
Saat ini di ruangan Alden hanya ada Amora dan Alden sedangkan yang lain sudah keluar dari ruangan ini karena urusan masing-masing.
Amora yang sedang duduk di samping brankar Alden menatap suaminya yang tengah memikirkan sesuatu. Tangannya terulur untuk menyentuh tangan suaminya.
"Ada apa?" tanya Amora.
Alden menatap wajah cantik istrinya, ketakutan dalam hatinya sedikit terobati karena melihat wajah sang istri. Dia takut, dirinya takut jika nanti Arthur akan mengambil kembali putrinya dan memisahkan dia denhan istri beserta anaknya.
"Takut," lirih Alden.
Amora mengelus rahang suaminya, dia tak mengerti mengapa Alden mengatakan Takut.
"Takut kenapa?" tanya Amora dengan lembut.
Alden menggeleng, matanya berkaca-kaca ketika mengingat istrinya yang sudah kembali pada keluarganya. Ketakutan melanda hatinya, dia tak tahu bagaimana jika Amora kembali pada keluarganya dan meninggalkan dirinya.
"Apa kau takut aku kembali pada keluargaku?" tebak Amora.
Alden mengangguk lirih, dia memegang tangan Amora yang mengelus rahangnya. Dia menurunkan lengan itu dan menggenggamnya erat.
"Aku pasti akan kembali pada keluargaku Al," ujar Amora.
Alden yang mendengarnya seketika tak dapat membendung air matanya, entahlah dirinya saat ini sangat cengeng.
"Hiks ... aku sudah menduganya hiks ... kau pasti akan kembali pada keluargamu, apalagi kondisi kakiku yang seperti ini. Pasti aku akan menyusahkanmu," ujar Alden.
Amora panik, dia tak menyangka bahwa suaminya akan menangis. Dia juga tak mengira bahwa Alden sangat cengeng jika sakit, dia tak pernah tau jika hati suaminya kini sedang sensitif.
"Hei, bukan itu maksudku! Mas Al ngomongnya yang bener dong! keadaan mas itu gak menyusahkan kok, kaki mas juga pasti sembuh!" ujar Amora.
Alden menatap istrinya, dia semakin menangis ketika mendengar perkataan Amora. Entah, rasanya saat ini dirinya hanya ingin menangis.
"Huft ... mas! aku akan kembali ke keluargaku, itu pasti. Tapi, aku tak akan meninggalkanmu. Mereka keluargaku, sementara kamu suamiku. Mereka juga tidak memiliki hak untuk membawaku karena saat ini aku telah menjadi istrimu," ujar Amora.
Alden menghentikan tangisannya, dia menatap wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum menatapnya.
"Benarkah?" antusias Alden.
Amora bingung dengan suaminya, apakah karema kecelakaan itu suaminya berubah menjadi pribadi anak kecil? kenapa sifatnya sangat berubah drastis.
"Kamu kenapa sih? kok berubah gini?" tanya Amora bingung.
Alden menggeleng, dia menghapus aur matanya dan menepuk sampingnya mengisyaratkan agar Amora baring di sampingnya.
Amora hanya menuruti keinginan Alden, dia segera bangkit dari duduknya dan memposisikan dirinya berbaring di sebelah Alden.
Alden langsung membaringkan tubuhnya, dia memeluk istrinya dengan sayang. Dia terus mengecup puncak kepala istrinya yang dihadiahi tatapan tajam Amora.
"Ih! kamu lagi kenapa sih! dari tadi kelakuannya aneh terus!" kesal Amora.
Alden tak menghiraukan kekesalan istrinya, tangannya mengelus perut buncit sang istri. Dirinya sedang ingin selalu menempel pada istrinya. Dia juga tak tahu apa alasannya.
Alden menelusupkan kepalanya di leher sang istri, entah mengapa dia sangat menyukai aroma istrinya tersebut.
"Mas! kamu aneh tau gak!" kesal Amora.
Cklek.
Atensi Amora mengarah ke pintu, dia melihat seseorang yang baru saja masuk. Ternyata orang itu adalah ayah mertuanya.
"Daddy!" seru Amora sambil mendorong Alden.
Alden meringis sakit ketika kakinya tak sengaja di senggol oleh Amora, dia menatap istrinya yang sudah duduk.
"Ash... Sakit yang! ringis Alden.
Amora menghiraukannya, dia turun dari ranjang dan mendekati Jonathan.
"Mommy mana dad?" tanya Amora.
"Mommy sedang bertemu dengan Zidan, daddy sengaja memberikan waktu mereka berdua." ujar Jonathan sambil berjalan menghampiri Alden.
Amora terkejut, dia tak mengira bahwa Zidan akan mau bertemu dengan ibu mertuanya. Dari tatapan Zidan saat bertemu Jonathan sudah memberikan tatapan tak suka, dan sekarang Zidan bertemu dengan Jeslyn?.
"Kenapa kamu?" tanya Jonathan ketika melihat anaknya itu sedang menahan sakit di kakinya.
"Kakinya sakit dad!" ujar Alden.
Amora yang mendengar itu menghampiri suaminya, dia rak sadar jika tadi dia menyenggol kaki suaminya.
"Sakit banget yah? maaf tadi aku gak sengaja," ujar Amora merasa bersalah.
Jonathan memukul kaki Alden yang kana membuat pria itu teriak.
Amora menatap Jonathan tak percaya, dia tak mengira bahwa Jonathan akan tega dengan putranya.
"Dia itu cuma akting, jangan kau hiraukan dia. Bahkan dia bisa menahan sakit saat lukanya di jahit tanpa obat bius," ujar Jonathan.
Amora meringis pelan, dia tak tau fakta itu. Namun, Amora tetap saja tidak tega.
"Tapi dad, mas Al kesakitan. Amora panggil dokter aja yah," ujar Amora.
"Gak usah, nih anak kalau sakit emang manja! udah gede juga, kebiasaan sejak kecil gak pernah di hilangin!" kesal Jonathan.
Alden menatap tajam daddynya, dia hanya ingin modus dengan istrinya saja apa itu salah. Dia hanya ingin bermanja ria dengan istrinya mumpung putranya sedang tidak berada disini.
"Lain kali kalau suami kamu kayak gini lagi, gak usah di turutin. Kalau di turutin malah ngelunjak," ujar Jonathan sambil duduk di tepi brankar Alden.
Amora menatap kagum ayah mertuanya, dia tak mengira bahwa pola pikir ayah mertuanya membuatnya kagum.
"Wah, kalau aja gue transmigrasinya ke dalam raga mommy. Punya suami hot daddy begini," ucap Amora dalam hati.
Tersadar dari kehaluannya, Amora menepuk keningnya. Dia segera menyingkirkan kehaluannya karena dia sadar bahwa dirinya telah memiliki suami.
"Sadar keisya! mertua lu itu!" ucap Amora dalam hati merutuki kebodohannya.
Memang tak dapat di pungkiri jika Jonathan masih sangat tampan, tetapi Alden juga duplikatnya hanya saja wajahnya versi muda sang daddy.
Jonathan dan Alden mantap heran Amora yang sedang bersikap aneh, wanita itu menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Alden.
Amora terkejut, dia menatap suaminya dan juga daddynya secara bergantian.
"Suami gue juga cakep, apa nanti kalau udah seumuran daddy bisa juga kan dia jadi hot daddy. Nanti kalau banyak yang naksir suami gue gimana dong? Amora! kenapa gue nempatin raga lu yang selalu dikekelingi pria tampan!" gerutu Amora dalam hati.
"Yang!" sentak Alden yang mana membuat Amora terlonjak kaget.
plak!
"Panggil istri tuh yang lembut, kaget kan istrimu. Bayi kamu juga bosa kaget tuh di dalam perut." ujar Jonathan sambil memukul kaki sang anak.
Alden meringis, dia kesal dengan daddynya yang selalu menepuk kakinya yang sakit.
"Dad! aku lagi patah tulang loh ini!" kesal Alden.
"Cuma retak aja sampe dilema banget!" sahut Jonathan.
Alden semakin kesal, dia menatap istrinya yang tengah menatap perdebatan mereka.
"Yang! panggilin mommy gih, suruh ambil nih suaminya. Tambah stres aku kalau diisengin daddy terus!" pinta Alden.
"Tadikan daddy bilang, mommy lagi bicara sama kak Zidan jadinya ...,"
"Apa!"
Ucapan Amora terpotong oleh Alden yang terkejut, sepertinya tadi pria itu tak terlalu mendengarkan ucapan Jonathan.
"Mommy ketemu Zidan? mana dia aku mau ketemu!" ujar Alden sambil menyingkirkan selimutnya.
Jonathan menatap putranya dengan sinis, dia bangkit dari duduknya tanpa lepas pandangan dari sang putra.
"Bisa jalan? lupa kalau lagi gak bisa jalan huh?" sinis Jonathan.
Alden melihat kedua kakinya yang sedang di gips, dia kembali menatap Jonathan untuk meminta bantuan.
"Dad, Al mau ketemu sama Zidan. Bantu Al yah," pinta Alden.
Amora mengambil kursi roda yang berada di pojok ruangan, dia membawa kursi roda tersebut ke depan Jonathan.
"Kalau kamu pakai kursi roda, nanti ribet harus bawa infusan kamu. Belum lagi tuh selang oksigen," ujar Jonathan.
Alden menatap istrinya, dia ingin melihat kakaknya. Amora juga menyetujui ucapan daddynya.
Cklek!
Pintu kamar rawat Alden kembali terbuka, mereka melihat siapa yang baru memasuki ruangan itu.
"Nah, itu Zidan." ujar Jonathan sambil menghampiri istrinya yang menggandeng lengan Zidan.
Alden sontak membulatkan matanya, dia terkejut melihat Zidan yang ternyata adalah pria beberapa waktu lalu bersama istrinya dan juga putranya.
"Dia Zidan?! dia laki-laki yang waktu itu di rumah sakit itu kan! yang kamu bilang suami mendiang teman kamu!" kaget Alden.