
Sudah dua hari Amora belum juga sadar, Hans pun memeriksanya dan tak menemukan apapun yang membuat tubuh Amora drop. Bahkan janinnya sangat kuat walaupun Amora tengah tak sadarkan diri.
"Gimana ini paman! istriku belum juga bangun! bayi kami butuh makan dari ibunya!" panik Alden sambil menatap Hans yang tengah mengganti infus Amora.
Hans memutar bola matanya malas, dia heran dengan Alden yang kini menjabat sebagai CEO seperti orang bodoh.
"Kau itu bodoh ya! bayimu masih di dalam perut! gak mungkin dia menyusu pada ibunya, mau lewat mana hah!" kesal Hans.
"Bukan itu maksudku paman! anakku akan kekurangan nutrisi jika tidak makan dan minum," sahut Alden.
Hans memegang botol infus dan diarahkan ke Alden.
"Ini apa hah! apa kau kira aku dokter kemarin sore! hal seperti ini sudah biasa bagiku bodoh!" kesal Hans.
Alden mengerucutkan bibirnya sebal, dia kembali menatap Hans yang dengan telaten mengganti botol infus itu.
"Eungghhh," lenguh seseorang.
Atensi mereka mengarah pada Amora, Alden dengan senang langsung mendekati istrinya dan mengelus sayang kepala sang istri.
"Sayang!" seru Alden.
Amora tersenyum, dia memeluk Alden dengan erat. Sementara Alden menatap Hans dengan bingung.
"Aku mencintaimu," ujar Amora.
Alden mengerutkan keningnya, dia melepaskan pelukan sang istri dan menatapnya dalam. DIa merasa heran dengan sang istri yang baru saja bangun dan memeluknya bahkan mengucapkan kata cinta yang jarang sekali dia dengar.
"A-ada yang sakit?" tanya Alden dengan wajah gugupnya.
Amora menggeleng sembari tersenyum, dia menoleh menatap Hans yang juga tengah menatapnya.
"Halo paman Hans," ujarnya.
Hans dan Alden semakin bingung, pasalnya Amora tak pernah bertemu Hans. Bahkan kemarin Amora tak tau jika Hans adalah paman dari Alden.
"Kau mengenalku?" tanya Hans.
Amora mengangguk seraya tersenyum tipis, dia berusaha duduk di bantu oleh Alden.
"Tentu saja, kau paman Alden kan? kakak dari tan ... oh maksudku mommy Jeslyn," ujar Amora.
Alden dan Hans saling tatap, mereka menunjukkan raut bingung masing-masing.
"O-oh hahaha, paman kira selama dia hari kau tidak bangun kau akan melupakan paman hahaha," ujar Hans.
Alden bingung mengapa pamannya itu mengiyakan apa yang Amora ucapkan, dan juga sejak kapan pamannya pandai bercanda?
"Kau istirahat dulu, kandunganmu lemah. Untuk itu kau harus banyak berisitirahat." ujar Hans sambil membereskan peralatannya.
Amora mengangguk, dia menatap Alden yang tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Honey, temani aku tidur." pinta Amora sambil menepuk kasurnya.
"Honey? sejak kapan Amora memanggilku honey?" batin Alden.
Alden menatap sang paman meminta jawaban, dia melihat sang paman mengangguk membuatnya merebahkan diri di samping Amora.
Amora merebahkan dirinya kembali, dia memeluk Alden dengan erat. BAhkan dia mengecup pipi Alden walaupun Hans masih berada disana.
"Sayang," peringat Alden karena Hans masih ada disini.
"Kenapa? aku sangat merindukanmu," ujarnya dengan nada merengek.
Hans memberi isyarat pada Alden untuk diam, dia segera keluar membiarkan suami istri itu untuk istirahat.
Setelah keluar Hans menuju lift, dia menunggu pintu lift itu terbuka. Tangannya memandang jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Tring!
Hans menatap pintu lift yang telah terbuka, dia mengerutkan keningnya saat melihat mereka yang baru keluar dari lift.
"Deon?" bingung Hans.
Deon tersenyum, dia tampak merangkul seorang perempuan yang tepat berada di sampingnya.
"Apa kabar paman, semoga harimu baik." ujar Deon sambil tersenyum lebar.
"Gelar jomblomu sudah di hapus huh?" ujar Hans.
Deon terkekeh geli, dia menatap perempuan di samping itu yang menunduk malu.
"Doakan saja paman, semoga dia membuka hati untukku. Bukan begitu Aira?" ujar Deon.
Perempuan yang di samping Deon adalah Aira, mungkin selama beberapa hari ini dia telah mendekati Aira.
"Ih! kak Deon! malu tau!" kesal Aira sambil menutup wajahnya.
Deon tertawa, sementara Hans hanya memandang datar pemandangan anak muda di depannya ini.
"Aku kesini mau jenguk Amora, apa dia sudah sadar?" tanya Deon.
"Sudah, sekarang dia lagi istirahat. Aku akan ke ruang keluarga untuk menemui keluarga Miller, pasti mereka sedari tadi sudah menungguku." ujar Hans sambil beranjak dari sana.
Deon dan Aira bingung, jika Amora istirahat sudah pasti tidak diizinkan di jenguk oleh pawangnya. Lalu, buat apa mereka kesini.
"Tunggu paman! kami ikut!" ujar Deon sambil masuk kedalam lift diikuti oleh Aira.
***
"Honey, aku merindukanmu ... sangat." ujar Amora sambil menatap Alden.
"Ya aku juga merindukanmu," sahut Alden.
Wajah Amora terlihat bahagia, dia kembali memeluk suaminya dengan erat.
"Apa kau tau? rindu ini menyiksaku, aku harus bersabar untuk mencapai hari ini." ujar Amora sambil menggambar pola abstrak pada dada bidang Alden yang terbalut dengan kaos hitam.
Alden melepaskan tangan Amora dari dadanya, dia semakin bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya. Sebelumnya Amora tak pernah berkata merindukannya, lalu mengapa sekarang istrinya berkata seperti itu.
"Honey! kamu mau kemana!" rengek Amora.
Alden yang sudah berdiri berusaha memutar otak untuk menemukan jawaban yang pas agar dia bisa bertemu Hans di luar.
"Oh, itu aku ... aku mau lihat Elbert, sekarang jamnya dia minum susu. Aku harus membuatkannya," ujar Alden.
Amora menahan tangan suaminya, dia menatap Alden dengan raut wajah tak suka.
"Anak itu bisa diurus oleh maid, sekarang kau harus menemaniku yang sedang sakit ini." ujarnya sambil menatap Alden dengan kesal
"Sayang! Elbert akan rewel jika dia tidak di beri susu siang ini! lagi pula sekarang jamnya dia tidur siang, biasanya juga kamu yang menyuruh ku. Mengapa sekarang kau melarangku?" kesal Alden.
Amora tampak gelagapan, dia menarik kembali tangannya dan menatap Alden dengan senyum yang seperti di paksakan.
"O-oh iya aku lupa, baiklah ... buatkan susu untuk Elbert," ujar Amora.
Alden mengangguk, dia beranjak dari sana dan keluar menuju ruang keluarga. Pikirannya masih memikirkan apa yang terjadi dari perubahan istri nya.
"Aneh, kenapa dia tampak lebih agresif dibanding sebelumnya? Amora tak pernah berkata honey padaku, bahkan memanggilku sayang saja pada awalnya di berkata geli. APa karena hormon kehamilannya?" gumam Alden.
Sesampainya di ruang keluarga Alden langsung duduk di samling Deon, dia bingung mengapa Aira ada disana.
"Lu bawa Aira?" tanya Alden.
"Iya, gue sengaja ajak dia supaya bisa nemenin gie kesini," jawab Deon.
Alden mendelik tajam, dia tak suka dengan jawaban Deon.
"Memangnya kau pikir aku sedang mengadakan pesta hah?!" kesal Alden.
Mereka yang melihat itupun menahan tawanya, sementara Hans sedang memikirkan sesuatu hingga pensil yang berada di tangannya patah dan menimbulkan suara.
Tak!
Atensi mereka mengarah pada Hans yang memang sedari tadi belum juga menjelaskan tentang keadaan Amora. Dia datang, dan tak berucap apapun. Jeslyn melarang mereka untuk bertanya san membiarkan Hans menjelaskannya sendiri. Karena dia tahu ketika kakaknya itu memikirkan sesuatu dia tak suka jika fokusnya di alihkan.
"Maaf," ujar Hans.
Mereka mengangguk dan memperhatikan gerak-gerik Hans yang tampaknya sedang gelisah. Dia melihat sekitar, seperti sedang mengawasi sesuatu.
"Nathan, aku minta tutup pintunya dan aktifkan kedap suara. Aku tidak mau penjelasan kita di dengar oleh orang luar, dan untukmu Aira. Kau ku percayakan untuk mendengar ini, tetapi jika kau berkhianat ... aku tidak akan melepaskanmu!" ujar Hans.
Aira mengangguk kaku, sementara Jonathan langsung menutup pintu dan mengaktifkan kedap suara. Dia kembali ke tempat duduknya semula.
"Apa kau merasa ada yang aneh pada diri Amora Al?" tanya Hans sambil menatap Alden.
"Iya paman, Amora sangat aneh. Sebelumnya dia sangat jarang berkata aku mencintaimu, dia juga memanggilku dengan sebutan honey. Bahkan dia memanggil sayang padaku sangat jarang," ujar Alden
Hans mengangguk, dia menatap satu persatu keluarga Amora. Arsel dan Arjuna juga berada disitu, mereka baru sempat hari ini untuk menjenguk Amora.
"Sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan istrimu Al, dia juga pasti tak tau siapa aku. Jika oun tahu namaku, pasti dia tidak tahu rupaku seperti apa." ujar Hans sambil melipat lengan kemejanya hingga ke siku.
"Jadi ... apa maksudmu Hans? ada apa dengan putriku!" tanya Arthur dengan wajah khawatirnya.
Hans tak menjawab, dia beralih menatap Alden yang tengah berpikir tentang ucapan Amora tadi.
"Bahkan dia tak mengkhawatirkan putranya yang belum minum susu siang ini." gumam Alden yang terdengar oleh yang lain.
Hans menghela nafas kasar, doa menatap Alden dengan serius. Dia membenarkan duduknya dan menumpu tangannya pada pahanya.
"Al, jiwa asing itu kembali." ujar Hans sambil menundukkan kepalanya.
Mereka semua terkejut, Deon dan Aira memang tak paham dengan apa yang terjadi. Alden hanya menjelaskan bahwa istrinya sedang tidak sehat hanya itu saja.
"APA?! lalu bagaimana putriku! hiks ... dimana dia sekarang hiks ... Sayang!" isak Queen sambil memeluk Arthur.
Arthur menenangkan istrinya, dia kembali menatap Hans untuk meminta penjelasan.
"Apa maksud paman?" tanya Alden.
"Maksudku, Amora melepaskan raganya untuk jiwa asing itu. Kita belum berbicara dengan Amora tentang semuanya, kita terlambat memberitahunya," terang Hans.
Alden melemaskan bahunya, dia memandang ke depan dengan pandangan kosong.
"Bagaimana caranya agar kita mengembalikan kak Amora ke dalam raga itu lagi paman?" tanya Arsel.
"Ada satu cara, kita harus memintanya secara baik-baik pada jiwa asing itu. Seperti yang ku amati, tujuannya adalah Alden. Dia sangat mencintai Alden, dan itu membuat kita sulit untuk memintanya mengembalikan Amora," ujar Hans.
Kini ruangan itu menggema dengan isak tangis Jeslyn dan Queen, sedangkan lara laki-laki sibuk dengan pikiran mereka.
"Bagaimana caranya kita membujuknya kalau begitu?" lirih Arjuna.
Hans beralih menatap Alden yang tengah memejamkan matanya, dia tahu bahwa Alden menahan dirinya untuk menangis.
"Al," panggil Hans.
Alden membuka matanya, terlihat matanya sangat merah. Dia menahan tangisnya karena sang istri.
"Al, coba kau ingat-ingat ... apa sebelumnya ada yang pernah memanggilmu honey? Ya ... ya mungkin saja kan ada yang mencintaimu tapi dalam bentuk arwah gitu," ujar Hans.
"Maksud paman Alden di tempeli setan gitu?" ujar Deon.
Hans menatap nyalang pada Deon, dia kesal dengan ucapan bodoh Deon.
"Kau saja yang di tempeli setan! ja ...,"
"Vani," ujar Alden yang memotong ucapan Hans.
"APA!" kaget Deon dan juga orang tua Alden.
Jeslyn mendekati anaknya, dia menepuk pipi anaknya guna menyadarkannya.
"Kau sadar apa yang kamu ucapkan Alden! Vani sudah tiada!" sentak Jeslyn.
"Al tau mom, sebelum dia meninggal dia berjanji akan selalu ada bersama Al. Dia wanita satu-satunya yang hanya memanggilku honey dan selalu berucap aku merindukanmu setiap kami bertemu," ujarnya dengan suara bergetar.