus untuk saya." ujar Deon sambil menatap Kevan dengan serius.
Vano segera menarik putranya, dia sudah merasa malu dengan sahabatnya itu. Sementara Kevan nampak sedang menimbang.
"Pulang sekarang! kamu malu-maluin papah tau gak!" kesal Vano sambil menggeret anaknya keluar dari ruang kantor Kevan.
"Tunggu!" seru Kevan.
Vano dan Deon berbalik, mereka menatap bingung kevan yang menghampiri mereka dengan senyuman bukan lagi dengan tatapan sinis.
"Ku hargai penyesalanmu dan keberanianmu untuk menemuiku. Aku merestui hubunganmu dengan putriku dengan syarat, hindari putriku selama kamu belum halal untuknya! ujar Kevan.
Deon mengangguk menyetujui persyaratan Kevan, sementara Vano menganga tak percaya.
" Tutup mulutmu Van, aku merestui mereka untuk membuat tali persahabatan kita semakin erat. Keluarga Erlangga dan Bramasta harus ada keterikatan di awali dengan putra putri kita," ujar Kevan.
Vano menutup mulutnya, dia tersenyum menatap Kevan. Mereka berpelukan sementara Deon sedang memikirkan sesuatu.
"Om, bisakah saya memiliki kesempatan sekali untuk bertemu Aira sebelum persyaratan yang om ajukan bisa?" tanya Deon yang mana membuat kedua pria itu melepaskan pelukan ala pria mereka.
"Emang kamu kira kita lagi di pasar yang bisa nawar seenaknya hah?! Enggak! maka dari itu halalkan putriku sebelum terlambat!" sentak Kevan.
"