
"Ngapain daddy kesini?" tanya Zidan menatap pria yang tengah meminum teh di depannya.
Ctak!
"Bisakah kau sopan? jauh-jauh aku datang kesini untuk bertemu cucuku, dimana dia?" ujarnya sembari kembali menaruh cangkir tehnya.
Zidan memutar bola matanya, setelahnya doa menatap sengit ke arah pria paru baya yang duduk di sofa sebrangnya.
"Kau mau memerintahkan putraku apalagi hah? kau ingin dia menjadi juara kelas, siswa teladan, dan penembak jitu. Dia sudah melakukan sesuai apa yang kau perintahkan, lalu ... sekarang kau ingin putraku seperti apa lagi hah!" kesal Zidan.
"Santailah sedikit nak, daddy tidak akan menuntut apa-apa lagi. Hanya saja daddy ada rencana ingin menjodohkan Leon dengan cucu sahabat daddy dia ...,"
"Terlambat!" seru Zidan memotong ucapan pria itu yang ternyata adalah daddynya yang bernama Jacob.
Jacob tampak mengerutkan keningnya, dia menatap sang anak dengan bingung.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Apa kau tau sekarang cucu pergi kemana saat ini? dia pergi ke rumah calon mertuanya, dia akan meminta bayi yang masih di kandungan untuk menjadi istrinya kelak. Aku rasa, keinginanmu tidak akan pernah terpenuhi jika soal menjodohkan anakku. Karena akulah ayahnya dan akan menjadi benteng percintaannya!" terang Zidan.
Jacob terkekeh, dia menatap sang anak dengan tatapan mengejek. Lalu dia mengeluarkan sebuah ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, lacak keadaan cucuku. Pastikan dia pulang saat kau bertemu dengannya," ujarnya.
"Hei pak tua, kau tidak mungkin bisa menyuruh anak buah mu untuk menangkap putraku. Saat ini dia pasti sudah sampai, dan lagi wilayah keluarga Wesley tidak bisa sembarangan orang yang masuk," ujar Zidan dan menatap remeh Jacob.
"Wesley?" ujar Jacob sambil membulatkan matanya.
Zidan berdiri, dia menepuk jasnya yang berwarna biru navy itu. Netranya melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Yap, Wesley ... Marga suami mantan daddy. Daddy tahukan jika membuat keributan di wilayah Wesley, mereka pulang hanya tinggal nama. Kalau tidak masuk penjara, yah ... paling koma. Oh satu lagi yang perlu daddy tau, istri dari Alden Leon wesley merupakan adik dari Arjuna ... tunangan putri kesayanganmu. Aku pamit," ujarnya setelah itu berlalu dari hadapan Jacob yang terkejut mendengarkan penjelasannya.
Jacob menahan amarah, seperti menyimpan dendam terdalam pada keluarga Wesley. Namun, tak ada yang tau mengapa dia sangat tidak menyukai keluarga Wesley.
"Tidak mungkin ...," lirihnya.
***
Suara Helikopter memasuki pendengaran Elbert, bocah itu langsung keluar mansion dan memandang takjub Helikopter yang terparkir rapi di taman mansion.
"Waaahh pecawat," binarnya.
Leon turun dari Helikopter, dia nampak mengerutkan kening ketika melihat Elbert mendekatinya.
"Kakak bawa pecawat kecini?" ujarnya.
"Pesawat?" bingung Leon.
"Iya, itu pecawatna. Tapi kok kecil?" jawab Elbert.
Leon membalikkan tubuhnya, dia bingung dengan pesawat yang di maksud Elbert padahal dirinya memakai Helikopter.
"Itu bukan pesawat, itu namanya Helikopter." terangnya sembari membalikkan tubuhnya menatap Elbert.
"Helicoptel?" tanya Elbert.
"Kau bisa menyebutnya Heli agar tak ada kecadelanmu disana," jengah Leon.
Elbert memandang tak suka ke arah Leon, dia menatap sengit leon yang sudah beranjak dari hadapannya.
"Heli? emang dia kila anying, heli guk .. guk ... guk kemali gua gebuk!" seru Elbert sembari memasuki mansion.
Amora dan Alden menatap Leon yang tengah menghampiri mereka disertai dengan senyum tipis.
"Kau sudah sampai rupanya, ayo masuk kita makan siang." ajak Amora sembari merangkul Leon dan berjalan memasuki mansion.
Sedangkan Alden hanya menatap tak percaya dengan Leon yang mengambil perhatian istrinya, dia segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Zidan.
"Ha ..,"
"Eh dugong! lu ngapain nyuruh anak lu kesini hah! Lu tau? anak lu ngambil perhatian istri gue!" ujar Alden memotong seruan Zidan.
"Kamu ngatain kakak kamu sendiri?" heran Zidan.
"Pokoknya lu kesini sekarang! Ambil balik anak lu!" kesal Alden setelah itu menutup telponnya tanpa mendengar balasan dari Zidan.
Alden langsung berjalan masuk, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar sang anak yang memanggilnya.
"Daddy!" panggil Elbert.
Alden menoleh, dia langsung menggendong sang anak dan membawanya masuk. Kini raut wajahnya sangat kesal, apalagi ketika sampai di meja makan dan menatap istrinya yang tengah mengambilkan lauk ke piring Leon.
"Yang! suamimu aku atau dia sih?" kesal Alden sembari mendekati istrinya.
"Syutt! kamu bisa diem gak sih!" ujar Amora.
Alden merengut, dia menduduki Elbert tepat di sampung Leon sementara dirinya disamping sang istri.
"Leon mau lauk apa lagi sayang?" tanya Amora yang di balas tatapan mendelik dari Alden.
"Zeyeng ... Zeyeng ...," ledek Alden.
Amora tak menaggapi kekesalan suaminya, dia menatap Leon yang asik makan tanpa perdulikan Alden yang tengah menahan kekesalannya.
"Sudah mom, ini sudah banyak." jawab Leon sembari kembali menyuap makanannya.
"Mom?" beo Alden.
"Hah ... bisakah om tenang? tidak ada salahnya kan aku panggil istrimu mom, dari pada aku panggil wife ... kau akan marah padaku bukan?" ujar Leon dengan tenang.
Alden tampak menggenggam sendoknya dengan erat, dia menatap istrinya dengan memelas.
"Yang, pengen rasanya ku congkel ma ...,"
"Congkel apa hah?!" sengit Amora yang mana membuat nyali Alden menciut.
Alden memakan makanannya, dia berusaha untuk tak memperdulikan Leon yang berada di dekatnya. Sesekali netranya mencuri pandang pada sang istri yang tengah memperhatikan Leon. Padahal Amora tengah menatap putranya yang sedang belajar makan sendiri.
Setelah selesai makan, Leon mencoba untuk mengajak Alden mengobrol. Dia ingin membicarakan tentang niatnya yang mendaftar sebagai calon mantu.
"Mantu? kami kan belum memiliki anak perempuan?" bingung Amora.
"Benar, jika nanti bayi mommy perempuan ... saat waktunya tiba nanti aku akan menikahinya," tetang Leon.
Alden menatap tak suka pada Leon, dia tak ingin putrinya menjadi istri dari keturunan Jacob. Dia takut sifat Leon tak jauh beda dengan pria itu yang mainkan hati perempuan.
"Aku tidak setuju!" sentak Alden.
"Mas!" tegur Amora.
"Sampai kapan pun aku tidak setuju jika keturunan Jacob menjadi menantuku! apa kau bisa jamin dia tidak seperti Jacob hah?" tanya Alden sembari menatap istrinya.
Amora menatap suaminya, dia menoleh menatap Leon yang tampak tenang dengan semuanya.
"Aku dan Jacob berbeda ibu dan ayah, pasti sifat kami tidak mirip. Bisa saja sifatku mirip dengan kamu kan? ayolah ... mommymu adalah nenekku, apa kau lupa?" ujar Leon dengan tenang.
Jdeerr!
Alden melupakan itu, dia lupa bahwasanya Leon adalah ponakannya. Sementara Amora sudah menahan tawanya. Berbeda dengan Elbert yang saat ini tengah turun dari kursinya dan kabur meninggalkan ruang makan itu.
Si kecil itu tengah berjalan menaiki tangga, dengan badannya yang lumayan bulat akhirnya dia sampai di lantai dua. Netranya tengah mencari tujuannya saat ini.
"El mau cucu," gumamnya.
Elbert berjalan menuju pintu yang ukurannya agak lebar dari yang lain, tangannya berusaha untuk mencapai gagang pintu tersebut.
"Tinggi banget cih! El cucakan jadina!" kesalnya.
Tak kehabisan akal, Elbert mencoba melompat demi menggapai gagang pintu itu.
Cklek!
"Yes! belhasil!" serunya.
Elbert berjalan masuk ke ruangan tersebut, dia menatap ruangan yang berwarna pink itu dengan berbinar.
"Waaah, kamalna baguc,"
Cklek!
Elbert terkejut, dia menoleh menatap pintu yang sudah tertutup. Kaki mungilnya segera menuju pintu dan berusaha membukanya.
"Hiks ... tetunci hiks ... daddy! mommy!" seru Elbert.
Elbert berusaha memukul pintu, tapi tangannya yang kecil hanya bisa menimbulkan suara ketukan.
"Hiks ... daddy!" seru Elbert.
Sedangkan Amora baru sadar jika sang anak sudah tidak ada di meja makan, dia panik tentu saja. Dia segera mencari putranya ke arah dapur.
"Elbert! El!" ujar Amora.
"Bi! apakah tadi El kesini? tanya Amora dengan wajah panik sembari memegang perutnya.
"Gak nyah, si aden gak kesini. Mungkin si aden lagi main di kamarnya kali nyah?" ujar salah satu maid itu.
Amora langsung berbalik dan menuju suaminya yang juga tengah mencari keberadaan putranya.
"El kemana yang?"
"Kalau aku tau gak bakal aku cari!" kesal Amora.
Berbeda dengan Leon yang langsung menaiki lift, dia segera menuju lantai dua karena dirinya sempat memperhatikan gerak-gerik Elbert yang menaiki tangga.
Tring!
Leon segera mencari Elbert, netranya segara menelusuri sudut mansion tersebut. Pendengarannya menangkap suara ketukan dari arah kamar yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Cklek!
Leon berusaha membuka pintu itu tetapi tak juga terbuka, dia menempelkan telinganya pada pintu tersebut untuk mendengar lebih jelas.
"Kau ada di dalam?" seru Leon.
Tak ada jawaban, hanya isak tangis yang Leon yakini itu suara Elbert.
"Leon!" seru Amora.
Leon menolehkan kepalanya, ternyata Alden dan Amora menyusulnya hingga kesini. Dia mengisyaratkan bahwa Elbert ada di dalam.
"Pintunya terkunci," ujar Leon.
Alden segera meminta kunci itu pada salah satu maid, dengan segera maid tersebut langsung mencari kunci itu dan memberikannya kepada Alden.
Cklek!
Amora langsung masuk, dia mencari keberadaan Elbert tetapi nihil. Dia tak menemukan keberadaan putranya.
"Mas! hiks ... El gak ada mas! hiks ...," isak Amora.
Alden dan Leon berusaha mencari ELbert di setiap sudut kamar tetapi dia tak menemukan dimana Elbert berada.
"Hiks ... jangan-jangan Elbert di culik kolong wewe lagi mas!" ngawur Amora.
"Hust! ngomongnya! setan nya juga gak mau kali culik Elbert yang nakalnya melebihi nobita!" seru Alden.
Leon membuka lemari, dia menggelengkan kepalanya saat melihat Elbert yang ternyata berada di sanan dan lagi bocah itu tengah tertidur.
"Dia disini," ujar Leon.
Amora dan Alden segera melihatnya, Amora langsung menggendong anaknya dan tak memperdulikan bahwa perutnya kini sudah besar.
"Hiks El hiks ...," isaknya.
Amora mencium pucuk kepala Elbert berkali-kali, dia kira anaknya hilang di culik setan.