Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Warna mata


"Bisakah kau diam mas?! sedari tadi kau menjaili Lia terus! jika kau terus begitu, anakku akan merajuk dan tidak mau minum susu!" kesal Amora sembari menatap tajam Alden.


Mereka sepakat untuk memanggil si kembar dengan panggilan nama tengah mereka yaitu Lia dan Lio, karena nama itu sangat mudah untuk disebut apalagi Elbert yang masih kesulitan mengucap nama depan adiknya.


"Dia rakus sekali sayang, nanti aku gak kebagian," celetuk Alden.


"Minta sama sapi sana!" sentak Amora yang sudah sangat kesal dengan suaminya.


Oeekk!


"Cup ... cup sayang, minum lagi yah ... jangan dengarkan ocehan gak jelas daddymu," bujuk Amora sembari mengarahkan sumber nutrisinya ke bibir mungil sang bayi.


Alden merengut kesal, pada istrinya yang sedang duduk di kursi roda sambil menggendong anak perempuan mereka. Sementara Lio, bayi laki-laki mereka itu belum di perbolehkan keluar dari inkubator berbeda dengan Lia. Bayi perempuan itu diperbolehkan keluar dari inkubator hanya saat diberi asi, selebihnya tidak boleh terlalu lama diluar inkubator.


"Aku mau liat Lio dulu kalau begitu, asinya sudah kamu pompa kan?" tanya Alden.


Amora mengangguk, dia memberikan botol yang berisikan asinya untuk Lio. Alden segera menuju inkubator Lio, sebelumnya dia sudah memakai hand sanitizer sebelum memasukkan tangannya kedalam inkubator itu.


"Haus ya nak hm ... minumnya dari botol dulu ya, nanti kalau sudah boleh keluar baru nyusu langsung dari mommy," ujar Alden.


Dengan pelan Alden memasukkan ujung dot itu pada bibir mungil putranya, tetapi putranya itu tak menghisapnya malah dia merengek dan membuka matanya.


"Sus, ini gimana sih? kok gak mau minum?" heran Alden.


Suster yang memang memantau mereka akhirnya mendekati Alden, dia meminta botol itu pada Alden dan mengarahkannya pada mulut mungil Lio tetapi tetap saja bayi itu tidak ingin minum.


"Kenapa mas?" heran Amora.


"Gak mau yang, dari tadi melengos terus." ujar Alden sembari menatap istrinya.


Amora melihat putrinya yang masih menyusu, kemudian dia meminta botol itu pada Alden.


"Coba sini botolnya," pinta Amora.


Alden memberikan botol itu, dia menatap istrinya yang melepaskan sumber nutrisinya pada bibir mungil Lia dan menggantinya dengan botol dot seketika Lia menangis.


Oeekk!


"Sama-sama gak mau ya yang? mungkin doyannya yang langsung kali yang, pinter juga milihnya." ucap Alden sembari memandang takjub para bayinya.


"Aku gak tau, tadi pagi kan aku gak kasih botol langsung melainkan di kasih asi karena kata dokter asi pertama bagus bagi bayi. Tapi, buat selanjutnya Lio harus tetap di inkubator sementara Lia di bolehkan tapi hanya sebentar saja," ujar Amora.


Alden mengangguk, itu artinya bayinya merasa aneh dengan dot. Sementara sejak awal mereka minum langsung dari ibu mereka, pantas saja Lio tidak mau.


"Mungkin kenyang kali ya yang?" alasan Alden.


"Gak pak, memang ada sebagian bayi yang seperti itu. Tapi gak papa, saya akan meminta izin dengan dokter sebentar yah," ujar suster tersebut dan segera pamit keluar untuk menemui dokter.


Alden kembali menatap Lio, dia terkejut ketika melihat warna mata Lio yang berbeda seperti sebelumnya.


"sa-sayang! ko-kok warna mata Lio jadi abu-abu gelap yang? ta-tadikan coklat, ko-kok bisa?" heboh Alden.


Amora mengerutkan keningnya, dia menatap putrinya yang sedang menyusu sambil memejamkan matanya. Tangannya menyentuh kelopak mata sang putri dan membukanya.


"Gak ah mas, ini Lia matanya tetap coklat kok." ujar Amora sembari menatap heran Alden.


"Tapi yang, ini beda loh!" bantah Alden.


Alden mendekati istrinya, dia mendorong kursi roda Amora mendekat ke inkubator Lio. Beruntunglah Lio sedang menghadap samping sehingga Amora tak perlu berdiri.


"Ko-kok bisa mas?" heran Amora.


Alden terheran, seketika dia teringat jika tadi pagi saat Amora menyusui lampu ruangan ini redup sehingga bola mata Lio berwarna coklat. Tetapi saat ini ruang inkubator itu tampak terang yang mana terlihat jelas bola mata Lio yang berwarna abu-abu gelap.


"Aku gak selingkuh loh?!" bantah Amora.


"Ya tau aku yang, masalahnya kok bisa warna matanya begini? di keluarga aku gak ada loh," sahut Alden.


Mereka menoleh ketika melihat suter yang ternyata sudah kembali, netranya beralih menatap suster itu yang membawa Lio keluar dari inkubator.


"Dokter mengizinkan tapi gak bisa lama, untuk saat ini dokter mengizinkan karena kondisi Lio yang tidak mau meminum asi jika bukan dari sumbernya." ujar suster tersebut sambil memberikan Lio pada Alden.


"Sus, Jangan sama saya sus! ini ringan banget, kalau jatuh gimana?!" panik Alden.


"Tuannya santai, rileks ... dan perhatikan bayinya," pinta sister tersebut.


Alden menggendong tubuh Lio dengan kaku, dia bahkan tak menggerakkan tubuhnya karena takut Lio terjatuh.


"Yang ... a-aku takut," lirih Alden.


Amora tersenyum melihat suaminya yang memandang tubuh kecil Lio. Beruntungnya Alden menjadi suami siaga kali ini.


"Anak mommy udah kenyang hm." ujar Amora sembari beralih menatap putrinya yang telah melepas sumber nutrisinya.


"Mas, Lia udah kenyang. Sini bawa Lio kesini," pinta Amora tanpa melepas pandangannya dari Lia karena ia sedang membenarkan topi kecil Lia.


Amora meminta suster untuk mendekat, dia memberikan Lia dengan hati-hati pada suster tersebut dan sebelumnya dia mengecup pipi sang anak dengan sayang.


"Kamu kenapa mas?" tanya Amora.


Alden menoleh, dia tersenyum dan menghampiri istrinya yang sedang menatapnya bingung. Dengan hati-hati Alden memberikan tubuh kecil Lio dalam gendongan Amora.


"Aku tidak papa, hanya saja aku merasa buruk menjadi seorang daddy. Saat Elbert lahir bahkan aku enggan untuk menggendongnya, semua ku serahkan pada baby sitter. Sementara kamu, setelah kamu koma tubuhmu dikuasai oleh jiwa Vani. Dia tidak mau memberikan Elbert asi sedikit saja, dia selalu berkata jika tubuhnya akan rusak jika memberi Elbert asi." ujar Alden sambil mengusap air matanya.


Amora yang sedang mengarahkan sumber nutrisinya pada mulut Lio seketika terhenti akibat penuturan Alden. Dia menatap suaminya itu dengan berkaca-kaca.


"Benarkah?" ragu Amora.


Alden mengangguk, dia menatap Lio yang masih mencari nutrisi Amora. Putranya tengah berusaha mencari dan akhirnya putranya itu mendapatkannya tanpa di arahkan oleh sang ibu yang masih terkejut akibat kenyataan tentang putranya.


"Hiks ... kenapa mas gak kasih tau! pantas saja Elbert sangat kurus waktu aku kembali hiks ... bahkan tubuhnya sangat rentan sakit hiks ...," isak Amora.


Alden tersenyum, dia mengusap pipi istrinya yang basah karena air mata.


"Sudahlah, kita benahi ini semua termasuk kasih sayang kita pada Elbert." ujar Alden sembari mengecup kening istrinya.


Amora mengangguk, dia kembali menatap sang putra dan tersenyum ketika melihat putranya yang sangat lahap meminum susu.


"Mas, bolehkah aku memberi asi pada Elbert. Aku akan memompa asiku dan memberikannya, dia berhak meminum asi ibunya mas." pinta Amora.


"Iya, kalau perlu aku akan memberikannya sekarang. Asi yang kamu pompa tadi juga si kembar gak mau, biar aku kasih El," ujar Alden.


***


Malam ini ruang rawat Amora sepi karena orang tuanya beserta mertuanya telah pulang dari siang tadi, Amora menatap Elbert yang sedang meminum susu dati botol dotnya.


"Mommy, kok susunya aneh?" heran Elbert.


"Apa yang aneh sayang?" heran Amora.


Elbert menggeleng, dia kembali mengedot botol itu seketika keningnya mengerut dan kembali melepaskan dotnya.


"Susu nya manis," ujar Elbert.


Amora tersenyum, dia menatap Alden yang tengah berkutat dengan berkas kantornya akibat dia tinggalkan meeting kemarin.


"El suka susunya sayang?" tanya Amora sambil beralih menatap Elbert.


Elbert mengangguk, dia merebahkan tubuhnya pada sofa tepat disebelah Alden. Netranya lama-kelamaan tertutup, Elbert akhirnya tertidur dengan mulut yang masih menghisap dot itu.


"Mas, apa masih lama?" tanya Amora.


Alden menoleh kemudian mengangguk, dia tahu bahwa istrinya itu minta di temani tidur. Namun, pekerjaannya ini sangat banyak sehingga tidak bisa ia tinggal.


"Ngantuk yah? kamu tidur dulu, sebentar lagi pekerjaanku selesai kok," bujuk Alden.


Amora mengangguk, dia merebahkan badannya sambil menarik selimut sampai sebatas dada. Amora memejamkan matanya yang terasa berat dan tak lama dengkuran halus pun terdengar.


Sedangkan Alden kembali mengerjakan pekerjaannya, dia menatap layar laptop dan sesekali mengecek berkasnya.


Beberapa jam kemudian akhirnya pekerjaan Alden selesai, dia merenggangkan ototnya yang terasa pegal setelah itu dia menatap putranya yang sedang meringkuk bak bayi.


"El ... El, Selama ini kau merasakan susu yang tidak manis tapi juga tidak hambar, dan saat kau diberi asi yang memang terasa manis kau heran dengan rasanya." ujar Alden sembari mendekati putranya dan membawa putra sulungnya itu ke gendongannya.


Alden membawa Elbert menuju brankar Amora, dengan perlahan dia meletakkan tubuh kecil Elbert tepat di sebelah Amora.


"Kalian adalah hadiah terindah yang tuhan berikan untukku, kalian pelitaku, cahaya hidupku dan apapun yang terjadi nanti aku akan berusaha melindungi kalian walaupun nyawaku taruhannya," ujar Alden.


Alden mengecup pelan kening sang anak, dan beralih mengecup pipi sang istri. Tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh sang anak.


Alden berjalan menjauhi brankar menuju jendela yang terbuka, dia mengeluarkan sebuah kotak rokok dari sakunya. Dia juga mengambil korek dan menyalakan rokok tersebut sambil menatap luar jendela.


"Abu-abu ... Apakah Lia juga memilikinya? tapi aku tidak melihatnya, bola matanya tetap berwarna coklat. Pertanda apa ini?" gumam Alden.


Alden menghisap rokok tersebut, kemudian menghembuskan asapnya. Dia bukan orang yang perokok, tetapi terkadang dia merokok ketika dia ingin.


Sementara itu di ruang bayi, Lia dan Lio tengah tertidur tetapi tak lama mereka berdua terbangun. Inkubator mereka bersebelahan yang mana membuat mereka saling menatap. Cahaya bukan menyorot mereka terlebih Lia yang marasa silau.


Lio menatap Lia dengan intens, seketika warna mata abu-abunya terlihat sangat jelas akibat cahaya bulan itu begitu pula dengan Lia warna matanya yang coklat terlihat jelas.


OEEK!


Lio kembali memejamkan matanya ketika mendengar rengekan Lia. sementara Lia, dia masih merasa silau akibat pantulan bulan itu apalagi inkubator Lia sangat dekat dengan jendela.


Lia menutup matanya sejenak dan kembali membukanya, Cahaya bulan itu masih menyorotnya hingga tak lama kemudian cahaya bulan itu menghilang begitu pula dengan warna mata Lia yang berubah menjadi warna hijau emerald di redupnya ruangan bayi tersebut.


______________


Mau up lagi gak nih? spam komen okay, jangan lupa tekan likenya yah🥰🥰🥰.