Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Sadarnya Alden


Deon yang saat ini tengah berada di ruang rawat Alden tengah memerhatikan Aqila yang sedang menangis disamping brankar Alden.


"Syuut, sudah ya. Nanti juga papa bangun," bujuk Gio sambil mengelus kepala putrinya.


Aqila tetap menggeleng, dia tak tega melihat sang papa yang terbaring tak berdaya. Biasanya sang papa akan memarahinya jika ia tidak sekolah, atau mengajaknya bermain ketika hari libur. Namun, kini dia hanya melihat sang papa yang tertidur.


"Ayah hiks ... papanya suruh bangun hiks ... dari tadi masa tidur terus hiks," isak Aqila.


Gio bingung, bagaimana caranya dia membangunkan Alden? sementara pria itu tengah tak sadarkan diri.


"De! Bangunin Alden sana!" ujar Gio pada Deon yang tengah menatapnya dari sofa yang berada di pojok ruangan.


"Ck, lu kira dia tidur hah!" kesal Deon.


Gio kembali menatap putrinya, dia tak tega melihat sang putri yang menangis terus.


Aqila tak sengaja menatap jari Alden yang bergerak, dia segera menghapus air matanya dengan cepat.


"Ayah, tangan papa gerak!" seru Aqila.


Gio langsung melihatnya, sedangkan Deon bangkit dari duduknya dan menghampiri brankar Alden.


Brak!


Pintu terbuka dengan kasar, atensi mereka mengarah ke seseorang yang baru saja masuk.


"Hah ... hah ... hah," pria itu tengah mengatur nafasnya.


"Arsel!" seru Deon.


Gio kembali menatap Alden yang tengah membuka matanya, dia langsung memencet tombol yang berada disamping brankar Alden.


"Gimana keadaan Alden?" ujar Arsel sambil berjalan masuk mendekati brankar Alden.


Deon hanya menatap Arsel yang mendekati brankar Alden, netranya melihat Alden yang tengah membuka matanya.


"Al!" seru Deon.


Alden mengucapkan sebuah kata, tapi Deon hanya mendengar dengan samar. Deon berinisiatif untuk melepas masker oksigen Alden.


"Lu mau ngomong apa?" tanya Deon.


"Elbert," lirih Alden.


Mereka semua mengerti, pasti Alden akan mengkhawatirkan keadaan putranya. Pintu ruangan terbuka, ternyata dokter dan suter datang untuk mengecek keadaan Alden.


Aqila sangat senang melihat papanya yang sudah sadar, dia segera menyingkir ketika dokter akan memeriksa keadaan sang papa.


Mereka hanya melihat sang dokter yang memeriksa keadaan Alden, suster pun melepaskan beberapa alat yang menempel di tubuh Alden. Sementara masker oksigen suster tersebut menggantinya dengan nasal cannula.


"Maaf, tuan ... Elbert siapa ya? sedari tadi pasien menyebut nama Elbert," ujar dokter itu setelah selesai memeriksa keadaan Alden.


"Elbert adalah putranya. Sebentar, saya akan bawa putranya kesini." ujar Deon dan berlalu dari sana.


Deon keluar dari ruang rawat Alden, dia langsung menuju kamar rawat Amora yang berada tak jauh dari kamar rawat Alden.


Cklek.


Atensi mereka mengarah ke Deon, sedangkan Deon tak merasa terganggu sedikitpun dengan tatapan mereka.


"Amora, pinjam Elbert sebentar." ujar Deon sambil mendekati brankar Amora.


Amora bingung, sedari tadi anaknya di titipkan dan saat ini akan dipinjam. Apakah anaknya barang?


"Untuk apa? sedari tadi putraku dilempar sana sini, jika nanti kau akan memberikan putraku kepada yang lain aku tidak akan memberikannya." kesal Amora sambil mengelus rambut cokelat sang putra.


Deon memutar bola matanya, dia hanya ingin membawa Elbert ke ruangan Alden. Karena pria itu selalu memanggil Elbert. Deon langsung menggendong Elbert menghiraukan tatapan tajam dari sekitarnya.


"Adikku berkata jangan membawa putranya! apa kau tuli?!" kesal Arjuna yang duduk di sofa samping Eveline yang memang sedang berada di ruang rawat Amora.


Deon tak menghiraukannya, dia akan keluar dari kamar itu. Namun, Queen menghalanginya.


"Kau akan membawa Elbert kemana? kasian anak itu sedang lelah," bujuk Queen.


"Alden telah sadar, saat ini dia mencari Elbert," ujar singkat Deon dan berlalu dari sana.


Semua yang di dalam ruangan terkejut mendengar penuturan Deon. Amora bahkan langsung turun dari brankarnya dengan di bantu oleh Arthur.


Deon kembali ke ruang rawat Alden, dia menatap sahabatnya yang sudah duduk dan sedang bersandar pada kepala brankar.


"Elbert," lirih Alden.


Elbert yang melihat sang daddy langsung menangis, dia sungguh takut saat melihat sang daddy yang nampak kesakitan.


"Hiks daddy," isak Elbert.


Alden memeluk putranya, dia sangat khawatir dengan keadaan Elbert walaupun dia telah menyelamatkan putranya terlebih dulu waktu kecelakaan itu terjadi.


"El gak papa kan sayang, ada yang sakit gak?" tanya Alden dengan suara lemasnya.


Elbert menggeleng, dia hanya memeluk sang daddy dan menjatuhkan kepalanya di bahu sang daddy.


Aqila yang duduk di tepi brankar Alden menatap mereka cemburu, tapi dia mengerti bagaimana posisinya saat ini. Gio yang menyadari perubahan raut wajah putrinya, segera mengajak putrinya untuk keluar.


"Aqila ikut ayah Gio yuk, dengar - dengar di depan rumah sakit ada toko eskrim yang sangat enak," bujuk Gio


Aqila yang mendengar kata es krim langsung merubah raut wajahnya, dia mengangguk antusias dan segera mengulurkan tangannya meminta untuk di gendong.


Gio dengan senang hati menggendong putrinya, dia akan membawa Aqila dan memberikan Alden waktu dengan keluarganya.


Alden tak sengaja melihat lutut Elbert yang kembali di perban, netranya menatap Deon untuk bertanya tentang luka Elbert.


"Kenapa?" tanya Deon sambil mendekati Alden dan melihat apa yang sahabatnya itu khawatirkan.


"Apa lukanya terbuka kembali?" tanya Alden.


Deon mengangguk, dia menjelaskan tentang luka Elbert yang terbuka kembali akibat gesekan saat kecelakaan itu. Apalagi Elbert yang banyak bergerak pada saat kecelakaan itu terjadi.


Alden mengusap perban di lutut putranya, di terkekeh melihat tangan sang putra berusaha menyingkirkan tangannya dari lukanya tersebut.


"Dangan hiks dangan di centuh daddy hiks ... takit tau, lutut El takit malah daddy pegang!" kesal Elbert sambil menatap wajah Alden.


Alden terkekeh, netranya menoleh ke arah pintu dan mendapati istrinya beserta keluarga sang istri yang tengah menghampirinya.


"Amora," gumam Alden.


Dia terkejut melihat keluarga Amora yang berada di ruangannya, netranya menatap Arsel yang tengah memainkan ponselnya di sofa.


"Alden," panggil Amora.


Alden kembali menatap istrinya, ketakutan melanda dirinya. Dia takut jika keluarga sang istri akan membawa istrinya itu untuk menjauh darinya.


Amora langsung memeluk Alden, dia terlalu takut jika Alden kenapa-napa. Walaupun dirinya masih merasa lemas, akan tetapi kekhawatirannya pada Alden membuatnya memaksakan diri.


"Hiks ... akhirnya kau sadar hiks ...," tangis Amora.


Alden membalas pelukan sang istri, dia menyalurkan rasa takutnya lewat pelukan mereka. Mereka tak sadar bahwa ada sosok kecil yang terhimpit orang tuanya.


"Hiks huaaaa ... El tedepit hiks ... tempit hiks ...," ujar anak itu sambil mendorong kecil Amora.


Alden memegang tangan anaknya, dia khawatir putranya akan mendorong perut istrinya yang terdapat calon anak mereka.


Amora melepaskan pelukannya, dia menatap Alden dengan senyum mengembang. Tangannya terulur untuk menghapus air matanya.


"El sama om Juna dulu yah, mommy mau ngomong sama daddy." ujar Amora sambil membawa putranya ke gendongannya dan memberikan ke Arjuna yang memang berdiri di belakangnya.


Alden menatap Amora, dia ingin menggeser duduknya tapi kakinya terasa sakit. Alden merasa sakit jika ia menggerakkan kakinya, tangannya terulur untuk menyentuh kakinya.


"Sakit ya?" tanya Amora.


"Iya, sakit banget." ujar Alden sambil meringis pelan.


"Karma buat kamu itu gara-gara bawa kabur anak orang!" celetuk Arthur.


Queen langsung menepuk bahu suaminya, dia tersenyum canggung menatap Alden. Mulut suaminya memang pedas.


"Hahaha, papi cuma bercanda. Lanjutkan bicara kalian, papi! ikut mami!" ujar Queen dan membawa suaminya menjauh dari brankar Alden.


Saat mereka akan keluar, netra mereka menangkap seorang pria yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


"Pi, anak kita bukan sih?" tanya Queen saat menatap seorang pria yang sedang serius dengan ponselnya.


Arthur menajamkan penglihatannya, dia melihat pria itu yang mirip dengan anak bungsunya Arsel.


"Cuma mirip bukan mi," sahut Arthur.


Queen mendekati pria itu, dia ingin melihatnya lebih jelas. Netranya membulat sempurna ketika menyadari bahwa pria itu adalah putra bungsunya.


"Bener pi! si bontot!" seru Queen yang mana membuat Arsel terlonjak kaget.


"Mami!" kaget Arsel saat menyadari wanita yang mengejutkannya ada sang mami.


Queen berkacak pinggang, dia menatap tajam putranya itu. Begitu pula dengan Arthur yang menghampiri putranya.


"Bagus ya, udah mulai pinter main petak umpetnya hm," ujar Queen.


Arsel hanya tersenyum, dia menggaruk pelipisnya pelan.


"Tamatlah riwayat gue," gumam Arsel.