Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Bali


Bandara.


Keluarga Miller dan Wesley berkumpul di bandara, mereka akan terbang ke bali dengan satu jet.


"Loh, Eveline ikut?" heran Queen sambil menatap Eveline.


"Heheh iya tant, kebetulan Aira tem.en Eveline SMA. Gak papakan aku nebeng tant?" ujar Evelin.


"Gak papa dong," sahut Queen.


Elbert, bocah itu tertidur di gendongan Arjuna. Dia bahkan tak mau disentuh oleh Alden maupun Amora saat mereka bertemu tadi dan berakhir tidur di gendongan Arjuna.


"Mas, El kayaknya masih marah." ujar Amora sembari menatap Alden dengan tangannya yang sibuk menepuk tubuh Lio yang tertidur di gendongannya.


Alden menoleh, dia mengelus bahu sang istri dengan satu tangannya Sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menggendong tubuh Lia.


"Sudahlah sayang, putra kita hanya perlu waktu. Setelah dia merasa tenang, aku yakin dia akan kembali manja pada kita." bujuk Alden.


Amora mengangguk pasrah, bahkan dia tak tahu jika Elbert kabur dari Mansion Wesley sebab Alden yang tak memberitahukannya.


"Ayo, jet sudah siap," ujar Jonathan.


Mereka mengangguk dan mengikuti Jonathan yang sudah berjalan lebih dulu dengan Jeslyn di sebelah nya.


***


"El mau susu nak?" tanya Amora lembut pada Elbert yang sudah bangun dan terdiam sambil menatap jendela.


"Nda, cucuna buat ci kembal aja," tolak Elbert tanpa melihat Amora.


"Si kembar sudah minum susu, abang El belum minum susu," bujuk Amora.


"Nda mau, nanti di malahi lagi tama mommy," tolak Elbert kembali.


Amora merasakan sakit pada hatinya saat sang anak masih mengingat kemarahannya, tak terasa air matanya menetes menatap sang anak yang sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.


"El udah gak sayang mommy yah," tanya Amora.


Elbert yang memang berada di pangkuan Arjuna menoleh, dia mendapati sang mommy yang menangis dan duduk tak jauh darinya.


"El cayang mommy, jadina El nda mau buat mommy malah," ujar anak itu.


Amora menatap Alden, dia tak kuat jika sang anak cuek kepadanya seperti itu.


"Elbert gak boleh begitu, mommy kasih EL susu karena perhatian pada El yang belum minum susu hari ini. Cepat minta maaf sama mommy,l biar gak jadi malin kundang kamu," ujar Arsel yang duduk di sebelah Arjuna.


"Maling kandang?"


"Malin kundang El bukan maling kandang!" kesal Arsel.


Ucapan Elbert menimbulkan gelak tawa mereka kecuali Amora dan Alden.


"Kalau El gak minta maaf terus jadi malin kundang, bisa di kutuk jadi batu loh!" ancam Arsel.


Elbert tampak menggeleng keras, dia turun dari pangkuan Arjuna dan berjalan kecil menghampiri sang mommy.


"Mommy ...," panggil Elbert.


Amora menatap anaknya, dia menyerahkan Lio pada Alden dan membawa Elbert ke pangkuannya.


"Kenapa sayang," tanya Amora.


"Mommy janan nanis, El nda mau dadi batu. Nanti EL nda bica jadi pakboy ladi." ujar Elbert sembari menghapus air mata sang mommy dengan tangan mungilnya.


Amora tidak tahu apakah dirinya harus menangis ataukan tertawa. DIa terharu akibat permintaan maaf putranya, tetapi ucapan cadel sang putra membuatnya ingin tertawa.


"Ehm ... Mommy maafin El." ujar Amora sambil memeluk putranya.


Elbert melepas pelukannya, dia mengambil botol susu yang tadi Amora sodorkan padanya. Dia mengarahkan dot itu pada bibir mungilnya.


"Tadi katanya gak mau, huu ...," ledek Arsel.


Plop!


"Silik aja cih om! ili? bilang boc!" kesal Elbert dan kembali meminum susunya dan menghampiri Arjuna.


"Ndong!" pinta Elbert pada Arjuna dan segera Arjuna membawa keponakannya itu ke pangkuannya.


Arjuna bukan pria yang menyukai anak kecil, tetapi Elbert berhasil mengambil hati pria itu dengan tingkah gemasnya.


dua jam kemudian, kini mereka sudah mendarat di bali. Tetapi Erwin dan Rey belum memperbolehkan mereka keluar yang mana membuat mereka bingung.


"Kenapa sih Rey?" heran Arthur.


"Maaf tuan, di bawah banyak sekali awak media. sepertinya berita kedatangan kita sudah sampai ke telinga mereka," terang Rey.


Mereka hanya melihat Erwin dan Rey keluar lebih dulu untuk mengurus kerumunan itu. Sementara Alden dan Amora tengah membenarkan gendongan si kembar.


"Tau gini mending ajak pengasuhnya yang!" gerutu Alden.


"Napa sih! gak ikhlas banget jadi bapak! sekali-kali kek jadi hot daddy sejati, masa suka buatnya doang!" bukan Amora yang menyahut melainkan Arthur yang menatap sinis Alden.


Walaupun mereka membawa stroller si kembar, tetapi keadaan yang tak memungkinkan untuk menaruh si kembar di stroller nya sehingga harus di gendong.


"Sudah aman Win?" tanya Jonathan ketika melihat Erwin yang kembali masuk ke dalam jet dengan keadaan yang berantakan.


"Aman gimana tuan, si Rey aja sampe di tarik ke kerumunan bahkan tu anak gak bisa balik kesini. Inilah akibatnya jika mempunyai wajah terlalu tampan, tapi mungkin untuk tuan Arsel bisa lewat tanpa mereka cegah," terang Erwin.


Arsel tampak berpikir, tetapi sedetik kemudian dia membulatkan matanya dan menatap Erwin tajam.


"EH! UPIL DUGONG! MAKSUD LU, GUE JELEK GITU? KURANG AJAR LU, MINTA DI TABOK KAYAKNYA MUKA LU!" teriak Arsel.


Oeekk


Oeeek


Tangisan si kembar pecah akibat terkejut mendengar teriakan Arsel yang mana membuat Alden kesal dan menendang kaki Arsel.


"Anak gue nangis bontot!" kesal Alden.


"Sakit tau!" ujar Arsel sembari mengusap kakinya.


kini keadaan jet semakin riuh akibat tangisan si kembar. Bahkan Amora tak bisa mendiamkannya, begitu juga dengan Alden.


"Hah ... hah ... hah. Tuan, polisi sudah datang. Kita bisa keluar sekarang," ujar Rey saat masuk dengan keadaan yang tak bisa dibilang baik.


"Kamu abis di nodai ya Rey?" tanya Arsel.


Rey menatap tajam Arsel, mereka sedari dulu sudah seperti tom and jerry tak ada kata tenang jika mereka sudah berdebat.


Akhirnya mereka keluar dari sana dengan tenang, bahkan kini sudah ada beberapa mobik yang menunggu mereka.


"El mau ikut satu mobil dengan mommy, atau mau sama om Arjuna?" tanya Alden.


"Tama om Juna aja, soalna ci kembal belicik," jawab Elbert.


"Ya namanya bayi pasti berisik El," heran Alden.


Lima mobil itu berjalan beriringan, mereka akan menuju hotel.


***


Sementara itu.


"kakek gak setuju kamu dekat dengan keluarga Wesley!" ujar Jacob sambil menatap tajam Leon.


"Oh gitu, apa selama ini aku masih kurang menjadi boneka untuk kakek? prestasi, kejuaraan dan nama baik ... apakah itu masih kurang?" ujar Leon.


Jacob kesal, tadinya dia merasa jika Leon hanyalah anak kecil yang hanya bermain-main dengan mengatakan akan menikahi seorang gadis di masa depan. Tapi ia tak menyangka jika Leon mempunyai pikiran serius pada anak seusianya.


"Suatu saat juga kamu pasti akan melupakan niatmu," ujar Jacob.


"Tidak! aku selalu mengingatnya, mama pasti mau aku menikahi Zanna. Karena dengan begitu mommy Amora juga akan menjadi mommy ku sesuai apa yang mama mau," bantah Leon.


Jacob bangkit dari duduknya, dia mengepalkan tangannya menyalurkan emosinya.


"Oke, kakek akan izinkan dengan satu syarat. Tinggalkan cita-citamu menjadi dokter, dan ikut pelatihan militer. Bagaimana?" tanya Jacob.


Leon tampak terkejut, pertanyaan Jacob mempertaruhkan keinginannya. kakek nya tidak pernah main-main dalam perkataannya, mana yang harus ia pilih?


"Heh ... sudah ku duga, tentu saja kau akan pilih cita- ci ...,"


"Zanna, aku memilih Zanna dan akan mengikuti keinginan kakek untuk masuk pelatihan militer." sela Leon sambil mendongak menatap Jacob.


Jacob terkejut, dia tak menyangka bahwa impian yang cucunya inginkan dia relakan demi bayi perempuan yang belum mengerti apapun.


"Leon, kau masih 7 tahun. Masih banyak waktu untuk mengambil keputusan bukan? oh, ayolah ... kau hanya anak kecil yang berpikiran anak-anak," sinis Jacob.


"Apa kakek lupa siapa yang me-hack situs asing yang masuk kedalam situs keamanan perusahaan mu? apa kau juga lupa siapa yang telah membongkar para korupsi di perusahaanmu? apa kau juga lupa siapa yang merancang anti virus perusahaanmu yang bahkan hacker paling jenius disini tak bisa memecahkannya? Aku ... hanya aku seorang yang melakukan hal itu!" sarkas Leon.


"Oh gak cuma itu aja, biar pun aku masih berumur 7 tahun setidaknya aku menghargai perasaan perempuan tidak seperti dirimu. Maaf kek, bukan aku ingin bertindak tidak sopan pada mu. Tetapi kata-katamu barusan sangat merendahkan diriku seakan-akan aku hanyalah anak kecil yang tak memiliki kemampuan apapun. Karena aku menghargai perempuan, maka dari itu aku menghargai keinginan mama," jelas kembali Leon.


"Leon! Becoming a doctor is your dream!" sentak Jacob


"Leon! menjadi dokter adalah impianmu!"


Leon terdiam, dia mengalihkan pandangannya dari Jacob. Namun, sedetik kemudian dia kembali menatap Jacob dengan sorotan keyakinan dari matanya.


"Yes, it is my dream ... but ... My dream is to make my mother happy, not to build my ego," terang Leon dan langsung pergi meninggalkan Jacob yang masih terdiam.


"Ya, itu adalah mimpi ku ... tapi ... Impianku adalah membahagiakan ibuku, bukan membangun egoku,"


Jacob terdiam, dia menduduki dirinya dan menatap kepergian Leon dengan pandangan yang sulit di artikan.


"You left your dream just because of the wish of a dead person? hahaha, ​​that's really sad," gumam Jacob.


"Kau meninggalkan mimpimu hanya karena keinginan dari orang yang sudah tiada? hahaha sungguh miris,"


___________


*Rey, tangan kanan Arthur yang Arthur angkat sebagai anak. (Masih ingat kan?🤭🤭 kalau yang bacanya mendalami banget, pasti masih ingat😉)