Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Elbert demam


"Mommy, El mau ke kamal mandi." ujar Elbert sembari memegang perutnya.


"Iya sayang, ayo mommy temani." ujar Amora sembari menggandeng lengan kecil Elbert.


Setelah drama terkunci di kamar, kemana-mana Elbert selalu bilang pada orang tuanya. Sepertinya dia kapok terkunci di kamar yang tidak ada cahaya yang masuk, sehingga pencahayaannya terlihat redup.


"Sayang! cepatlah! kita akan ketinggalan pesawat!" seru Alden yang sudah rapih dengan pakaian santainya.


Amora keluar dari kamar mandi dengan menggandeng tangan kecil Elbert, dia segera menghampiri suaminya yang tengah menunggunya sembari bermain ponsel.


"Bukankah kita naik jet, kenapa sekarang pesawat?" bingung Amora.


"Daddy memakai jetnya, sedangkan jetku sedang di perbaiki. Aku belum membeli pesawat, jika kau mau aku akan membelinya sekarang." ujar Alden sambil mengalihkan fokusnya pada sang istri.


"Maksudmu ... kita naik pesawat umum?" ragu Amora.


Alden mengangguk, dia tampak bingung ketika melihat wajah istrinya yang terlihat senang. Apakah naik pesawat umum akan membuat istrinya sebahagia ini?


"Kenapa kau sangat bahagia?" bingung Alden.


"Tentu saja aku bahagia, pasti akan banyak orang dan tidak membosankan seperti naik Jet atau pesawat pribadi. Hah ... Aku akan bersiap dengan cepat," ujarnya.


Setelah mengatakan itu Amora langsung berganti pakaian, sedari tadi dia hanya membereskan bawaannya yang akan di masukkan ke dalam koper.


"Jangan lupa vitaminnya dibawa yang!" ujar Alden sambil berjalan keluar dari kamar.


"Iya!" seru Amora.


Elbert mengambil tasnya, dia menoleh menatap sang mommy yang sedang berjalan masuk kedalam ruangan berganti baju.


"Mommy! El mau cucul daddy yaa!" serunya.


"Ya!" jawab Amora.


Elbert menarik tas kopernya, ukurannya yang kecil membuatnya mudah untuk menarik tas itu. Netranya mencari keberadaan sang daddy.


"Daddy!" seru Elbert ketika melihat sang daddy yang akan memasuki lift.


Alden yang mengerti jika sang anak ingin ikut dengannya segera mengulurkan tangannya. Setelah Elbert menggenggam tangannya dia masuk lift untuk menuju ke bawah.


Tring!


Alden segera keluar, dia memanggil Erwin yang sedang berjaga di depan mansion bersama bodyguard lain.


"Erwin!" serunya.


Erwin langsung menghampiri Alden dengan berlari kecil, setelahnya dia menatap serius tuannya itu.


"Kamu ke atas, minta semua koper sama istri saya. Terus nanti bilang sama istri saya kalau saya sudah menunggu di mobil," ujar Alden.


Erwin mengangguk, dia memanggil salah satu bodyguard untuk mengikutinya setelah itu mereka berjalan menuju lift dan segera menuju lantai dua.


"Daddy, El belum minum cucu tadi." ujar Elbert sambil mendongak menatap Alden.


"Nanti minum susunya di mobil aja, daddy sudah taruh susu kotak El di dalam mobil." ujar Alden sambil membawa sang anak ke gendongannya.


Akhirnya Elbert menuruti Alden, susu kotak dan susu botol tak masalah baginya. Yang penting nutrisi susunya terpenuhi pagi ini.


***


Keluarga kecil itu tengah menaiki tangga pesawat, Amora hanya memegang tas kecilnya sementara Alden menggendong Elbert yang tertidur.


"Kita duduk di mana?" tanya Amora.


"Tentu saja First class," jawab Alden.


Amora memberhentikan langkahnya, doa menatap sang suami dengan raut wajah tak suka.


"Kok bukan ekonomi?" kesal Amora.


"Kamu yang benar aja yang! masa CEO naik kelas ekonomi?" heran Alden.


Amora menghentakkan kakinya kesal yang mana membuat para penumpang yang lain melihat ke arah mereka.


"Aku maunya kelas ekonomi titik! kalau kamu gak mau yaudah biar aku aja!" seru Amora sambil beranjak meninggalkan Alden.


"Aduh! yang! eh maaf mbak, kelas ekonomi masih ada yang kosong kan? kalau gak ada minta di tuker yah mbak," ujar Alden pada salah satu pramugari.


Pramugari tersebut tersenyum, dia segera mengantar Alden ke kelas ekonomi. Dia melihat istrinya yang masih berdiri menunggunya di dekat pintu masuk kelas ekonomi.


"Ayo yang! katanya mau kelas ekonomi, ngapain berdiri disitu? mau cosplay jadi patung kamu?" heran Alden.


Amora kesal, dia segera menggandeng lengan suaminya yang terbebas. Sementara lengan satunya menggendong putra mereka.


"Yang, yakin mau?" ragu Alden.


Pasalnya kursi penumpang lebih banyak dari kelas atas, dia bingung mengapa istrinya sangat ingin menaiki kelas ekonomi.


Amora langsung duduk setelah pramugari itu mengintruksinya, dia segera menepuk bangku sebelahnya untuk diduduki sang suami.


"Cepet! gak pegel apa kamu gendong Elbert?" seru Amora.


Pesawat sudah lepas landas, Elbert sudah terbangun dan duduk di bangkunya sendiri. Saat pesawat itu bergetar akibat tekanan, anak itu sempat takut, tetapi Alden langsung menenangkannya.


"El tumben anteng?" kata Alden seraya melirik anaknya itu.


"Kenapa?" tanya Amora ketika mendengar ujaran suaminya.


"Enggak, ini si El. Biasanya kan ngoceh gak abis, sekarang tumben kalem." heran Alden seraya menatap istrinya.


Amora menatap wajah sang anak yang sedari tadi diam, dia menempelkan tangannya pada wajah Elbert seketika netranya membulat sempurna saat menyadari suhu sang anak yang lumayan tinggi.


"El, El pusing nak?" tanya Amora sambil melepas sabuk pengaman sang anak.


"kenapa yang?" heran Alden.


"Badannya panas, aku gak bawa obat demam lagi." gerutu Amora sembari membawa anaknya itu ke pangkuannya.


Alden yang melihat istrinya sulit untuk membawa Elbert kepangkuannya di karenakan perutnya yang buncit pun berinisiatif untuk membawa Elbert ke pangkuannya.


"El, El ngerasain apa? badannya gak enak hm?" tanya Alden seraya mengelus rambut sang anak.


"Hiks ... pucing hiks ...," isaknya.


Amora bernafas lega, akhirnya anaknya itu mau berbicara. Sementara Alden langsung memanggil salah satu pramugari yang berdiri disana.


"Ehm maaf, bisa saya minta air hangat?" tanya Alden.


Pramugari itu mengangguk, segera iya pergi mengambilkan air hangat sementara Alden menyelimutkan anaknya dengan selimut Elbert yang memang sengaja di bawa.


"Permisi, ini air hangatnya." ujar pramugari itu sambil memberikan cup minuman yang berisikan air hangat.


Alden segera menerimanya, dia membantu sang anak untuk minum air hangat itu.


"Udah hiks ... nda enak hiks ... mau cucu mommy," ujar Elbert.


Amora mengeluarkan botol susu yang memang ia bawa dari mansion, untungnya botol itu bisa menahan susu agar tetap hangat. Segera Amora memasukkan ujung dot itu pada bibir anaknya.


"Kamu puk-puk dia aja, nanti juga tidur." ujar Amora sembari mengarahkan tangan suaminya untuk memegang botol Elbert.


"Kalau aku megang botol begini, terus puk puknya gimana?" heran Alden.


"Aku aja bisa kok megang botol sambil puk-puk Elbert, masa kamu gak bisa? udah ya, aku mau tidur ngantuk." ujar Amora sembari memejamkan mata dan tak mempedulikan Alden yang kesal.


Sementara di tempat lain, kini Arthur tengah menyendiri di ruang kerjanya. Semenjak kejadian putrinya itu dia jarang menemui putrinya.


Cklek!


"Mas! tadi Amora telpon kamu, kok kamu gak angkat?" tanya Queen sembari menghampiri suaminya.


Arthur tak menjawab, dia hanya fokus pada layar laptopnya tanpa memperdulikan pertanyaan sang istri.


"Mas! aku tanya kamu loh!" kesal Queen.


Arthur beralih menatap istrinya, dia menghembuskan nafasnya kasar setelah itu dia menutup layar laptopnya.


"Kenapa?" tanya Arthur.


"Hah ... mas marah sama Amora?" tanya Queen sambil duduk tepat di depan meja Arthur.


"Nggak, aku hanya ... hah ... hanya saja aku malu. Aku malu menjadi seorang ayah yang tidak becus untuk sekedar mengerti keinginan anaknya. Aku tidak becus sehingga anakku dalam bahaya, jika saja aku mendukung impian anakku pasti tidak akan terjadi seperti ini." terangnya sembari menatap istrinya dengan tatapan menyesal.


Queen bangkit, dia mendekati suaminya yang tengah bersedih. dia tahu di balik suaminya yang tegas dan dingin, tersimpan sisi kelembutan untuk putra putrinya.


"Aku memaksa Amora untuk menjadi apa yang aku mau, aku memaksa Arjuna untuk melambung tinggi dalam dunia perbisnisan dan aku memaksa Arsel untuk menikah diusianya yang masih tergolong muda. Aku sangat egois," lirihnya.


"Nggak mas, kamu bukan egois. Kamu hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak kita, tetapi cara yang kamu pakai salah. Tak seharusnya kamu memaksa mereka, biarkan mereka berjalan sesuai alur yang mereka rencanakan. Kecuali, jika keinginan mereka merupakan hal yang negatif. Sudah sepantasnya kita sebagai orang tua melarangnya," nasehat Queen.


Arthur mengangguk, dia memeluk pinggang istrinya itu. Sementara Queen hanya mengelus rambut pirang suaminya.


"Apa kau tahu mengapa aku membiarkan Alden bersama putri kita setelah aku tahu dia menculik putriku?" tanya Arthur.


"Tidak," jawab Queen.


"Aku melihat Amora tampak bahagia dengan Alden dan kehidupannya saat ini, keluarga kecilnya mengingatkan aku pada keluarga kita dulu. Mana mungkin aku memisahkan anak dari orang tuanya, sementara Elbert baru saja merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap," terang Arthur.


Queen tersenyum, dirinya tahu bahwa sang suami tak mungkin tega memisahkan Amora dari Alden.


"Aku ingin putriku bahagia bersama orang yang dia cintai, hanya saja aku kesal dengan Alden yang sampai sekarang belum juga mengumumkan tentang siapa Amora pada publik." gerutu Arthur sembari mendongak menatap istrinya.


"Amora berkata, jika Alden akan mengumumkannya setelah bayi mereka lahir dan berusia lima bulan. Sekaligus pengangkatan Alden sebagai ahli waris tunggal dari keluarga Wesley," jelas Queen.


Arthur mengangguk mengerti, dia kembali membenamkan wajahnya pada perut rata sang istri. Biarpun istrinya sudah melahirkan sebanyak tiga kali, tetapi perut istrinya itu tetap saja langsing.


"My love, kalau kita tambah satu anak lagi gimana? kamu kan masih bisa punya anak kan?"


plak!


"Sembarangan kamu! biarpun aku masih bisa mengandung tapi aku udah tua! sadar umur mas!" kesal Queen.


Arthur hanya merengut kesal, dia mengusap pipinya yang sempat kena serangan maut sang istri.