
Malam ini Keluarga Miller memutuskan untuk pulang, mereka mengajak Eveline untuk menginap di Mansion mereka. Sementara Zidan dan Leon masih berada di sana begitu pula dengan Jonathan dan Jeslyn.
"Kami pulang dulu ya sayang, besok kami akan kembali lagi." ujar Queen sambil memeluk putrinya.
Amora tersenyum, dia membalas pelukan Queen dengan erat. Sosok Queen mengingatkannya dengan ibunya yang sudah tiada di kehidupannya dulu.
"Kau! awas kau berbuat macam-macam pada putriku!" ujar Arthur sambil menatap tajam Alden yang sedang memangku Elbert yang sudah tidur.
Alden memutar bola matanya malas, dia sungguh kesal dengan Arthur yang selalu memonopoli istrinya.
"Kak, aku nginap semalam ya di rumah tante Queen." ujar Eveline pada Zidan yang bersandar di sofa.
Zidan mengangguk, dia yakin bahwa keluarga Miller pasti akan menjaga adiknya.
Arjuna menghampiri adiknya, dia memeluk adiknya tersebut dan mencium puncak kepalanya.
"Kakak pulang dulu yah." ujar Arjuna sambil melepaskan pelukannya.
Sedangkan Arsel, dia menatap takut sang mami yang menatapnya tajam. Dirinya bersembunyi di balik tubuh Deon dan Gio yang memang sedang berdiri di samping brankar Alden.
"Kau bocah nakal! ikut mami pulang!" sentak Queen sambil berjalan menghampiri Arsel.
Deon dan Gio menggeser tubuh mereka, sehingga Arsel tak ada lagi tempat buat kabur. Dia merasakan sakit saat Queen memelintir telinganya.
"AW! sakit mam, sakit mam lepas ih!" ringis Arsel.
Queen tak menghiraukannya, dia menarik sang anak untuk keluar dari ruang rawat Amora. Saat dirinya berpapasan dengan Jeslyn, Queen pamit dengan sahabatnya itu.
"Jes, aku pulang dulu yah. Keburu ni anak kabur lagi," ujar Queen dan kembali melangkah meninggalkan ruang rawat Alden.
Arthur dan lainnya akhirnya mengikuti Queen. Sehingga kini ruangan itu tampak sepi dan tak seramai tadi. Untung saja ruangan Alden sangat luas, jadi mereka tak perlu merasakan sesak di kamar ini.
"Al, gue sama Gio pulang yah. Udah malem nih, gak mungkin juga gue tidur disini," ujar Deon.
Gio menyetujui ucapan sahabatnya, netranya menatap putrinya yang sidah tertidur di sebelah Alden. Sementara Elbert tertidur di pangkuan Alden.
"Ya, thank's udah nolong gue tadi." ujar Alden sambil setia menepuk paha Elbert.
Deon mengangguk, sementara Gio menghampiri putrinya dan mencium puncak kepalanya pelan.
"Titip anak gue," ujar Gio.
Alden mengangguk, netranya menatap sahabatnya yang keluar dari ruang rawatnya.
"Al, mommy sama daddy pulang juga yah. Lagian kita mau tidur dimana kalau disini," ujar Jonathan sambil menghampiri brankar Alden.
Alden mengangguk, dia menatap sang mommy yang tersenyum menatapnya.
"Iya, kami pamit dulu. Besok pagi mommy kesini bawain kalian makan." ujar Jeslyn.
Jonathan dan Jeslyn segera keluar dari ruang Alden, mereka langsung pulang ke mansion mereka.
Amora menatap Alden dengan bingung, ucapan Gio tentang titip anak pada Alden masih terngiang di kepalanya.
"Titip anak?" tanya Amora.
Alden menatap istrinya, dia lupa memberi tahu bahwa Aqila adalah putri dari Gio.
"Aqila, aqila adalah anak kandung Gio dengan Luna," ujar Alden.
Amora tentu saja terkejut, dia tak tau jika Gio adalah ayah kandung Aqila. Yang dia tahu hanya Aqila adalah anak sahabat Alden dan dia tak tahu sahabat Alden siapa saja.
"Sudahlah, gak usah kamu pikirkan. Lebih baik kamu makan malam dulu," ujar Alden.
Amora menuruti suaminya, dia berjalan ke sofa yang terdapat Zidan dan Leon yang sedari tadi menjadi nyamuk. Entah mengapa mereka belum mau beranjak pulang dan Zidan yang hanya memainkan ponsel.
"Kalian tidak pulang?" ujar Alden.
Zidan mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Alden, dia menatap Alden dengan sinis.
"Kau mengusir kami?" ujar Zidan dengan datar.
"Bisa dibilang begitu," ujar kembali Alden.
"Al! setidaknya biarkan mereka makan malam dulu, makanan yang dibeli kak juna sangat banyak. Sayang jika tidak di makan," ujar Amora menengahi pertengkaran mereka.
Alden menghela nafasnya, dia kesal dengan Zidan yang sepertinya sengaja membuatnya kesal.
Amora kembali melangkah mendekati brankar Alden, dia langsung menggendong putranya yang sedang tertidur.
"Kau mau apa?" tanya Alden heran ketika melihat istrinya menepuk pipi bulat sang anak.
"Dia belum makan malam, dari pada tengah malam bangun lapar. Mending di bangunkan sekarang. Kamu sih buat dia tidur, jadi susah kan banguninnya!" ujar Amora sambil berusaha membangunkan putranya.
Alden menggaruk belakang kepalanya, dia lupa bahwa sang anak belum makan. Netranya menatap putrinya, dia juga baru ingat kalau putrinya belum makan.
"Bangunkan juga Aqila, aku rasa anak itu belum makan dari siang. Dia sedari tadi hanya makan cemilan," ujar Amora.
Alden mengikuti perintah istrinya, dia membangunkan putrinya agar terlebih dulu makan malam.
"Aqila, bangun dulu yuk ... Qila belum makan malam kan," ujar Alden lembut dengan tangan yang menepuk pipi putrinya.
Aqila yang merasa tidurnya terusik akhirnya membuka matanya, dia menduduki dirinya dan melihat sang papa yang tersenyum menatapnya.
Aqila menurut, dia turun dari brankar dan mendekati Amora. Amora langsung menggandeng tangan Aqila menuju sofa.
"Kak Zidan dan Leon makan juga yuk," ajak Amora.
"Aku gak lapar, kalian makan saja. Aku akan berbicara sebentar dengan suamimu." ujar Zidan sambil bangkit dari duduknya dan mendekati brankar Alden.
Amora menduduki dirinya, begitu pula dengan Aqila yang duduk di sebelah Amora.
"Leon juga makan yah," bujuk Amora.
Leon menggeleng, dia tak ingin makan. Netranya hanya melihat bagaimana Amora membuka bungkus makanan itu.
Amora memberi bungkus makana pada Aqila, tapi dia melihat bahwa Aqila mengantuk begitu pula dengan Elbert. Sehingga Amora memutuskan untuk menyuapi mereka.
"Aa sayang," ujar Amora pada Aqila.
Aqila hanya membuka mulutnya sambil bersandar pada sofa, sedangkan Elbert berada di pangkuan Amora dengan kepala yang terus terkantuk.
"El, jangan tidur hei!" ujar Amora saat putranya tak kunjung membuka mulut.
Amora menghela nafasnya, entah mengapa Elbert kali ini sangat susah di bangunkan. Amora kembali menyuapi Aqila, sambil sesekali menyuapi dirinya.
Leon menatap aktifitas yang Amora lakukan, sudut bibirnya terangkat ketika melihat Amora dengan telaten mengurus kedua anaknya.
"Eh, Leon mau tante suapin juga? makan yah, dari tadi kamu cuma diem aja." ujar Amora sambil mengarahkan suapan itu pada Leon.
Leon menerima suapan itu, dia membuka mulutnya. Hatinya berdesir, rasa bahagia melingkupi hatinya.
"Nah, kalau pada nurut makan kan enak." ujar Amora sambil kembali menyuapi Leon.
"Gini ya rasanya disuapi oleh mommy?" ujar Leon dalam hati.
Zidan dan Alden melihat aktifitas mereka, mereka tersenyum hangat saat Amora berhasil membujuk Leon untuk makan.
"Kau mempunyai istri yang hebat," ujar Zidan.
"Tentu saja, aku tak mungkin salah pilih istri," sahut Alden dengan nada sombongnya.
Zidan yang memang duduk di kursi samping brankar Alden membuatnya lebih leluasa untuk membalas pria itu. Dia menepuk kaki Alden yang masih memakai gips.
"Sakit!" ringis Alden sambil menatap tajam kakaknya.
"Gak salah tapi milihnya nyampe dua kali baru bener!" sindir Zidan.
Alden merengut, dia membuang pandangannya dari Zidan. Sungguh ia kesal pada kakaknya ini.
"Awalnya aku mengira Amora belum memiliki suami, aku ingin menikahinya agar menjadi ibu sambung Leon. Apalagi, Amora adalah sahabat dekat istriku." ujar Zidan menggoda Alden.
Alden menatap tajam kakaknya, bagaimanapun juga Amora adalah istrinya. Kakaknya tak boleh mengambil istrinya dari dirinya.
"Tapi sayangnya, dia sudah menjadi istri adikku. Jika saja kau bukan adikku, aku pasti akan merebutnya darimu." ujar Zidan sambil bersedekap dada.
"Aku tak akan melepaskannya sampai kapanpun! walaupun nyawaku taruhannya," ujar Alden dengan menatap tajam Zidan.
Zidan mengangkat satu sudut bibirnya, dia merasa tertantang dengan ucapan Alden.
"Baiklah, kita buktikan saja sejauh mana kau akan setia dengan istrimu dan sejauh mana pula kau akan membahagiakannya. Jika nanti aku mendapatkan celah untuk merebutnya, jangan salahkan aku jika dia tak sanggup bertahan denganmu," ujar Zidan.
Alden mengepalkan tangannya, kakaknya sangat memancing Emosinya. Saat dia akan memukul sang kakak, suara Amora menghentikannya.
"Kalian berdebat apa?" tanya Amora saat melihat ada yang tidak beres dengan obrolan mereka.
Alden terkejut begitu pula dengan Zidan. Tangan Alden yang masih berada di udara segera dia jatuhkan pada kepala Zidan, dia mengelus kepala kakaknya dengan sangat tidak sopan.
"Haha, gak debat kok yang. Ini, kak Zidan minta di elus rambutnya." ujar Alden sambil menyisir kasar rambut Zidan dengan jari-jarinya.
"Sakit bodoh!" geram Zidan.
Alden melototinya, dia kembali menatap Amora dengan senyum. Saat netranya melihat bahwa Amora tengah menatap Leon, dia segera menarik kasar rambut Zidan.
"ARGHH," ringis Zidan.
Amora kembali menatap mereka, tapi dia tak melihat keanehan. Hanya Alden yang mengelus kepala kakaknya, sehingga dia kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Jangan macam-macam!" ujar Alden.
Zidan memukul keras kaki Alden sehingga pria itu berteriak sakit yang mana membuat Elbert yang tadi tak jadi makan karena tertidur akhirnya bangun dan menangis karena merasa kaget.
"ARGHH!" jerit Alden.
"Hiks ... huaaa, mommy." tangis anak itu sambil membuka matanya menatap sang mommy.
"Mas Alden!" kesal Amora.
"Kak Zidan yang! lagian juga tadi El tidur aku disalahin sekarang El bangun aku juga disalahin." kesal Alden sambil menatap istrinya.
Sedangkan Zidan hanya tersenyum puas, dia senang melihat Alden dimarahi oleh istrinya sendiri.
"Well I'm a winner," ujar Zidan yang mendapat tatapan tajam dari Alden.