
"Hah ... Akhirnya, selesai juga. Dari dulu kek! masa harus panggil awak media dulu baru mau di umumin," ujar Arthur dengan senyum bangganya saat melihat siaran televisi.
Plak!
"Aduh! kamu apa-apaan sih mam?" ringisnya sembari memegang pipinya.
"Mas tuh bener-bener gak ada akhlak yah! ngapain mas bocorin tentang pernikahan mereka? tau gak? gara-gara perbuatan mas, Amora sama Alden jadi susah bawa pulang si kembar!" kesal Queen.
Arthur terkekeh, dia menarik tangan istrinya untuk duduk disebelahnya.
"Mami jangan marah-marah dulu dong, ini papi lakukan untuk putri kita. Sudah yah, besok kita ke mansion Amora sekaligus papi ingin meminta maaf kepada putri kita tentang perlakuan papi dulu dan kemarin," ujar Arthur.
Semenjak Amora melahirkan, Arthur hanya sekali mengunjungi selebihnya ia jarang mengunjungi. Saat di tanya dirinya akan menjawab dia akan selalu merasa bersalah jika melihat putrinya. Mungkin karena kejadian Vani Arthur merasa jika putrinya tertekan karena dirinya.
"Mami seneng dengernya, kalau gitu kita besok ke mansion Amora," ujar Queen.
Arthur mengangguk. Mereka hanyalah orang tua yang menginginkan kebaikan bagi anak mereka. Tapi, secara tak sadar mereka malah menyakiti anak mereka karena ego mereka. Namun, orang tua tetaplah orang tua. Mereka pun selalu merasa bersalah jika anak mereka tersakiti akibat ego mereka.
***
Tiga bulan kemudian.
"ELBERT! KENAPA SUSU ADEK, KAMU MINUM LAGI HAH?!" teriak Amora sembari mengejar Elbert yang berlari sambil mengedot botol susu si kembar.
Amora berhenti, dia lelah mengejar Elbert yang sedang lincah-lincahnya, netranya menatap Alden yang sepertinya baru saja pulang kerja.
"Kamu kenapa yang? kayak abis lari maraton," ujar Alden.
Amora hanya menatapnya tajam, dia menunjuk Elbert yang berdiri di tengah tangga sambil asik meminum susu adiknya.
"Kamu liat anak kamu? dia minum susu si kembar lagi! aku udah pompa asi untuk si kembar, eh malah Elbert ambil!" gerutu Amora.
Alden melihat Elbert yang sedang bersantai, dia melangkahkan kakinya menghampiri ELbert tetapi bocah itu segera berlari ke atas.
"ELBERT JIKA KAMU LARI LAGI, DADDY AKAN BUANG SEMUA STOK SUSU PUNYA KAMU!" ancam Alden.
Elbert berhenti, dia berbalik menatap sang daddy yang tengah menatap tajam. Dia terdiam saat mendengar Alden akan membuang susunya.
"Cucu El mau di buang? nda! nda bica di bialin! nanti pelut El kulus gimana?" ujar Elbert dalam hati.
"Nda daddy! El nda nakal! calahin mommy yang belum kacih El cucu, ci kembal telus yang di kacih. El j4lang di kacih!" aduh Elbert.
Alden menoleh menatap istrinya, dia melihat sang istri yang tengah menepuk keningnya dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu gak kasih El susu?" heran Alden.
"Timbangan El terlalu berat, dokter Raihan menyuruhku untuk mengurangi susu Elbert dan makanannya. Kau tak lihat badan buntalnya itu membuatnya sulit bergerak," ujar Amora.
Alden mengangguk, dia memang tak sempat mengantar Elbert periksa kesehatan pagi tadi karena ada meeting mendadak. Putranya itu semakin lama semakin buntal walau porsi makan dan cemilannya sudah di kurangin.
"Apa susunya ganti aja yah yang? dia minum asi sama susu formula kan? susu asinya di stop aja," saran Alden.
"Bukan hanya asi, tapi juga semua susu!" kesal Amora.
"Kasian yang, nutrisinya gak ada dong?" heran Alden.
"Aku takut Elbert kelebihan berat badan, walau badannya tidak gendut tapi aku takut. Aku hanya mencukupkan sehari sekali saja, tapi lagi dan lagi anak itu mengambil susu adiknya," gerutu Amora.
Alden mengisyaratkan Elbert untuk mendekat dan mau tak mau anak itu harus mendekati sang daddy.
"Elbert buat kesalahan apa hari ini hm?" tanya Alden dengan lembut.
"El tuma minum cucu, memangna calah?" sahut Elbert sambil menundukkan kepalanya.
Alden tersenyum, dia mensejajarkan tubuhnya pada Elbert. Tangannya memegang bahu Elbert sehingga mata mereka saling bertemu.
"El salah karena mengambil susu adik. kalau susu El di ambil adik, El marah gak?" tanya Alden.
"Malah," lirihnya.
"Maka dari itu, El nda boleh ambil susu adik. El kan abang, jadi El lebih pintar pastinya." ujar Alden sembari menepuk pipi bulat sang anak.
Elbert terdiam, dia menjatuhkan botol susu itu dengan keras. Air matanya jatuh tanpa dia undang, dadanya terasa sesak seperti tertimpa benda berat.
"DADDY TAMA MOMMY TUMA CAYANG KEMBAL DOANG! EL UDAH NDA DI CAYANG LADI! EL DI OMELI TELUS! EL NDA LIKE DADDY AMA MOMMY POKOKNA!" kesal Elbert dan berlari menuju kamarnya.
Amora terkejut, begitu juga dengan Alden. Hingga tak terasa Amora menangis akibat sang anak yang mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
"Hiks ... hiks ...," isak Amora.
Alden mendekati istrinya, dia memeluk sang istri yang masih menangis. Dia juga faham jika Amora terlalu sensitif mengenai kesehatan sang anak, sementara putranya merasa jika orang tuanya selalu membedakan dia dan si kembar.
"Jangan menangis, mungkin El lagi butuh perhatian kita. Belakangan ini memang kita hanya fokus pada si kembar yang sedang sakit, sedangkan El selalu kita abaikan. Mungkin dia merasa jika dia tidak di sayang lagi," ujar Alden.
"Hiks ... aku merasa ibu yang buruk hiks ... Aku tak tau jika putraku butuh perhatian," isak Amora.
"Syutt, jika kau ibu yang buruk berarti Aku juga ayah yabg buruk. Sudah, lebih baik kita bujuk Elbert nanti malam. Sekarang lebih baik kau istirahat, pasti capek mengurus si kembar dan Elbert," bujuk Alden
Sedangkan Elbert kini tengah berpikir untuk merencanakan sesuatu. Netranya mencari setiap sudut kamarnya hal yang ingin dia lakukan.
"Daddy cama mommy nda cayang El lagi, El mau kabul ke lumah glandpa aja." gumamnya sembari mengambil jaket dan topinya.
Elbert keluar dati kamarnya, dia berlari turun tangga tampa takut terjatuh.
Elbert keluar dari mansion dan segera menuju garasi mobil. Netranya berbinar ketika melihat motor akinya yang tersimpan rapih.
"Pake motol yang dali glandpa aja," gumamnya.
Elbert menaiki motor berukuran mini itu yang diberikan Arthur sebagai hadiah ulang tahunnya bulan lalu.
Elbert menginjak gas motor itu, dengan suara lirih yang berasal dari motor tersebut tak membuat bodyguard melihatnya.
"Paman, buka pagelna!" pinta Elbert saat ia sampai di gerbang mansion.
Bodyguard yang berjaga segera menghampiri Elbert, dia menunduk untuk bertanya pada anak itu.
"Tuan kecil memangnya di perbolehkan keluar dengan tuan muda?" tanya bodyguard tersebut.
Elbert tampak berpikir, dia menoleh mendapati bodyguard sedang berlari ke arahnya.
"Cudah, sekalang buka gelbangnya!" titah Elbert.
Bodyguard tersebut mengangguk, dia langsung membukanya tanpa tau jika Elbert berbohong.
Elbert melajukan motornya itu, sesekali dia bernyanyi riang karena akhirnya doa keluar dati mansion setelah sekian lama.
"Paman! Paman tau lumahna glanpa altul?" tanya Elbert pada seseorang yang lewat.
"Siapa itu? paman gak kenal dek," ujarnya dan meninggalkan Elbert.
Elbert mengerucutkan bibirnya, dia tak tau kemana ia harus pergi sementara dia juga tak tau dimana Mansion Arthur.
"Telus El temana dong?" gumamnya.
Elbert kembali melajukan motornya, bahkan kini dia sudah berada di jalan raya yang mana membuat Elbert takut.
TIIIN!
TIIIN!
Klakson mobil membuat Elbert takut, dia menutup telinganya sambil menangis. Bahkan motornya kini berhenti tepat di tengah jalan.
"Dek! jangan di tengah jalan, nanti ketabrak. Ayo sini pinggir kan dulu motornya," ujar seorang wanita sambil menarik Elbert turun dari motor dan menggeret motor tersebut.
Elbert hanya diam saat wanita itu menggandeng tangannya untuk berjalan ke tepi jalan. Dia hanya bisa menangis karena takut.
"Rumah adek dimana?" tanya wanita itu.
"Nda tau hiks ...," jawab Elbert.
"Gak tau? terus sekarang adek mau kemana?" tanya wanita itu kembali.
"Ke lumah glandpa altul," ujar Elbert.
Wanita itu tampak bingung, dia mengambil ponselnya dan menelpon sahabatnya.
"Halo,"
"Halo, Sel! lu kesini cepet dah, gue nemuin anak kecil ke sasar," ujar wanita itu.
"Share lock!"
wanita itu memberi lokasi keberadaan mereka, hingga tak lama kemudian sebuah motor ninja mendekat ke arah mereka.
"Eh neng Agnes, abang Arsel udah dateng nih! mana bocilnya," ujar pria itu yang tak lain adalah Arsel.
Wanita yang bernama Agnes menunjuk Elbert yang tengah duduk di motornya sambil menangis.
"Eh buset, ponakan gue napa di mari?" ujar Arsel dan mendekati Elbert yang menangis.
Sedangkan Agnes hanya menatap bingung Arsel yang menghampiri Elbert.
"El," panggil Arsel.
Elbert mendongak, dia menatap Arsel sebentar dan langsung memeluknya.
"Hiks ... om Alsel hiks ... El takut," isak anak itu.
"Cup ... udah yah, yuk kita pulang. Pasti mommy dan daddy lagi cari El," bujuk Arsel.
"NDA! NDA MAU!" sentak Elbert.