
Deon sampai di lokasi kecelakaan Alden, dia langsung keluar dari mobilnya dan menuju mobil Alden.
Netranya melihat Elbert yang berada di gendongan seorang wanita paruh baya, dan juga seorang pria yang masih berusaha membuka pintu supir.
"Alden!" sentak Deon sambil berusaha membuka pintu mobil.
Alden yang tadinya memejamkan mata, dia membuka matanya. Dia tersenyum melihat Deon yang sedang berusaha membuka pintu.
"Gak ada waktu lagi De, lebih baik kalian pergi jauh dari sini," lirih Alden.
Deon menggeleng ribut, matanya kini telah berkaca-kaca.
"Gak! gue gak bakal tinggalin lu mati disini!" ucap Deon sambil berusaha membuka pintu.
Tak lama seorang pria berjas biru menghampiri Deon, dia membuka pintu belakang dan mengambil bom tersebut.
"Apakah panik membuat otakmu sempit huh?!" ujarnya sambil membawa bom itu menjauh.
Deon terdiam, kenapa tak terpikirkan olehnya untuk membawa bom itu menjauh. Sementara pria itu tengah melihat bom tersebut yang hanya memiliki waktu satu menit.
"Ck, murahan sekali bom ini." gumamnya sambil mengeluarkan pisau dari dalam jasnya.
Pria itu memilih kabel yang akan dia potong, netranya menatap salah satu kabel yang menjadi sasarannya. Saat dirinya akan memotong, tiba-tiba suara teriakan memasuki gendang telinganya.
"Arjuna! mau ngapain kamu hah! menjauh dari bom itu!" teriak wanita paru baya yang menggendong Elbert kepada seorang pria yang bernama Arjuna.
Arjuna menoleh, dia menatap orang yang meneriaki namanya.
"Tenang saja mam, aku bisa mengatasinya." teriaknya menenangkan sang ibu.
Wanita yang menolong Elbert adalah Queen. tadi saat dirinya akan pergi ke kantor suaminya, dia melihat sebuah mobil yang menabrak pohon. Queen langsung keluar dari mobil untuk menolong orang yang berada di dalam mobil tersebut yang tak lain adalah Alden, Elbert dan supir mereka.
Arjuna kembali fokus, waktu menunjukkan 15 detik lagi. Perlahan Arjuna memotong kabel tersebut, dan yah ... bom tersebut mati.
Arjuna kembali menghampiri Deon, dia melihat pria itu yang sedang kesulitan membuka pintu.
"Bentar lagi ambulans dan polisi datang, kita gak bisa membukanya tanpa alat. Apalagi kakinya kejepit, itu pasti bahaya banget kalau di paksa." ucap Arjuna menghalangi Deon yang kembali berusaha membuka pintu.
"Sampai kapan hah! dia punya Hemofilia, jika terus dibiarkan seperti itu lama-lama sahabat gue bisa mati! dia masih punya istri dan anak yang menjadi tanggung jawabnya!" marah Deon.
Arjuna menghela nafasnya pelan, dia juga tak punya cara untuk mengeluarkan Alden. Beruntunglah dia bisa mematikan bom tersebut karena kakeknya adalah seorang perakit bom, tentu dia bisa karena telah di ajarkan oleh sang kakek.
Tak lama mobil polisi datang, keluarlah Gio dengan wajah paniknya menghampiri Deon. Tadinya dia kesal karena Deon meninggalkannya, tetapi saat dia melihat apa yang ada di hadapannya seketika dia melupakan kekesalannya.
"Alden!" sentak Gio.
Para polisi mengeluarkan alat mereka untuk membuka pintu tersebut. Setelah lama berusaha, akhirnya pintu mobik tersebut terbuka.
Deon melihat wajah Alden yang sudah sangat pucat, bahkan sahabatnya itu sudah pingsan. Deon melihat sekelilingnya, ternyata para tim medis sudah tiba di lokasi kejadian.
"Cepatlah! sahabatku sudah tidak sadarkan diri!" teriak Deon pada tim medis itu.
Para tim media segera menolong Alden, mereka membawa tubuh itu ke tandu. Setelahnya mereka membawa masuk ke dalam mobil, Begitu pula dengan sang supir.
Banyak kamera yang merekam kejadian dan juga warga yang menyaksikan kecelakaan itu. Seorang CEO muda kecelakaan dan nyawanya sempat terancam karena bom yang berada di mobilnya seketika viral di media sosial.
Alden dan supirnya segera di bawa ke rumah sakit, dengan Deon dan Gio yang berada di ambulans Alden.
"Al, pokoknya lu harus bertahan hiks ... gue gak mau kehilangan sahabat kayak lu hiks ... inget Al, anak dan istri lu masih membutuhkan lu hiks ...," isak Deon.
Gio hanya menangis tanpa suara, dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti Alden. Bahkan dia sempat koma selama enam tahu, dan dia pun takut Alden akan sama sepertinya.
Sesampainya di rumah sakit Wesley, Alden langsung di larikan ke ruang UGD. Deon dan Gio mereka menunggu dengan cemas, bahkan mereka belum menyampaikan hal ini kepada orang tua Alden. Sementara Gio telah memberitahu Erwin bahwa Alden kecelakaan, sehingga dia tak perlu lagi memberitahu Amora karena sudah pasti Erwin mengabarkannya.
"Gio, gimana kalau sampai Alden kekurangan darah? gue takut nih rumah sakit gak punya stok darahnya," lirih Deon.
Gio hanya terdiam, dia juga takut sama seperti sahabatnya. Akan tetapi dia juga harus menguatkan sahabatnya.
"Kita berdoa aja, semoga Alden dan supirnya selamat. Tadi aku sudah hubungin Amora untuk kesini, aku mohon tolong kontrol emosi kamu Deon. Kalau kamu begini, Amora bakalan semakin takut." ujar Gio sambil mengelus punggung sahabatnya.
Arjuna dan Queen baru saja sampai di rumah sakit, mereka tak menghampiri dua sahabat itu melainkan ke ruang pemeriksaan untuk Elbert.
Elbert, bocah itu juga terluka. Luka yang berada di lututnya terbuka kembali sehingga mengeluarkan darah. Untuk itu Queen langsung pergi ke ruang pemeriksaan.
"Hiks ... daddy hiks ... El mau daddy hiks ...," tangis anak itu.
Arjuna yang sedang menggendong ELbert pun berusaha untuk menangkannya, dia berniat membawa Elbert ke temannya yang memang seorang dokter bedah.
Cklek.
Arjuna memasuki ruang temannya itu dengan diikuti oleh Queen, dia langsung membaringkan Elbert di brankar.
"Juna? siapa yang lo bawa?" tanya teman Arjuna yang berprofesi sebagai dokter bedah.
"Keponakan gue, Riki tolong periksa dia! tadi dia habis kecelakaan, dan lututnya terluka," ujar Arjuna dengan panik.
Dokter yang bernama Riki itu langsung memeriksa luka Elbert, dia mengamati luka tersebut dengan intens.
"Keponakan lu punya Hemofilia yah? darahnya gak berhenti keluar nih, tapi beruntungnya lu nahan darahnya dengan kain jadi gak terlalu banyak yang keluar," ujar Riki.
Arjuna baru mengingat saat dia ingin menyelamatkan Alden, Deon sempat berkata bahwa Alden memiliki Hemofilia. Bisa jadi Elbert juga terkena bukan?
"Hm, bisa jadi. Karena ayah keponakan gue punya penyakit itu," sahut Arjuna.
Queen menatap wajah Elbert, dia merasa kasihan dengan Elbert. Entah mengapa hatinya berdesir saat melihat wajah Elbert yang sangat imut.
"Juna, kau kenal orang tua bocah ini? kau kenal pria tadi?" tanya Queen sambil menatap anaknya itu.
Arjuna mengangguk, dia jelas tahu siapa Elbert
Dia baru mendapatkan petunjuk dimana keberadaan adik perempuannya lewat adik bungsunya. Tapi, dia belum membicarakan hal itu pada ayahnya. Arjuna hanya memantau adik perempuannya dari jauh, sehingga dia tahu apa yang terjadi dalam keluarga itu.
Riki membersihkan luka Elbert, dia menyuntikkan obat bius pada bocah itu. Elbert tertidur setelah obat bius itu bekerja, Riki melanjutkan tugasnya untuk menjahit kembali luka Elbert.
Selang beberapa menit, Riki telah selesai dari pekerjaannya. Dia membereskan alatnya dan membersihkannya.
"Sudah, nanti bentar lagi juga sadar. Sengaja gue kasih bius, abisnya dia bergerak terus." ujar Riki sambil melepaskan sarung tangan medisnya.
Queen bernafas lega, dia mendekati Elbert yang tengah tertidur akibat obat bius. Tangannya terulur untuk mengusap pipi gembul Elbert.
"Lucu sekali, pasti rasanya akan sangat menyenangkan mempunyai cucu seimut dia." ujar Queen yang masih mengelus pipi bocah itu.
Arjuna mendekati maminya, dia merangkul sang mami yang tengah menatap kagum Elbert.
"Jika aku bilang dia cucu mami, apa mami percaya?" tanya Arjuna disertai senyum tipis.
Queen menghentikan elusannya, dia menatap Arjuna yang juga tengah menatapnya. Sedetik kemudian Queen terkekeh, dia menganggap bahwa putranya telah bercanda.
"Jangan bercanda, apa kau menghamili anak orang Jun?" canda Queen.
"Mam, aku tidak bercanda!" kesal Arjuna.
"Aw, Aw ... sakit mam!" ringis Arjuna.
"Wanita mana yang kau hamili hah! mami gak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi laki-laki br*ngs*k Juna!" marah Queen.
Arjuna meringis, sepertinya sang mami salah paham dengannya.
"Bukan mam, aku tak menghamili siapapun. Prinsipku adalah memiliki anak setelah menikah, mami tenang saja ...," ujar Arjuna
Queen bernafas lega, dia mengira bahwa sang anak telah melanggar batasannya.
"Terus, apa maksudmu dengan menyebut bahwa anak ini adalah cucu mami?" tanya Queen dengan bingung.
Arjuna tersenyum, dia mendekatkan diri untuk mengelus lembut kepala Elbert. Dia menatap sang mami dengan senyum yang tidak luntur.
"Dia adalah Elbert Leon Wesley, putra dari Alden Leon Wesley dan Arianha Amora Wesley." ujar Arjuna sambil memeluk sang mami.
Queen terdiam di pelukan sang anak, dia masih mencerna apa yang Arjuna katakan.
"Amora? Amora putri mami?" lirih Queen.
Arjuna mengangguk, dia melepaskan pelukannya. Netranya menatap lembut sang mami yang masih syok atas berita yang ia berikan.
"Iya, Elbert adalah cucu mami. Putra dari Amora," ujar Arjuna.
Queen menitikkan air matanya, dia segera memeluk Elbert dengan erat. Dia menciumi wajah Elbert karena rasa bahagianya.
"Cucu mami," lirih Queen
Sementara itu, Amora telah sampai di rumah sakit. Dia begitu terkejut ketika Erwin mengatakan bahwa Alden kecelakaan dan lagi dia tambah syok ketika mendengar bahwa Luna menyimpan bom pada mobil Alden.
"Kak Deon!" panggil Amora.
Deon dan Gio menoleh, mereka melihat Amora yang tengah menghampiri mereka diikuti oleh Erwin di belakangnya.
"Mana mas Alden hiks ... gimana keadaannya? El, Elbert? dimana putraku?" khawatir Amora.
Deon bangkit, dia berusaha untuk menenangkan Amora yang saat ini tengah khawatir.
"Tenanglah, Elbert tidak apa-apa. Tadi dia di bawa oleh pria yang menolong Alden ke ruang pemeriksaan. Sepertinya luka Elbert terbuka kembali, selain itu tak ada masalah apapun." ujar Deon sambil menahan air matanya.
Amora sedikit tenang saat mendengar bahwa putranya tidak apa-apa, tetapi sedetik kemudian dia kembali menanyakan Alden.
"Mas Alden hiks ... mas Alden gimana?" tangis Amora.
"Alden ... Untunglah pria tadi mematikan bomnya, sehingga bom tersebut tidak meledak. Namun, kondisinya lumayan parah. Saat Alden berusaha untuk di keluarkan, ternyata kakinya terjepit," terang Gio.
Amora terduduk lemas, kakinya bergetar tak dapat menopang berat badannya. Baru saja mereka menjalani awal yang baru, mengapa harus ada kejadian seperti ini?
Cklek.
Pintu ruang UGD terbuka, Amora yang tak sanggup berdiri sehingga Erwin membantu istri tuannya itu untuk bangun.
"Gimana keadaan sahabat saya dok?" tanya Gio.
Dokter menghela nafasnya berat, netranya menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Saya harus berbicara pada keluarganya, adakah di antara kalian yang keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Saya dok, saya istrinya," ujar Amora.
"Mari ikut saya ke ruangan saya, dan untuk membahas keadaan pasien." ujar dokter itu sambil berlalu dari sana.
Deon menggeram kesal, dokter itu memancing emosinya. Mengapa dokter itu tak bilang saja pada mereka, kenapa harus keluarga pasien.
Sedangkan Amora mengikuti dokter tersebut dengan ditemani Erwin yang membantunya. Erwin hanya takut sang nyonya tak kuat berjalan karena lemas.
Sesampainya di ruangan dokter Amora langsung masuk, mereka duduk berhadapan dengan dokter tersebut.
"Jadi, gimana keadaan suami saya dok?" tanya Amora.
"Huft ... Nyonya bisa liat hasil Rontgen ini." ujar sang dokter sambil memberikan sebuah foto rontgen yang Amora sedikit bingung ketika melihatnya.
"Ini ...," gumam Amora.
Dokter tersebut menghela nafasnya, dia mengambil kertas yang tertera tentang kondisi pasien.
"Tulang kaki pasien mengalami keretakan, sehingga pasien tidak bisa berjalan untuk sementara. Tapi tenang saja, pasien akan bisa berjalan kembali. Namun, hal tersebut mem butuhkan proses." terang sang dokter sambil memberikan laporan pemeriksaan Alden pada Amora.
Amora tentu saja terkejut, dia mengambil kertas yang dokter itu berikan.
"Dok, berapa lama suami saya bisa berjalan kembali?" tanya Amora.
"Tuan Alden mengalami retak tulang pada betisnya, sesuai perkiraan masa penyembuhannya 4-6 bulan," ujar sang dokter.
Amora menghela nafasnya pelan, dia sedikit tenang saat tahu bahwa suaminya bisa sembuh dalam waktu dekat.
"Jadi, suami saya sudah boleh di jenguk kan dok?" tanya Amora.
Dokter tersebut mengangguk, dia menatap Amora yang tengah bangkit dari duduknya di bantu oleh Erwin.
"Terima kasih dok, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Amora.
Amora dan Erwin keluar dari ruangan dokter, saat ini tujuan mereka adalah kamar rawat Alden. Erwin telah di beritahu Gio bahwa Alden telah di pindahkan ke kamar VIP keluarga Wesley.
"Amora!" panggil seseorang.
Amora yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya, dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita paru baya menghampirinya.
"Amora sayang, akhirnya mami menemukan kamu," ucapnya antusias sambil memeluk Amora dengan erat.
Amora yang tak mengerti tak membalas pelukan wanita itu, dia hanya menatap Erwin dengan raut bingungnya.
"Maaf, tante siapa?" tanya Amora heran.
Wanita paru baya itu melepaskan pelukannya, dia menatap Amora tak percaya.
"Kamu lupa sama mami? ini mami kandung kamu! mami Queen!" ucapnya
Kepala Amora terasa sakit, ingatan masa lalu melintas di pikirannya. Wanita yang mengaku maminya ada di pikirannya.
"Arghh!" ringis Amora sambil memegangi kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa nak?" tanya Queen.
Bruk.
"Amora!"
"Nyonya!"