
"Anak mommy, takut tadi ya sayang ...," ujar Amora.
Amora dan Alden kini sudah berada di kediaman Zidan, mereka akan menjemput si kembar terlebih dahulu baru menuju Mansion Wesley.
"Makasih karena lu udah mau bantu gue," ujar Alden dengan tulus.
"Sama-sama, gimana pun juga mereka keponakan gue." sahut Zidan sambil menepuk bahu Alden.
Alden tersenyum, dia menatap putrinya yang sedang di gendong oleh Leon. Tampaknya putrinya itu seperti sudah mengenal Leon, lihat saja putrinya itu terus tertawa walaupun Leon hanya menatapnya datar.
"Aku sedikit meringis ketika melihat mereka berdua, tampaknya putrimu itu humoris sedangkan putraku dingin. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi bukan?" tanya Zidan.
"Yang aku takutkan adalah mereka itu sepupu, apa kata orang nanti jika mereka menikah di masa depan," ujar Alden.
Zidan tersenyum, doa tau apa yang adiknya ini takutkan. Entah mengapa putranya keinginan sekali menjadi menantu keluarga Wesley bahkan berani menentang keinginan Jacob.
"Sama halnya denganku, tetapi mereka bukan sedarah. Bahkan kita juga beda ayah bukan? lagi pula masih banyak yang tidak tau jika kita itu saudara," ujar Zidan.
Alden mengangguk membenarkan, sementara Zidan berperang dengan pikirannya sendiri mengenai siapa yang telah menyebar berita tentang kelahiran si kembar.
"Al, apa ada orang yang kau curigai mengenai ini? mengapa mereka semua bisa tahu jika Amora telah melahirkan bayi kembar?" heran Zidan.
"Itu yang aku bingungkan, justru aku curiga dengan papi mertuaku." ujar Alden yang mana membuat Zidan terkejut.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" heran Zidan.
Alden menghela nafasnya pelan, dia akhirnya menceritakan mengapa dia bisa berpikir seperti itu.
Flashback on.
"Tapi Amora belum mau pi," ujar Alden.
"Ya itu urusanmu bujuk istrimu lah, papi gak mau kamu harus umumkan pernikahan kalian secepatnya! nunggu bayi kalian berumur lima bulan itu masih lama!" kesal Arthur.
Alden menghela nafasnya kasar, dia kesal karema Arthur menyuruhnya datang ke Mansion Miller tengah malam hanya untuk membicarakan ini. Dirinya sungguh mengantuk, tapi dia bisa apa?
"Kenapa sih pi maksa banget!" kesal Alden.
"Kamu itu jadi laki-laki gak ada pekanya yah! anakmu butuh status, istrimu juga. Cepat atau lambat mereka juga akan tahu! jika kau tidak mau, maka aku sendiri yang akan membongkarnya dengan caraku sendiri!" tekan Arthur dan meninggalkan ruangan tamu yang menyisakan Alden yang sedang memijat pangkal hidungnya.
Alden menghela nafasnya kasar, pikirannya sedang lelah. Elbert yang selalu banyak tingkah, keunikan bayi kembarnya dan lagi istrinya yang selalu mellow akibat jauh dari bayinya dan di tambah keinginan mertuanya.
"Al," panggil Queen yang baru saja memasuki ruang tamu dengan membawa secangkir kopi.
"Eh, iya mi." ujar Alden seraya menegakkan tubuhnya.
Queen berjalan mendekati meja, dia menaruh cangkir kopi itu dan duduk di sofa depan Alden.
"Maaf soal papi, dia hanya khawatir tentang status putrinya. Apalagi belakangan ini ada hal yang kami takutkan mengenai bayi kalian," ujar Queen.
"Bayi kami? memangnya ada apa mi?" heran Alden.
Queen menghela nafasnya sebentar, setelah itu dia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya dan memberikannya ke Alden.
"Al gak bisa baca mi, ini tulisan kuno semua." ujar Alden sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Biar mami jelaskan. Dulu, kakek buyut dan nenek buyut adalah sepasang suami istri yang unik. Dimana mereka memiliki kelebihan yang jarang orang miliki yaitu mempunyai warna mata yang unik. Kakek buyut mempunyai warna mata abu-abu gelap tetapi berbeda dengan nenek buyut. Dia bisa merubah matanya hanya dengan sekali kedip, tetapi jika dalam keadaan cahaya yang remang warna matanya hanya satu yaitu hijau emerald," terang Queen.
Sontak saja Alden terkejut, dia bahkan tak bisa berkata apapun saat ini. Dia kembali teringat putranya yang memiliki mata yang sama dengan kakek buyut.
"Ku harap bayi kalian tidak memilikinya," ujar Queen.
"Ba-bayi kami memilikinya mi, bukan hanya Lio tetapi juga Lia." terang Alden yang mana membuat Queen terkejut.
Queen langsung memanggil suaminya, setelah itu dia kembali mendekati Alden yang masih terkejut dengan semuanya.
"Benarkan pi! keturunan mata itu jatuh pada keturunan ketujuh! dan itu cucu kita!" sentak Queen.
"Al! apa yang di maksud istriku adalah benar?" tanya Arthur sambil mengepalkan tangannya.
Alden mengangguk pelan yang mana membuat tubuh Arthur melemas, seharusnya bukan cucunya yang menuruni keunikan ini. Orang pasti akan menganggapnya manusia aneh apalagi jika itu menurun dari nenek buyut.
Alden menjelaskan dengan detail, bahkan dia juga memberi tahu jika Amora belum sadar jika putrinya juga sama dengan putra bungsunya.
Tiba-tiba saja Queen berlari keluar meninggalkan para pria yang tengah menatap bingung kepergian Queen.
"Siapa yang tahu selain kau?" tanya Arthur.
"Arsel, dan Arjuna. Mereka tahu apalagi Arjuna yang memang saat itu aku dan dia yang langsung memeriksa perbedaan mata Lia," jawab Alden.
Arthur mengangguk, dia menoleh ketika melihat istrinya yang membawa banyak kertas dan menaruhnya di meja.
"Kau sedang apa?" heran Arthur.
"Mas! aku pernah membaca, jika nanti keturunan ketujuh akan mewarisi mata mereka tetapi jika keturunan itu kembar maka saat umur mereka genap tujuh tahun warna bola mata mereka akan tetap dan tak berubah walau perubahan pencahayaan sekalipun!" ujar Queen sembari terus mencari kertas tersebut.
Alden merasa aneh, dari mana mereka bisa mendapat kertas keterangan tentang itu semua. Apakah buyut keluarga ini merupakan orang sakti? itu yang ada dipikiran Alden.
"Nah ini dia! benar kan mas!" seru Queen sembari memberikan kertas itu pada Arthur.
"Maaf Mam, dari mana kalian bisa dapat keterangan seperti ini? bukankah buyut sudah tiada?" heran Alden.
"Al, orang jaman dulu mereka banyak berteman dengan ilmu tak kasat mata. Berbeda dengan jaman sekarang yang pikirannya sudah maju, dan tak lagi percaya dengan hal-hal yang seperti itu. Mungkin buyut sudah menulis ini untuk mewanti-wanti cicit-cicitnya," terang Queen.
Alden mengangguk, sebenarnya dia tidak percaya hal di luar nalar manusia seperti itu. Dirinya hanya percaya dengan takdir tidak dengan ilmu-ilmu seperti itu.
"Berarti saat si kembar berumur tujuh tahun warna mata mereka akan tetap kan?" tanya Alden memastikan.
"Iya, tapi tergantung mana yang lebih kuat. Bisa jadi bola mata Lio tetap Abu bisa juga tetap coklat sama saja dengan Lia yang tak jauh beda dengan Lio. Namun, kita bosa sedikit tenang jika warna mereka tidak coklat seenggaknya orang akan berpikir jika anak kalian keturunan bule kan? kalau berubah-ubah tanggapan mereka anak kalian itu aneh dan akan memicu perdebatan dikalangan publik." jawab Queen.
Alden mengangguk, setidaknya warna mata si kembar tetap dan tak akan berubah. Tapi mengapa jika tidak berwarna coklat yamg terpenting tidak berubah-ubah.
Flashback off.
"Jadi anak kembarmu ...," kaget Zidan.
Alden mengangguk, dia kembali menatap Leon yang tengah mengajak putrinya bercanda. Sedangkan putranya sedang ditidurkan oleh istrinya.
"Kadang aku takut jika anak-anakku akan dalam bahaya, tetapi aku percaya jika mereka anak yang hebat. Aku hanya perlu menjaga ketat mereka selama tujuh tahun, setelah warna mata mereka tetap baru aku bisa tenang membiarkan mereka bermain bebas," ujar Alden.
"Aku akan membantumu untuk menjaga mereka, bagaimana pun juga mereka adalah ponakanku." ujar Zidan sembari menepuk pelan bahu Alden.
***
"Mommy mana cih! dali tadi di tungguin duga!" gerutu Elbert sembari menatap luar jendela kamarnya.
Elbert menoleh ketika mendengar suara ketukan sepatu, dia menatap kesal orang yang baru masuk itu.
"Ngapain om pembinol kecini? daddy lagi nda ada," ujar Elbert.
Deon mengerutkan keningnya, dia kira sahabatnya ada disini ternyata tidak ada.
"Daddy mana?" heran Deon.
"Tadi El bilangnya apa paman? nda ada! daddy nda ada! nyengel!" cadel Elbert.
"Ngeyel El bukan nyengel!" ralat Deon.
Elbert kesal, dia menatap tajam Deon walaupun tatapan itu terlihat imut.
"Telselah El dong, kok om pembinol yang cewot!" kesal Elbert.
"Paman tidak merebut mommymu El, sekarang paman sudah memiliki calon istri. Jadi stop panggil om, om pembinol lagi," ujar Deon yang merasa jengah dengan Elbert.
Elbert mengangguk, dia menatap Deon dengan senyum lebar. Entah apa yang dipikirkan anak itu, Deon tak bisa membacanya.
"Kata om Alsel mantan itu bekas, belalti paman itu mantan pembinol. Jadina El panggil paman ... om manol, mantan pembinol!" cerdas Elbert.
Seketika Deon menjatuhkan rahangnya, dia hanya bisa mengelus dadanya sabar menghadapi tingkah ajaib Elbert.
"Sepertinya Elbert harus di jauhkan dari Arsel, karena pria itu merusak generasi bangsa," gumam Deon.