Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Delusi?


"Bu-bukan begitu tuan, maksudku nyonya mengalami delusi." ujarnya sambil menunduk karena takut akan tatapan tajam Alden.


"Apa kau bilang hah?! istriku tidak pernah delusi! apa kau pikir dia gila hah?!" sentak Alden.


Jeslyn menenangkan Alden, dia tak ingin emosi Alden membuat Dokter Risa takut.


"Sudah Al, dengarkan dulu penjelasan dokter Risa." ujar Jeslyn sambil mengelus punggung sang anak.


"Mom! secara tak langsung dia menyebut istriku gila mom!


"Maaf tuan, tapi memang itu yang terjadi!" ujar Risa yang mana membuat Alden semakin marah.


Jeslyn membawa Dokter Risa keluar, dia harus membicarakan tentang keadaan menantunya pada Dokter Risa.


"Ehm maaf ya dok, putra saya sangat mengkhawatirkan istrinya," ujar Jeslyn merasa tak enak.


"Tidak apa nyonya. Saya akan menjelaskan lebih detail dengan penderita Delusi. Pada umumnya penderita delusi dapat bekerja dan berinteraksi seperti orang normal namun ia akan menunjukan perubahan perilaku seperti marah, tersinggung atau sedih jika suatu interaksi sudah bersinggungan dengan sesuatu yang diyakininya." terang Dokter Risa sambil menatap Jeslyn.


Jeslyn membenarkan apa yang Dokter Risa katakan, dia jiga mendengar cerita Alden sebelum Amora seperti itu. Amora seperti merasa tersinggung dengan apa yang Alden ucapkan.


"Apa bisa di sembuhkan dok?" tanya Jeslyn dengan raut khawatirnya.


"Hah ... sepertinya nyonya harus di periksa lebih lanjut. Ini hanya prediksi saya saja, jika anda berkenan saya akan menunggu nyonya Amora di rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi," ujarnya dan berpamitan untuk pulang.


Jeslyn terdiam, dia tak menyangka dengan apa yang dia dengar. Jeslyn tak mempercayainya, menantunya bersikap biasa dan baru kali ini mengalami seperti ini. Bagaimana bisa disebut sebuah delusi? ini bisa di sebut sebuah trauma ketakutan saat dia melihat dari sorot mata sang menantu.


Jeslyn kembali ke kamar, dia berpapasan dengan Dokter Abian yang berpamitan pulang padanya. Jeslyn menatap putranya yang duduk di tepi ranjang dengan menggenggam tangan Amora.


"Al," panggil Jeslyn.


Alden menoleh, wajahnya sudah basah karena air mata. Saat ini dia butuh sandaran mommynya, dia segera memeluk mommynya dengan erat.


"Mom hiks ... kenapa kehidupanku selalu ada saja masalah hiks ... setelah aku terbebas dari masalah adikku, kini aku harus melihat istriku seperti ini hiks ... mental istriku baik-baik saja mom hiks ... aku yakin dia hanya ketakutan hiks ...," adu Alden.


Jeslyn hanya mengelus punggung putranya, air matanya menetes saat melihat putranya serapuh ini. Ini kedua kalinya Alden terlihat rapuh setelah adiknya meninggal.


Alden melepaskan pelukan mereka, dia menghapus kasar air matanya.


"Gak ... gak mom, mu-mungkin sa-ja istriku mimpi buruk ... iya mungkin saja istriku mimpi buruk dan Dokter Risa salah memprediksi," racau Alden.


"Tapi Al, Dokter Risa merupakan dokter terbaik di sini. kecil kemungkinan prediksinya salah," ujar Jeslyn.


"Mom! Dokter Risa tak lebih dari sekedar manusia! gak mungkin dia selalu benar! bisa saja prediksinya kali ini salah tentang istriku! aku tak akan membawa istriku padanya! gak akan pernah!" ujar Alden dan pergi dari hadapan Jeslyn.


Jeslyn menatap kepergian putranya dengan nanar, dia juga tak tau bagaimana menyikapi semua ini.


"Aku belum menelpon mas Nathan," ujarnya sambil menatap ponsel yang berada di genggamannya dan menelpon Jonathan.


Sementara itu, Alden tengah mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dia membawa mobil dengan sedikit kencang yang mana membuat pengendara lain mengumpatinya.


Sesampainya di sebuah rumah yang lumayan besar, Alden segera keluar dari mobil dan memasuki rumah itu. Dia memencet bel dan tak lama seorang pria paru baya membukanya.


"Sia ... pa, Loh! Al?" bingungnya.


"Paman Hans, boleh aku berbicara padamu?" tanya Alden dengan wajah lesunya.


Akhirnya Hans mengajak Alden masuk, dia membawa ponakannya itu memasuki ruang tamu. Dia menunda bertanya apa yang terjadi dengan Alden, dia hanya tahu jika keponakannya menemuinya itu tandanya sang ponakan tengah butuh sarannya.


"Ada apa kau menemuiku?" tanya Hans ketika mereka telah duduk.


Alden terdiam, dia menundukkan kepalanya. Dia berusaha untuk mengumpulkan energi untuk bercerita pada sang paman.


"Istriku di prediksi oleh dokter mengalami delusi. Tiba-tiba saja saat dia terbangun dari tidur dia berteriak histeris ...,"


Alden menceritakan semuanya pada Hans tanpa terlewat sedikitpun, dia ingin sang paman mengajukan pendapatnya tentang kondisi sang istri.


"Jadi begitu," ujar Hans sambil mengangguk.


"Ehm begini Al, ku rasa prediksi Dokter Risa terlalu jauh hingga sampai pada tahap delusi. Sepertinya istrimu bukan penderita delusi, dia hanya takut akan kata-katamu sebelumnya. kau mengerti maksudku kan?" terang Hans yang mana membuat Alden menghela nafas lega.


"Hah ... untung saja," lega Alden.


Paman Hans bukan hanya dokter bedah biasa, dia juga menekuni di bidang psikolog. Dia sudah menjadi dokter selama 28 tahun tentu dia memiliki pengalaman yang sangat banyak.


Tiba-tiba saja mereka terdiam, netra mereka saling menatap dengan wajah terkejutnya.


"A-apa i-itu artinya, perkataanku benar pa-man?"


***


Di lain tempat, Jonathan tengah memasuki kamar Amora. Dia telah di hubungi Jeslyn untuk segera pulang agar melihat menantu mereka.


Jeslyn menoleh menatap suaminya yang sedang berjalan mendekatinya. Dia langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Hiks ...," hanya isakan yang terdengar oleh Jonathan.


Jonathan menatap wajah pucat menantunya, dia melepaskan pelukan istrinya dan menoleh menatap sang istri.


"Ada apa dengan Amora? apa sebelumnya terjadi sesuatu?" tanya Jonathan.


Akhirnya Jeslyn menceritakan, sementara Jonathan mendengar cerita istrinya dengan serius.


"Begitu rupanya ... Sudahlah, itu kan hanya prediksi dan harus di periksa ulang. Kau tak perlu takut seperti ini, kita tunggu saja Amora siuman." ujar Jonathan sambil membuka jasnya.


Jeslyn mengambil jas suaminya dan keluar untuk mengambil kopi suaminya sekalian menaruh jas suaminya itu di kamar.


Sementara Jonathan tengah duduk di tepi ranjang Amora, dia mengamati menantunya yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Eungghhh," lenguh Amora.


Jonathan tersenyum, dia senang melihat menantunya yang sudah bangun dan kini tengah menatanya.


"Daddy," lirih Amora.


Netra Amora bergerak liar, dia langsung menduduki dirinya dan tersadar bahwa dirinya sedang di infus. Akibatnya, dia merasakan sakit pada punggung tangannya.


"Aw!" ringisnya.


"Hati-hati, tangamu sedang di infus." ujar Jonathan sambil menatap khawatir Amora.


"Mas Al mana dad? kok tumben daddy kesini? dan ini, kenapa tanganku di infus?" tanya Amora tanpa jeda.


Jonathan tersenyum simpul, dia mengira jika Amora akan seperti yang istrinya cerita ternyata tidak.


"O-oh A-al dia sedang pergi ke ...,"


"Amora! akhirnya kamu bangun sayang," histeris Jeslyn sambil berjalan terburu-buru mendekati menantunya. Tapi sebelum itu dia menaruh kopi suaminya di pangkuan sang suami dan mendekati menantunya.


"Gimana sayang, udah enakan hm?" tanya Jelsyn sambil merapihkan rambut menantunya.


Amora bingung, dia heran dengan sikap mertuanya.


"Gak mom, badan Amora enak-enak aja gak sakit kok. Tapi, kepala Amora kok pusing yah? terus kenapa Amora sampai di infus?" tanya Amora dengan raut wajah bingungnya.


"Ka-kamu tadi habis pingsan, iya bener habis pingsan. Makanya Alden bawa Dokter kesini untuk memeriksa kondisimu," terang Jeslyn.


Amora mengangguk, mungkin saja dia pingsan karena merasa lelah. Apalagi tadi pagi dia sibuk memperhatikan Elbert yang saat ini tengah lincah-lincahnya.


"Oh ya, dimana Elbert?" tanya Amora yang tak melihat anaknya.


"Elbert sedang berbelanja di supermarket dekat mansion, Alden tadi menyuruh Erwin mengajak El kesana agar anak itu tak membuat rusuh saat kau beristirahat. Kau tau sendiri bagaimana bahagianya putramu itu saat dia akan diajak pergi jajan." jelas Jeslyn sembari terkekeh pelan.


Amora mengangguk, dia paham dengan putranya yang sangat jarang sekali jajan karena dia yang melarangnya. Bukan karena uang, melainkan kesehatan Elbert. Untuk sekarang mungkin Amora akan mengizinkannya sesekali.


Di tempat lain, Saat ini seorang bocah tengah memegang jajan pada pelukannya. Dia bahkan masih memilih cemilan padahal keranjang yang di pegang oleh pengikutnya di belakang tengah penuh.


"Tuan kecil sudah yah, ini sudah banyak banget loh," bujuk Erwin dengan wajah memelasnya. Bahkan saat ini dia membuang wajah datarnya demi meminta Elbert menyelesaikan belanjanya.


"Paman belicik deh! macih banak yang El mau beli, nanti paman El kacih pelmen milkita catu deh." ujar Elbert sambil menaruh cemilannya pada keranjang yang di bawa Erwin bahkan bukan hanya satu keranjang, melainkan dua.


"Uang saya akan habis tuan kecil!" kesal Erwin.


Elbert yang tadi akan mengambil kembali mengurungkan niatnya, dia berbalik dan menatap sang paman dengan senyum lugunya.


"Tenang paman, nanti pulang El telpon glanpa. El mau minta uang dolal tama glanpa, nanti cetengahnya buat paman deh yah." bujuk Elbert sambil menunjukkan dua jarinya.


Erwin menatap tak percaya pada bocah di depannya ini, dia menghela nafasnya kasar. Sepertinya dia harus ekstra bersabar menghadapi tuan kecilnya itu.


"Gak anak gak bapaknya sama aja bisanya cuma bikin orang susah!" gerutu Erwin.


Setelah selesai berbelanja Elbert menenteng plastik yang hanya berisikan eskrim, sedangkan Erwin menenteng plastik besar di belakang tuan kecilnya itu.


"Gue harus minta ganti nih sama Alden!" gumam Erwin sambil mengikuti langkah Elbert.


______________________



Penampakan El saat akan berjalan pulang🤭🤭🤭.


Terima kasih kakak yang telah memberi vote/hadiah, like dan komen pada hari ini. Yang belum segera nyusul yah🤭🤭