
Atensi Amora dan Alden mengarah ke pintu, mereka menatap tak suka seseorang yang baru saja membuka pintu tanpa mengetuknya dulu.
"Apa sebelum menjadi anak angkat kau tak pernah belajar tata krama? miris sekali," sarkas Alden.
"Hus! mas gak boleh gitu!" tegur Amora.
"Liat! istriku masih saja membelamu yang tidak ada sopannya sama sekali!" kesal Alden.
Seseorang itu adalah Aurel, dia memegang nampan yang berisikan segelas susu dengan erat. Kepalanya tertunduk akibat ucapan Alden yang menghujam hatinya.
"Ma-maaf, Aurel gak sengaja," cicitnya.
Alden tak menanggapi, dia hanya menatap tajam Aurel yang membuat dirinya muak, sementara Amora bangkit dari ranjang dan mendekati Aurel.
"Tak apa, untuk kali ini aku maaf kan kecerobohanmu." ujar Amora sembari mengambil nampan dari tangan Aurel.
"Mas, Sebaiknya kamu menemui Aqila sekarang. Besok dia sudah berangkat ke asrama, habiskan waktumu dengannya. Aku akan sedikit mengobrol dengan Aurel," pinta Amora.
Alden mendengus, tapi tak urung dia bangkit dari ranjang dan berjalan keluar. Saat berpapasan dengan Aurel, langkahnya terhenti dan menatapnya tajam.
"Kau seorang wanita yang terhormat, jangan rendahkan harga dirimu dengan berharap pada pria beristri karena kamu tidak pernah tau bagaimana perjuangan istrinya mempertahankan keutuhan rumah tangganya selama ini. Tak perlu kau beri tahu tentang pikiranmu, aku sudah terbiasa dengan wanita murahan sepertimu." sarkas Alden dan setelah itu melanjutkan kembali langkahnya.
Amora memandang iba Aurel yang tengah menangis, mulut suaminya memang sangat tajam tak jauh beda dengan papinya.
"Masuk dulu, kita berbicara." pinta Amora sambil menutup pintu dan membawa Aurel menuju kasurnya.
Aurel hanya menangis, sementara Amora menaruh nampan dengan pelan agar tak membangunkan putranya.
"Maafkan perkataan suamiku, dia sebenarnya orang yang baik hanya saja dia takut. Dia takut kehilangan keluarga kecilnya saat ini sama seperti dulu. Dia sudah bersusah payah memperbaiki keluarga kecil kami hingga seharmonis sekarang. Kau tidak akan tahu bagaimana perjuangan kami, bahkan bukan hanya kami ... putra kami turut menjadi korban akibat ketidak utuhan rumah tangga kami," terang Amora.
"Tapi kak, aku juga memendam perasaan ini sangat lama. Bahkan sebelum dia menikah, aku sudah lebih dulu menyukainya. kakak gak pernah tau bagaimana rasanya menjadi aku." ujar Aurel sembari terisak.
Amora duduk tepat di samping Aurel, dia menolehkan kepalanya melihat Elbert yang terbangun akibat tangisan Aurel.
"Mommy," gumam Elbert.
Amora membawa anaknya duduk di pangkuannya, sedangkan putranya menatap bingung Aurel yang sedang menangis.
"Kau hanya menahan sakit di hatimu terhadap pria yang sama sekali belum kau jumpai, sementara putraku ... dia selalu disakiti fisik maupun mental. Akibat kesalahan kami, putra kami memiliki trauma terhadap sebuah sentakan dan teriakan. Kau juga tidak tahu bagaimana rasanya menjadi putraku, dia belum bisa berbicara dengan benar tetapi harus menahan semuanya sendiri." ujar Amora sambil mengelus rambut putranya yang berantakan dan lepek akibat keringat.
"Apa kau tega membiarkan putraku kembali mengulang masa dimana dia mengalami tekanan batin dan kejahatan fisik? Kau seorang wanita, jika aku merasakan sakitnya di khianati kau juga akan merasakan perihnya di tinggalkan. Ingat ini Aurel, wanita bisa memendam perasaannya bertahun-tahun lamanya. Tetapi, wanita tidak bisa menahan rasa cemburunya walaupun hanya sesaat." ujar Amora kembali sambil menatap lekat manik Aurel
Aurel tertunduk, bahunya bergetar ketika mendengar penjelasan Amora. Apakah dirinya tega membuat keluarga orang hancur berantakan dan anak yang menjadi korban?
"Mommy, dimana daddy?" lirih Elbert.
"El jangan ganggu daddy dulu ya sayang, biarkan daddy sama kak Qila dulu. Kan besok kak Qila mau ke asrama dan akan lama sekali kembali ketemu daddy," nasehat Amora.
Elbert mengangguk, dia menatap Aurel yang menangis. Elbert berusaha turun dari pangkuan mommynya, dengan tubuh lemasnya dia mendekati Aurel.
"Kakak tantik dangan nanis, kata mommy kalau nanis belat badan kita bica tulun. Ya kan mommy?" ujar Elbert dan menatap mommynya.
"Iya sayang," sahut Amora.
Aurel menatap Elbert yang benar-benar jiplakan Alden, dia tersentuh dengan hiburan kecil anak tersebut.
"Mommy, El hibul kakak tantik. Nanti El dapet cucu yah," melasnya.
Amora tersenyum, ternyata anaknya itu pandai memanfaatkan situasi. Sementara Elbert menatap berbinar susu yang berada di nampan yang Amora taruh di nakas tadi.
"Cucu," gumamnya.
Amora menolehkan kepalanya kepada arah pandang Elbert, dia langsung menjauhkan susu itu pada Elbert.
"No El!" larang Amora.
"Gak papa kak, lagian susu itu hanya susu sapi biasa kok." ucap Aurel seraya menghapus air matanya.
Aurel tertegun, dia menatap Elbert yang sedang merengek. Dia kaget saat mendengar bahwa anak sekecil Elbert mempunyai hemofilia.
"Kok bisa kak?" heran Aurel.
"Tentu saja, Elbert menurun dari daddynya. Yah ... mau gimana lagi, memang takdir kan. Lagi pula kami tidak ada yang masalah dengan Hemofilia yang dimiliki Elbert, kami benar-benar menjaga Elbert agar tak terluka." terang Amora sembari menatap Aurel.
"Hiks ... mommy! El mau cucu!" ujar Elbert dengan suara sedikit keras.
Amora kembali menatap anaknya, dia menarik Elbert untuk bangun tetapi anaknya itu sangat rewel.
"Elbert! mommy gak suka yah kalau El begitu, bangun gak! kalau gak mau bangun jatah susu siang dan malam gak ada loh ya," ucap Amora yang mana membuat Elbert segera bangun dengan bibir mengerucut lucu.
"Mommy ... El mau cucu," cicitnya.
"Lihat sekarang jam berapa? masih jam dua belas, El belum makan nasi bukan?" terang Amora.
Aurel menatap ibu dan anak itu sembari tersenyum, dia merasa Amora memang wanita idaman dan ibu yang sigap. Dirinya merasa malu karena hampir menjadi perusak rumah tangga orang lain.
***
"ERWIN!" teriak Jonathan.
Erwin datang dengan wajah datarnya, dia mengerutkan keningnya bingung ketika melihat tuan besarnya yang sedang memegang saringan ikan.
"Ini ikan sultan teman saya kenapa bisa mati! ini bukan karena nyawanya dah habis, pasti di paksa mati nih ikannya!" marah Jonathan.
Erwin terkejut, dirinya berusaha menetralkan ekspresinya ketika Jonathan menatapnya penuh selidik.
"Mana saya tahu tuan, tanya aja ikannya. Siapa tahu kan di injak sama ikan lain," bela Erwin.
"Emang kamu pikir saya bodoh apa win! ikan ya ikan! dia gak bisa ngomong! dan juga, kayak anak tk gagal lulus kamu yah! ikan mana ada kaki Erwin anaknya bapak baguuus!" kesal Jonathan.
"Bapak saya jangan di sebut juga dong!" kesal Erwin.
Jonathan menghela nafasnya, dia menunjukkan ikan yang sudah tidak berbentuk itu pada Erwin.
"Kenapa ikan sultan ini ampe keluar isi perutnya begini?" tanya Jonathan.
"Tanya sama tuan kecil, kemarin lusa tuan kecil nyemplung ke kolam. Terus dia bilang ikannya mau di tangkap tapi nanti di balikin lagi. Mana saya tahu kalau tuan kecil balikin ikannya ke alam lain, saya kira balikinnya ke kolam lagi." bela Erwin sembari berjalan mundur ketika melihat wajah Joanthan yang menahan Amarah.
Dertt!
Jonathan mengambil ponselnya, seketika netranya membulat ketika melihat siapa yang menelponnya.
"Aduh! si Azka nelpon lagi, pasti nanyain ikannya. Erwin! bantu cari jawaban dong! mana tuh ikan di dapet dari lelang lagi." gerutu Jonathan sembari menatap Erwin.
"Bilang aja tuan, ikannya di pencet ama cucu saya. Bereskan! lebih pada bohong dosa loh, berlipat malah." terang Erwin.
Jonathan melempar Erwin dengan saringan yang ia pegang, dirinya kesal dengan Erwin yang sama sekali tidak membantunya.
"Si Alden bener-bener yah! awas aja dia pulang, gue minta ganti rugi tuh sama dia akibat ulah anaknya!" gerutu Jonathan dan langsung mengangkat telpon itu.
Sementara Erwin tengah menatap kesal Jonathan yang sedang membujuk Azka agar tidak marah.
"Akibat ulah cucunya juga kali ... sifatnya kek gitu sih, pantes aja cucunya nurun dia." gerutu Erwin sambil beranjak dari sana.
__________
Bukan menambahkan konflik, hanya saja Aurel sekedar bumbu dalam cerita ini biar ada rasanya gak hambarš¤.
Dan setelah ini hanya tinggal pemanisnya ajaš„°
Jangan lupa likenyaš