Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Kepulangan si kembar


Hari ini tepat bayi mereka genap satu bulan di dalam inkubator, kini tubuh mereka pun seperti bayi yang lahir normal pada umumnya. Terlebih Lia yang memang lebih gemuk dari Lio sebab dia yang paling rakus meminum susu ketimbang Lio.


"Mas, si kembar udah boleh di bawa pulang kan?" ujar Amora.


"Iya, sekarang juga kita ke ruangan bayi untuk menjemput si kembar." ujar Alden seraya menggandeng tangan istrinya itu memasuki area rumah sakit. Wajah Alden yang seperti biasa di tutupi oleh masker agar tak di ketahui publik semenjak dia bolak-balik kerumah sakit dengan istrinya.


Tepat seminggu Amora dirawat, dia sudah diperbolehkan pulang. Tetapi Amora dan Alden setiap hari berkunjung kerumah sakit untuk menaruh stok asi, bersyukurlah saat ini si kembar sudah mau menyusui menggunakan botol.


"Tuan, nyonya ... pasti kalian mau jemput tuan dan nona kecil kan? aku sudah menyiapkan mereka beserta barang-barang mereka," ujar perawat yang memang Alden percayakan untuk merawat bayi mereka. Bahkan perawat itu tidak boleh membocorkan tentang keadaan si kembar pada publik.


"Iya, kami ingin menjemput mereka." sahut Amora dengan ramah.


Akhirnya mereka mengikuti suster itu memasuki ruang bayi. raut wajah Amora sangat bahagia mengingat jika dirinya akan membawa si kembar pulang.


Cklek.


Amora tersenyum melihat putrinya yang sefang menggeliat, dia menghampiri box bayi itu dan menggendong putrinya.


"Anak mommy, princessnya mommy sudah bangun hm," ujar Amora dengan nada pelan.


Berbeda dengan Alden yang sedang bingung dengan putranya, dia menatap suster yang berdiri tak jauh darinya.


"Sus, ini beneran bayi bukan sih. Kok jarang banget nangis," heran Alden.


"Tuan kecil memang sangat jarang menangis tuan, mungkin karena dia mengerti jika keluarganya belum menemaninya untuk itu dia tak mau merepotkan orang lain." ujar suster itu sembari mendekati box Lio.


Lio, hanya menatap Alden intens tanpa berkedip. Mungkin dia sedang memahami wajah Alden.


Alden ingin menggendong putranya, tetapi suara tangisan putri kecilnya membuatnya mengurungkan niatnya.


Oeek!


"Kenapa yang?" tanya Alden.


"Gak sengaja kena kuku aku tadi, aku lupa potong kuku. Yah ... luka deh," sesal Amora.


Alden menghampiri istrinya, dia melihat pipi putih putri kecilnya yang terdapat garis halus yang berwarna merah.


"Lain kali hati-hati yang, kasian kan pipinya." ujar Alden sembari mengelus pipi bayinya.


"Tuan," panggil Erwin yang baru saja masuk dengan membawa stroller.


Alden menoleh, dia mendekati Erwin dan mengambil stroller itu. Kemudian Alden mendekati putra kecilnya dan membawanya kedalam gendongannya untuk ia pindahkan kedalam stroller yang memang di khusus kan untuk bayi kembar.


"Kenapa kau menatap ku begitu? apa ada yang aneh dari wajah daddy mu ini?" heran Alden ketika melihat putranya yang masih memandang aneh Alden.


Seketika Lio tertawa, ini adalah hal yang pertama kali Alden lihat ketika putranya itu lahir. Rasanya hati Alden seperti berbunga-bunga ketika melihat senyum sang putra di tambah sebuah lesung pipi yang berada di pipi kirinya.


"Sa-sayang! Si Lio akhirnya sembuh juga dari datarnya!" seru Alden yang mana membuat Amora langsung mendekat.


"Wah, hebat kamu mas. Mungkin dia seneng kali diajak pulang," sahut Amora.


Alden tersenyum, dia mengecup pipi bulat sang putra. Lalu beralih mengambil putrinya yang berada di gendongan Amora dan menaruhnya tepat di samping Lio.


"Kita pulang sekarang?" tanya Alden yang di balas anggukan antusias Amora.


Alden dan Amora bersiap keluar, tetapi Erwin yang tadinya menunggu di luar seketika masuk dan mengunci pintu kamar bayi tersebut.


"Ada apa dengan mu hah?" kesal Alden.


Erwin sedang mengatur nafasnya, dia berlari menuju jendela dan melihat betapa banyaknya orang. Erwin menarik gorden dan menutupi jendela, dan ruangan itu menjadi redup.


"Tuan! gawat tuan!" panik Erwin.


"Kenapa sih win! tumben banget kamu panik, biasanya tuh muka kayak triplek," tenang Alden


"Gak ada waktu buat bercanda! di-di luar, para reporter dan awak media sudah mengepung rumah sakit, mereka sudah tahu jika tuan telah menikah kembali dan kini sudah memiliki anak kembar. Bahkan bodyguard mansion meneleponku jika di mansion wesley dan mansion tuan sudah dipenuhi juga dengan mereka. Kita sudah tidak bisa keluar dari sini kecuali tuan mau membongkar semuanya!" jelas Erwin.


Sontak saja Alden dan Amora terkejut, bagaimana bisa mereka tahu ini semua padahal Alden sudah menjaga ketat area rumah sakit dan juga dia selalu menutupi wajahnya dengan masker.


"Bagaimana bisa?" heran Alden.


BUGH!


BUGH!


"TUAN! BISA KITA BICARA MENGENAI PERNIKAHAN ANDA KALI INI!" seru dari luar.


Kini mereka dapat mendengar suara kegaduhan itu yang mana membuat Lia dan Lio menangis dengan keras akibat terkejut.


Oeekk


Oeekk


"ITU SUARA BAYI!" seru salah satu dari mereka yang berada di balik pintu.


"TUAN APA ISTRI ANDA KALI INI TELAH MELAHIRKAN! JAWAB KAMI TUAN! KAMI BUTUH PENJELASAN ANDA!" ujar mereka.


Alden panik, sementara Amora langsung menggendong putrinya yang menangis dengan keras.


"Mas, bagaimana ini," panik Amora.


Alden mengambil ponselnya, dia membuka sedikit maskernya dan coba menelpon daddynya.


Tuuut.


"Daddy kemana sih!" panik Alden.


Alden terkejut, dia menatap tak percaya Erwin yang sedang serius menatapnya.


"Mas! lebih baik kau tenangkan dulu Lio, liat mukanya sudah memerah karena menangis terlalu lama," panik Amora.


Alden segera menghampiri Lio, benar kata istrinya wajah putranya sudah memerah akibat kebanyakan menangis.


"Cup ... cup ...," gumam Alden.


Alden menepuk paha bayinya, tetapi tangisan keduanya bertambah keras.


"Bagaimana ini," panik Amora.


Tiba-tiba saja ponsel Alden kembali berdering, dia melihat ponselnya dengan tangan kana sedangkan tangan kiri menggendong putranya.


"Alden, sekarang juga kau buka jendela!" pinta orang yang menelpon.


Alden terkejut, dia membuka jendela yang tidak sebesar jendela yang tertutup gorden. Netranya membulat ketika melihat seorang pria yang sedang bergelantungan di sebuah tali helikopter.


"Apa yang kau lakukan Zidan?" heran Alden.


"Tentu saja menjemput kalian bodoh! Aku telah mengirim para pengawalku kesini untuk membantu kalian keluar, biarkan bayi kalian ikut denganku," kesal Zidan.


Pria yang menelpon Alden adalah Zidan, ketika dirinya menemukan sebuah celah dia menggunakan itu untuk membantu Alden.


Alden kembali mendekati istrinya yang masih berusaha menenangkan putri kecilnya.


"Sayang, berikan Lia padaku!" pinta Alden.


Amora sedang menatap Lia dengan terkejut tetapi di tersadar saat Alden meminta Lia dan langsung memberikan Lia pada Alden, dengan segera Alden berlari menuju jendela itu dan memberikan satu persatu bayinya pada Zidan.


"Hati-hati! awas putra putriku sampai jatuh!" peringat Alden.


"Kok dua?" heran Zidan karena dia belum tahu jika Amora melahirkan bayi kembar.


"Jangan banyak bertanya bodoh! nanti akan ku jelaskan!" kesal Alden.


Zidan menatapnya kesal, dia mengadahkan kepalanya dan memberi isyarat untuk menariknya.


Perlahan Zidan ditarik naik oleh pengawalnya yang berada di helikopter, sementara Alden langsung membawa Amora yang masih terdiam entah mengapa.


"Kita sudah bisa keluar, tak apa jika mereka mengetahuinya yang penting si kembar sudah aman. Aku takut jika si kembar terserang takut akibat keributan mereka," terang Alden.


Amora tetap terdiam, pikirannya melayang entah kemana setelah melihat Lia yang menatapnya saat Alden akan mengambilnya tadi.


"Al," panggil Amora.


"Jangan sekarang, lebih baik kita segera keluar. Para orang suruhan Zidan sudah membuka jalan untuk kita," ujar Alden.


Amora mengangguk, dia menggandeng lengan Alden dan segera keluar dari ruangan itu. Erwin sudah lebih dulu keluar untuk memantau keadaan.


"Harap membuka jalan!" sentak Erwin.


Alden dan Amora keluar, mereka langsung di sambut oleg flash kamera yang mana membuat Amora menutupi wajahnya.


"Jangan di tutup, tampakkan saja pada mereka." ujar Alden sembari menarik kembali tangan Amora.


Amora tersenyum ketika ada salah seorang wartawan yang mendekatinya dan menanyakan banyak pertanyaan.


"Maaf nyonya apakah benar anda adalah istri tuan Alden? sejak kapan kalian menikah? dan mengapa kalian sudah memiliki bayi padahal perceraian tuan Alden dan mantan istrinya baru lima bulan belakangan ini? apakah itu artinya kalian berselingkuh dari mantan istri tuan Alden yaitu nyonya Luna?" tanya beruntun mereka.


Amora bingung ingin menjawab apa, sementara Alden berusaha membawa Amora keluar dari sana tanpa memperdulikan pertanyaan mereka.


***


"Kenapa ada dua pah?" heran Leon ketika melihat papahnya pulang dengan membawa dua bayi yang menangis.


"Mereka kembar, tolong kau gendong salah satunya. Tangan papah sangat pegal," ujar Zidan.


Leon mengangguk, dia mengambil bayi yang berbedong kain berwarna pink. Netra menatap Lia dengan terkejut ketika melihat kalung yang ia beri waktu itu sudah Lia kenakan.


"Zanna," gumam Leon.


Tangisan Lia terhenti ketika mendengar gumaman Leon, dia menatap Leon dengan diiringi gelak tawa.


"Kenapa kau tertawa hm," ujar Leon menatap gemas Lia.


Sedangkan Zidan sedang berusaha membuat Lio terdiam tetapi bayi itu tetap saja menangis.


"Diamlah, apa kau tak lelah menangis. Sebentar lagi mommy akan kesini, bersabarlah. Jika kau terus menangis, maka mommymu juga akan ikut menangis. Kau mau melihat mommymu menangis hm?" bujuk Zidan.


Lio yang sepertinya mengerti ucapan Zidan segera menghentikan tangisannya, dia menatap Zidan dengan sesenggukannya akibat terlalu lama menangis.


"Pintar, kau mengerti jika mommymu akan sedih melihatmu menangis," ujar Zidan.


"Eohhh," gumam Lio dengan bahasa bayinya.


Zidan tersenyum, dia mengelus rambut tipis Lio. Sudah lama sekali dirinya tak menimang bayi semenjak Leon besar.


_________________________


Jangan lupa likenya, tenang hanya tekan tomblo like gak perlu bayaran kok🤭 cuma sedetik lagi.


Jangan lupa spam komen🤗🤗