
Di saat yang lain sedang dalam keadaan tegang, berbeda dengan dua bocah yang sedang asik dengan mainan mereka.
"Jadi El jadi cicindelela?" ujar Elbert.
"Bukan cicindelela El, tapi cinderella." ujar Aqila sambil bangkit dari duduknya dan mendekat pada nakas untuk mengambil minum.
Gio yang berada disana hanya mengamati anak-anak itu bermain, dia di tugaskan menjaga kedua anak itu agar tidak membuat ulah.
"Tapi El kan laki-laki, kok jadi cicindelela?" ujar El kembali mengulang kesalahan yang sama.
Aqila menghela nafasnya, dia sangat haus ketika memberi tahu El semua kesalahannya dalam mengeja tulisan.
"Coba ikutin kakak! cin," tuntun Aqila.
"Cin," sahut Elbert.
"De," tuntun kembali Aqila.
"De," sahut Elbert
"Rella, Cinderella." tuntun Qila sambil duduk di hadapan Elbert yang duduk di karpet bulu.
"Lella, cicindelela," celetuk Elbert.
Aqila menghela nafas kasar, dia lelah mengajari Elbert cara bicara yang benar. Namun, dia tau Elbert hanya anak umur tiga tahun yang harus di jelaskan sesuai umurnya.
"Terserah El lah, cicindelela pun boleh," pasrah Aqila.
Gio terkekeh melihat interaksi putrinya dan juga Elbert, dia tahu bahwa sang putri akan sangat menyayangi Elbert.
"Hiks ... hiks ...," tangis Elbert.
"El kenapa sayang?" tanya Gio sambil mendekati Elbert.
"Mau mommy hiks ... mau mommy hiks ...," rewelnya.
Gio menggendong anak itu, doa tak tahu haris berbuat apa. Dia juga gak tahu apakah Amora telah sadar atau belum, sementara Alden pasti sangat sibuk mengurus istrinya.
"Ayah, El biasa Seperti itu karena mengantuk. Biasanya mommy akan memberikannya susu, dan menidurkannya." ujar Aqila sambil bangkit dan mendekati sang ayah.
Gio semakin bingung, apakah dia harus ke kamar Alden dan Amora untuk menyerahkan Elbert?
"Yasudah, ayah akan antarkan Elbert pada papa. Qila mau disini atau ikut?" tanya Gio.
"Qila ikut aja yah," ujarnya.
Gio menggandeng tangan putrinya dengan tangan kanannya sementara kanan kirinya menggendong Elbert.
Mereka keluar menuju kamar Alden dan Amora yang berada tak jauh dari kamar Aqila. Saat sampai di depan pintu kamar, Gio akan mengetuk. Namun dia urungkan karema mendengar seseorang sedang berbicara.
"Hahaha, Amora ... Amora ... aku kasian sama kamu, kamu kembali kedalam raga ini hanya untuk menuntaskan semua masalah dan disaat semua masalah sudah selesai, aku kembali lagi didalam raga ini," ujarnya.
Gio memandang Putrinya yang juga dapat mendengarnya, sementara Elbert hanya menatap Gio dengan bingung.
"Aku kembali Alden, cinta kita tak dapat lagi terpisahkan. Walau sebenarnya ini bukan ragaku, tetapi kau tentu tak bisa memilih anatara cinta barumu dan cinta lamamu yaitu aku," ujarnya kembali.
Gio segera membawa Aqila dari sana tetapi secara tak sengaja Aqila terjatuh hingga menimbulkan suara.
"Aduh ayah sakit," ringis Aqila.
"Cepat bangun kita harus pergi dari sini!" ujar Gio sambil menarik Aqila.
Aqila bangun dengan ringisan, Gio akan membawanya. Namun, sepertinya pergerakan mereka kalah Cepat.
"Apa yang kalian lakukan di dekat kamarku hah!"
Gio dan Aqila terdiam, mereka membalikkan tubuh mereka dengan perlahan. netra mereka menangkap sosok Amora yang tengah menatap mereka tajam.
"Ma-maaf Amora, Ta-tadinya aku ingin memberikan Elbert." ujar Gio sambil mengeratkan genggamannya pada sang putri.
Amora sudah tak lagi memakai infusannya, bahkan dia sudah rapih dengan bajunya yang terbilang berbeda dari biasanya.
"Siapa kamu?" tanya Amora menatap bingung Gio.
Gio mengerutkan keningnya, dia tak mengerti apakah Amora melupakannya dalam waktu yang sangat singkat?
"Kau melupakan aku? hahaha, jangan bercanda." ujar Gio sambil melangkah mundur.
Amora terkejut, dia menetralkan EKspresinya dan tersenyum menatap Gio.
"Hahaha, iya aku hanya bercanda. Baiklah kemarikan anak yang kau gendong itu," pinta Amora.
Gio menatap Elbert yang masih menyembunyikan kepalanya pada dada bidang nya, dia membisikkan sesuatu pada Elbert.
"El, lihat lah itu mommy memanggilmu," ujar Gio.
Elbert mengangkat kepalanya, kini matanya sudah sayu karena mengantuk. Dia menoleh menatap Amora yang juga tengah menatapnya.
"Mommy," seru Elbert.
"Iya, sini berikan anak itu." ujar Amora sambil merentangkan tangannya.
Seketika tubuh Elbert mendadak mematung, raut wajah Elbert seketika berubah seperti orang takut.
"Gak hiks ... butan! itu butan mom El hiks ... El mau mommy hiks ...," histerisnya.
Gio panik begitu pula dengan Aqila, Gio dan Aqila segera berlari menaiki lift untuk menghindari Amora yang tampak sangat asing menurut mereka.
"HEI! MAU KEMANA KALIAN!" teriaknya.
Gio dan Aqila memasuki lift, Gio dengan cepat memencet tombol lift. Dengan jari yang gemetar, Gio beberapa kali memencet tombol itu.
"Cepat ayah! dia mengejar kita!" ujar Aqila.
Akhirnya pintu lift itu akan tertutup, tetapi secara mengejutkan sebuah tangan menghalangi pintu lift yang sebentar lagi akan tertutup.
"Wah, mau kemana kalian? pasti kau menguping kan tadi? kau kira aku bodoh hah!" ujarnya dengan nada yang sangat dingin.
"Biarkan kami menemui Alden," ujar Gio.
Amora tertawa, Elbert yang mendengar suara ketawanya seketika menangis kencang.
"Hiks ... hiks ... ketawanya celem ih! hiks ...," ujarnya yang mana membuat emosi Amora bertambah.
Amora merebut paksa Elbert dari gendongan Gio, setelah berhasil dia mengambil Elbert dan membawanya menjauh dari Gio dan Aqila.
"HIKS HUAAAA, NDA MAU! EL NDA MAU!" teriak El dan berusaha untuk lepas dari gendongan Amora.
Gio akan mengejarnya, tetapi Aqila menahannya.
"Ayah hiks ...," isak Aqila.
Gio mensejajarkan dirinya dengan Aqila, dia memegang kedua bahu anaknya yang bergetar hebat.
"Qila lihat ayah, Qila ke bawah ya ... kasih tau papa dan yang lainnya apa yang dia bicarakan tadi, ayah mau tolong Elbert," ujar Gio.
"Aqila takut naik lift ayah!" ujar Aqila
"Aqila mau tolong El kan? kalau pakai tangga akan sangat lama sayang, untuk kali ini saja buang ketakutanmu." ujar Gio sambil mencium kening anaknya dan segera keluar dari lift.
Gio langsung memencet tombol dan mengabaikan teriakan Aqila yang memanggilnya. Untuk saat ini dia harus menolong Elbert.
Gio berlari ke arah kamar Amora, dia langsung masuk saat melihat pintu itu terbuka. Namun, dia tak menemukan Elbert disana.
"Dimana mereka?" gumam Gio.
"HUAAAA DADDY!" teriak El.
Gio yang mendengarnya langsung mengedarkan pandangannya, betapa terkejutnya dia melihat Amora yang akan menjatuhkan Elbert pada pagar pembatas. yang berada di sebrang kamar Amora.
"AMORA! JANGAN GILA KAMU!" teriak Gio.
Amora menatap Gio dengan senyum liciknya, dia kembali menoleh menatap Elbert yang tengah ketakutan.
"Aku? Gila? tentu saja tidak! karena anak ini Alden lebih memilih mengabaikanku, dan karena anak ini pula Alden berani menolak keinginanku," ujarnya Amora.
Gio langsung mendekat dan berusaha untuk membujuk Amora, dia menatap wajah Amora yang seperti menaruh dendam pada Elbert.
"Amora, cepat jauhkan Elbert dari sana. Jika dia jatuh putramu itu akan meninggal," ujar Gio.
Amora tertawa, dia masih mendudukkan ELbert pada pagar pembatas dengan hanya memegang kerah baju depan anak itu. Wajah Elbert kini memerah karena kesulitan nafas.
"Itu yang aku mau! aku hanya ingin hidup dengan bayi didalam kandunganku dan juga suamiku!" sahut Amora.
"Elbert juga putramu!" sentak Gio.
"Bukan! hahaha, dia bukan putraku! karena saat Amora hamil bocah ini, aku belum mengambil raganya. Berbeda dengan bayi yang ku kandung saat ini, ini bukti buah cintaku dengan Alden." tuturnya sambil menatap tajam Gio.
Gio mengerutkan keningnya bingung, dia tak paham dengan apa yang Amora katakan. Alden belum memberitahukannya apapun padanya kecuali tentang trauma Amora.
"Apa maksudmu! Kau adalah Amora! jika kau bukan Amora, jadi kau siapa Hah!" sentak Gio.
"Aku ... aku adalah Vani, kekasih yang paling di cintai Alden. Tubuh ini, awalnya aku memasukinya agar bisa kembali dengan Alden untuk yang terakhir kali. Namun, aku sudah nyaman." ujarnya sambil tersenyum jahat.
Gio mengerutkan keningnya, dia tahu siapa Vani tetapi sebelumnya dia tidak pernah bertemu. Saat itu dia sudah mendapat kabar bahwa tunangan Alden meninggal dan itu adalah Vani.
"Sejak kapan? sejak kapan kamu memasuki raga ini?" tanya Gio sambil menahan emosinya.
"Sejak Amora koma saat melahirkan bocah ini, aku memasuki raganya. Namun, aku kira saat itu Alden telah menyayangi raga ini. Ternyata aku salah, Alden bahkan tak pernah menemuinya sejak mereka menikah. Selama tiga tahun aku berusaha membuatnya mencintaiku tetapi tetap saja gagal. Maka dari itu aku menyerahkan raga ini kembali pada Arianha Amora dengan nama lain Keisya Amora." terangnya sambil menatap Elbert yang sudah memejamkan mata.
"Sesuai keinginanku, Amora berhasil membuat Alden mencintainya. Untuk itu aku kembali untuk merebut raga ini, dan akhirnya aku akan hidup bahagia kembali bersama kekasihku," ujarnya.
Gio terkejut mendapati fakta itu, dia berjalan mendekati raga Amora yang kini di tempati oleh jiwa Vani secara perlahan.
"Diam! aku bisa saja langsung menjatuhkan anak ini! walaupun ini lantai dua, tapi kau tau apa yang akan bocah ini alami ketika dia terjatuh dengan posisi kepala di bawah? paling ringan dia koma, dan terberatnya dia mati." ujarnya sambil terkekeh.
Gio nampak melirik belakang tubuh Amora, dia kembali menatap Amora yang juga tengah menatapnya.
"Alden akan sangat membencimu!" ujar Gio.
"Hahaha, benarkah? pasti dia tidak akan memenjarakan raga ini bukan? karena jiwa ku yang menempati bukan Amora," ujarnya.
Vani, dia adalah jiwa yang memasuki tubuh Amora. Merebut paksa jiwa Amora dan mengambil raganya. Dia mencintai Alden dan sudah sangat terobsesi pada pria itu.
Vani menjatuhkan Elbert yang mana menimbulkan suara hantaman yang kuat dan juga mengundang teriakan dari bawah. Dia tersenyum puas, sementara Gio mematung.
BUGH!
Tubuh Amora yang di masuki jiwa Vani terjatuh akibat pukulan pada tengkuknya, dia pingsan di pelukan seseorang.
"Tuan Gio!" sentaknya.
"A-aku gagal menyelamatkannya win!" histeris Gio sambil menutup wajahnya.
Erwin sedari tadi ada dibelakang Amora, dia keluar dari kamar yang berada di belakang Amora. Saat dia keluar dari kamar tersebut, dia terkejut melihat apa yang ada di depannya.
"Hiks ... El hiks ... El!" histeris Gio.
Erwin tertunduk, ada rasa sakit di ulu hatinya saat mendengar hantaman yang begitu keras tadi. Dia juga terlambat menyelamatkan anak tuannya, dan untuk saat ini dirinya harus mengamankan Amora.
Gio terduduk, dia menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak nama Elbert. Sudah dipastikan Elbert tak mungkin selamat, bunyi itu sangat keras.
"Ayah Gio, El juga sayang cama ayah Gio,"
Kata-kata Elbert terngiang dipikirannya, dia sangat kalut saat ini.
"Hiks ... ayah Gio juga sayang El hiks ...,"
____________________
Hayolohhhh pada takut gak? tengang gak?ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Spam komen dibawah 😉