
Sesuai rencana mereka kemarin, Keluarga Wesley merancang agar kejadian kemari terulang kembali pada hari ini. Bahkan Aqila yang seharusnya berangkat ke London hari ini harus do tunda, dan Gio tak mempersalahkan ini.
"Gimana? guru berenang Elbert sudah dipanggil?" tanya Alden pada Erwin.
"Sudah tuan, saya sudah mengatur sesuai yang tuan rencanakan. Tapi tuan, apakah mengajak tuan kecil ke supermarket harus terulang kembali?" ujar Erwin menatap datar Alden.
Alden tampak berpikir, dia menatap wajah Erwin yang sangat datar itu.
"Iya, bawa kembali Elbert ke supermarket itu." ujar Alden.
"Tapi tuan, mengajaknya tidak masuk kedalam rencana. Ini kan hanya sampai nyonya Amora pingsan," ujar Erwin.
Alden terkekeh menatap Erwin yang tengah pasrah, dia tahu bagaimana putranya jika sudah diajak berbelanja. Tak jauh beda dengan perempuan, Elbert pun begitu.
"Baiklah, baiklah. Kau hanya menjaga Elbert jangan sampai bocah itu membuat kacau rencana ini," ujar Alden dan berlalu dari sana.
Sesampainya di kamar, Alden melihat istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia tersenyum dan menghampiri istrinya itu.
"Sayang!" panggil Alden.
"Iya?" sahut Amora.
"Elbert akan berenang, apa kau tidak memantaunya?" tanya Alden sambil duduk di tepi ranjang.
Amora mengerutkan keningnya, dia menatap suami dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Loh ... El kan kemarin sudah belajar renang, bukankah El renang hanya seminggu sekali?" tanya Amora.
"Ya, mungkin anak itu sedang bersemangat. Dia ingin bisa berenang, kau tau itukan?" ujar Alden.
Amora mengangguk, dia bangkit dan segera menyusul Elbert. Sementara Alden tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu seperti apa sifatmu yang sebenarnya, tetapi orang tuamu berkata jika sikapmu tak berubah sama sekali. Itu artinya yang selama ini menempati ragamu selama tiga tahun terkahir adalah jiwa asing dan kau kembali memasuki ragamu setelah percobaan bunuh diri itu. Lalu, dimana dirimu di saat jiwa asing itu menguasai ragamu?" gumam Alden.
***
Amora menatap anaknya yang tengah serius belajar renang, dia sesekali terkekeh dengan sang anak yang kesal karena gurunya terus membuatnya tenggelam.
"Ekhm, maaf nona tuan Alden memanggil anda. Tuan menyuruh anda ke kamar," ujar Erwin.
Amora tersentak kaget, akhirnya dia mengangguk dan bangkit dari duduknya. Sebenarnya dia bingung mengapa suaminya itu menyuruhnya untuk menemuinya.
Sesampainya di depan kamar, Amora langsung membuka pintu itu dan mendapati suaminya yang tengah membuka kemejanya. Terlihat jelas punggung berotot itu, apalagi bekas cambukan Jonathan yang masih membekas.
Amora menelan ludahnya dengan kasar, dia seperti kesulitan nafas saat menatap tubuh berotot suaminya.
"Kenapa kau disitu?" tanya Alden yang merasa heran dengan tatapan istrinya.
"Ga-gak papa, tu-tumben kamu lepas baju kantor jam segini? bi-biasanya kan kamu tidak pernah pulang kantor sebelum makan siang," ujar Amora yang segera mengalihkan pandangannya dari tubuh suaminya.
"Nice," batin Alden.
Alden menatap tubuhnya, satu sudut bibirnya terangkat. Dia kembali menatap istrinya yang sepertinya tengah menahan gugup.
"Kau kenapa? bukankah kau sudah pernah lihat, bahkan seluruhnya juga pernah. Mengapa kau seperti gadis kecil saat ini?" tanya Alden sambil mendekati Amora dan merangkul pinggangnya.
"A-alden, Le-pas. Nanti adeknya sesek," ujar Amora sambil berusaha melepaskan rangkulan Alden.
"Jika dia marah, maka nanti malam aku akan menjenguknya. Kau tenang saja," ujar Alden dengan suara seraknya tepat didamping telinga sang istri.
Amora berusaha menjauhkan tubuhnya dari sang suami, dia gugup saat Alden begitu dekat dengannya.
"Awas Al! apa kau kehabisan obat hah! sikapmu berubah!" sentak Amora.
"Oh ya? lalu, apa maksudmu tentang dunia aslimu, apa kau sedang berkhayal memasuki dunia ini. Apa kau juga akan berkata bahwa dunia ini hanya sebuah dunia cerita, right?"
Deghh.
Amora menutup telinganya dan juga matanya, dia berteriak saat kembali mendengar suara itu.
"Kau akan kembali! disini bukan tempatmu!"
Alden memeluk istrinya dia mengeratkan pelukannya pada sang istri yang tengah histeris. Hans dan yang lainnya masuk dan mengontrol Amora.
"AMORA TATAP SAYA!" teriak Hans dan menarik Amora dari pelukan Alden.
Perlahan Amora membuka matanya, dia menatap takut Hans dan kembali menutup telinganya.
"GAK! GAK!"
"APA YANG KAMU DENGAR! APA YANG KAMU TOLAK ITU HAH!" teriak Hans.
Amora menggelengkan kepalanya ribut, Hans dengan sigap memegang kepala Amora agar menatapnya.
"Amora lihat paman! paman akan membantumu untuk mengusir suara itu! tapi bilang pada paman apa yang dia katakan!" pinta Hans.
Amora masih terdiam, dia masih menangis dan tak berani untuk berbicara. Untuk itu Hans mencoba menarik perhatian Amora dengan cara lain.
"Putramu menderita akibat jiwa asing yang mengambil ragamu! sekarang kau telah kembali ke dalam raga ini! katakan apa yang dia katakan padamu! apa kau rela ragamu kembali diambil dan anakmu kembali disiksa hah!" sentak Hans.
Hans membuat Amora berani, jiwa seorang ibu jika mendengar anaknya akan terluka maka dia kekuatan yang ada dalam dirinya akan bangkit.
"Dia hiks ... dia ... hiks ...," isak Amora.
"Iya, dia berkata apa hm?" tanya Alden dengan lembut.
"Dia- dia menyuruh Arianha hiks ... Arianha Amora kembali hiks ... aku keisya hiks ... bukan Arianha hiks ... dia berkata jika aku Arianha hiks," ujarnya.
Hans bernafas lega, dia melirik Alden agar segera menahan tubuh Amora yang telah lemas. Sementara dia mengambil peralatan dokternya dan menyuntikkan obat pada lengan Amora.
"Al, tidurkan istrimu. Setelah itu kita berbicara di ruang keluarga." ujar Hans sambil berlalu dari hadapan Alden.
***
Mereka kini telah berkumpul, Alden pun baru menyusul. Dia mendekati sang paman yang tengah meminum kopinya.
"Bagaimana paman?" tanya Alden ketika dia duduk tepat disamping sang paman.
Hans menaruh cangkir kopinya, dia menatap orang tua Amora dan beralih menatap Alden.
"Seperti yang orang tuamu ceritakan semalam padamu, Amora mengalami transmigrasi dua kali. Pertama, saat dia melahirkan dan berakhir koma. Jiwanya saat itu di tarik paksa untuk keluar dan di masuki jiwa Asing. Paman tidak tahu raga siapa yang ia tempati pada dunia nya itu. Yang kedua, setelah jiwa asing itu berusaha bunuh diri ... Jiwa Amora kembali ke raganya, dia tak menyadari bahwa raga yang dia kira raga orang lain adalah raga dirinya sendiri yang telah di curi oleh raga asing." terang Hans sambil menatap Alden.
Alden dan yang lainnya mengangguk. Akhirnya mereka mengerti apa yang terjadi pada diri Amora.
"Lalu dimana jiwa asing itu sekarang?" tanya Queen.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas dia yang membawa Amora kembali ke raganya ini. Entah apa tujuannya, dan juga tempat yang Amora maksudkan adalah dunia aslinya," jawab Hans.
"Paman, jika ini adalah dunia asli ... apakah sebelum Amora kembali ke raganya dia berada di dunia ilusi?" tanya Alden.
Pertanyaan Alden membuat semua orang berfokus padanya, mereka menatap Alden dengan tatapan seakan bertanya.
"Bisa jadi, saat dirinya menjadi Keisya di dunianya ... ada seseorang yang berkata untuk kembali dalam artian kembali ke raga yang seharusnya. Keisya Amora adalah Arianha Amora dan begitu pun sebaliknya, dia tak sadar apa yang terjadi dalam hidupnya. Namun, kita harus bergerak cepat. Jangan sampai jiwa asing itu kembali merebut raga Amora," ujar Hans.
"Jadi, jiwa asing itu bisa saja kembali merebut raga putriku?" tanya Arthur.
Hans mengangguk mantap, dia mengeluarkan sebuah pulpen dari sakunya. Dia menatap lama pena itu dan segera mematahkannya.
"Kalian lihat? pena ini patah menjadi dua dengan ukuran yang tidak sama tergantung dengan kekuatan. Begitupula dengan Amora, jika jiwa asing itu lebih kuat ... maka Amora akan kalah, dan jika Amora yang lebih kuat jiwa asing itu akan kembali ke tempat yang seharusnya." ujar Hans sambil menatap pena yang sudah terbelah menjadi dua itu.
"Kita harus meyakinkan Amora bahwa dia tidak sedang berada di dunia ilusi, kehidupannya ini nyata bukan hanya sekedar ilusi. Yakinkan dia untuk menetap dengan mengabaikan jiwa asing itu jika dia kembali dan ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milik Amora." ujar kembali Hans sambil menaruh pena itu di meja.
______________________
Gimana masih bingung gakðŸ¤ðŸ¤.
Harus ekstra berpikir up hari ini karena sudah mencapai tahapan inti cerita.
Siapa yang sudah mengerti? atau tebakannya berhasil? waaah kalian keren lohhh🤗🤗🤗.
Up tiga kali nih, jangan lupa hadiahny