
Deon tengah mengantar Aira pulang kerumahnya, dia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Tadi sehabis perdebatan dengan Alden, Amora menyarankannya untuk pulang sehingga mau tak mau dia harus pulang dengan terlebih dulu mengantar Aira.
Sesampainya di sebuah rumah yang kecil, Deon menghentikan motornya. Dia menatap rumah yangs sangat kecil menurutnya, apalagi seperti rumah yang tak terurus.
"Ini rumah lu?" tanya Deon.
"Iya," ujar Aira sambil turun dari motor Deon.
Aira menatap Deon yang sedang melihat sekelilingnya.
"Ehm, makasih tadi udah nolongin aku kak," ujar Aira.
"Ayah lu ada disini juga? sia-sia dong gue nolong lu kalau balik kesini lagi," ujar Deon.
"Eh, enggak kak. Ini rumah ku sendiri, aku ngontrak disini. Semenjak aku tahu kalau ayahku berniat jahat, aku kabur dari rumah tapi aku katahuan." ujar Aira sambil tersenyum tipis.
Deon tersenyum, entah mengapa jika Aira tersenyum Deon pun juga akan ikut tersenyum. Dia menyentil kening Aira pelan.
"Aw!" jerit Aira.
"Bodoh! kau masih tinggal satu kota bahkan satu daerah, jelas saja ayahmu menemukanmu." ujar Deon sambil menatap Aura yang tengah mengusap keningnya.
"Aku kan gak tau harus kemana, kan aku udah bilang sama kakak kalau seminggu lalu aku bangun dari koma dan gak ingat apapun!" kesal Aira.
Deon terkejut, dia menatap lekat ke arah Aira. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Aira.
"Kau sempat koma? apa yang kau ingat saat terbangun dari koma?" tanya Deon.
"Aku hanya ingat namaku, tapi bukan Aira. Aku ingat namaku adalah Elena, tapi entah mengapa ayahku memanggilku Aira. Bahkan identitasku juga seperti itu, dunia ini sangat asing bagiku. Entah, dokter berkata bahwa aku amnesia." ujar Aira sambil menatap lurus ke arah Deon.
Deon mengangguk mengerti, dia paham dengan kebingungan Aira. Tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala Aira, dia tersenyum menatap wajah imut itu yang tanpa make up apapun.
"Jaga dirimu baik-baik, jika ayahmu kembali menyakitimu segera telpon kakak. Aku sudah memberikan nomor ponselku tadikan?" ujar Deon
Aira mengangguk kecil, dia melambaikan tangannya ketika Deon menyalakan motornya.
"Hati-hati kak!" ujar Aira.
Deon mengangguk, dia melajukan motornya meninggalkan Aira yang masih melambaikan tangannya.
Aira yang sudah tak melihat Deon lagi, dia langsung memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang saat menerima perlakuan manis Deon. Apalagi Deon mengubah kata lu-gue menjadi aku-kamu.
"Jantung Aira kenapa yah?" tanya Aira dengan polosnya. Setelah itu Aira masuk kedalam rumahnya.
****
Kini ruangan Alden kembali ramai, semua keluarganya datang termasuk keluarga Amora. Bahkan Zidan juga ada diruangan ini bersama putranya dan juga sang adik.
"Dad, Al kapan pulang?" tanya Alden pada Jonathan yang duduk di tepi brankarnya.
Plak!
"Aw! sakit dad! Dari kemarin kaki Alden dipukul terus, kalau sembuhnya makin lama gimana coba!" kesal Alden.
"Masih sakitkan? berarti masih perlu di rawat, baru dipukul pelan aja udah sakit. Lebay!" sindir Jonathan.
Alden menatap daddynya itu dengan wajah merengut kesal, dia menatap sang mommy yang duduk di kursi samping brankarnya tengah mengupas apel untuknya.
"Mom, liat daddy mom!" adu Alden.
Jeslyn melihat suaminya, dia menatap suaminya yang sedang memperhatikan cucunya yang sedang main dengan Aqila. Dia juga tak mendapat keanehan dari suaminya itu.
"Hah, Al ... jangan buat masalah, jika daddy berbuat sesuatu padamu pasti kau yang mulai lebih dulu." ujar Jeslyn sambil kembali mengupas apel itu.
Alden kesal, dia merebahkan dirinya dan memejamkan matanya. Dia sangat bosan berada di ruangan ini, dia sangat tidak leluasa ketika berada di ruang rawat ini.
Tak berlangsung lama Alden akhirnya tertidur juga, tak ada yang menyadari dirinya tidur hingga Jonathan yang menyadarinya lebih dulu.
"Tidur?" gumam Jonathan.
Jonathan menyelimuti sang anak, dia membenarkan letak tangan Alden yang terinfus agar tidak tersenggol oleh siapapun.
Amora yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan orang tuanya akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Alden. Dia melihat suaminya yang sudah tertidur membuat kedua sudut bibirnya terangkat.
Amora mengangguk, dia kan bangkit dari duduknya dan menerima uluran tangan Arjuna untuk membantunya bangun.
"kakak mau ngajak kak Amora kemana?" tanya Arsel sambil memperhatikan gerak-gerik kedua kakaknya.
Arjuna tak menjawab, dia langsung menarik tangan Amora keluar dari ruangan Alden. Sementara Arsel yang tak mendapat jawaban ingin mengikuti kakaknya, tetapi Arthur mencegahnya.
"Sudah, biarkan mereka. Kamu disini aja, awasi keponakanmu." ujar Arthur sambil menahan lengan Arsel.
"Kan ada mami sama papi," sahut Arsel.
"Kamu itu jadi om ada gunanya sedikit napa sih! disuruh nikah gak mau, dijodohin kabur, disuruh ngurus ponakan ngeluh! terus kamu maunya apa hah? laki-laki kok banyak maunya, udah duduk!" titah Queen.
Arsel tak dapat membantah kembali ucapan sang mami, dia menduduki dirinya kembali di sebelah Zidan.
Zidan hanya melirik sekilas, setelah itu kembali menatap ponselnya. Entah ada ap di ponselnya itu, tetapi Zidan selalu menatapnya.
Leon menatap sekitar, tatapannya terkunci oleh satu objek. Dia bangkit dari duduknya dan mendekati objek yang ia tuju, dengan berjalan perlahan dia menghampiri objek itu.
Tangannya terulur untuk menjatuhkan sebuah guci yang berada di tak jauh dari brankar Alden.
Prang!
Mereka semua terkejut mendengar guci itu pecah, ditambah dengan keluarnya hewan yang keluar dari guci tersebut.
"Ular!" histeris Jeslyn.
Aqila dan Elbert lamgsung berlari ke pojok ruangan, Elbert segera memeluk Aqila dengan erat. Ruang rawat itu semakin gaduh akibat teriakan histeris para wanita.
Leon mengambil ular yang berjenis king kobra dengan mudah, dia segera membawa ular itu keluar dari ruangan itu.
Jeslyn memegang dadanya, dia terkejut melihat ular yang begitu panjang. Netranya mencari keberadaan menantunya, dia khawatir pada Amora yang tengah hamil dan akan membuat wanita itu syok. Nyatanya Amora telah keluar bersama Arjuna tadi.
"Kenapa bisa ada ular di kamar ini?" heran Jeslyn.
Jonathan keluar dari ruangan itu begitu pula dengan Arthur dan Zidan. Mereka akan menyusul Leon yang membuang ular itu entah kemana.
Queen menghampiri Jeslyn, dia memeluk sahabatnya itu yang tampak sangat ketakutan. Jeslyn sangat takut dengan ular, untung saja Leon segera membawanya keluar. Beruntung, Alden tak terbangun walau ada suara guci yang pecah. Sepertinya obat uang diminum pria itu memberikan efek kantuk sehingga dia tak sadar apa yang terjadi.
Cklek.
Mereka menatap Amora dan Arjuna yang baru saja kembali, terlihat kantong plastik yang di bawa oleh Amora. Sepertinya Arjuna mengajak adiknya untuk belanja cemilan.
"Ada apa ini? kok guci itu bisa pecah?" tanya Amora.
Amora sempat menyukai guci itu, tapi sayangnya guci itu hanya untuk kamar ini. Dia menatap sendu guci yang ia sukai pecah berkeping-keping, netranya menatap ibu mertuanya yang menghampiri dirinya.
"Itu tadi kesenggol kucing, iya ... kesenggol kucing." ujar Jeslyn sambil merangkul Amora.
Amora mengerutkan keningnya, dia heran mengapa ada kucing di kamar elit seperti ini. Apa mungkin kucing peliharaan salah satu pasien? bukankah tidak boleh membawa hewan peliharaan kesini?
"Kucing? bisa yah kucing liar sampe sini? manjat dari mana?" bingung Amora.
"Oh itu dia manjat dari ... genteng! iya dari genteng," sahut Queen.
Amora tambah tak mengerti, dia menatap putranya dan juga Aqila yang tengah berdiri di pojokan dengan wajah takut.
"El kenapa nak?" tanya Amora sambil menghampiri putranya.
El yang tadi sedang memeluk Aqila melepaskan pelukannya saat ia mendengar suara sang mommy.
"Mommy!" seru El sambil memeluk kaki momynya.
"Mommy! tadi ada ulel, cama kakak cinga ulelnna dibuang." ujar Elbert sambil mendongakkan kepalanya menatap sang mommy.
Amora mengerutkan keningnya, maminya bilang itu kucing yang datang dari genteng.
"Bukankah disini gak ada ada genteng yah?" tanya Amora sambil menatap Jeslyn dan Queen.
"Hehe itu ...," ucap Jeslyn yang bingung akan bicara apa lagi. Dia hanya takut Amora syok, dan berakhir menantunya tau karena aduan cucunya.