Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Pertemuan Jeslyn dan Zidan


Semua orang yang berada di ruangan Amora menatap bingung Leon saat anak itu menatap intens Amora.


"Nak," panggil kembali Jeslyn.


Leon menoleh, dia hanya menatap Jeslyn tanpa menjawab. Dia tahu bahwa di depannya ini adalah ibu dari ayahnya, karena ia beberapa kali melihat Jeslyn yang berada di berita.


"Hei! dia bertanya padamu nak, kenapa kau tak menjawabnya!" kesal Arthur yang sedari tadi melihat Leon yang tak menjawab pertanyaan Jeslyn.


"Aku, aku salah kamar." ujar Leon sambil menatap Jeslyn.


"Oh begitu, memangnya kau sedang mencari siapa nak?" tanya Jeslyn dengan lembut.


"Papaku, dia ...,"


"Leon!" panggil seseorang dari arah belakang Leon.


Leon menoleh, dia menatap tantenya yang sedang menatapnya tajam.


"Ngapain kau disini hah!" kesal Eveline.


Tadi saat Eveline sedang berbicara dengan Deon, dia tak sadar jika keponakannya sidah tak berada di belakangnya. Saat ia mencari ternyata keponakannya sedang berada di kamar rawat orang lain.


"Loh, sayang." panggil seorang pria dengan suara beratnya yang mana membuat Eveline terkejut.


"Calon suami!" seru Eveline.


Atensi mereka menatap ke Eveline dan Leon, mereka mengerutkan keningnya ketika melihat Eveline yang mengenali Leon.


"Aduh, maaf ya ... ini Leon tadi ...,"


"Dia mommyku," ujar Leon mengerjai tantenya.


Eveline melototkan matanya, dia menatap keponakannya itu dengan tajam. Atensinya mengarah ke Arjuna yang sedang menghampiri mereka.


"Apa yang kau bicarakan bocah nakal!" bisik Eveline sambil menatap tak enak pada calon ibu mertuanya dan juga calon suaminya.


Arjuna telah berdiri di hadapan Leon, dia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menatap wajah anak itu.


"Oh ya, dia mommymu? berarti aku calon daddymu," ujar Arjuna dengan mada dingin.


Leon membalas tatapan Arjuna tak kalah dingin, bahkan suhu ruangan pun berubah menjadi dingin.


"Tak sudi aku mempunyai daddy sepertimu!" tekan Leon.


"Ck, memangnya aku mau memiliki anak nakal macam kamu?" decak kesal Arjuna.


Eveline merasa tak enak pada orang yang di sana, apalagi ada Jeslyn yang dia tahu adalah ibu kandung dari kakaknya.


"Ehm, aku ... aku akan membawa anak nakal ini hehe, maafkan aku." ujar Eveline sambil menarik kerah belakang baju juna.


"Sini!" bisik Eveline pada keponakannya itu untuk menjauh dari Arjuna.


Leon tak menuruti tantenya, netranya mengarah ke brankar Amora dan terlihat wanita itu sudah terbangun dan menatap perdebatan yang ada.


"Ada apa?" tanya seseorang yang membuat mereka menoleh menatapnya.


"Kau sudah bangun," tanya Queen sambil menghampiri anaknya itu.


Sedangkan Eveline masih berusaha untuk membawa Leon pergi dari sana, dia menatap Arjuna untuk meminta pertolongan.


"Apa dia keponakanmu yang kau bicarakan di telpon? berani sekali dia bilang bahwa kau ibunya," ujar Arjuna sambil menatap tajam Leon.


Leon melepaskan cengkraman tangan tantenya pada kerah bajunya, dia merapihkan penampilannya dan menatap tajam Eveline.


"Kau membuat baju ku rusak!" kesal Leon sambil berlalu dari hadapan Eveline keluar dati kamar rawat tersebut.


Arjuna dan Eveline saling pandang, mereka tak mengerti dengan jalan pikir anak itu.


"Kenapa kau disini?" tanya Arjuna dengan datar.


"Mandiin sapi! ya jenguk adik kamu lah!" kesal Eveline.


Arjuna memutar bola matanya malas, dia mengajak Eveline keluar dari ruang rawat Amora dan menutup pintunya kembali.


"Adik kamu mana? aku mau ketemu dulu!" ujar Eveline.


"Baru bangun," ujar Arjuna dengan singkat.


Eveline kesal, tunangannya ini sangat susah di ajak bicara. Selalu saja jawaban singkat yang ia terima.


"Terus, adik ipar kamu mana?" tanya Eveline kembali.


"Belum sadar," ujar Arjuna.


Eveline kesal, dia menatap tunangannya itu dengan wajah cemberut. Tangannya memilin tali tasnya karena kesal.


"Kenapa?" tanya Arjuna.


Eveline semakin kesal, dia pergi dari hadapan Arjuna dengan menghentakkan kakinya. Dia sudah bela-belain ke indonesia untuk bertemu tunangannya, kenapa jawaban tunangannya begitu membuatnya jengkel.


Sedangkan Arjuna hanya menatap bingung Eveline yang pergi meninggalkannya, dia memikirkan perkataannya yang baru saja dia ucapkan.


"Emangnya tadi aku bicara apa sampai membuatnya marah?" gumam Arjuna.


Sedangkan Eveline sedang mencari kakak dan keponakannya, dia terlampau kesal dengan tunangannya itu yang sangat irit bicara. Tujuannya kesini hanya untuk menjenguk adik tunangannya dan suami dari adiknya. Tapi, dia malah di buat kesal.


"Gak kakak, gak keponakan gak tunangan! pada datar semuanya." gerutu Eveline sambil menendang-nendang kakinya.


Netranya menatap sebuah tulisan yang membuat matanya membulat sempurna.


"Berarti, tadi itu ... aaaa gimana sih! tadi kak Zidan ke lantai ini karena mau jenguk adiknya yang habis kecelakaan, terus tadi adiknya calon suami juga dirawat disini. Terus suaminya ..." pikir keras Eveline.


"Astaga! kenapa otakku sangat lelet sih! berarti calon adik ipar ku adalah adik kakakku?" ujarnya sambil menepuk dahinya pelan.


Di lain tempat Jonathan tengah membawa Zida. untuk menjauh dari sana katena dia menyadari bahwa ada orang yang akan mendekat.


"Pulanglah!" titah Jonathan sambil beranjak dari sana.


"Tunggu!" ujar Zidan sambil menghampiri Jonathan yang memberhentikan langkahnya.


"Jika kau tak ingin menemui ibu kandungmu, pulanglah! aku tidak mau istriku tahu jika putranya kesini dan tak menemuinya," ujar Jonathan dan membalikkan tubuhnya menghadap Zidan.


Zidan memejamkan matanya sejenak. Zidan kembali membuka matanya dan menatap Jonathan dengan serius.


"Oke, saya mau bertemu istri anda," ujar Zidan.


Jonathan mengangkat satu sudut bibirnya, dia tahu bahwa didalam hati kecil Zidan pasti merindukan ibu kandungnya.


Jonathan mengajak Zidan untuk bertemu Jeslyn yang kini sedang berada di kamar Amora, akan tetapi langkah terhenti saat seorang anak kecil menghalanginya.


"Leon," panggil Zidan mendekati sang putra.


Jonathan menatap Leon yang yang hampir mirip dengan Elbert, hanya saja rambutnya berwarna hitam sedangkan Elbert coklat.


"Putramu?" tebak Jonathan.


Zidan mengangguk, dia kembali menatap anaknya yang tengah menatap Jonathan dengan intens.


"Mana tantemu?" tanya Zidan.


Leon hanya mengangkat bahunya pelan, dia meninggalkan bibinya bersama tunangannya itu.


"Yasudah, ayo kita ke kamar rawat menantuku karena istriku ada disana." ujar Jonathan sambil beranjak dari sana.


Zidan langsung merangkul sang putra mengikuti langkah Jonathan, dia sedikit bingung dengan kamar rawat menantu Jonathan. Itu artinya Amora tengah di rawat juga, tapi kenapa? pikir Zidan.


Sesampainya di depan kamar rawat Amora, jonathan langsung masuk. Dia melihat sang istri yang tengah memangku Elbert yang sedang meminum susunya sambil memegang botol susu anak itu.


"Sayang," panggil Jonathan sambil menghampiri istrinya.


Jeslyn yang melihat suaminya langsung tersenyum, dia kembali menatap Elbert yang sedang memainkan Ipadnya.


Jonathan langsung menghampiri istrinya, dia tak menghiraukan tatapan Arthur padanya. Karena tujuannya saat ini adalah memberitahu sang istri jika putranya yang sangat dia rindukan telah menunggunya di depan kamar ini.


"Kenapa? Apa Alden sudah sadar?" tanya Jeslyn sambil kembali menatap suaminya.


Jonathan menggeleng, dia mengulurkan tangannya untuk menggendong cucunya. Elbert pun hanya menurut, sehingga botol itu juga dilepas oleh Jeslyn dari mulut bocah itu.


"Eh, El belum habis susunya! mas mau ngapain sih!" kesal Jeslyn karena cucunya itu belum menghabiskan susunya.


Jonathan tak membalas, dia berjalan ke arah Arthur yang sedang duduk di samping brankar Amora. Wajah Arthur sudah menatapnya sinis.


"Titip sebentar!" pinta Jonathan sambil memberikan Elbert pada Arthur.


Elbert yang masih merasa asing dengan Arthur mencebikkan bibirnya, dia menatap Jonathan dengan tatapan melasnya.


"Sebentar yah, opa mau pinjam omanya dulu. El sama kakek tua ini dulu yah," ujar Jonathan.


Arthur menatap tajam Jonathan, pria itu telah berkata bahwa dirinya kakek tua. Walaupun umur dirinya telah tua, tetapi dia masih terlihat tampan.


"Opa," rengek Elbert sambil merentangkan tangannya.


"Nih anak maunya sama kamu! ambil kembali cepet!" ujar Arthur sambil menyerahkan Elbert.


Jonathan tak menghiraukannya, dia langsung menghampiri sang istri dan membawanya keluar.


Arthur menatap Elbert yang tengah menatapnya takut, dia bingung pada bocah itu. Apakah wajahnya seram hingga sang cucu menakutinya.


"Apa wajah papi semenakutkan itu?" tanya Arthur pada Amora yang tengah bersandar pada kepala brankar memerhatikan sang putra.


"Gak pi, El memang suka takut pada orang baru. Jika El sudah nyaman sama papi, dia pasti gak takut lagi." ujar Amora sambil tersenyum pada papinya.


Amora akui bahwa papinya masih terlihat sangat tampan, bahkan tubuhnya masih begitu kekar. Apalagi wajah bulenya yang mendominasi ketampanannya.


"Mommy." lirih Elbert sambil merentangkan tangannya ke arah sang mommy.


Amora mengambil anaknya dari sang papi, dia mengerti bahwa sang anak tidak bisa di paksa untuk nyaman dengan keluarganya. Dia yakin bahwa sang anak butuh waktu untuk beradaptasi dengan keluarga barunya.


Sementara itu di depan kamar rawat Amora Jeslyn sedang menatap pria di depannya yang tak lain adalah putranya sendiri. Netranya berkaca-kaca menatap putranya yang sangat lama dia rindukan akhirnya ingin menemuinya.


"Hiks ... putra mommy," gumam Jeslyn.


Jeslyn langsung memeluk sang putra, dia menumpahkan tangisannya pada dada bidang sang putra.


"Mommy kangen sama kamu hiks ...," lirih Jelsyn.


Zidan belum membalas pelukan Jeslyn, netranya menatap sang putra yang tengah mengisyaratkan agar memeluk Jeslyn.


Jonathan melihat ibu dan anak itu, hatinya sungguh bahagia setelah melihat bagaimana rindu sang istri pada putranya telah terbayar.


Zidan membalas pelukan Jeslyn, akhirnya setelah sekian lama dia kembali menerima pelukan hangat ini.


"Mommy kangen kamu hiks ...," isak Jeslyn.


"Zidan juga kangen mommy," ucapnya dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada sang mommy.


Lanjut up lagi gak nih🤭🤭 jangan Lupa vote, like dan komennya.