Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Elbert kabur 2


Alden menoleh menatap istrinya yang sidah tertidur begitu pula dengan bayi kembarnya yang berada di tengah-tengah mereka. Perlahan, Alden bangkit dari ranjang dan mengambil guling untuk menaruhnya tepat di sebelah Lio agar anak itu tidak terjatuh.


Alden menuju pintu dengan langkah pelan, sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat istri dan anak-anaknya.


"Mumpung mereka tidur, aku akan lihat Elbert dulu," gumam Alden.


Cklek!


Alden membuka pintu dan keluar, tak luoa ia menutup pintu kamar itu dengan perlahan. Dia berjalan menghampiri kamar Elbert yang tak jauh dari kamarnya.


Tok!


Tok!


Tok!


"El, daddy mau bicara sayang. Buka pintunya dong," pinta Alden tetapi tak ada sahutan apapun dari dalam.


Alden mengerutkan keningnya, tangannya bergerak membuka pintu dan terkejut ketika melihat kamar sang anak yang kosong.


"Elbert! jangan bersembunyi El!"


Alden panik, dia segera keluar dari mansion dan mencari Elbert karena biasanya anak itu main di halaman.


"Tuan kecil mana?" tanya Alden pada salah satu bodyguard yang berjaga di depan pintu utama.


"Tadi saya lihat keluar tuan menuju garasi, setelahnya saya tidak tahu," ujar bodyguard tersebut.


Alden segera menuju garasi, dia membuka pintu garasi dan terkejut ketika mendapati motor aki Elbert tidak ada disana.


"Apa Elbert main motor akinya di depan mansion?" gumam Alden.


Alden segera keluar dan menuju gerbang, dia berlari hingga sampai di gerbang dan langsung bertanya pada penjaga gerbang.


"Mana putraku?" celetuk Alden


"Tuan kecil keluar mansion tuan muda, tadi katanya tuan kecil dia sudah izin dengan anda." ujarnya sambil menatap heran Alden.


Alden menepuk keningnya, dia tak habis pikir dengan sang anak yang keluar dari mansion dan berbohong dengan dalih telah di izinkan olehnya.


"Saya tak pernah mengizinkannya," ujar Alden yang mana membuat penjaga itu terkejut.


"Sudah lama?" tanya Alden


Penjaga tersebut mengangguk, Alden segera keluar gerbangnya dan tak menemukan Elbert disekitar mansionnya.


Alden segera berlari kembali ke garasi, dia mengambil mobilnya dan berniat mencari Elbert.


***


"NDA! NDA MAU!"


Arsel dan Agnes tentu saja terkejut, mereka menatap Elbert yang menangis histeris.


"El kenapa? sini cerita sama om, kita kan best friend." bujuk Arsel sambil menggendong ponakannya yang menangis.


"Hiks ... daddy cama mommy uda nda cayang El hiks ... El j4lang di kacih cucu, tap ci kembal di kacih cucu telus. Mommy malah cama El, daddy duga hiks ... meleka udah nda cayang El!" adu Elbert.


Arsel mengangguk mengerti, dia meminta Agnes untuk menggendong Elbert. Dirinya berniat untuk membawa Elbert ke Mansion Miller untuk sementara.


"Pegang dulu, gue mau nelpon bapaknya dia," ujar Arsel sembari memberikan Elbert.


Elbert tak menolak dia berpindah ke gendongan Agnes, dirinya hanya merasa sedih akibat daddy dan mommynya


Sedangkan Arsel menjauh dari Elbert, dia mengambil ponselnya dan menelpon Alden.


TUUUUTT!


"Nih orang kemana dah? gak nyadar apa anaknya hilang? di telpon malah gak bisa," gerutu Arsel.


Arsel berbalik, dia menuju motornya dan menaikinya. Dia menyuruh Agnes naik dengan Elbert yang berada di tengah mereka.


"Kita kerumah gue dulu, gue mau taruh nih bocah di rumah bokap gue." ujar Arsel sembari memakai helmnya.


Agnes mengangguk, dia duduk tepat di belakang Arsel dan menaruh Elbert tepat di tengah-tengah mereka.


"ALAMAK! UDAH KAYA KELUARGA BAHAGIA AJA KITA NENG!" seru Arsel yang mana mengundang perhatian orang sekitar.


BUGH!


"Eh kodok Amazon! gue malu! mending cepet jalanin motor lu, dan gak usah berkhayal terlalu tinggi! sepet gue liatnya," kesal Agnes.


Arsel terkekeh, dia menyalakan mesin motornya dan melirik Agnes dari spion motornya.


"Pegangan neng, akang mau ngebut nih. Nanti si neng jatuh, hati akang retak pula," gombal Arsel.


Agnes menghela nafasnya, dia tak menghiraukan Arsel dan hanya mendekap Elbert.


Arsel hanya pasrah, dia melajukan motornya menuju Mansion Miller.


Berbeda dengan Alden yang kini tengah uring-uringan mencari Elbert.


"Elbert kemana sih? gak mungkin dia udah jauh, paling sampai jalan raya ini. Aduh!" panik Alden.


Netra Alden menangkap sebuah motor aki seperti milik putranya, dia segera keluar dari mobil dan menghampiri motor itu untuk melihatnya.


"Eh, mb! tadi liat gak anak kecik yang naik motor ini?" tanya Alden pada seorang wanita yang tengah berdiri tak jauh dari motor tersebut.


"Oh tau mas, tadi dia di bawa sama laki-laki dan perempuan naik motor," ujar wanita tersebut.


Alden terkejut, dia mengira jika Elbert diculik. Tangannya langsung mencari ponselnya di saku celananya. Dengan tangan bergetar, Alden menelpon Jonathan.


"Halo,"


"APA?! KOK BISA?! KAMU GIMANA SIH AL!" sentak Jonathan.


"Nanti Al jelasin, sekarang daddy bantu AL cari keburu Amora bangun dan tau kalau ELbert hilang," terang Alden dan mematikan sambungan nya.


Alden tak melihat ada panggilan dari Arsel, mungkin Sangking paniknya dia jadi tak melihat itu.


***


"El masuk sana, om mau nganterin calon masa depan om dulu yah," ujar Arsel.


Elbert mengangguk, dia turun dari motor dengan dibantu oleh Agnes. Elbert berlari kecil memasuki mansion dengan wajah gembira.


"GLANPA! CUCU GLANPA DATENG NIH!" seru Elbert saat memasuki pintu utama mansion.


Arthur yang sedang duduk santai diruang tengah terkejut mendengar suara cucunya, dia segera berlari kearah Elbert dan menggendong cucunya itu.


"Cucu grandpa kenapa ada disini? bareng siapa kesini?" tanya Arthur.


"El kabul dali lumah, telus ketemu cama om alsel. Telus El di antal kemali," jelas Elbert.


"Kabur?" heran Arthur.


Elbert mengangguk, dia ingin menceritakannya tetapi Arthur malah membawanya untuk duduk diruang tengah.


"Coba sini cerita sama grandpa, kenapa El kabur hm?" tanya Arthur dengan lembut.


Elbert menceritakan kejadian tadi walau hanya 70% yang benar, tetapi anak itu hanya mengeluarkan apa yang dia rasa.


"Begitu glanpa," ujar Elbert.


"Haah ... El, gini ... susu itu memang baik bagi pertumbuhan anak seusia El, tetapi jika terlalu banyak itu tidak bagus. Contohnya, jika El menuang air ke dalam gelas ... El pasti akan terus melihat gelas itu agar tidak luber benarkan?" ujar Arthur.


"Kalo lubel, nanti bacah mejana glanpa." seru Elbert


Elbert anak yang pintar, dia bisa mengerti maksud Arthur hanya dengan waktu singkat. Arthur pun menjelaskan pada Elbert pribahasa yang bisa di mengerti anak itu lewat kesehariannya.


"Nah! mommy hanya menjaga pola susu Elbert agar tidak luber, emangnya El mau perut El luber karena susu?" tanya Arthur.


Elbert menggeleng keras, dia tak mau perutnya luber. Tangannya menyentuh perutnya seakan menahan sang perut agar tidak tumpah.


"El nda mau pelutna lubel," gumam Elbert.


Arthur mengangguk, dia akan menghampiri istrinya untuk memberitahu perihal soal cucu yang datang. Tetapi suara berat memasuki gendang telinganya.


"ELBERT LEON WESLEY!"


Arthur menoleh begitu juga dengan Elbert, ana itu bahkan langsung memeluk leher Arthur erat kala melihat pria itu adalah daddynya yang sedang menatap tajam dirinya.


Alden berjalan dengan menahan amarahnya, dia akan menarik Elbert tetapi Arthur segera menghalanginya.


"Apa-apaan kamu? tenangkan emosimu dulu, baru temui cucu ku," pinta Arthur.


"Dia putraku dan aku daddynya, aku lebih berhak untuk mengaturnya!" bantah Alden.


Elbert bergetar ketakutan, bahkan Arthur bisa merasakan badan cucunya yang bergetar akibat bentakan Alden.


"ELBERT! jangan buat daddy marah, ayo pulang!" sentak Alden sembari menarik tangan putranya.


Elbert menangis keras, sehingga telinga Arthur terasa berdengung mendengar jeritan cucunya tepat di telinganya.


"HIKS HUAAA ... NDA MAU!"


Alden semakin memaksanya hingga tumbuk memar pada pergelangan tangan Elbert yang mana membuat anak itu meringis kesakitan.


"Jika Arsel tak memberi tahu opa jika kau disini, daddy tak akan tau kau dimana!" kesal Alden.


Flashback.


Alden mengangkat telponnya yang berdering, dia menggeser tombol hijau tersebut.


"Ha ...,"


"Elbert ada di mansion mertuamu, tadi Arsel yang mengantarkannya ke sana," sela Jonathan.


TUUUT!


Alden berdecak kesal, dia langsung memutar arah mobilnya menuju Mansion Miller.


Flashback off.


"Alden, biarkan Elbert disini dulu. Besok juga kan kita akan berangkat ke bali untuk menghadiri pernikahan Deon. Biarkan Elbert ikut papi, nanti kita ketemu di hotel bareng keluarga besar Miller." saran Arthur sambil menenangkan cucunya.


Alden tak menghiraukannya, dia semakin memaksa Elbert untuk pulang.


"ALDEN!" sentak Arthur.


"Bukan begini caranya kamu membujuk putramu! dia sedang takut denganmu, apapun yang kamu lakukan akan di anggap kasar olehnya! lebih baik sekarang kamu pulang, lebih pada aku bicara pada putriku mengenai ini!" pinta Arthur.


Alden menghela nafasnya, dia mengangguk dengan berat dan mengelus kepala Elbert.


"Maafkan daddy, nanti setelah kau pulang daddy akan memberikan apa yang kau mau." ujar Alden sembari mengecup kening anaknya.


"Bilang sama putriku, kau mengantarkan Elbert karena aku rindu pada cucuku," pinta Arthur.


Alden mengangguk pasrah, setelahnya dia pulang walau Elbert tak bicara sedikit pun dengannya.


_________________


Maaf banget aku telat up, seharian ini aku sibuk karena banyak banget kerjaan🤧.